Menghidupi Keluarga, Memproduksi “Batik Remekan”
Bertahan hidup di tengah krisis ekonomi yang melanda negeri ini tentu membutuhkan kerja keras. Roja`i, misalnya. Lelaki asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini memilih bekerja di rumah dengan mengubah kaos berwarna putih menjadi bercorak batik. Tak hanya memproduksi sendiri, dia juga menjajakan dagangannya dengan mendatangi langsung pasar-pasar yang ada di Jakarta dan Bekasi, Jawa Barat. Produk yang dihasilkannya kini populer dengan nama “batik remekan”.
Untuk lebih mengetahui seluk-beluk pembuatan batik remekan, belum lama berselang, SCTV mengunjungi tempat usaha Roja`i di sebuah rumah kontrakan kawasan Jalan Guru Mugni, Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Roja`i menuturkan, sebelum menekuni usaha tersebut, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konveksi di bilangan Setiabudi, Jaksel. Keahlian yang dimilikinya ini ia peroleh dengan belajar dari seorang rekannya. Setelah merasa cukup, ia pun mencoba membuat kaos bercorak batik. Dan tanpa terasa, Roja`i telah mengerjakan batik remekan selama dua tahun. Sementara setiap harinya, ia mengaku dapat menyelesaikan lebih dari 20 kaos.
Dalam satu pekan, Roja`i mengaku dua kali pergi berbelanja kaos putih di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Biasanya, ia membeli 100 kaos dengan harga Rp 2.500 per potong. Setibanya di rumah, kaos-kaos putih ini kemudian diikat dengan karet gelang. Mula-mula yang diikat adalah bagian lengan, kerah, dan kaos bagian bawah. Setelah itu barulah bagian baju lainnya diikat secara acak.
Sembari mengikat kaos-kaos ini, Roja`i menyalakan kompor untuk memanaskan kaleng yang berisi air yang telah dicampur dengan bahan pewarna batik. Campuran inilah yang digunakan untuk merebus kaos-kaos tersebut. Dalam satu kalengnya, dia dapat merebus antara 10 hingga 15 kaos. Setelah direbus, kaos-kaos ini lalu didiamkan semalaman agar bahan pewarna dapat meresap dengan lebih baik. Sementara bahan pewarna dibeli Roja`i dengan harga Rp 25 ribu per bungkus.
Pagi harinya, Roja`i membuka ikatan karet lalu membilas kaos-kaos ini hingga pewarna tak lagi tersisa. Kaos kemudian dijemur di bawah sinar matahari yang terik, hingga setengah kering. Setelah itu diangin-anginkan agar warnanya tak pudar lalu dibiarkan hingga kaos benar-benar kering.
Uniknya, Roja`i kerap mengerjakan kaos-kaos ini sambil bercengkerama bersama istri dan dua dari tiga orang anaknya di rumah kontrakannya. Kendati demikian, dia bersyukur hingga kini masih mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya yang masing-masing berusia delapan, lima, dan satu tahun dengan berdagang batik remekan. Roja`i sebenarnya berkeinginan memperbesar usahanya, sayangnya keterbatasan modal menjadi kendala utama. “Ada sih pesanan, tapi gak Saya layanin. Aturan [sebenarnya--Red], ya, pengen, tapi gak ada modal, gitu,” ucap dia.
Segala proses produksi yang dilakukan dengan bersimbah peluh, tentunya bakal bermanfaat bila berhasil diperdagangkan. Pagi-pagi buta atau seusai mengerjakan salat subuh, Roja`i berangkat membawa sekitar 50 buah kaos remekan untuk dijajakan ke pasar-pasar. Sesampai di pasar, dia pun menggelar dagangannya dan berharap memperoleh laba dari berdagang batik remekan. Sebuah kaos biasanya dilepas seharga Rp 7.500.
Sumber : (ANS/Tri Ambarwatie dan Bambang Triono) Liputan6.com, Jakarta