Archive for April, 2003

Kain Tradisional: Yang Beragam dan Terancam Punah

Wednesday, April 30th, 2003

Kain Tenun Tradisional IndonesiaSejak lama Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya tradisi bertenun kain tradisional. Dalam buku Over 1.000 Patterns of Traditional Stripes & Lattices Design Collection disebutkan bahwa kain tenun bermotif garis-garis asal Indonesia sudah diimpor secara teratur ke sejumlah negara mulai 1573. Semakin hari, jenis dan pola kain tersebut terus saja berkembang dan paling tidak, selain memperkaya khazanah dunia kain di Tanah Air, itu juga membuktikan bahwa bangsa Indonesia terbuka dengan budaya lain. Sayangnya, banyak di antara kain-kain tradisional itu dalam keadaan terancam punah. Selain banyak yang tak diproduksi lagi, hal itu juga disebabkan masyarakat kurang berminat melestarikan budaya menenun serta menyulam kain tradisional.

Dalam sebuah pameran kain tradisional, baru-baru ini, terungkap bahwa satu di antara jenis kain yang terancam punah adalah kain bidak asal Lampung. Kain bersulam sangat halus yang biasa digunakan pengantin pria itu kini mungkin cuma bisa disaksikan di pameran-pameran ataupun berharap kemurahan hati pengoleksi kain untuk memperlihatkannya kepada khalayak. Kain tapal juga bernasib sama. Padahal, dalam pola dan jenis sulaman di kain asal Lampung itu tergambar jelas proses akulturasi budaya, dalam hal ini pengaruh India yang terlihat dari sulaman emas yang timbul di permukaan kain.

Sewaktu bangsa Indonesia masih menganut animisme, motif-motif kain saat itu menggambarkan simbol-simbol roh atau kekuatan gaib, seperti perahu yang dipercaya sebagai kendaraan roh manusia untuk pergi ke dunia lain dan juga sebagai payung untuk melindungi. Sedangkan sosok nenek moyang digambarkan sebagai topeng atau figur yang bentuknya sangat khas. Binatang juga kerap ditorehkan di kain. Biasanya berupa kura-kura, kerbau dan cecak.

Belakangan, ketika pengaruh Hindu masuk, motif kain mulai berkembang dengan adanya gambar-gambar tokoh-tokoh dalam cerita wayang. Pola hias geometris yang berasal dari India, yaitu patola menjadi cikal bakal motif gringsing, umumnya ditemui pada kain tenun Jawa, Bali, dan Lombok. Motif kala makara, perwujudan antara gajah dan buaya yang melambangkan tanah dan air, yang kerap menghiasi pintu masuk candi juga pola bunga lotus sebagai perlambang kemakmuran sering dipakai.

Adanya pengaruh Buddha bisa dilihat dari motif kain yang diambil dari relief di Candi Borobudur. Sedangkan ketika Islam datang, pola hias geometris cenderung menampilkan kaligrafi Arab. Dari Cina, pengaruh ke seni kain tradisional Indonesia terlihat dengan motif naga, burung phoenix, awan, dan motif yang ada di guci-guci kuno. Pengaruh serupa juga dibawa dari bangsa Barat, seperti Portugis, Belanda, dan Inggris dengan motif singa, wanita memakai gaun, serta kupu-kupu. Khusus dari Belanda, hingga kini pengaruhnya sangat membekas pada seni hias dari Nusatenggara Timur, terutama pada tenun ikat dari Belu, Savu dan Rote.

Sayangnya, seperti sudah diceritakan di atas, kurangnya minat masyarakat buat melestarikan warisan budaya lokal tersebut membuat sejumlah kain tradisional terancam punah. Dari pengamatan SCTV, selain sebagian kecil orang berduit di Indonesia, yang berminat dengan kain tradisional Nusantara justru warga asing. Tak heran banyak motif asli Indonesia yang dibawa ke luar negeri kemudian dipatenkan di sana dan seolah-olah motif tersebut adalah asli milik negara tersebut. Yang paling mengejutkan, ada sejumlah kalangan di Malaysia yang memboyong sejumlah penenun batik tradisional ke Negeri Jiran. Di sana, mereka diminta memproduksi batik dan dijual seolah-olah batik tersebut adalah khas Malaysia. Ironis.

Dari sekian kain tradisional, yang masih memiliki harapan nampaknya ada di kain songket asal Palembang, Sumatra Selatan. Pada kain ini ada sulaman dari benang emas dengan corak khas yang hingga kini masih diminati banyak orang. Harganya pun mahal. Ada cerita tentang kain: yang dilestarikan saja lambat laun akan rusak dimakan usia, apalagi tak dilestarikan.

Sumber : (SID/Esther Mulyanie) Liputan6.com, Jakarta

“Odissey” Iwan Tirta

Sunday, April 20th, 2003

SELASA siang lalu, di sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terlihat dua sampiran kayu (gawangan) dan di masing-masingnya ada kain sutra putih yang sebagian ditutup malam tersampir di sana. Pada salah satu gawangan itu tergantung kain panjang batik yang sedang dikerjakan salah seorang maestro batik Indonesia, Iwan Tirta.

PADA usianya yang memasuki 68 tahun pada tanggal 18 April 2003, artisan batik ini semakin menekuni batik, dunia yang digelutinya lebih dari 30 tahun, selepas dia memperoleh gelar master dalam hukum dari Yale University. Bila sedang tidak berada di apartemennya di New York, maka Iwan di rumah merangkap tokonya di Menteng selalu menyempatkan diri membatik. Sebuah proses meditasi sekaligus eksplorasi terhadap pengembangan batik yang tidak pernah berhenti dia lakukan.

Batik yang saat ini dikerjakan Iwan adalah dengan ragam hias wadasan (batu padas) asal Cirebon yang menurut penuturannya sudah tidak pernah dia lihat karena tidak ada lagi yang membuat. “Yang ini kalau sudah selesai akan menjadi koleksi saya. Kalau ada yang tertarik, nanti saya buatkan lagi,” kata Iwan.

Itulah kesibukan Iwan sekarang. Dia hanya mengkhususkan diri membuat batik tulis halus dari motif-motif langka, baik untuk kain panjang ataupun kemeja. Label produk yang dikerjakan Iwan pun bukan Iwan Tirta, tetapi IT Private Collection. IT merupakan singkatan dari Iwan Tirta. Papan nama yang biasanya terpampang di depan rumahnya yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah salah satu tujuan wisata penting yang direkomendasi Pemda DKI Jakarta, pun sedang mengalami perubahan nama dari Iwan Tirta menjadi IT Private Collection.

Perubahan nama itu rencananya diumumkan pada Senin (21/4/) malam, ketika Iwan mengadakan kumpul-kumpul bersama teman-teman dekatnya untuk syukuran memperingati hari lahirnya.

Tentang label Iwan Tirta yang dimiliki oleh PT Ramacraft yang dibentuk Iwan 20-an tahun lalu, menurut Iwan sejak sekitar tiga tahun lalu sebetulnya telah dibeli oleh seorang pengusaha muda. Iwan sendiri menjadi komisaris di perusahaan PT Ramacraft dan mengawasi produksi yang dihasilkan perusahaan itu. Dalam perjalanannya, ternyata kerja sama ini mengalami kendala sehingga Iwan memutuskan untuk membuat label sendiri yaitu IT Private Collection.

“Pengalaman ini membawa hikmah besar untuk saya. Batik tetap menjadi basis saya, tetapi pengembangannya menjadi ke berbagai produk yang semula saya anggap sebagai sampingan saja,” tutur Iwan di galerinya yang sementara ini masih kosong dari berbagai kain maupun kemeja batik Iwan Tirta. Artisan batik ini memutuskan untuk membuat pemisahan antara galeri IT Private Collection dari Iwan Tirta.

>small 2small 0< kain panjang batik tulis halus dan kemeja batik halus, IT Private Collection juga memproduksi barang-barang dari perak untuk cenderamata maupun untuk perhiasan. Tetap dengan menggunakan ragam hias batik tradisi sebagai dasar, Iwan memproduksi barang-barang perak yang ditujukan untuk cenderamata perusahaan ini di Kota Gede, Yogyakarta.

Iwan juga bekerja sama dengan industri barang pecah belah dari keramik Royal Doulton dan Kedawung untuk membuatkan desain bagi produk high end kedua produsen tersebut. "Dasarnya tetap motif batik. Saya buatkan desain dengan skala yang sesuai," tambah Iwan.

Kegiatan lain yang kini semakin intensif dia tekuni adalah dokumentasi motif batik. Dengan mendapat bantuan dari perusahaan komputer Epson dan PT National Gobel, Iwan sudah sekitar lima tahun ini mendata motif batik mulai dari ragam hias, tempat sampai tahun pembuatannya.

Belakangan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan ikut mendokumentasikan motif-motif batik dari berbagai daerah dengan menggunakan fasilitas yang tersedia di bengkel kerja Iwan. "Mereka sebetulnya punya keuntungan karena memiliki dinas-dinas perindustrian di berbagai daerah sehingga lebih mudah mengumpulkan beragam motif batik," tutur Iwan. Rencananya, departemen tersebut akan menerbitkan buku mengenai motif-motif batik itu, memperbarui buku yang pernah dikeluarkan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik Departemen Perindustrian tahun 1983.

"Saya ingin menawarkan jasa pengarsipan batik kepada perusahaan-perusahaan batik besar. Sekarang sudah waktunya kita bersama-sama memikirkan pelestarian motif-motif yang pernah ada, karena dari motif-motif lama itu kita bisa mengembangkan sesuatu yang baru untuk memberi sesuatu yang unik dari kita pada era globalisasi ini," tutur Iwan yang mengaku kedatangan pembatik dari Pekalongan, Solo, dan Yogya yang bertanya tentang berbagai motif batik.

>small 2small 0< sudah membuktikan bahwa batik merupakan sumber inspirasi yang tidak ada habisnya pada berbagai medium. Iwan misalnya, menggunakan motif modang Paku Buwono X pada cupu berdiameter sekitar 15 cm, sementara untuk yang berukuran lebih kecil dia memakai motif lokcan. Untuk koleksi berikut, Iwan sudah mulai mempersiapkan desain baru tetapi belum mau menyebut lebih detail.

Inspirasi untuk barang-barang perak Iwan tidak terbatas pada motif batik saja. Dia misalnya mengubah gelang dari Batak menjadi asbak, sementara anting-anting gantungnya sebetulnya berasal dari bandul penghias tutup kepala perempuan Kabanjahe, Tanah Karo, atau dari anting-anting perempuan Aceh yang oleh Iwan dibuat multifungsi sebagai bandul kalung. Dia juga memanfaatkan ragam hias kalung temanggal dari Tangerang yang biasa dipakai oleh perempuan Peranakan, atau motif katesan (seperti pepaya) yang merupakan kalung perempuan Surabaya.

Sungguh sebuah perjalanan panjang, odissey, seorang Iwan Tirta, yang entah kapan akan berlabuh.

Sumber : (Ninuk MP) Kompas Cetak, Jakarta

Dari Pekajangan, Batik Pekalongan Berbicara

Thursday, April 17th, 2003

LEBAR jalan di Gang Pekajangan II hanya empat meter. Mengendarai mobil memasuki gang ini harus hati-hati. Kalau mau berputar kembali butuh halaman rumah yang terbuka. Ketika usaha tenun yang dicari ketemu, letaknya ternyata berada di sela kepadatan jajaran rumah. Ketika mobil mau masuk, di tanah lapang itu terbentang puluhan celana jins tengah ditata di tanah untuk dijemur. “Masuk saja Pak, ndak apa-apa kalau mobilnya melindas celana jins itu,” kata salah seorang pekerja di usaha konveksi milik H Chasnoto.

JURAGAN jins wash Chasnoto menyongsong tamunya hanya dengan mengenakan kain sarung dan kaus. Terkesan santai. Langsung dia mengajak tamunya mengelilingi areal rumah sekaligus pabrik usaha jins. Ada 30 pekerja, delapan di antaranya perempuan, sedang menyelesaikan order pembuatan celana jins. Celana yang baru dijemur itu ternyata baru digilas di mesin pencuci, sekaligus diberi obat penguat warna.

“Celana jins, khususnya buat perempuan muda, lagi trend. Jins yang paha depan dan belakangnya diberi sentuhan asap (maksudnya warna putih vertikal). Celana model begitu laku keras. Kalau sudah kering, celana itu dicuci lagi di mesin cuci besar, disetrika, dan dikemas berikut diberi label merek,” tutur Chasnoto.

Seorang pekerja mengaku mampu menyelesaikan 35-40 potong celana jins sehari. Rata-rata pekerja memperoleh penghasilan Rp 15.000-Rp 20.000 sehari. Mereka juga dapat makan siang dan makanan ringan. Dari tumpukan bahan yang berserakan, diperkirakan Chasnoto tengah menyelesaikan 400 potong celana jins. Sebagian besar bahan dibeli sendiri, sisanya order dari langganan di Jakarta.

Perajin konveksi ini mengaku, usaha konveksi sudah dilakoni sejak tahun 1982. Usaha konveksi harus luwes, cepat menangkap mode di kota besar. Pekerjanya juga luwes, yang rajin boleh masuk setiap hari, dan sebaliknya kalau lagi malas bisa juga absen. Dari peralatan yang dimiliki, Chasnoto terbilang sukses.

Chasnoto perajin yang beranjak dari bawah menekuni usaha konveksi. Usaha konveksi merupakan sub-usaha industri tekstil dan garmen di Kabupaten dan Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Kerajinan batik dan konveksi (garmen) di daerah pesisir ini tak ubahnya raksasa sentra industri tekstil yang mencakup usaha hulu hingga hilir.

Di sini terdapat perajin sarung palekat tradisional yang hanya mengandalkan alat tenun bukan mesin (ATBM), perajin konveksi, industri menengah garmen, pakaian batik, sampai perajin batik tradisional. Dalam perkembangannya muncul industri tekstil skala menengah dengan kapasitas 50-400 unit alat tenun mesin (ATM). Jumlah tenaga kerjanya 1.000-3.000 orang per pabrik yang menghasilkan kain mori lokal 100.000 yard hingga 800.000 yard per bulan.

Anatomi industri tekstil di Pekalongan unik. Masyarakat di Kabupaten Pekalongan, dengan sentra Pekajangan (Kedungwuni), Tirto, dan Buaran, mengkhususkan usaha tenun palekat, konveksi, tenun ATBM, usaha garmen, pakaian jadi, dan usaha tekstil. Untuk menggambarkan pentingnya sektor industri tekstil bagi warga Pekalongan, usaha tenun sarung palekat saja menghidupi 40.000 orang. Perajin yang menikmati usaha secara tak langsung di rumah bisa mencapai 100.000 orang lebih. Di Kabupaten Pekalongan tercatat tak kurang 70 persen penduduknya bergerak di sektor garmen, konveksi, dan sarung palekat.

Warga di Kota Pekalongan tampaknya mengkhususkan diri pada sektor pembatikan. Segala macam produk batik, mulai dari pakaian batik sutra, kain panjang, sarung batik, sampai busana muslim dikerjakan masyarakat kota. Pembatik tradisional masih banyak dijumpai di berbagai pelosok kota. Beberapa pengusaha batik terkenal, seperti Batik Tobal, Batik Mahkota Agung, juga nama perajin pakaian batik sutera lain sudah akrab di telinga penggemar batik.

Ny Arifin Oesman, perajin pakaian batik “Batik Kisnola” di Jalan Raya Jenggot, dikenal sebagai produsen pakaian batik. Berbagai produk pakaian batik mulai kain panjang, sarung batik, seprei, selendang/cukin, sarung palekat, kemeja batik, batik sutra, busana muslim hingga taplak batik. “Bapak tengah meninjau pekerja di Watusalam, Buaran,” ujar Ny Arifin.

Di rumahnya, ruang tamu merangkap counter contoh pakaian batik. Ny Arifin mengakui, pemasaran produk pakaian batik banyak pula di Tanah Abang, Jakarta. Namun, dari total produksinya justru banyak yang diminati pasaran Jawa Tengah dan Bali. Dari kondisi usaha, tak terbayang bagaimana produksi pakaian batik ini mampu menyerap tak kurang dari 100 pekerja. Sebagai bukti sukses usaha ini, tak hanya Ariftex ini punya pabrik sendiri, melainkan di garasi rumah terparkir enam mobil keluaran tahun gres.

MENYUSURI jalan desa di Pekajangan, sekitar delapan kilometer (km) arah selatan Kota Pekalongan (Jateng), senantiasa kita akan bertemu becak mengangkut tumpukan kain mori atau kain panjang batik. Dapat ditemui pengendara sepeda motor memboncengkan kain batik berseliweran dari gang ke gang. Suasana itu dilengkapi dengan suara ATBM yang seolah beradu memilin benang jadi selembar kain.

Menurut Kepala Kelurahan Pekajangan Abdul Baqi, hampir 90 persen warga kelurahan ini menekuni kerajinan batik, meliputi pakaian batik, garmen, termasuk di dalamnya konveksi serta industri tekstil. Dari 2.008 keluarga yang kini bermukim di Pekajangan, nyaris semua menekuni kerajinan batik dan garmen. Usaha home industry yang menghidupi banyak orang.

Sastrawan Pekalongan Yunus Supriyadi menggambarkan, usaha batik menjadi mata usaha orang Pekalongan sejak tahun 1600. Masa itu, orang Pekalongan, khususnya asal Pekajangan, menyadari mereka memiliki kemampuan interpreneur, semangat dagang, dan wirausaha.

Di daerah ini juga banyak tanaman pohon jong (semacam pisang) yang diambil seratnya untuk bahan kain.

“Jadi, tak sepenuhnya warga di sini agraris. Sejarah nenek moyang diyakini pula ada perpaduan perkawinan orang Jawa dengan keturunan Tionghoa yang dulu banyak berdatangan karena pelabuhan Pekalongan sangat ramai,” ujar Yunus. Ditambahkan, perpaduan itu menyebabkan watak orang Pekalongan sangat egaliter, tak mementingkan status, suka berwiraswasta serta mudah beradaptasi. Mereka juga tak pernah tertarik jadi pegawai pemerintah.

Sekitar tahun 1800, warga Tionghoa menanam sejenis kapas (ciam). Dari serat tanaman jong dan ciam masyarakat Pekajangan berusaha membuat kain dengan alat tenun sederhana. Jiwa dagang warga daerah ini mendorong perajin dan pedagang bepergian ke daerah lain, termasuk ke Yogyakarta dan Surakarta yang interaksinya semakin kental dari tahun ke tahun. Situasi pertekstilan semakin maju tahun 1920 sehingga timbul pengaturan izin lisensi untuk pengusaha tekstil harus diurus di Batavia (Jakarta) ke Gubernur Jenderal Belanda.

“Kemajuan pesat pertekstilan di Pekajangan ditandai munculnya Batik Trading Compani tahun 1950. Pada tahun 1937, perajin mendirikan Koperasi Batik Pekajangan yang memberi sumber inspirasi munculnya koperasi batik di Setono, Tirto, dan lainnya. Kemunculan koperasi batik akhirnya disatukan dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) pada tahun 1949,” ujar Yunus.

Di Pekajangan, kerajinan batik dan konfeksi makin meluas ke Tangkil, Ambokembang, Penatus, dan terus mengilhami usaha sejenis di seluruh Kabupaten dan Kota Pekalongan. Di daerah sekitar, seperti Kabupaten Batang dan Kabupaten Pemalang pun berkembang usaha konveksi.

Pengusaha tenun palekat Gajah Palem Farid Akhwan mengatakan, banyak pabrik pertenunan maupun tekstil yang dikelola koperasi batik secara bertahap mundur usahanya. Terlebih tahun 1970 pemerintah banyak mengizinkan pendirian pabrik tekstil dan pertenunan modern melalui paket program penanaman modal dalam dan luar negeri. Pabrik besar berdiri, banyak pedagang batik atau perajin menjadi juragan di kampung ini. “Munculnya pabrik tekstil besar menyebabkan iklim usaha terseleksi. Pengusaha lokal hanya memiliki mesin tenun tua, aset pasar terbatas, dan manajemen maupun modal lemah sehingga kalah bersaing,” ujar Farid.

Meski persaingan usaha tenun dan tekstil tajam, namun secara bisnis perajin di Pekalongan dapat memilih usahanya sesuai kemampuan, mau menekuni pakaian batik, tekstil, garmen, atau tenun palekat

. Malahan ada pameo: bukan orang Pekalongan namanya, kalau tidak mampu menerobos kebekuan pemasaran pakaian batik dan produk konveksi setelah pasar potensial Tanah Abang Jakarta dan Pulau Bali terkena musibah. Menerobos pasar baru mulai banyak dilakukan perajin batik, pengusaha garmen, dan perajin tenun supaya sisa produksi tidak mandek di gudang atau di rumah mereka.

Perajin tenun asal Ambokembang, Kedungwuni, Warsono menjelaskan, bermodal enam ATBM kuno, dia merintis usaha kerajinan tenun. Itu diawali setelah memutuskan keluar dari pekerjaan di pabrik sarung palekat pada tahun 1998.

Bermodal Rp 200.000 dan pengalaman belajar membuat kain tenun, ia merintis usaha sendiri. Usahanya diberi nama Sonyatex, kependekan dari Warsono dan Nyonya Tekstil karena modal usahanya berasal dari istri.

“Saya membeli bahan benang berbagai tipe kemudian diolah dan dijual. Benang itu saya jual secara eceran atau bentuk barang pascaproduksi seperti karpet, beragam cover, serta bahan kain lain,” ujarnya.

Dari usaha ini, omzet yang diperoleh kini sudah mendekati Rp 5 juta per bulan. Ketika Pasar Tanah Abang terbakar, dia langsung memasarkan kain tenun ke Bali. Dikatakan, banyak perajin bermodal kecil yang memerlukan bahan baku cepat dan murah. Dengan kesediaan menjual kain berwarna siap olah atau bahan kain tenun saja, dia mencukupi kebutuhan bahan baku ratusan perajin modal kecil yang tak mungkin dilayani pabrik menengah dan besar.

Ketua Koperasi Tekstil Pekalongan (Koperteks) Al Jabar Eddy Budiono mengatakan, pemain baru dalam bisnis usaha ini setiap tahun bertambah. Keluarga muda, maksudnya pasangan muda yang baru menikah di daerah ini, selalu membuka usaha baru. Kalau tak cukup modal, suami bekerja di pabrik tenun, istrinya dagang daster. Nantinya mereka meningkat jadi perajin pakaian batik, produksi daster dan pakaian batik lain. “Meski tumbuh pemain baru, pasar seolah jenuh, tetapi peluang usaha ini masih diminati,” ujar Eddy.

KETUA Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pekalongan Imam Ismanto Bakti berpendapat, harus diakui munculnya pabrik baru menyerap bayak tenaga kerja. Strategi pemasaran pun berubah. Setiap usaha bebas memilih pangsa pasar. Ibarat kompetisi sepak bola, ada yang bermain di liga utama, divisi satu, divisi dua, atau berkutat di divisi tiga.

Persaingan sengit, misalnya, bisa dikaji secara gampang dari rebutan merek sarung palekat. Beberapa pabrik tenun melemparkan sarung palekat Cap Mangga, Gajah Duduk, Sapphire, dan Cap Atlas untuk pangsa pasar kelas atas. Sebaliknya, pengusaha kecil bermain di segmen bawah, membuat merek ikutan yang tak jauh beda merek papan atas.

Merek Gajah hingga saat ini jadi trade mark sarung palekat bikinan Pekalongan. Betapa sengitnya persaingan dagang, cap Gajah bisa jadi contoh betapa merek menyusul sarung cap Gajah Duduk.

Pengusaha sejenis mengeluarkan bermacam merek tanpa meninggalkan kata Gajah, mulai Boneka Gajah, Gajah Duku, Gajah Palem, Gajah Bola, dan Gajah Dudu. “Kalau mau membeli kemeja batik sutera murah datang saja pada hari Idul Fitri. Kemeja batik motif floring hanya dijual Rp 20.000 per potong. Ini harga yang sudah tidak realistis, tetapi nyata,” kata Ismanto Bakti.

Persekutuan perajin batik dan trader di Pekalongan pada tahun 1999 mendorong munculnya pasar grosir batik lokal yang mampu menyerap tak kurang dari 10 persen total produksi tekstil, batik, dan garmen. Soni Hikmalul, salah seorang penggagas pasar grosir menjelaskan, pasar grosir sebenarnya membuka celah pertemuan produsen batik dengan pedagang besar maupun pembeli eceran.

Bisnis ritail batik ternyata sangat diminati, terbukti kini ada enam pasar grosir batik di Pekalongan. Pasar grosir terbesar adalah Pasar Grosir Setono dengan jumlah 250 kios.

Sumber : (Winarto Herusansono) Kompas Cetak, Jakarta

Mendongkrak Citra, PT Telkom Salurkan Pinjaman

Thursday, April 17th, 2003

BAGI Kamadi (33), mendatangi bank syariah seperti BMT Safinah ini lebih mudah dan tenang daripada masuk ke bank-bank yang dijaga satpam, walau ruangannya dingin full AC. Padahal, urusannya sama, cari pinjaman untuk pengembangan bengkel warung sotonya, di satu sudut Kota Klaten, Jawa Tengah.

Semula ia cuma pinjam Rp 500.000, lunas, pinjam lagi Rp 1 juta, lunas, dan kini berharap bisa naik kelas dengan pinjaman lebih besar. Bisnisnya sederhana, bengkel sepeda dan tambal ban, sekaligus buka warung soto dan nasi sayur, dengan dua karyawan.

Kamadi merupakan contoh usahawan yang merambat dengan bantuan bank syariah yang misinya memang bukan untuk menumpuk aset dan kekayaan. Polanya bagi hasil, umumnya 60-40, tetapi dari kelebihan penghasilan setelah ia mendapat pinjaman. Misalnya, kalau sebelum dapat pinjaman ia punya untung Rp 100.000, lalu dapat pinjaman Rp 1 juta, untungnya jadi Rp 200.000, maka kelebihan yang Rp 100.000 yang dibagi.

Upaya ini sama dengan PT Telkom yang lewat program PUKK, pembinaan usaha kecil dan koperasi, memberi bantuan tetapi dengan bunga tetap sangat rendah, antara 6 sampai 12 persen setahun. Bantuan langsung diberikan kepada yang membutuhkan atau lewat lembaga lain, seperti BMT Safinah di Klaten itu.

Manajer BMT Safinah Hardjanto Wibowo SE mengatakan, tahun lalu mereka mendapat penyaluran dana dari PUKK Telkom Divisi Regional (Divre) IV Jateng sebesar Rp 100 juta, yang disalurkan kepada 25 nasabah. Ada yang dapat Rp 800.000, ada yang sampai Rp 25 juta, alhamdulillah semua lancar dalam pengembaliannya.

“Kalaupun macet, itu hanya penundaan pembayaran yang jumlahnya tak sampai satu persen. Dalam kasus demikian, kami melakukan silaturahmi ke nasabah untuk bertanya apa masalahnya,” katanya.

Di Jateng, selama tahun 2002, PT Telkom sudah menyalurkan dana PUKK sebesar Rp 4,828 miliar dari target Rp 5,1 miliar, menurut Kepala Divre IV Didi Wargaprawira. Target tidak tercapai karena sejumlah Rp 366,6 juta tidak tersalurkan karena calon nasabah mengundurkan diri, akibat tak mampu memenuhi persyaratan, atau menilai jumlah bantuannya kecil.

Bisa dimaklumi, sebab sasaran program PUKK adalah pengusaha kecil, misalnya tukang ojek, penjual makanan, perbengkelan, peternakan, yang dengan jalan biasa akan sulit mendapat bantuan bank. Menurut Kepala Proyek PUKK PT Telkom Pambudi, mereka yang mendapatkan bantuan kebanyakan tak ada hubungan kerja dengan PT Telkom. Tetapi diharapkan pada tahun 2006 nanti, separuh dari penerima bantuan punya hubungan kerja dengan PT Telkom.

Dana yang disiapkan untuk bantuan tahun ini sebesar Rp 95 miliar, naik pesat dibanding dana tahun 2002 sebesar Rp 52,44 miliar. Dana didapat sebesar 1 sampai 3 persen dari dividen pemerintah sebagai pemegang saham PT Telkom.

Sebelumnya dana itu dikelola oleh PT Pos Indonesia, sejak PT Telkom go public, namun mulai tahun 2001 PT Telkom mengambil alih kembali. PUKK ini dimaksudkan antara lain untuk lebih meningkatkan citra perusahaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Menurut Pambudi, dari sejumlah dana tadi, 85 persen dalam bentuk pinjaman yang harus dikembalikan secara angsuran sehingga bisa disalurkan lagi. Yang 15 persen sisanya digunakan sebagai dana bantuan pembinaan berupa biaya pelatihan, pameran, dan promosi.

Tidak semua untuk kepentingan usaha, tetapi bisa juga untuk pendidikan, misalnya dengan memberi modal untuk pengadaan komputer di sekolah atau pesantren. “Dengan memiliki komputer untuk sarana belajar, otomatis ’nilai’ sekolah itu akan naik,” kata Pambudi.

Perguruan tinggi juga bisa mendapat bantuan, misalnya untuk survei tentang pemanfaatan bantuan PUKK dari PT Telkom itu.

Dari semua nasabah, tingkat pengembalian secara nasional cukup bagus, sampai di atas 95 persen, bahkan di Jateng, kata Didi, sampai 98 persen. Apalagi dengan dibentuknya mitra binaan unggulan yang berupa kelompok (cluster), kontrol akan penggunaan dana jauh lebih mudah.

Binaan kelompok yang berhasil antara lain peternakan sapi di Pengalengan, Bandung, dengan produk mulai dari susu cair, karamel, keju, serta penggemukan sapi. BMT Safinah di Klaten juga termasuk yang berhasil karena Safinah sendiri berbentuk koperasi serba usaha dan simpan pinjam.

Program Sekolah-2000 di Sumatera dan e-learning di Bandung berupa pengadaan komputer bagi sekolah menengah umum (SMU) untuk mengantar siswa ke dunia komputer dan Internet. Binaan lain juga terdapat di Yogyakarta, berupa program penggemukan sapi yang bekerja sama dengan Pemda DIY Yogyakarta, berupa modal pembelian sapi betina dan Pemda DIY menjamin pengembalian kreditnya.

Menurut Didi, kerja sama dengan pemda sangat meringankan beban PT Telkom karena mereka yang menyalurkan dan menagih dan ini upaya bagus karena melibatkan gubernur. Tentu saja ada biaya, yaitu untuk asuransi, biaya untuk debt collector, juga untuk penyuluh lapangan, misalnya, untuk peternakan, tetapi biaya pelatihan dibayari PT Telkom. Hal sama juga terjadi untuk nasabah yang mendapat kucuran dana lewat bank syariah.

Dikatakannya, peminat PUKK di Jateng dan DIY sangat besar dan dari 500 pemohon tahun lalu, yang disetujui hanya 393 karena hasil tim survei menemukan angka itu. “Dari survei akan diketahui apakah pemohon benar-benar sudah menjalankan usahanya atau hanya sebagai pengusaha kagetan,” kata Didi.

NY Siti Sendari (56) merasa “diselamatkan” oleh proyek PUKK PT Telkom. Pada saat order sepi, perajin yang dikoordinirnya perlu pekerjaan dan ia harus pindah akibat kontrak tokonya habis, PUKK PT Telkom Divisi Regional IV Jateng/DIY mengulurkan tangan.

Padahal bisnis yang digelutinya sangat eksklusif, tidak semua orang membutuhkan. Kalaupun butuh, hanya kalangan tertentu yang mau datang dan membeli hasil pekerjaannya yang merupakan seni kuno dan sudah jarang dikerjakan orang.

Tak heran, ia kini adalah satu manusia langka karena masih menggeluti pembuatan batik tulis dan kombinasi dari kelas tradisional, khusus untuk upacara adat. “Mau tak mau konsumennya juga terbatas, kalangan sendiri, kecuali orang Jepang,” kata pengusaha yang sudah 25 tahun menggeluti perbatikan ini. Sementara jumlah perajin makin menyusut, bahkan kelima anaknya tak ada yang mau meneruskan usahanya ini.

Orang Jepang, katanya, suka batik buatannya karena wangi sebab dalam prosesnya, mori (kain) yang digunakan direbus dengan campuran kayu-kayuan untuk mendapat warna tertentu. Tokonya di Jalan Slamet Ryadi sering didatangi orang Jepang, selain golongan masyarakat tertentu yang akan melakukan perhelatan, misalnya pernikahan atau jumenengan, atau pejabat-pejabat naik tingkat dan mendapat gelar dari Keraton Solo.

Bayangkan saja, selembar batik tulis buatannya paling murah Rp 1,5 juta, “Karena memang dibuat tanpa lepas dari pakem, yang dikerjakan dengan sedikit modifikasi,” ujarnya. Tetapi pesaing sudah datang dengan batik murah karena melakukan proses pencelupan dengan pewarna buatan yang banyak didapat di toko-toko kimia.

Proses pembuatan batik itu sendiri yang membuatnya mahal, selembar batik baru bisa selesai dalam tiga bulan setelah melewati tangan sembilan perajin.

Dari penghalusan kain, lalu pembuatan gambar dasar, ngengreng di lembaran depan, lalu lembaran belakang, kemudian tembokan, baru dicelup warna hitam wedelan yang bahannya dari nila. Proses kemudian pengerokan lilin untuk yang akan dibuat warnanya putih (biron), untuk dilakukan pencelupan soga yang warnanya cokelat, sebanyak 40 kali celup.

Sendari mempekerjakan 10 karyawan yang masing-masing membawa 40 potong mori ke desa mereka di Sukoharjo atau Girilayu dan Giribangun untuk dibagikan kepada perajin. Tokonya sendiri akan pindah ke Jalan Supomo, menyatu dengan pabriknya yang ada di sana karena ia sudah tidak kuat menyewa.

Di tokonya itu ia justru banyak menerima order melipat kain batik (wiru) dan meratus (memberi wangi-wangian dengan mengasapi kain), yang bisa selesai paling cepat seminggu.

Bisnisnya ini berkembang pelan, tetapi meningkat ketika ada musim orang menikahkan anaknya. “Ada yang datang sekali beli senilai Rp 20 juta, ada yang cuma seratus-dua ratus ribu,” katanya.

Saat ia memutuskan pindah ke pabrik agar orang asing bisa melihat proses pembuatan batik itulah, ia mendapat bantuan PUKK sebesar Rp 20 juta, sejak awal tahun. Selama tiga bulan terakhir, ia mencicil pinjamannya hanya dengan sekitar Rp 900.000 sebulan.

Erich Ardiansa (26) memang pemuda ulet yang mengembangkan bisnis pembuatan kantung ponsel dari mulai sedikit, hingga kini punya mesin jahit kulit lima buah. Ia tidak memprosesnya sendiri, tetapi klip dari logam ia pesan dari perajin logam di Tulungagung dan tali nilon merek Boss, diimpornya dari Hongkong dan ia cuma membuat bungkus ponsel di rumah kontrakannya di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, Jatim.

Hasil produksi yang dibuat dari kulit domba atau biri-biri itu dijualnya ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar, dan Makassar lewat pengumpul. Kulit domba yang berwarna hitam itu jauh lebih lembut dibanding kulit kambing. Tetapi supaya mudah dibentuk karena mudah melar, kulit itu dilapis dulu (laminating) dengan kain di pabrik lain.

Dimulai dengan beberapa buruh, yang kemudian kini sudah 12 orang karena pesanan makin banyak, mau tak mau Erich perlu modal dan ia datang ke PT Telkom tahun lalu. Prosesnya sederhana, dalam waktu singkat ia mendapat Rp 20 juta yang dibelikan lima buah mesin jahit kulit dan ia mengangsur cuma Rp 913.700 sebulan.

Omzetnya sendiri sebulan mencapai Rp 45 juta dan pendapatan buruhnya bisa Rp 400.000 per dua minggu. Seperti yang diterima Sugianto, tergantung banyaknya pekerjaan borongan yang bisa diselesaikan setiap dua minggu.

Erich berharap, jika pinjamannya lunas ia bisa meminjam lagi untuk kedua kalinya. Sementara menurut Maman dari PT Telkom, nasabah hanya bisa pinjam dua kali karena berikutnya diharapkan sudah bisa berkembang sendiri atau mendapat pinjaman dari bank.

Kepala Divisi Regional V PT Telkom di Jawa Timur Kiskenda Suriaharja mengungkapkan, tahun lalu pihaknya berhasil menyalurkan pinjaman sebesar Rp 4,955 miliar untuk 273 mitra. “Tahun 2003 ini akan disalurkan bantuan sebesar Rp 5 miliar yang di triwulan pertama sudah berhasil disalurkan sebesar Rp 504,7 juta,” katanya.

Sumber : (HW) Kompas Cetak

Perajin Batik Bengkulu Bangkrut

Wednesday, April 16th, 2003

Belasan perajin kain besurek, batik tradisional khas Kota Bengkulu, bangkrut karena maraknya batik printing (cetak) bermotif besurek yang masuk ke Bengkulu. Sedangkan, sejumlah perajin yang masih aktif hingga saat ini kondisinya juga sudah mulai terancam bangkrut.

Akibatnya, kain besurek asli yang dibatik dengan tangan, terancam punah. Kain besurek adalah sebuah motif batik khas Bengkulu yang bernuansa kaligrafi Arab. Perajin malah berinisiatif untuk menambah aksen motif dengan bunga Raflesia Arnoldy supaya batik tradisional itu lebih memasyarakat.

“Sejak maraknya batik printing motif besurek, banyak anggota kami yang bangkrut,” kata Ely Sumiyati, Sekretaris Koperasi Perajin Kain Besurek (Kopinkra) Bengkulu, Selasa (15/4). Menurut Ely, sebelum maraknya batik cetak, anggota Kopinkra sebanyak 22 perajin.

Akan tetapi, saat ini perajin yang masih aktif tinggal 10 orang. “Dari 10 perajin itu, beberapa di antaranya juga sudah mulai goyah,” kata Ely yang juga sebagai pemilik sanggar kerajinan kain besurek Gading Cempaka.

Menurut Ely, rata-rata setiap perajin kain besurek memiliki tiga hingga 10 karyawan. Para karyawan itu bekerja sebagai penggambar motif besurek, hingga bagian pewarnaan.

Selain akibat batik printing, menurut sejumlah perajin yang masih aktif, bangkrutnya rekan-rekan mereka adalah karena permasalahan modal dan pemasaran.

Sari Bulan (47), pemilik Sanggar Kain Besurek Sari Bulan, mengatakan, saat ini ia tengah mengalami kesulitan modal. Oleh karena itu, semangatnya untuk melestarikan kain besurek sudah mulai goyah akibat berbagai kesulitan yang dihadapi. “Saya ini sudah setengah hati menjadi perajin. Kalau ada usaha lain, pasti usaha ini sudah saya tinggalkan,” kata Sari, yang memiliki beberapa karyawan ini.

Menurut Sari, dulu kesulitan perajin hanya pada segi permodalan. Namun sejak semakin maraknya batik printing bermotif besurek, kesulitan itu semakin bertambah.

Sumber : (B04) Kompas Cetak, Bengkulu

Akibat Bahan Baku NaikPengusaha Batik Menaikkan Harga

Tuesday, April 8th, 2003

Akibat melonjaknya harga bahan baku, sejumlah pengusaha batik terpaksa menaikkan harga jual meski sekarang permintaan berkurang. Karena itu mereka harus melakukan terobosan dengan mencari pasar lain bagi kain batik.

Syaifuddin, pemilik Toko Batik Cendana yang ditemui di lokasi pameran batik dan kerajinan di Plasa Tunjungan, Surabaya, mengatakan kenaikan harga berlaku untuk semua bahan baku. “Mulai dari kain hingga pewarna, harganya naik semua. Rata-rata bisa mencapai 40 persen,” katanya, Senin (7/4).

Akibatnya, ia harus mengambil langkah untuk menaikkan harga jual produksi batik tulis khas Madura miliknya. Kenaikan harga jual sekitar 80 persen per meternya itu dianggap sebagai kumulatif dari kenaikan bahan baku. “Oleh karena itu, kenaikan harga ini berlaku untuk semua produk,” tuturnya.

Langkah menaikkan harga itu mau tak mau harus diambil karena pengusaha batik tidak akan mampu bertahan dalam kondisi yang semakin memburuk seperti saat ini. Pembeli di show room Syaifuddin di Pamekasan yang umumnya wisatawan berkurang. Bahkan, permintaan butik atau toko di Yogyakarta, Surabaya, dan Bali terhadap hasil produksi Batik Cendana juga berkurang. “Rata-rata penurunan permintaan mencapai 50 persen,” keluh Syaifuddin.

Menyikapi hal itu, Syaifuddin berupaya mencari celah baru dalam pemasaran hasil produksinya, dengan melakukan penjajakan terhadap beberapa butik atau toko yang selama ini belum pernah berhubungan dengannya.

“Kalau hal ini tidak dilakukan, lambat laun perusahaan batik seperti kami dapat terancam gulung tikar. Saat ini saja, kami susah mengurangi jumlah pekerja, dari 15 orang menjadi 10 orang,” katanya.

Dalam pameran yang sama, Een, staf marketing rumah produksi Batik Nakula Sadewa mengatakan, kenaikan bahan baku yang terjadi membuat perusahaannya terpaksa menaikkan harga jual. Namun, Een enggan mengakui berapa besar kenaikan harga jual yang diterapkan oleh industri batik di Yogyakarta itu.

“Untungnya, selama ini langganan kami kebanyakan pejabat dan masyarakat yang membeli batik sebagai kebutuhan pakaian resmi mereka. Jadi, memburuknya kondisi pariwisata tidak banyak berpengaruh,” kata Een.

Ia menambahkan, selama ini industri batik Nakula Sadewa menerapkan standar kesulitan motif batik dalam menentukan harga jual. Oleh karena itu, untuk menghadapi melonjaknya harga bahan baku juga disiasati dengan menyederhanakan motif sehingga harga dapat ditekan.

Sumber : (IDR) Kompas Cetak, Surabaya

Pembeli Batik dari Luar Negeri Berkurang

Thursday, April 3rd, 2003

Sejak tahun 1998, pembeli batik dari luar negeri (turis asing) berkurang drastis. Akibatnya, kini pembelian batik didominasi konsumen lokal. Menurut seorang peserta pameran batik di Plaza Tunjungan, Sugarbo, Rabu (2/4), sebelum tahun 1998 persentase pembelian batik di sanggar Narendra miliknya di Yogyakarta mencapai 90 persen. Namun, saat ini keadaan berbalik, menjadi 90 persen oleh pembeli lokal. Untuk itu perajin harus menyiasati keadaan ini dengan menekan harga agar batik mereka tetap laku terjual, karena turis yang biasanya berani membeli mahal tidak lagi dapat diandalkan. Kiat menekan harga jual itu menyebabkan keuntungan yang diperoleh perajin batik jauh berkurang. Pasalnya, harga kain bahan baku batik justru naik 4-5 kali lipat. “Untung saja batik-batik sutra yang berkualitas tinggi masih tetap diminati penggemar fanatik. Jadi kami masih dapat bertahan,” ujar Sugarbo.

Sumber : (rma) Kompas Cetak, Jakarta