Berkembang Pesat, Pasar Grosir Batik Pekalongan
Bisnis eceran batik di Pasar Grosir Setono Pekalongan, hingga saat ini terus berkembang. Para perajin dan pedagang batik yang berjualan di pasar grosir mengaku, omzet rata-rata per hari mencapai Rp 300.000 hingga Rp 500.000.
Tingginya nilai transaksi penjualan batik tersebut menyebabkan permintaan penambahan kios bertambah. Pasar Grosir Setono merencanakan menambah enam kios eksekutif untuk melengkapi 234 kios, counter dan los yang sudah ada, dengan jumlah total pedagang 260 orang.
“Kami juga berharap, omzet perdagangan batik tidak terpengaruh oleh kebakaran pertokoan di pasar eceran tekstil dan pakaian Tanah Abang, Jakarta. Kalau perlu pedagang di Jakarta bisa mendapat pasokan pakaian dari pasar grosir,” kata Direktur Pasar Grosir Setono Pekalongan, Hasanudin, Sabtu (22/2).
Hasanudin menambahkan, tidak hanya kios eksekutif yang akan ditambah, melainkan pengelola menyediakan 30 los untuk pedagang kali lima batik di dalam kawasan pasar grosir pada area 3.500 meter persegi, lahan bekas pabrik tekstil. Kios eksekutif itu sudah dipesan habis meski harga sewanya Rp 24 juta per tahun. Di pasar ini juga terdapat kios VIP yang sewanya Rp 27 juta per tahun.
Dikatakan, omzet perdagangan batik di pasar grosir sangat tergantung pada hari-hari kegiatan besar masyarakat. Pada bulan Ramadhan hingga pasca-Lebaran misalnya, biasanya omzet Rp 1,5 juta per hari diperoleh perajin atau pedagang. Bulan yang ramai lainnya adalah masa panen tembakau atau panen padi. Musim hujan yang menyebabkan tanaman petani kebanjiran turut mengurangi omzet penjualan batik.
Hasanudin mengemukakan, pasar grosir ini dipenuhi perajin maupun pedagang yang banyak menjual produk batik Pekalongan seperti busana wanita, baju, celana, perlengkapan aksesori rumah tangga seperti kain seprei, sarung bantal, dan sebagainya. Konsep awal pasar grosir ini hanya untuk perdagangan produk batik, namun belakangan usaha konveksi mulai bergabung. Pasar Grosir Setono juga mulai ditiru swasta lain dengan membangun pasar serupa di lokasi lain.
“Sudah terdapat tujuh pasar grosir batik di Pekalongan dan sekitarnya. Pasar grosir terbesar adalah Pasar Setono, Gamer, Pantura, dan Bondansari. Sayangnya, Bondansari kabarnya gulung tikar setelah usaha perdagangan batik sepi,” kata Hasanudin.
Hasanudin mengatakan, perdagangan batik di pasar grosir ini sudah melebar. Pembeli tidak hanya warga Jawa Tengah, tetapi juga sudah banyak pedagang besar dari berbagai provinsi. Pedagang dari mancanegara pun mulai melirik dan mencari pakaian batik dari Pekalongan.
Sumber : (who/sig) Kompas Cetak, Semarang