Transaksi Batik Terhenti, Perhotelan Tetap Optimistis
Perajin dan pengusaha batik di Pekalongan rugi sekitar Rp 500 juta per bulan menyusul terhentinya pesanan batik asal Pekalongan oleh pengusaha dan pemilik toko di Bali. Transaksi batik itu terhenti setelah Bali dilanda peristiwa peledakan bom, awal Oktober lalu. Kini pengusaha batik berupaya mencari pangsa pasar lain di luar Bali.Meskipun demikian, kalangan perhotelan Kabupaten/Kota Magelang optimistis bisnis perhotelan tetap eksis asal mampu membidik pasar dengan tepat. Untuk itu, promosi gencar perlu dilakukan asal bersifat segmentatif. Hari raya Lebaran dan Natal di akhir tahun ini diyakini sangat menolong walaupun lebih banyak wisatawan domestik.
Demikian penjelasan Ketua Umum Yayasan Bina Niaga Mandiri (Nagari) Pekalongan, Sonny Hikmalul, dan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Magelang Firman Hidayat, Sabtu (26/10), di tempat terpisah. Sonny mengaku bermusyawarah dengan sejumlah pengusaha batik di Pekalongan untuk mengantisipasi lesunya perdagangan batik ke Bali. Sedangkan Firman (General Manager Hotel Puri Asri Magelang) tetap mengakui seminggu setelah peristiwa bom Bali, pembatalan kunjungan tamu dari luar negeri langsung bermunculan.
Batik Pekalongan
“Begitu pascapeledakan, pesanan batik berangsur-angsur dibatalkan untuk waktu tidak terbatas. Pembayaran atas produksi yang diterima di Bali pun juga ramai-ramai minta penundaan jatuh tempo,” kata Sonny Hikmalul.
Dia menyatakan, pangsa pasar batik asal Pekalongan ke Bali sangat bagus. Setiap bulan minimal dua kontainer batik dikirim ke Bali. Pesanan itu meliputi stelan batik hawaii, celana santai, kain pantai, kaus batik, berbagai ragam asesori, berbagai ragam keperluan rumah seperti taplak, sarung bantal hingga alas tidur serta kerajinan batik lain. Total omzet pengusaha dari bisnis batik ke Bali minimal Rp 200 juta-Rp 500 juta per bulan.
Sedangkan Direktur Pasar Grosir Batik Setono, Pekalongan, Hasanuddin mengemukakan, 209 pengusaha yang tergabung dalam pasar grosir di Setono mengalihkan perdagangan ke pasar grosir saja. Untungnya sejak pascapeledakan Bali, transaksi meningkat sampai 60 persen. Banyak pedagang asal Sumatera, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat maupun kota lain di Jateng mulai memborong pakaian jadi. “Kemungkinan peningkatan ini menyongsong Lebaran, Natal, dan Tahun Baru 2003,” ujar Hasanuddin.
Perajin batik di Pekalongan, Ny Mahmudi, biasanya mengirim produksi batik berbagai ragam ke Bali sekitar satu ton per bulan. Kalau kiriman digabung dengan pengusaha lain bisa satu kontainer per bulan. Produksinya dikirim ke Kuta dan Denpasar kemudian disebarkan ke toko-toko kecil di sejumlah kota di Bali.
Tetap optimistis
Menurut Firman Hidayat, biasanya hotel di Magelang menerima rombongan tamu dari Belanda sebulan dua kali untuk 60 kamar. “Sekarang terjadi pembatalan sampai Desember yang akan datang, jadi 180 kamar yang tadinya dipesan tak jadi digunakan,” kata Firman.
Puri Asri beruntung karena kebanyakan tamunya wisatawan domestik. “Di masa seperti sekarang ini, agar tetap eksis, promosi hotel harus kami arahkan dan fokuskan ke segmen yang sesuai dengan hotel kami. Namun, yang sangat diharapkan dari pemerintah dan masyarakat, kondisi keamanan harus terus dijaga,” katanya.
Sedangkan pemilik Hotel nDalem Kencono Wungu Borobudur, Kreshno Priawan Hadiningrat mengatakan, saat ini masih banyak permintaan wisatawan yang menginginkan suasana yang nyaman, tenang, hening, dan jauh dari kebisingan kota.
Pakar psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Sarlito Wirawan meminta agar masyarakat Indonesia jangan mudah panik dan terprovokasi oleh teror bom belakangan ini. Masyarakat perlu meningkatkan daya tahan, yaitu dengan membuat sistem pertahanan dan keamanan sendiri. Bukan malah terjebak dalam kepanikan massa yang dibuat oleh kelompok tertentu.
Peringatan Sarlito Wirawan dikemukakan dalam Kolokium Psikologi Nasional IX di Hotel Puri Garden Semarang, Sabtu.
Sumber : (WHO/VIN/SIG) Kompas Cetak, Semarang