Archive for January, 2003

Pameran Lukisan Batik Polandia di BBJ

Friday, January 31st, 2003

Tradisi seni batik tidak saja berkembang di Indonesia atau negara-negara Asia, tetapi juga di Polandia. Mungkin kenyataan ini agak mengejutkan karena tradisi seni batik, yang sudah turun-temurun berkembang di Indonesia, ternyata juga dikerjakan oleh pelajar dan mahasiswa dari Pusat Kebudayaan Slupsk, Polandia, dengan pola dan metode yang mirip seperti dikerjakan di Indonesia. Karya mereka akan dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17, 31 Januari-5 Februari 2003. Pameran yang menampilkan 34 lukisan batik Polandia ini akan dibuka malam ini oleh Duta Besar Republik Polandia di Jakarta, Krzysztof Szumski.

Lukisan batik karya seniman Polandia yang berusia sekitar 9 tahun sampai 24 tahun, sekilas mirip dengan lukisan batik Tamansari di Yogyakarta. Ini dapat dipahami karena teknik membatik di dunia menggunakan metode dan teknik sama, baik penggunaan aneka warna kimiawi maupun teknik penutupan dengan lilin yang bertingkat-tingkat. Hanya, yang membedakannya adalah pemilihan identitas karya dalam hal tema lukisan.

Bila dicermati, beberapa karya menunjukkan tema-tema yang akrab karena mengambil tema Keraton Yogyakarta, becak sebagai kendaraan khas di Indonesia, masjid, Candi Borobudur, penari Bali, bunga bangkai, sampai patung dinosaurus di Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta. Namun, juga ada tema yang bersetting Eropa, seperti kereta salju ditarik kuda di lautan salju, gedung tua khas Eropa, dan semacamnya.

Bagaimana mereka mendapat ide dengan tema-tema yang khas Indonesia tersebut? Apakah mereka pada suatu kali pernah berkunjung ke Indonesia? Menurut Natalia Sintadewi, staf Kedutaan Besar Polandia di Jakarta, mereka melukis tema-tema berlatar Indonesia itu terinspirasi oleh gambar-gambar di buku-buku tentang Indonesia, atau dari kartu-kartu pos yang kemudian mereka lukiskan di atas kain dengan teknik batik. Artinya, tidak semua pelukis pernah datang ke Indonesia, mereka berkreasi berdasarkan imajinasi dan fantasi lewat gambar-gambar reproduksi. Bila tidak melihat nama-nama pelukisnya, kita barangkali akan terkecoh bahwa lukisan batik tersebut dikerjakan oleh seniman dari Polandia.

Sumber : (*/can) Kompas Cetak, Jakarta

Menghidupi Keluarga, Memproduksi “Batik Remekan”

Wednesday, January 15th, 2003

Roja`i dan Batik Remekan hasil kreasinya.Bertahan hidup di tengah krisis ekonomi yang melanda negeri ini tentu membutuhkan kerja keras. Roja`i, misalnya. Lelaki asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini memilih bekerja di rumah dengan mengubah kaos berwarna putih menjadi bercorak batik. Tak hanya memproduksi sendiri, dia juga menjajakan dagangannya dengan mendatangi langsung pasar-pasar yang ada di Jakarta dan Bekasi, Jawa Barat. Produk yang dihasilkannya kini populer dengan nama “batik remekan”.

Untuk lebih mengetahui seluk-beluk pembuatan batik remekan, belum lama berselang, SCTV mengunjungi tempat usaha Roja`i di sebuah rumah kontrakan kawasan Jalan Guru Mugni, Kuningan Timur, Jakarta Selatan. Roja`i menuturkan, sebelum menekuni usaha tersebut, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konveksi di bilangan Setiabudi, Jaksel. Keahlian yang dimilikinya ini ia peroleh dengan belajar dari seorang rekannya. Setelah merasa cukup, ia pun mencoba membuat kaos bercorak batik. Dan tanpa terasa, Roja`i telah mengerjakan batik remekan selama dua tahun. Sementara setiap harinya, ia mengaku dapat menyelesaikan lebih dari 20 kaos.

Dalam satu pekan, Roja`i mengaku dua kali pergi berbelanja kaos putih di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Biasanya, ia membeli 100 kaos dengan harga Rp 2.500 per potong. Setibanya di rumah, kaos-kaos putih ini kemudian diikat dengan karet gelang. Mula-mula yang diikat adalah bagian lengan, kerah, dan kaos bagian bawah. Setelah itu barulah bagian baju lainnya diikat secara acak.

Sembari mengikat kaos-kaos ini, Roja`i menyalakan kompor untuk memanaskan kaleng yang berisi air yang telah dicampur dengan bahan pewarna batik. Campuran inilah yang digunakan untuk merebus kaos-kaos tersebut. Dalam satu kalengnya, dia dapat merebus antara 10 hingga 15 kaos. Setelah direbus, kaos-kaos ini lalu didiamkan semalaman agar bahan pewarna dapat meresap dengan lebih baik. Sementara bahan pewarna dibeli Roja`i dengan harga Rp 25 ribu per bungkus.

Pagi harinya, Roja`i membuka ikatan karet lalu membilas kaos-kaos ini hingga pewarna tak lagi tersisa. Kaos kemudian dijemur di bawah sinar matahari yang terik, hingga setengah kering. Setelah itu diangin-anginkan agar warnanya tak pudar lalu dibiarkan hingga kaos benar-benar kering.

Uniknya, Roja`i kerap mengerjakan kaos-kaos ini sambil bercengkerama bersama istri dan dua dari tiga orang anaknya di rumah kontrakannya. Kendati demikian, dia bersyukur hingga kini masih mampu menghidupi istri dan ketiga anaknya yang masing-masing berusia delapan, lima, dan satu tahun dengan berdagang batik remekan. Roja`i sebenarnya berkeinginan memperbesar usahanya, sayangnya keterbatasan modal menjadi kendala utama. “Ada sih pesanan, tapi gak Saya layanin. Aturan [sebenarnya--Red], ya, pengen, tapi gak ada modal, gitu,” ucap dia.

Segala proses produksi yang dilakukan dengan bersimbah peluh, tentunya bakal bermanfaat bila berhasil diperdagangkan. Pagi-pagi buta atau seusai mengerjakan salat subuh, Roja`i berangkat membawa sekitar 50 buah kaos remekan untuk dijajakan ke pasar-pasar. Sesampai di pasar, dia pun menggelar dagangannya dan berharap memperoleh laba dari berdagang batik remekan. Sebuah kaos biasanya dilepas seharga Rp 7.500.

Sumber : (ANS/Tri Ambarwatie dan Bambang Triono) Liputan6.com, Jakarta

Batik Cirebon, Khas Wajah Tradisional

Sunday, January 5th, 2003

Perajin Batik CirebonMenyusuri jalan di Kota Cirebon, Jawa Barat, kita akan banyak menjumpai deretan batik yang dipajang di setiap etalase toko. Berbagai corak dan motif batik ditawarkan. Tapi dari sekian banyak motif tersebut, ada dua jenis batik yang paling dicari pembeli. Jenis Pesisiran dan Keratonan. Batik pesisiran memiliki corak berbeda-beda, misalnya batik bercorak bethetan Kedung Wuni Pekalongan, motif sarung cirebonan, dan bethetan Demak. Sedangkan batik Keratonan biasanya berwarna coklat soga atau keemasan dan hitam. Batik Keratonan biasanya bermotif ganggang.

Katura, pemilik bengkel batik di Cirebon mengatakan, biasanya konsumen lebih senang membeli batik jenis Keratonan. Sebab batik jenis ini memiliki corak yang menonjolkan wajah tradisional. Lelaki yang sejak kelas IV sekolah dasar sudah membatik ini menjelaskan, batik Cirebonan atau yang juga dikenal dengan sebutan Batik Trusmi memiliki corak berbeda dengan batik asal Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan kota-kota batik lainnya di Indonesia.

Menurut Katura, batik Solo atau Yogyakarta cenderung bercorak pada keagungan dan keluwesan sehingga bentuknya halus dan indah. Batik Pekalongan memiliki corak banyak warna dengan variasi sedemikian rupa sehingga membentuk daya tarik tersendiri yang indah dan menarik. Sedangkan batik Cirebon, selain menonjolkan wajah tradisional juga berkarakter agresif dan sedikit warna. Dua corak batik Cirebon yang terkenal–yang kental dengan warna coklat, hitam, dan krem–adalah motif Singa Wadas dan motif Mega Mendung yang kaya dengan warna merah, biru, violet, dan keemasan. Corak batik Singa Wadas adalah corak resmi kesultanan Cirebon (Kasepuhan) yang memperlihatkan bentuk Singa Barong dari keraton Kasepuhan.

Di samping perkembangan motif, Katura juga memaparkan proses pembuatan batik. Pria yang mengoleksi beberapa batik berumur ratusan tahun ini mengatakan, kini terjadi pergeseran pembuatan batik seiring ditemukannya berbagai obat kimia yang membantu proses pewarnaan dan pencelupan. Pada zaman dahulu lebih banyak dipergunakan zat pewarna alam karena zat kimia masih sangat terbatas. Namun, zat warna alam ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah warna tahan lebih lama dan tidak merusak lingkungan, sedangkan kekurangannya sukar dalam hal prosesnya dan hanya sedikit menghasilkan variasi warna.

Pewarnaa zat kimia juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya adalah dampak yang dihasilkan tak ramah lingkungan. Sementara kelebihannya terletak pada proses pembuatannya. Bahannya mudah didapat, proses singkat, dan banyak memiliki variasi warna. Sementara mengenai kualitasnya, Kutara mengatakan, tak jauh berbeda.

Selain batik, Kota Wali ini juga terkenal dengan beberapa jenis makanan khas, seperti nasi Jamblang dan tahu gejrot. Nasi Jamblang menjadi unik karena bentuk penyajiannya. Nasi ini biasanya berpiring daun jati dengan dikelilingi sederetan lauk, sambal goreng Cirebon, ikan asin, tahu, tempe, dan perkedel.

Sementara tahu gejrot adalah tahu yang disantap bersama saus kecokelatan. Tetapi, kebanyakan orang di Kota Udang menganggap nama itu diambil dari cara memberi saus yang digejrotkan–dikeluarkan dari botol melalui lubang dengan cara dikocok-kocok. Biasanya penjual tahu gejrot menyediakan dua piring terbuat dari tanah liat seukuran telapak tangan orang dewasa. Piring pertama digunakan untuk tahu goreng yang sudah diiris-iris. Piring kedua berisi ramuan khas yang terdiri dari bawang merah, cabe, dan garam. Bumbu ini kemudian diulek lalu ditambahkan saus berupa campuran gula merah dan kecap tadi yang dibubuhi sambil digejrotkan.

Kecuali makanan khas di atas, ada pula makanan Cirebon lain yang berupa keringan yakni kerupuk udang, rangginang, emping, klitik (butiran jagung yang dipukul gepeng lalu digoreng dengan rasa asin dan manis), encrod (keripik singkong pedas), dan kerupuk melarat. Selain itu, masih ada jajanan lain yang bisa kita bawa pulang dari Cirebon, seperti rebon, ikan asin, petis udang, dan terasi. Namun, dari sekian banyak panganan itu, biasanya yang paling sering dicari orang adalah kerupuk melarat. Kerupuk ini biasanya berwarna kuning, merah, atau hijau. Terbuat dari tepung tapioka. Rasanya manis-manis asin. Disebut melarat, karena digoreng di atas pasir.

Sumber : (ICH/Sella Wangkar dan Binsar Rahardian) Liputan6.com, Cirebon