Archive for November, 2002

Koleksi Terbaru dari Batik Parang Kencana: Membawa Kemungkinan Baru yang Sejajar Tren Busana

Wednesday, November 27th, 2002

Baju batik seperti pakaian tradisi lain di seluruh penjuru Nusantara diharap bisa menjadi ide menarik untuk terciptanya busana nasional. Perancang terkemuka di Tanah Air seperti Edward Hutabarat dan Poppy Dharsono sudah sekian lama menciptakan pakaian modifikasi etnis (utamanya batik) untuk baju label first line mereka. Kultur baju dari keragaman etnis yang ada di Indonesia, jelas demikian kaya.

 Jangan heran bila Mariana Sutandi dari Batik Parang Kencana begitu berbesar hati saat melihat berbagai duta bangsa memakai pakaian batik dengan penuh percaya diri. Sebaliknya, dia akan berkecil hati atau berduka cita bila orang Indonesia kurang menghargai kebudayaan bangsa sendiri.
Upaya tekunnya untuk melestarikan kebudayaan berbusana batik dimulai dari kecintaannya terhadap seni batik dan dorongan kuat untuk meninggikan seni pembuatan batik. Dia memulai segalanya pada sekitar tahun 1993, dengan membuka gerai batik di kawasan Bandara Sukarno-Hatta yang sebagian besar pembelinya dari kalangan mancanegara. Kini, gerai batiknya yang berjumlah 24, tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya hingga Bali. ” Saya banyak dibantu pengusaha Abdul Latif, yang membuat saya mampu mandiri,” cerita Mariana Sutandi, menjelang peragaan busana koleksi terbaru Batik Parang Kencana di Galeri Parang Kencana, Kemang, Jakarta Selatan, (25/11).
Ternyata pengorbanan pikiran, waktu dan tenaganya berbalas dengan hasil cukup menggembirakan. Ide-ide baru buat ciptaan batiknya menghasilkan suatu karya mandiri berupa selendang organza batik. Tugas mulianya itu diawali dengan motif-motif kuno yang direproduksi dengan proses batik tulis dan dituangkan di atas sutra organza, yang makin diperindah dengan motif isian yang halus, aksen prada, bordir, payet dan lain sebagainya. Hingga saat ini Batik Parang Kencana terus melakukan pengembangan dengan desain-desain terbaru yang mengikuti tren fashion di mana-mana.

Kebudayaan Jawa dan Cina
Upaya berikut yang dilakukannya adalah membuat percampuran budaya Jawa dan Cina hingga terlahir sosok ideal berupa modifikasi kebaya encim. Yang sedikit mengubah tren Batik Parang Kencana ke arah fashionable wear.
”Kami menggodok ide terbaru berbarengan dengan para desainer dan stylist di Parang Kencana. Proses penggodokan ide hingga pembuatan koleksi terbaru, seperti biasanya, berlangsung lebih lama dari tiga atau empat bulan,” sambung Mariana.
Apa yang tercipta dari Batik Parang Kencana adalah memang bukan baju batik haute couture tapi ready to wear dengan berbagai teknik desain, warna, ragam hias dan perpaduan antara proses batik dengan proses ikat (tie-dye). Pertumbuhan yang cukup cepat dari Batik Parang Kencana diikuti dengan penampilan di Bali Fashion Week sepanjang tiga tahun berturut-turut hingga tahun ini.
”Saya ingin sekali orang mencintai batik sebagai budaya kita. Mestinya, setiap hari orang Indonesia memakai batik dari pagi, siang, sore sampai malam,” harapnya.
Di bagian lain, Mariana mensyukuri peningkatan perbandingan pembelian antara baju lokal dan impor yang meningkat dari 50 - 50 menjadi 90 - 10.
”Sejak krisis moneter, omzet penjualan ternyata tidak turun. Dibanding dulu, bangsa kita kini jadi mencintai batik. Itu memang sudah sepantasnya. Apalagi, begitu sulit membikin batik,” ditambahkan Mariana.
Inspirasi Beragam
Apa yang kemudian ditampilkan oleh Batik Parang Kencana , Senin (25/11) lalu memperlihatkan berbagai kemungkinan batik menyejajarkan dirinya dengan tren busana di pusat fashion Amerika, Eropa, Asia hingga perkembanganya yang menarik di tanah air.
Dihadirkan berbagai pemikiran dan inspirasi yang memikat dari konsep pewarnaan, teknik desain, penyesuaian bahan hingga penuangan aksen yang kian serasi.
Di antara yang hadir adalah blus-blus berbahan sutra sifon dengan warna krem kecokelatan yang dikombinasi bordir, berikut paduan celana batik cap. Demikian pula dengan blus berwarna marun tanpa banyak motif, yang menggunakan kain ATBM (alat tenun bukan mesin) bertekstur. Mereka sekaligus memberanikan diri dengan teknik tersendiri, yang menimbulkan efek unik di permukaan kain.
Di samping itu dihadirkan teknik semprot (air brush) pada rok bawah dan selendang dengan bahan sutra tenun ATBM. Atau pun kain kerancang bermotif batik tulis bergaya porselen Cina dengan nuansa warna biru putih yang dipadu padan kebaya encim berbordir.
Muncul pula tren sarung yang berkesan nyantai. Atau pun kombinasi selendang dan sarung yang dipadu blus organza dengan teknik tie-dye. Begitu pun dengan batik bernuansa merah dan biru yang dikenal sebagai batik Palembang modifikasi.
Ditampilkan pula selendang dwifungsi yang bisa dimanfaatkan sebagai sarung untuk kesempatan setengah resmi. Juga batik sogan dengan bahan sutra ATBM, dan katun merah menyala yang berkombinasi organdi.
Terlihat pula keserasian kain organza yang dikombinasi teknik bordir dengan aksen manik-manik, yang dipadu sarung selendang berbahan sutra ATBM dengan proses batik tulis. Disusul dengan inspirasi kimono beraksen tali dan kancing yang dipadu blus batik sutra ATBM penuh motif cap, dilengkapi selendang berteknik semprot.
Penampilan menarik lainnya hadir dari batik berproses cap dengan teknik semprot pada bahan sutra organza. Ini merupakan koleksi akhir tahun yang dilengkapi sarung dengan proses batik semprot. Pilihan pada teknik tie-dye karena mereka ingin bebas memilih warna-warna cerah yang dikombinasi teknik bordir dan payet.
Adapula teknik tie-dye dengan nuansa warna merah dan hijau, berikut bordir payet dan manik-manik, yang dilengkapi selendang batik tulis dari bahan sutra ATBM. Inspirasi juga berlanjut dengan ciri peninggalan tradisi kebaya beraksen batik dan prada, berikut teknik payet dan manik-manik.
Hadir pula kebaya bermotif batik dengan nuansa warna hijau emas. Atau pun sifon berteknik semprot dengan kombinasi bebatuan di dada. Efek unik yang bagus untuk suasana pesta di malam hari.
Untuk para pria ditampilkan kemeja dengan sutra ATBM, berikut batik kombinasi tulis dan cap. Juga, kemeja bermotif tumpal dengan bahan sutra ATBM yang memakai kombinasi batik tulis dan cap. Begitu pun kemeja dengan teknik semprot yang dikombinasi batik cap. Pilihan lainnya adalah kemeja berbahan sutra ATBM dengan kombinasi warna-warna lembut untuk kegiatan pagi dan siang pada di saat lebaran tiba.

Sumber : (jjs) Sinar Harapan, Jakarta

Batik Mendominasi Parcel Lebaran di Yogyakarta

Tuesday, November 26th, 2002

Perajin Parcel di YogyakartaSejumlah perajin konveksi di Yogyakarta, mengembangkan parcel terobosan baru yang disebut “parcel batik”. Berbeda dengan parcel biasa yang berisi bahan makanan dan minuman, parcel ini berisi bahan-bahan konveksi, terutama batik seperti kebaya, baju pria, sprei, dan sarung bantal. Demikian hasil pantauan SCTV di Yogyakarta, baru-baru ini.

Sebagai pelengkap, untuk paket-paket khusus para perajin biasanya menyertakan busana muslim dan sajadah. Harga parcel batik bervariasi mulai dari Rp 100 ribu hingga lebih dari Rp 500 ribu, tergantung jenis bahan yang digunakan. Buat parcel berisi bahan batik sarimbit dengan keranjang rotan biasanya dijual Rp 500 ribu per paket. Sedangkan parcel berisi satu sprei, sarung bantal, dan guling paling tinggi dijual Rp 150 ribu per paket.

Menurut para perajin, pembuatan parcel ini untuk mengangkat kembali omzet penjualan batik yang belakangan terus terpuruk. Ide ini awalnya hanya coba-coba, tetapi pada kenyataannya malah diminati dan menjadi alternatif bagi warga setempat untuk memberikan bingkisan Lebaran. Sebab selain lebih unik, para konsumen mengaku parcel batik bisa dikenang lebih lama.

Sumber : (ICH/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta

Bin House, Ekspresi Tak Terbatas Tekstil Indonesia

Sunday, November 3rd, 2002

PERGELARAN kain dari rumah kain Bin House yang berlangsung Senin (28/10) lalu, menunjukkan bahwa pengembangan kain bisa menghasilkan hal-hal baru yang berbeda sama sekali dari wujud asal kain itu.

Lihat, misalnya, selembar kain sutera polos warna putih yang dihias dengan beragam motif batik. Penataan dan pemilihan jenis motif menghasilkan efek-efek optis yang hasil akhirnya antara lain berupa kain dengan nuansa tiga dimensi. Belum lagi ragam yang terbentuk melalui pemilihan warna. Begitu juga peluang mengembangkan batik dengan berbagai motif yang berbeda pada masing-masing sisi kain.

Selain batik, teknik tenun juga memberi peluang amat kaya. Itu sebabnya Bin House tidak pernah berhenti mencari motif-motif tenun baru, karena motif-motif tenun mereka ditiru di mana-mana, bahkan dengan mengklaim memakai penenun yang sama seperti yang menenun kain-kain Bin House.

Teknik pengolahan kain yang sebenarnya sudah lama dikenal di Tanah Air, tetapi dikembangkan lebih jauh oleh Bin House adalah teknik jumputan. Bila pada kain jumputan tradisional jumputan hanya untuk mendapatkan motif, maka teknik mengikat yang biasa dipakai pada jumputan digunakan untuk juga membentuk permukaan kain. Hasilnya, kain bisa tampak seperti kulit duren atau menjadi lipit-lipit halus dengan berbagai motif dan warna.

Teknik batik pun dikembangkan bukan hanya untuk membentuk motif, tetapi juga menghasilkan efek bergelombang pada permukaan kain yang disebut seersucker.

Dengan berbagai perlakuan ter-hadap kain tersebut, tak heran bila Iwan Tirta justru melihat Bin House akan lebih berkembang bila mengembangkan kain tenun Indo-nesia, tidak perlu terlalu mengikatkan diri pada batik. “Mengembangkan kain dan tenun Indonesia,” saran Iwan Tirta di sela-sela acara pergelaran busana Eksotika Asia yang diselenggarakan Majalah Dewi bersama Kedutaan Besar India. Lagi pula, begitu Iwan, citra batik telanjur lekat sebagai motif, tidak termasuk teknik menahan warna. Meskipun memiliki beberapa produk yaitu antara lain Bin (label utama, batik), Sutera (label utama, nonbatik), Cita (label sekunder), dan Umbi, tetapi batik Bin menjadi bendera untuk rumah kain ini. Dalam sejarah rumah kain yang berdiri tahun 1986 di Jakarta ini, produksi pertama memang berupa ikat. Tidak puas dengan ikat, Obin lalu mencoba batik dan batik sampai sekarang menjadi fokus Bin House.

Harus diakui, Bin House berhasil menampilkan kain batik menjadi sebuah gaya berbusana yang bisa dikenakan dalam kehidupan sehari-hari orang urban. Untuk fashion styling, ada Wita yang berperan membusanakan kain-kain tenun Bin House dalam gaya yang modern tetapi sekaligus memiliki sentuhan Indonesia. Kekuatan Wita adalah dalam mengolah bentuk dasar kebaya ke dalam aneka variasi busana yang lebih bisa dikenakan untuk berbagai kesempatan. Keragaman kain Bin House menjadi penunjang desain yang dalam pergelaran kemarin penuh detail yang harus dilihat dari dekat dan disentuh.

“Saya suka dengan baju-bajunya, Cita dan Bin, karena modern tetapi juga tetap terasa Indonesia-nya,” tutur Ditta Amahorseya, Vice President Corporate Affair Citibank.

Namun, mungkin saran Iwan Tirta lagi ada baiknya didengarkan yaitu agar Bin House membentuk sebuah tim desain untuk memperkaya desain pada masa mendatang. Apalagi, Bin House tampaknya juga ingin serius mengembangkan busana untuk para laki-laki.

Sumber : (NMP) Kompas Cetak, Jakarta

Artisan Batik Iwan Tirta

Friday, November 1st, 2002

Iwan TirtaArtisan batik Iwan Tirta (67) bukan anggota kelompok NATO alias no action, talk only atau cuma omong doang. Lima tahun dia terus mengonservasi berbagai motif batik, termasuk batik-batik tua yang tersimpan di balik dinding keraton. Kerja tekun itu akhirnya ada juga yang mengikuti, dan itu ternyata pemerintah.

“Saya diminta membantu perindustrian (Departemen Perdagangan dan Industri) mengajarkan cara mengonservasi motif-motif batik. Lha kok baru sekarang,” kata Iwan. Tentu saja dia tetap menghargai usaha itu, biarpun akan lebih menguntungkan bila dilakukan sejak beberapa tahun lalu sebelum berbagai paten batik diajukan oleh orang-orang asing.

Pemahamannya yang mendalam terhadap batik itu juga yang menyebabkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) meminta Iwan membuatkan batik untuk Ratu Sirikit dari Thailand. Rencananya, kain batik itu akan diberikan kepada Ratu Sirikit bersamaan dengan undangan Pemprov Jateng kepada Ratu untuk hadir dalam Festival Borobudur tahun depan.

“Saya membuatkan tiga kain. Motif pisang bali yang antik, motif batik jawa hokokai yang ramai-ada kupu-kupunya, dan motif modang yang mirip dengan motif Thailand,” kata Iwan, Rabu (30/10) malam, saat menghadiri pergelaran rancangan desainer Indonesia dan India dalam acara Eksotika Asia di Hotel Mulia. Iwan berharap, salah satu kain yang akan dikirim itu dipakai sebagai gaun malam oleh Ratu Sirikit.

Sumber : (NMP) Kompas Cetak, Jakarta