Koleksi Terbaru dari Batik Parang Kencana: Membawa Kemungkinan Baru yang Sejajar Tren Busana
Baju batik seperti pakaian tradisi lain di seluruh penjuru Nusantara diharap bisa menjadi ide menarik untuk terciptanya busana nasional. Perancang terkemuka di Tanah Air seperti Edward Hutabarat dan Poppy Dharsono sudah sekian lama menciptakan pakaian modifikasi etnis (utamanya batik) untuk baju label first line mereka. Kultur baju dari keragaman etnis yang ada di Indonesia, jelas demikian kaya.
Jangan heran bila Mariana Sutandi dari Batik Parang Kencana begitu berbesar hati saat melihat berbagai duta bangsa memakai pakaian batik dengan penuh percaya diri. Sebaliknya, dia akan berkecil hati atau berduka cita bila orang Indonesia kurang menghargai kebudayaan bangsa sendiri.
Upaya tekunnya untuk melestarikan kebudayaan berbusana batik dimulai dari kecintaannya terhadap seni batik dan dorongan kuat untuk meninggikan seni pembuatan batik. Dia memulai segalanya pada sekitar tahun 1993, dengan membuka gerai batik di kawasan Bandara Sukarno-Hatta yang sebagian besar pembelinya dari kalangan mancanegara. Kini, gerai batiknya yang berjumlah 24, tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya hingga Bali. ” Saya banyak dibantu pengusaha Abdul Latif, yang membuat saya mampu mandiri,” cerita Mariana Sutandi, menjelang peragaan busana koleksi terbaru Batik Parang Kencana di Galeri Parang Kencana, Kemang, Jakarta Selatan, (25/11).
Ternyata pengorbanan pikiran, waktu dan tenaganya berbalas dengan hasil cukup menggembirakan. Ide-ide baru buat ciptaan batiknya menghasilkan suatu karya mandiri berupa selendang organza batik. Tugas mulianya itu diawali dengan motif-motif kuno yang direproduksi dengan proses batik tulis dan dituangkan di atas sutra organza, yang makin diperindah dengan motif isian yang halus, aksen prada, bordir, payet dan lain sebagainya. Hingga saat ini Batik Parang Kencana terus melakukan pengembangan dengan desain-desain terbaru yang mengikuti tren fashion di mana-mana.
Kebudayaan Jawa dan Cina
Upaya berikut yang dilakukannya adalah membuat percampuran budaya Jawa dan Cina hingga terlahir sosok ideal berupa modifikasi kebaya encim. Yang sedikit mengubah tren Batik Parang Kencana ke arah fashionable wear.
”Kami menggodok ide terbaru berbarengan dengan para desainer dan stylist di Parang Kencana. Proses penggodokan ide hingga pembuatan koleksi terbaru, seperti biasanya, berlangsung lebih lama dari tiga atau empat bulan,” sambung Mariana.
Apa yang tercipta dari Batik Parang Kencana adalah memang bukan baju batik haute couture tapi ready to wear dengan berbagai teknik desain, warna, ragam hias dan perpaduan antara proses batik dengan proses ikat (tie-dye). Pertumbuhan yang cukup cepat dari Batik Parang Kencana diikuti dengan penampilan di Bali Fashion Week sepanjang tiga tahun berturut-turut hingga tahun ini.
”Saya ingin sekali orang mencintai batik sebagai budaya kita. Mestinya, setiap hari orang Indonesia memakai batik dari pagi, siang, sore sampai malam,” harapnya.
Di bagian lain, Mariana mensyukuri peningkatan perbandingan pembelian antara baju lokal dan impor yang meningkat dari 50 - 50 menjadi 90 - 10.
”Sejak krisis moneter, omzet penjualan ternyata tidak turun. Dibanding dulu, bangsa kita kini jadi mencintai batik. Itu memang sudah sepantasnya. Apalagi, begitu sulit membikin batik,” ditambahkan Mariana.
Inspirasi Beragam
Apa yang kemudian ditampilkan oleh Batik Parang Kencana , Senin (25/11) lalu memperlihatkan berbagai kemungkinan batik menyejajarkan dirinya dengan tren busana di pusat fashion Amerika, Eropa, Asia hingga perkembanganya yang menarik di tanah air.
Dihadirkan berbagai pemikiran dan inspirasi yang memikat dari konsep pewarnaan, teknik desain, penyesuaian bahan hingga penuangan aksen yang kian serasi.
Di antara yang hadir adalah blus-blus berbahan sutra sifon dengan warna krem kecokelatan yang dikombinasi bordir, berikut paduan celana batik cap. Demikian pula dengan blus berwarna marun tanpa banyak motif, yang menggunakan kain ATBM (alat tenun bukan mesin) bertekstur. Mereka sekaligus memberanikan diri dengan teknik tersendiri, yang menimbulkan efek unik di permukaan kain.
Di samping itu dihadirkan teknik semprot (air brush) pada rok bawah dan selendang dengan bahan sutra tenun ATBM. Atau pun kain kerancang bermotif batik tulis bergaya porselen Cina dengan nuansa warna biru putih yang dipadu padan kebaya encim berbordir.
Muncul pula tren sarung yang berkesan nyantai. Atau pun kombinasi selendang dan sarung yang dipadu blus organza dengan teknik tie-dye. Begitu pun dengan batik bernuansa merah dan biru yang dikenal sebagai batik Palembang modifikasi.
Ditampilkan pula selendang dwifungsi yang bisa dimanfaatkan sebagai sarung untuk kesempatan setengah resmi. Juga batik sogan dengan bahan sutra ATBM, dan katun merah menyala yang berkombinasi organdi.
Terlihat pula keserasian kain organza yang dikombinasi teknik bordir dengan aksen manik-manik, yang dipadu sarung selendang berbahan sutra ATBM dengan proses batik tulis. Disusul dengan inspirasi kimono beraksen tali dan kancing yang dipadu blus batik sutra ATBM penuh motif cap, dilengkapi selendang berteknik semprot.
Penampilan menarik lainnya hadir dari batik berproses cap dengan teknik semprot pada bahan sutra organza. Ini merupakan koleksi akhir tahun yang dilengkapi sarung dengan proses batik semprot. Pilihan pada teknik tie-dye karena mereka ingin bebas memilih warna-warna cerah yang dikombinasi teknik bordir dan payet.
Adapula teknik tie-dye dengan nuansa warna merah dan hijau, berikut bordir payet dan manik-manik, yang dilengkapi selendang batik tulis dari bahan sutra ATBM. Inspirasi juga berlanjut dengan ciri peninggalan tradisi kebaya beraksen batik dan prada, berikut teknik payet dan manik-manik.
Hadir pula kebaya bermotif batik dengan nuansa warna hijau emas. Atau pun sifon berteknik semprot dengan kombinasi bebatuan di dada. Efek unik yang bagus untuk suasana pesta di malam hari.
Untuk para pria ditampilkan kemeja dengan sutra ATBM, berikut batik kombinasi tulis dan cap. Juga, kemeja bermotif tumpal dengan bahan sutra ATBM yang memakai kombinasi batik tulis dan cap. Begitu pun kemeja dengan teknik semprot yang dikombinasi batik cap. Pilihan lainnya adalah kemeja berbahan sutra ATBM dengan kombinasi warna-warna lembut untuk kegiatan pagi dan siang pada di saat lebaran tiba.
Sumber : (jjs) Sinar Harapan, Jakarta