Maria Cecilia Merry Christanti, Desainer Batik Lasem
DI tengah lesunya industri batik Lasem yang banyak dikeluhkan para pengusaha, disertai banyaknya di antara mereka yang gulung tikar, Maria Cecilia Merry Christanti (47) ternyata mampu bertahan, bahkan melihat celah-celah yang menjanjikan untuk pengembangan batik Lasem.
“Orang lain mengatakan industri batik Lasem sedang lesu. Tapi, saya justru melihat adanya peluang-peluang untuk mengembangkan batik Lasem,” ujar wanita yang menjadi desainer, sekaligus pengusaha batik Lasem di kawasan Gedongmulyo di Kota Lasem, Jawa Timur (Jatim), ini. “Kalau orang sekarang lebih senang pakai rok daripada kain kebaya, kami tanggapi kesenangan tersebut dengan memproduksi kain batik untuk bahan rok. Kenapa tidak? Bukankah ini peluang?” tambahnya.
Istri dari Purnomo Maskoen (52) ini selain memproduksi kain batik Lasem dalam bentuk kain sarung dan kain panjang untuk pakaian kebaya, juga membuat kain batik untuk rok wanita dan kemeja pria. Bahkan, dia juga membuat kain selendang dan kain hiasan dinding dengan motif batik Lasem.
Selain Jatim, batik Lasem hasil produksinya mampu menembus pasaran batik di Jawa Barat. Bahkan, orang-orang asing, terutama Jepang, datang ke tempatnya untuk membeli batik Lasem buatannya guna dijual lagi di negeri mereka. “Orang Perancis juga pernah datang ke sini membeli batik saya untuk dibawa ke negerinya,” ungkap ibu dari Alvin (24), Novia (21), dan Gustav (20) ini.
CHRISTANTI memang mencapai hasil gemilang dalam usaha pembatikan Lasem yang digelutinya sejak tahun 1979. Banyak order diterimanya. Namun, keberhasilan ini membuat Christanti menjadi “keranjingan”, lupa segala-galanya, kecuali mengejar target untuk memenuhi order yang berdatangan. Hal itu membuat dirinya stres dan keluarganya pun ikut terkena imbasnya.
Akan tetapi, sekarang dia bekerja tidak “ngoyo”, melainkan dengan hati sukacita penuh syukur kepada Tuhan. Itulah juga yang kini menjadi motto kerja Christanti, yang sekarang mempekerjakan 50 tenaga pembatik-pernah mencapai sekitar 300 orang.
“Dahulu saya bekerja hanya mengandalkan pikiran saja. Saya berusaha bagaimana usaha pembatikan saya bisa berkembang menjadi besar. Berkat promosi yang gencar saya lakukan, banyak order berdatangan. Dari pejabat pemerintah sampai orang biasa. Semuanya saya kerjakan, mulai dari membuat batik tulis halus sampai batik tulis kasar. Untuk memenuhi order-order tersebut, saya sampai merekrut tenaga kerja baru. Dan, masa jaya saya dengan order yang melimpah terjadi pada tahun 1996 sehingga saya mampu merekrut tenaga kerja sebanyak 300 orang. Tetapi, ternyata akhirnya apa yang terjadi? Saya menjadi stres, bahkan akhirnya menjadi depresi karena order-order tersebut menguras daya pikir dan tenaga saya,” ungkap Christanti terus terang. Keadaan yang depresif tersebut mempengaruhi suasana kehidupan keluarganya sehingga membuat dia semakin depresi. Cukup lama dia menderita depresi.
“Sekarang, berkat rahmat Tuhan, saya menjadi sadar bahwa uang bukanlah segala-galanya. Uang tidak bisa dikejar, tetapi juga tidak bisa ditolak. Jadi, saya pasrah apa adanya. Pokoknya, apa yang Tuhan berikan saya syukuri. Saya tidak lagi bekerja dengan mengandalkan pikiran semata-mata, tetapi bekerja dengan hati sukacita, mensyukuri apa saja yang diberikan Tuhan kepada saya. Tuhan sudah memberkati saya dengan kesehatan dan usaha saya tetap berjalan tanpa perlu ngoyo,” tambahnya.
“Di mana-mana orang bilang batik Lasem sepi. Alhamdulillah, batik saya laku terus, walaupun sehari hanya 1-2 potong. Sekarang saya tidak pernah merasa susah. Pokoknya, saya syukuri apa pun yang Tuhan berikan. Kalau kita syukuri segalanya menjadi enak di hati, pekerjaan juga lancar,” kata Christanti dengan khidmat. “Saya melayani order semampu saya. Uang bukan segala-galanya. Bukan saya sombong tidak mau duit, melainkan buat apa memborong order kalau tidak membuat saya damai,” ungkapnya.
Sekarang dia hanya melayani order yang mudah-mudah saja. Misalnya, order untuk membuat batik klowongan, yaitu kain mori yang hanya dibatiki kerangka motifnya saja dengan satu warna, tetapi tetap dengan kain mori yang kualitas paling prima (kualitas halus) dan pembatikannya tetap dengan menggunakan tangan (ditulis). Batik klowongan ini sudah bisa dipakai, baik untuk bahan rok maupun kemeja. Harganya sekitar Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per lembar, jauh lebih murah dibandingkan kain batik yang diberi isen-isen lengkap yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
LAHIR di Porong (Sidoarjo, Jawa Timur) 10 Februari 1956, Christanti menikah dengan Purnomo Maskoen (kelahiran Lasem, 30 Agustus 1951) pada tahun 1975, dan selama delapan tahun bersama suaminya tinggal di rumah mertuanya yang pengusaha batik di Lasem.
“Selama berkumpul dengan mertua itulah saya belajar membatik. Ketika saya bersama suami dan anak-anak pindah ke rumah sendiri dan pisah dari mertua, saya membuka usaha pembatikan sendiri,” ungkap Christanti. Dengan mencantumkan nama suaminya, usaha pembatikannya itu dia beri nama Batik Art Purnomo.
Kata Christanti, sekalipun tidak lagi ngoyo seperti beberapa tahun lalu yang sempat membuatnya stres, dia tetap berusaha mengembangkan usahanya.
“Yang membuat saya bertahan dalam usaha pembatikan Lasem ini ialah keinginan saya untuk melestarikan batik Lasem supaya tidak punah. Sayang kalau sampai punah. Maka, saya punya keinginan untuk meneruskan usaha pembatikan ini kepada anak saya kalau dia mau,” katanya.
Menurut Christanti, anaknya yang pertama, Alvin, sepertinya punya jiwa seni juga. ” Jadi, mau saya arahkan dia ke usaha pembatikan Lasem. Mudah-mudahan dia berminat,” katanya.
Namun dia tetap berprinsip untuk tidak mau memaksakan keinginannya itu kepada sang anak. Dia tidak mau anaknya menjadi stres karena terpaksa mengikuti keinginan sang ibu.
CHRISTANTI mengaku belajar mendesain batik secara otodidak dari buku-buku saja. “Saya tidak pernah mengikuti pendidikan desain batik secara formal,” ungkapnya.
Ia membuat motif-motif baru sejalan dengan panggilan jiwa seninya. Tetapi, sejalan dengan keinginannya untuk tetap melestarikan batik Lasem, Christanti tidak meninggalkan kekhasan batik Lasem pada batik produksinya, baik dalam hal motif maupun warnanya.
“Saya memang membuat motif-motif baru. Tetapi, dalam mendesain motif baru tersebut saya menyelipkan ciri-ciri khas batik Lasem pada batik produksi saya, antara lain warna merahnya yang khas Lasem tidak saya tinggalkan,” ungkapnya. Warna merah menyerupai warna darah ayam ini tidak bisa ditiru orang sekalipun dijiplak dengan menggunakan teknologi printing.
Mengenai motif batik ciptaannya, Christanti mengaku bahwa batik printing-nya pernah dibajak orang lain. “Pertama saya marah sekali ketika mengetahui ada batik printing yang menggunakan motif karya saya. Tetapi, setelah saya menyadari akan kasih Tuhan, saya tidak lagi marah-marah, bahkan sekarang saya merasa bangga kalau ada desain ciptaan saya ditiru orang lain,” ungkapnya dengan senyum tipis.
Sumber : (SN Wargatjie) Kompas Cetak, Jawa Timur