Bin House, Ekspresi Tak Terbatas Tekstil Indonesia
PERGELARAN kain dari rumah kain Bin House yang berlangsung Senin (28/10) lalu, menunjukkan bahwa pengembangan kain bisa menghasilkan hal-hal baru yang berbeda sama sekali dari wujud asal kain itu.
Lihat, misalnya, selembar kain sutera polos warna putih yang dihias dengan beragam motif batik. Penataan dan pemilihan jenis motif menghasilkan efek-efek optis yang hasil akhirnya antara lain berupa kain dengan nuansa tiga dimensi. Belum lagi ragam yang terbentuk melalui pemilihan warna. Begitu juga peluang mengembangkan batik dengan berbagai motif yang berbeda pada masing-masing sisi kain.
Selain batik, teknik tenun juga memberi peluang amat kaya. Itu sebabnya Bin House tidak pernah berhenti mencari motif-motif tenun baru, karena motif-motif tenun mereka ditiru di mana-mana, bahkan dengan mengklaim memakai penenun yang sama seperti yang menenun kain-kain Bin House.
Teknik pengolahan kain yang sebenarnya sudah lama dikenal di Tanah Air, tetapi dikembangkan lebih jauh oleh Bin House adalah teknik jumputan. Bila pada kain jumputan tradisional jumputan hanya untuk mendapatkan motif, maka teknik mengikat yang biasa dipakai pada jumputan digunakan untuk juga membentuk permukaan kain. Hasilnya, kain bisa tampak seperti kulit duren atau menjadi lipit-lipit halus dengan berbagai motif dan warna.
Teknik batik pun dikembangkan bukan hanya untuk membentuk motif, tetapi juga menghasilkan efek bergelombang pada permukaan kain yang disebut seersucker.
Dengan berbagai perlakuan ter-hadap kain tersebut, tak heran bila Iwan Tirta justru melihat Bin House akan lebih berkembang bila mengembangkan kain tenun Indo-nesia, tidak perlu terlalu mengikatkan diri pada batik. “Mengembangkan kain dan tenun Indonesia,” saran Iwan Tirta di sela-sela acara pergelaran busana Eksotika Asia yang diselenggarakan Majalah Dewi bersama Kedutaan Besar India. Lagi pula, begitu Iwan, citra batik telanjur lekat sebagai motif, tidak termasuk teknik menahan warna. Meskipun memiliki beberapa produk yaitu antara lain Bin (label utama, batik), Sutera (label utama, nonbatik), Cita (label sekunder), dan Umbi, tetapi batik Bin menjadi bendera untuk rumah kain ini. Dalam sejarah rumah kain yang berdiri tahun 1986 di Jakarta ini, produksi pertama memang berupa ikat. Tidak puas dengan ikat, Obin lalu mencoba batik dan batik sampai sekarang menjadi fokus Bin House.
Harus diakui, Bin House berhasil menampilkan kain batik menjadi sebuah gaya berbusana yang bisa dikenakan dalam kehidupan sehari-hari orang urban. Untuk fashion styling, ada Wita yang berperan membusanakan kain-kain tenun Bin House dalam gaya yang modern tetapi sekaligus memiliki sentuhan Indonesia. Kekuatan Wita adalah dalam mengolah bentuk dasar kebaya ke dalam aneka variasi busana yang lebih bisa dikenakan untuk berbagai kesempatan. Keragaman kain Bin House menjadi penunjang desain yang dalam pergelaran kemarin penuh detail yang harus dilihat dari dekat dan disentuh.
“Saya suka dengan baju-bajunya, Cita dan Bin, karena modern tetapi juga tetap terasa Indonesia-nya,” tutur Ditta Amahorseya, Vice President Corporate Affair Citibank.
Namun, mungkin saran Iwan Tirta lagi ada baiknya didengarkan yaitu agar Bin House membentuk sebuah tim desain untuk memperkaya desain pada masa mendatang. Apalagi, Bin House tampaknya juga ingin serius mengembangkan busana untuk para laki-laki.
Sumber : (NMP) Kompas Cetak, Jakarta
October 19th, 2006 at 11:50 am
Mohon tanya nomer telepon dan alamat BIN House. Tolong di email ke sandra_r_roy@yahoo.co.in, atau sms ke 0815 8414 3932.
Tks.