Eksplorasi Anak Muda Urban terhadap Jumputan

Oscar LawalataSeorang anak muda yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, belajar di sekolah mode Esmod yang notabene adalah sekolah yang berorientasi Barat, itulah perancang Oscar Lawalata.

Karena itu, agak mengejutkan ketika dia mengirim undangan yang menyatakan, dia akan mengadakan pameran kain dengan penekanan pada jumputan (tie dye) di Gedung dua8, Kemang, Jakarta Selatan. Pameran dibuka Minggu malam ini dan berlangsung hingga Selasa.

Meskipun menyebut pameran sekitar 100 kain dan 50-an busana ini sebagai lebih bersifat seni, namun Oscar juga mengatakan dia tidak terlalu menguasai teknik pembuatan kain. “Saya suka kain, tetapi saya rasanya tidak mungkin mendalami pembuatan batik atau penenunan,” kata dia.

Namun demikian, bukan berarti Oscar menyerah. Dengan mendayagunakan bahan yang sudah tersedia seperti tenun organdi dari Makassar, tenun dengan pakan tambahan dari Makassar dan Garut, serta batik tua maupun batik cap baru, dia tetap berusaha mengembangkan kreativitas dan mewujudkan mimpi-mimpinya tentang kain.

Berawal dari kain batik tua yang dia kumpulkan sejak tahun lalu, Oscar lalu meluaskan bidang garapannya ke jumputan. Untuk teknik membuat motif yang terakhir ini dia melakukan eksperimen selama empat bulan sebelum sampai pada bentuk yang dia capai saat ini.

Dia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan efek motif yang tak biasa. Pada kain-kain yang bermotif abstrak, Oscar misalnya menggunakan karet gelang yang memberi efek lingkaran tak ber-aturan. Dia juga menggunakan biji-bijian untuk efek bulatan-bulatan. Oscar juga mencoba menggunakan pewarna buat-an dan pewarna alam untuk mendapatkan warna-warna baru.

Dalam perjalanannya, Oscar lalu menemukan sebuah media ekspresi berupa kain batik yang dipadu kain jumputan dengan menumpukkan keduanya. Hasilnya, adalah tampilan samar-samar motif batik yang berpadu dengan jumputan yang coraknya diinspirasikan oleh motif batik. Paduan yang bisa dipakai sebagai benda pajang atau busana ini memberi dimensi baru pada pemanfaatan batik maupun jumputan, sesuatu yang memang merupakan tujuan Oscar.

Meskipun harus diakui upaya Oscar menggunakan medium jumputan masih pada tahap menghasilkan warna yang beraneka serta beragam corak, haruslah hal ini dihargai sebagai upaya eksplorasi seorang muda urban terhadap sesuatu yang telah ada di negerinya selama ratusan tahun dan dianggap tradisional, dengan mencoba melahirkan tampilan baru yang sesuai zamannya.

***
TENTU hal ini menjadi berbeda ketika melihat ungkapan Oscar di dalam busana laki-laki dan perempuannya yang tetap mengambil unsur etnis Timur dalam gaya dan teknik pengerjaan dari Barat.

Baju bodo, kebaya, dan baju kurung tradisional yang longgar menarik perhatian Oscar dan dia terapkan pada gaun-gaun yang terbuat dari sutra tenun Makassar. Lipit-lipit yang mengingatkan pada origami menghiasi tepi bagian tengah depan bajunya yang berpotongan longgar. Sementara gaun panjang berpundak terbuka bergaya saputangan dibuat dari sutra organdi jumputan dengan lapisan dalam dari batik. Di sini tidak ada kain yang dipotong, dan baju dibentuk di boneka manekin.

Dan, untuk busana berlabel Oscar Lawalata itu, Oscar masih menggunakan hiasan yang dibuat dari manik bebatuan alam Kalimantan serta dari India. Kata dia, segala sesuatu yang dia lihat dalam berbagai benda kriya dan benda seni ketika ke Mumbai di India, ke Banjarmasin di Kalimantan, atau ke tempat-tempat lain, selalu menjadi inspirasi yang kalaupun sekarang belum bisa dikembangkan suatu ketika akan digalinya kembali. Seperti pergulatannya dengan jumputan dan batik kali ini.

Sumber : (NMP) Kompas Cetak, Jakarta

One Response to “Eksplorasi Anak Muda Urban terhadap Jumputan”

  1. iyos Says:

    saya mau nawarkan batik dan sarong traditional,dan ada yg sutra jka anda minat kami bisa email anda foto2nya.

    thanks….iyos

Leave a Reply