Dari Pusat Grosir hingga Museum Batik
BAGI yang lama tidak berkunjung ke Kota Batik Pekalongan, perkembangan kota ini terasa luar biasa, terutama di sektor perdagangan. Pusat batik yang dikemas dalam bentuk pasar-pasar grosir menjamur. Letak Pekalongan yang strategis, yakni di lintas pantai utara (pantura), tepatnya di tengah-tengah Semarang-Tegal, sangat membantu perkembangan pusat grosir tersebut.
Dalam jangka waktu 1,5 tahun, Kota Pekalongan memiliki tiga pusat grosir yang semuanya terletak di sepanjang jalur pantura, yakni Pasar Setono dengan 225 kios, Gammer 350 kios, dan Mega Grosir MM yang memiliki 180 kios. Pesatnya perkembangan pusat grosir ini tidak lepas dari peran pengusaha batik dan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan.
Pengusaha batik merasakan, sejak otonomi daerah diberlakukan, Pemkot memberi perhatian lebih pada pengembangan produk unggulan tersebut dengan memberi keleluasaan dalam pengembangan usaha.
“Perhatian Pemkot terhadap perkembangan batik cukup besar. Bahkan, ini mendapat prioritas dan dimasukkan dalam visi misi Pekalongan sebagai kota dagang. Top birokrasi Pekalongan tidak mempersulit setiap pengusaha yang ingin membuka peluang baru. Contohnya, saat gabungan pengusaha batik akan mendirikan pasar grosir, wali kota memperbolehkan kami jalan duluan, sementara izin bus diurus belakangan,” ujar Soni Higmalul, salah satu perajin batik yang juga pengurus Paguyubanan Pengusaha Batik Pekalongan.
Pemkot akan melengkapi kekurangan berupa prasarana umum di kompleks pasar grosir, seperti jalan, penerangan, atau trayek angkutan. Hal lain yang menunjang pasar tinggal dikomunikasikan dengan Pemkot. Dalam rangka menumbuhkan usaha kecil dan menengah (UKM), Pemkot tidak membebani mereka dengan berbagai pajak. Pemkot hanya menarik retribusi parkir, penerangan, dan pemasangan papan nama.
Dengan demikian, wajar jika Kepala Bagian Humas Kota Pekalongan Soeharto mengatakan, sektor batik, terutama yang dikembangkan perajin golongan menengah dan kecil, tidak memberi kontribusi pada pemasukan pendapatan asli daerah (PAD). Soeharto mengatakan, ide pemasaran melalui pasar-pasar grosir dinilai lebih efektif dan sesuai dengan visi Kota Pekalongan, yakni mewujudkan Pekalongan sebagai pusat perdagangan dan jasa.
Rencananya, jelas Soeharto, wilayah Pekalongan timur bakal dijadikan zona perdagangan. Guna pengembangan kota, wilayah tersebut bakal dibangun mal meski sekarang sudah terdapat sejumlah pasar grosir. Sentra perajin batik terdapat di wilayah Pekalongan barat dan selatan, seperti Pasir Sari, Jenggot, Kauman, dan Lambungsari.
Menurut Soni, penurunan penjualan tidak hanya terjadi di pasar grosir. Outlet-outlet batik dan order dari Pulau Bali pun menurun drastis hingga mencapai 60 persen akibat penurunan wisatawan mancanegara pascapeledakan bom di Legian, Kuta, Bali. Padahal, ungkap Soni, sekitar 70 persen batik yang dijual di Bali berasal Pekalongan. “Banyak order yang ditunda atau pembayarannya jatuh tempo dan terpaksa mundur,” ujarnya.
Hal tersebut berdampak bagi, setidaknya, 7.500 perajin batik di Pekalongan. Mereka terpaksa memikirkan pasar-pasar alternatif untuk menyalurkan produknya. Berbagai pameran pun diikuti, seperti Festival Krakatau, Bali, Jakarta, dan Lampung.
“Selama ini, para pengusaha batik mencari akses pasar sendiri. Memang, Pemkot pernah mengikutsertakan pengusaha batik Pekalongan dalam kegiatan pameren, tetapi itu belum seberapa. Kalau menurut saya, bagus jika Pemkot bersedia membeli tanah atau bangunan untuk membuat semacam kantor atau pusat perdagangan batik di kota lain. Ini akan menjadi semacam terminal peminat batik yang menguntungkan,” ujar Soni.
Menurut Soni, upaya pengembangan batik yang selama ini dilakukan Pemkot Pekalongan tidak lagi memadai. Sebab, persoalan yang dihadapi kebanyakan perajin batik adalah pasar, sedangkan Pemkot berkutat pada berbagai pelatihan. Selain mencarikan pasar, Soni menyarankan agar pemerintah lebih banyak memberi pinjaman lunak kepada perajin batik.
Lesunya perdagangan batik belakangan ini tidak membuat pengusaha-pengusaha tersebut menjadi patah arang. Dengan berbagai cara, mereka berupaya mengembangkan dan mempertahankan Pekalongan sebagai kota batik. Di antaranya dengan pendirian Politeknik Batik Pusmanu dan Museum Batik Pekalongan yang sampai kini masih digagas.
Politeknik tersebut dimaksudkan menyiapkan tenaga pengajar mata pelajaran batik yang kini telah dimasukkan dalam kurikulum sekolah dasar (SD) sebagai salah satu muatan lokal untuk kelas empat dan lima. Keberadaan politeknik juga diharapkan mampu menyediakan sumber daya manusia yang siap meraih tongkat estafet dari generasi sebelumnya.
Lulusan Politeknik Batik Pusmanu nantinya diharapkan mampu mengembangkan batik melalui inovasi dan penemuan-penemuan baru, baik dalam corak, warna, ataupun model.
“Kami juga sedang menyiapkan pendirian Museum Batik, bekerja sama dengan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang. Museum ini sudah direncanakan sejak setahun lalu dan menurut pembicaraan terakhir, Gubernur Jateng sudah setuju untuk meminjamkan rumah karesidenan Pekalongan. Museum ini akan direalisasikan satu atau dua bulan mendatang,” ujar Soni.
Dengan demikian, upaya mengukuhkan Pekalongan sebagai kota batik kian komprehensif, tidak setengah-setengah. Pasar diraih, regenerasi tak ditinggalkan, sejarah pun tak terlupakan.
Sumber : (Susana Rita) Kompas Cetak, Jakarta
January 4th, 2008 at 6:24 pm
I am intending to bring adult students to study batik making in Pekalongan, preferably Politeknik Pusmanu. If you can, please send as much information regarding the Politeknik to me as soon as possible.