Dampak Kenaikan Tarif: Batik Pekalongan Nasibnya di Ujung Tanduk
Thursday, March 27th, 2003Siapa yang tak kenal dengan Pekalongan. Kota di Jawa Tengah ini memiliki potensi produk unggulan batik dan produk dari alat tenun bukan mesin (ATBM). Paling sedikit 3.000 unit yang setiap hari mengembangkan usaha itu. Tapi perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM) tersebut mengalami pasang surut, suatu saat berkembang pesat dan saat lain berjatuhan.
Beberapa faktor yang menyebabkan tidak stabilnya perkembangan industri batik di sentra pengrajin batik itu adalah, kenaikan harga tarif dasar listrik, telepon dan bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, faktor pemodalan dan pemasar-an, merupakan faktor lain yang juga masih menjadi kendala para pengrajin batik di Pekalongan.
Naiknya harga tarif dasar listrik, telepon dan bahan bakar serta pajak penjualan menjadi keluhan para pedagang batik di Pekalongan. Karena kenaikan tarif dan harga tersebut, mempengaruhi omzet penjualan para pedagang. Pasar batik yang dirintis oleh para perajin kecil yang baru berusia dua tahun, kini terasa lengang.
Selama dua tahun ini para pedagang belum menikmati keuntungan dari penjualan yang ada. Apalagi bila dihitung dari investasi yang sudah dikeluarkan sebelumnya, kerugian tersebut sangat dirasakan sehingga banyak pedagang yang enggan membuka kiosnya mencapai 75 persen.
Menurut pengelola pasar batik, Soni Hikmalul, hancurnya pengusaha besar mungkin dampaknya tidak begitu terasa di lapisan bawah. Tetapi kalau penguhasa kecil yang jumlahnya cukup banyak, tentu sangat berpengaruh bagi perekonomian nasional.
Pengusaha batik di Pe-kalongan yang jumlahnya mencapai ribuan, dipastikan tidak dapat memproduksi batik, karena semua bahan dasar dan obat batik naik. Biaya hidup naik dan biaya operasional juga naik termasuk gaji buruh. “Jika sudah demikian, maka Peka-longan sebagai kota batik akan kehilangan jatidirinya.
Sementara itu salah seorang pedagang batik, Mulkan mengakui, kondisi pasar sepi, para pedang hanya bisa bertahan tanpa memperoleh keuntungan. Bila kondisi seperti ini terus, tidak menutup kemungkinan Mulkan akan menjual kiosnya.
Faktor Modal
Kendala faktor permodalan dan pemasaran pengrajin dan pedagang batik di Pekalongan, menurut Wakil Sekretaris Forum for Economic Development Employment Promotion (Fedep) Kota Pekalongan, Very Yudianto SE, sangat mempengaruhi kemajuan dan kemunduran UKM di Kota Batik.
“Tentang masalah sumber daya manusianya tak diragukan lagi. Untuk membuat berbagai jenis batik, dapat dilakukan oleh pembatik Pekalongan. Hasilnya pun tak kalah dengan pabrik,” tandas Very, Jum’at (12/3).
Bagi Kota Pekalongan, lanjut Very, mengembangkan perekonomian daerah dengan formulasi melalui pendekatan cluster (pengelompokan usaha sejenis) terbagi dalam dua sentra. Keduanya adalah sentra produksi yang berpusat di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat dan Pekalongan Selatan serta sentra perdagangan di Pekalongan Timur.
Dia mengakui, produksi batik Pekalongan sudah dikenal sejak lama, meski hidupnya suatu saat maju dan saat lain kembang-kempis. Hal tersebut sudah disadari oleh Pemkot. Semua itu sebagian besar dipengaruhi keminiman modal dan pemasaran (perdagangan) yang kurang lancar.
Dia kemudian menggambarkan akibat keminiman modal itu menyebabkan UKM tidak bisa bergerak mengembangkan usahanya. Padahal, perdagangan batik dan tenun ATBM sebagian besar pembayarannya dilakukan mundur (tidak tunai) atau dibayar dengan cek yang jatuh temponya memerlukan beberapa minggu atau bulan.
Padahal, pembayaran tenaga kerja dilakukan sepekan sekali pada Kamis. Dalam situasi terjepit, pengusaha terpaksa menjual cek yang belum jatuh tempo kepada pemilik modal, meski harus memberi bunga yang dipotong dimuka 4 persen. Selain itu, pengusaha terpaksa menjual produknya di bawah harga standar. ‘’Padahal, penjualan seperti itu akan merusak pasar,’’ ujarnya lagi.
Perlu Pembinaan
Masalah perdagangan sambungnya, juga perlu mendapatkan pembinaan terutama menyangkut pemasaran produk unggulan Pekalongan. Selama ini berdasarkan pengamatannya, batik dan ATBM Pekalongan sudah tersebar di wilayah Indonesia dan luar negeri. Namun pemasarannya bukan dilakukan oleh produsen, melainkan melalui beberapa pedagang, sehingga harga pada konsumen sangat mahal.
Untuk itu, diperlukan upaya memotong mata rantai perdagangan yang panjang dengan mempromosikan produknya ke berbagai daerah seperti Surabaya dan Jakarta yang hasilnya dapat dinikmati pelaku UKM.
Upaya itu sudah berhasil, sehingga akan ditindaklanjuti dengan promosi menggelar pameran produk Pekalongan di Serang (Jawa Barat) dan Lampung (Sumatra) dalam waktu dekat. Itulah harapan Fedep Pekalongan.
Bila Pemprov memberikan penguatan modal tanpa harus melalui persyaratan sulit bagi UKM serta meningkatkan pameran ke berbagai daerah dan bahkan ke luar negeri dengan mengajak pengusaha daerah, maka pemasaran produk-produk unggulan Jateng akan meningkat termasuk batik dari Pekalongan.
Nasib pengusaha batik asal Pekalongan, kian hari tampaknya kian sial. Sejak bebebrapa tahun ini, menurut pengamatan SH, penjualan batik asal kota ini terus menurun tajam. Penyebab lainnya, permintaan dari Amerika dan Eropa terus menyusut. Selain gara-gara menukiknya permintaan dari AS dan Eropa, penurunan omzet juga disebabkan membanjirnya batik produk Vietnam dan Cina.
Batik dari dua negeri pesaing ini terbukti lebih murah ketimbang buatan Indonesia. Satu potong batik asal Vietnam misalnya, paling mahal dijajakan dengan harga US$ 2.
Sementara itu, batik Pekalongan berkisar antara US$ 2,7 untuk pakaian anak-anak dan US$ 8 untuk dewasa. Bahkan, saking buruknya kondisi, banyak pembatik yang telah menghentikan produksinya.
Para pengusaha batik Pekalongan ini, akhirnya maju kena mundur kepentok. Di luar negeri, dia harus bersaing dengan produsen dari Vietnam dan Cina, di pasar lokal harus menghadapi pembatik dari Yogyakarta dan Solo.
Sumber : (SH/ali rojihi) Sinar Harapan, Pekalongan
Pasar Grosir Tanahabang di Jakarta Pusat yang terbakar bulan silam ternyata tak cuma menyisakan duka bagi para pedagang di pasar tersebut. Bak efek domino, musibah yang menimpa pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara itu juga membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian. Sebut saja kuli panggul, penjaja kantong, bahkan tukang parkir. Tak cuma itu, ternyata banyak juga warga di sejumlah daerah yang menggantungkan nafkahnya dari Pasar Tanahabang. Sebagai contoh adalah para perajin batik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Menyusul terbakarnya Pasar Tanahabang, industri batik di kota tersebut lesu. Soalnya, sebagian besar pengusaha batik menjadikan Pasar Tanahabang sebagai tujuan utama penjualan produk mereka [baca: Pasar Grosir Tanahabang Terbakar].