Archive for February, 2003

Berkembang Pesat, Pasar Grosir Batik Pekalongan

Monday, February 24th, 2003

Bisnis eceran batik di Pasar Grosir Setono Pekalongan, hingga saat ini terus berkembang. Para perajin dan pedagang batik yang berjualan di pasar grosir mengaku, omzet rata-rata per hari mencapai Rp 300.000 hingga Rp 500.000.

Tingginya nilai transaksi penjualan batik tersebut menyebabkan permintaan penambahan kios bertambah. Pasar Grosir Setono merencanakan menambah enam kios eksekutif untuk melengkapi 234 kios, counter dan los yang sudah ada, dengan jumlah total pedagang 260 orang.

“Kami juga berharap, omzet perdagangan batik tidak terpengaruh oleh kebakaran pertokoan di pasar eceran tekstil dan pakaian Tanah Abang, Jakarta. Kalau perlu pedagang di Jakarta bisa mendapat pasokan pakaian dari pasar grosir,” kata Direktur Pasar Grosir Setono Pekalongan, Hasanudin, Sabtu (22/2).

Hasanudin menambahkan, tidak hanya kios eksekutif yang akan ditambah, melainkan pengelola menyediakan 30 los untuk pedagang kali lima batik di dalam kawasan pasar grosir pada area 3.500 meter persegi, lahan bekas pabrik tekstil. Kios eksekutif itu sudah dipesan habis meski harga sewanya Rp 24 juta per tahun. Di pasar ini juga terdapat kios VIP yang sewanya Rp 27 juta per tahun.

Dikatakan, omzet perdagangan batik di pasar grosir sangat tergantung pada hari-hari kegiatan besar masyarakat. Pada bulan Ramadhan hingga pasca-Lebaran misalnya, biasanya omzet Rp 1,5 juta per hari diperoleh perajin atau pedagang. Bulan yang ramai lainnya adalah masa panen tembakau atau panen padi. Musim hujan yang menyebabkan tanaman petani kebanjiran turut mengurangi omzet penjualan batik.

Hasanudin mengemukakan, pasar grosir ini dipenuhi perajin maupun pedagang yang banyak menjual produk batik Pekalongan seperti busana wanita, baju, celana, perlengkapan aksesori rumah tangga seperti kain seprei, sarung bantal, dan sebagainya. Konsep awal pasar grosir ini hanya untuk perdagangan produk batik, namun belakangan usaha konveksi mulai bergabung. Pasar Grosir Setono juga mulai ditiru swasta lain dengan membangun pasar serupa di lokasi lain.

“Sudah terdapat tujuh pasar grosir batik di Pekalongan dan sekitarnya. Pasar grosir terbesar adalah Pasar Setono, Gamer, Pantura, dan Bondansari. Sayangnya, Bondansari kabarnya gulung tikar setelah usaha perdagangan batik sepi,” kata Hasanudin.

Hasanudin mengatakan, perdagangan batik di pasar grosir ini sudah melebar. Pembeli tidak hanya warga Jawa Tengah, tetapi juga sudah banyak pedagang besar dari berbagai provinsi. Pedagang dari mancanegara pun mulai melirik dan mencari pakaian batik dari Pekalongan.

Sumber : (who/sig) Kompas Cetak, Semarang

Dari Pusat Grosir hingga Museum Batik

Monday, February 24th, 2003

BAGI yang lama tidak berkunjung ke Kota Batik Pekalongan, perkembangan kota ini terasa luar biasa, terutama di sektor perdagangan. Pusat batik yang dikemas dalam bentuk pasar-pasar grosir menjamur. Letak Pekalongan yang strategis, yakni di lintas pantai utara (pantura), tepatnya di tengah-tengah Semarang-Tegal, sangat membantu perkembangan pusat grosir tersebut.

Dalam jangka waktu 1,5 tahun, Kota Pekalongan memiliki tiga pusat grosir yang semuanya terletak di sepanjang jalur pantura, yakni Pasar Setono dengan 225 kios, Gammer 350 kios, dan Mega Grosir MM yang memiliki 180 kios. Pesatnya perkembangan pusat grosir ini tidak lepas dari peran pengusaha batik dan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan.

Pengusaha batik merasakan, sejak otonomi daerah diberlakukan, Pemkot memberi perhatian lebih pada pengembangan produk unggulan tersebut dengan memberi keleluasaan dalam pengembangan usaha.

“Perhatian Pemkot terhadap perkembangan batik cukup besar. Bahkan, ini mendapat prioritas dan dimasukkan dalam visi misi Pekalongan sebagai kota dagang. Top birokrasi Pekalongan tidak mempersulit setiap pengusaha yang ingin membuka peluang baru. Contohnya, saat gabungan pengusaha batik akan mendirikan pasar grosir, wali kota memperbolehkan kami jalan duluan, sementara izin bus diurus belakangan,” ujar Soni Higmalul, salah satu perajin batik yang juga pengurus Paguyubanan Pengusaha Batik Pekalongan.

Pemkot akan melengkapi kekurangan berupa prasarana umum di kompleks pasar grosir, seperti jalan, penerangan, atau trayek angkutan. Hal lain yang menunjang pasar tinggal dikomunikasikan dengan Pemkot. Dalam rangka menumbuhkan usaha kecil dan menengah (UKM), Pemkot tidak membebani mereka dengan berbagai pajak. Pemkot hanya menarik retribusi parkir, penerangan, dan pemasangan papan nama.

Dengan demikian, wajar jika Kepala Bagian Humas Kota Pekalongan Soeharto mengatakan, sektor batik, terutama yang dikembangkan perajin golongan menengah dan kecil, tidak memberi kontribusi pada pemasukan pendapatan asli daerah (PAD). Soeharto mengatakan, ide pemasaran melalui pasar-pasar grosir dinilai lebih efektif dan sesuai dengan visi Kota Pekalongan, yakni mewujudkan Pekalongan sebagai pusat perdagangan dan jasa.

Rencananya, jelas Soeharto, wilayah Pekalongan timur bakal dijadikan zona perdagangan. Guna pengembangan kota, wilayah tersebut bakal dibangun mal meski sekarang sudah terdapat sejumlah pasar grosir. Sentra perajin batik terdapat di wilayah Pekalongan barat dan selatan, seperti Pasir Sari, Jenggot, Kauman, dan Lambungsari.

Menurut Soni, penurunan penjualan tidak hanya terjadi di pasar grosir. Outlet-outlet batik dan order dari Pulau Bali pun menurun drastis hingga mencapai 60 persen akibat penurunan wisatawan mancanegara pascapeledakan bom di Legian, Kuta, Bali. Padahal, ungkap Soni, sekitar 70 persen batik yang dijual di Bali berasal Pekalongan. “Banyak order yang ditunda atau pembayarannya jatuh tempo dan terpaksa mundur,” ujarnya.

Hal tersebut berdampak bagi, setidaknya, 7.500 perajin batik di Pekalongan. Mereka terpaksa memikirkan pasar-pasar alternatif untuk menyalurkan produknya. Berbagai pameran pun diikuti, seperti Festival Krakatau, Bali, Jakarta, dan Lampung.

“Selama ini, para pengusaha batik mencari akses pasar sendiri. Memang, Pemkot pernah mengikutsertakan pengusaha batik Pekalongan dalam kegiatan pameren, tetapi itu belum seberapa. Kalau menurut saya, bagus jika Pemkot bersedia membeli tanah atau bangunan untuk membuat semacam kantor atau pusat perdagangan batik di kota lain. Ini akan menjadi semacam terminal peminat batik yang menguntungkan,” ujar Soni.

Menurut Soni, upaya pengembangan batik yang selama ini dilakukan Pemkot Pekalongan tidak lagi memadai. Sebab, persoalan yang dihadapi kebanyakan perajin batik adalah pasar, sedangkan Pemkot berkutat pada berbagai pelatihan. Selain mencarikan pasar, Soni menyarankan agar pemerintah lebih banyak memberi pinjaman lunak kepada perajin batik.

Lesunya perdagangan batik belakangan ini tidak membuat pengusaha-pengusaha tersebut menjadi patah arang. Dengan berbagai cara, mereka berupaya mengembangkan dan mempertahankan Pekalongan sebagai kota batik. Di antaranya dengan pendirian Politeknik Batik Pusmanu dan Museum Batik Pekalongan yang sampai kini masih digagas.

Politeknik tersebut dimaksudkan menyiapkan tenaga pengajar mata pelajaran batik yang kini telah dimasukkan dalam kurikulum sekolah dasar (SD) sebagai salah satu muatan lokal untuk kelas empat dan lima. Keberadaan politeknik juga diharapkan mampu menyediakan sumber daya manusia yang siap meraih tongkat estafet dari generasi sebelumnya.

Lulusan Politeknik Batik Pusmanu nantinya diharapkan mampu mengembangkan batik melalui inovasi dan penemuan-penemuan baru, baik dalam corak, warna, ataupun model.

“Kami juga sedang menyiapkan pendirian Museum Batik, bekerja sama dengan Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang. Museum ini sudah direncanakan sejak setahun lalu dan menurut pembicaraan terakhir, Gubernur Jateng sudah setuju untuk meminjamkan rumah karesidenan Pekalongan. Museum ini akan direalisasikan satu atau dua bulan mendatang,” ujar Soni.

Dengan demikian, upaya mengukuhkan Pekalongan sebagai kota batik kian komprehensif, tidak setengah-setengah. Pasar diraih, regenerasi tak ditinggalkan, sejarah pun tak terlupakan.

Sumber : (Susana Rita) Kompas Cetak, Jakarta

Indah Rahayu Indra : Mematenkan Desain Batik Kayu

Wednesday, February 5th, 2003

Salah satu dari banyak sebutan bagi Yogyakarta adalah kota kerajinan. Barang-barang kerajinan dapat dengan mudah dijumpai di setiap sudut kota gudeg ini. Tak heran bila dinamisme dan perkembangan kerajinan di kota pelajar itu juga tinggi. Namun, yang tak juga dapat dihindari adalah peniruan produk kerajinan.

Menyadari potensi peniruan kerajinan di DI Yogyakarta tinggi, Indah Rahayu Indra, dirut CV Rizki Ayu House of Handicraft, mematenkan desainnya ke HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) pada 2003 ini. “Karena saya menyadari hal itu penting,”tutur wanita yang sudah dua periode menjadi Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) DIY itu.

CV Rizki Ayu House of Handicraft yang dipimpinnya bergerak di bidang batik kayu.

Sebenarnya nenek maupun orang tuanya adalah perajin kain batik. Namun, alumnus fakultas ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu memilih menjalankan bisnis kain batik. Dari lima bersaudara, hanya Indah yang memiliki jiwa wiraswasta.

Anak keempat dari almarhum Dharomi Danusubroto dan Murdarti Danusubroto ini mengakui jiwa dagangnya mulai tampak sejak ia duduk di SMAN III Yogyakarta. Kala itu ia mempunyai hobi membuat tas dan aksesoris yang dipakai sendiri. Ternyata teman-temannya tertarik, lalu memesan dan membeli barang-barang tersebut.

Lama-lama wanita yang mengaku tidak pernah bercita-cita sebagai pengusaha ini tertarik pada dunia usaha batik. Selepas lulus kuliah pada 1993, Indah mulai mengikuti usaha orang tuanya. Ia dipercaya memegang bagian manajemen. Setahun kemudian, atas dorongan orangtuanya, ia membuka usaha kerajinan batik sendiri yang diberi nama Rizki Ayu. Ia mengelola usaha kain batik secara universal seperti baju tidur, baju pantai, dan lainnya.

Ada satu peristiwa yang membuat sejarah tersendiri bagi perjalanan usaha kain batiknya. Pada 1999 saat mengikuti pameran di Jakarta, Indah menggunakan topeng batik hasil produksi temannya sebagai interior ruang pamer. Ternyata topeng batik itu menarik perhatian pembeli yang memesan dalam jumlah besar. Karena temannya tidak dapat memenuhi banyaknya pesanan itu, akhirnya Indah membuat dan mengembangkan topeng batik sendiri dengan desain yang lain.

Itulah kejadian yang membuat pemimpin redaksi majalah Handicraft Indonesia itu beralih ke usaha batik kayu. “Jadi, ada pasar dulu baru saya mengembangkan kerajinan batik kayu,” tutur ibu dari Rizki Ayu Avilla dan Deva Megan Rizal.

Walaupun menjalankan usaha batik kayu, wakil ketua Asephi pusat itu tidak meninggalkan usaha kain batik. Sekitar 25 persen produknya masih berupa kain batik khusus melayani pesanan.

Baginya, membantik kain dengan membatik kayu berbeda. Maka itu ia tetap menggunakan tenaga pembatik kain dengan menyuruh mereka belajar batik kayu. Ternyata, tuturnya, perajin kain batik menghasilkan batikan yang lebih halus.

Indah berharap, rezeki yang didapat dari usahanya ini tetap cantik. Maksudnya, usahanya tetap berkembang. Maka ia memakai kata Rizki Ayu sebagai nama perusahaannya yang diambil dari nama anak sulungnya.

Dari CV Rizki Ayu House of Handicraft, isteri Nazir Indra Sakti ini sudah mengekspor produk batik kayu, yang sebagian besar dibuat oleh perempuan perajin, ke berbagai dunia di antaranya Prancis, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura. Sedangkan untuk pasar lokal, ia mengirimkannya ke Jakarta, Bali, dan Batam. Indah juga sering mengikuti pameran kerajinan internasional di Jakarta, Prancis, Berlin, Belanda, Jepang, dan Singapura.

Untuk mengembangkan kerajinannya Indah mengandalkan pada desain, pewarnaan, finishing, dan tetap menjaga kualitas. Karena itu, walaupun produknya ditiru oleh orang lain, dia tidak mempermasalahkannya. “Karena saya bukan perajin kayu yang pertama dan saya yakin produk saya lebih baik daripada yang meniru,” kata Indah optimistis.

Sumber (nri) - RoL via Info H@KI

Seniman Muda Polandia Pamerkan Karya Batik

Tuesday, February 4th, 2003

Seni membatik Indonesia tak disangkal lagi telah menarik perhatian dunia. Begitu banyak seniman dari berbagai penjuru dunia yang ingin mempelajari cara membatik yang baik. Beberapa di antara mereka datang dari Polandia. Hasil seni membatik karya seniman Polandia dari berbagai usia ini kini dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta, hingga 5 Februari.
Dengan judul ”The Batik Painting Exhibition”, pameran ini menampilkan corak-corak menarik dengan kekhasan masing-masing. Estetika seniman Polandia ini begitu baik hingga mampu menampilkan pola-pola yang istimewa.
Para seniman yang terbilang berusia muda—mulai 9 hingga 25 tahun—ini telah memiliki teknik membatik yang baik dan kreativitas yang tinggi. Ini terlihat dari pewarnaan dan teknik penutupan lilin yang bertingkat-tingkat, serta motif yang bervariasi. Beberapa di antara mereka bahkan telah melakukan eksplorasi dengan menggabungkan seni batik dan unsur-unsur modern.
Gaya batik yang prosesnya dimulai dari pernuangan ekspresi secara personal dengan teknik batik lewat pencelupan, pewarnaan dan pelorotan berulang kali memang telah tumbuh subur sejak lama di Yogyakarta.
Dalam pameran ini, para seniman muda mengambil ide berdasarkan keadaan di negerinya, seperti yang dilakukan Agnieszka Zagowalko, berusia 17 tahun, lewat karyanya ”Slupsk, a Fragment of a Building in Kollataja Street.” Namun, yang mengejutkan, banyak yang menggali inspirasi dari berbagai lokasi di Indonesia, padahal tak semua dari mereka pernah datang ke Indonesia. Mereka menampilkan suasana, sosok, dan bangunan. Maka, jangan heran bila bangunan berupa Candi Borobudur, sosok penari Bali, dan suasana jalan di Kuningan, Jakarta muncul sebagai objek
Natalia Sintadewi, staf Kedutaan Besar Polandia mengatakan bahwa para pelukis ini melihat contohnya dari berbagai buku yang ada dan bercerita tentang Indonesia. Artinya walau tak pernah, kita akan bisa terkecoh dan mengira ini adalah karya para seniman batik Indonesia. Yang patut dicatat dari pameran ini adalah kenyataan bahwa seni batik telah berkembang, tidak hanya di kawasan Asia melainkan telah melangkah hingga ke benua lain.
Sebuah kenyataan yang boleh dibilang menggembirakan tetapi tetap menyiratkan peringatan. Seandainya, bangsa sendiri tak bisa melestarikan batik, jangan-jangan tradisi kebanggaan Indonesia ini kelak malah menjadi milik bangsa lain. Mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.

Sumber : (srs) Sinar Harapan