Batik Lasem Terancam Punah

Berbeda dengan batik Pekalongan yang akhir-akhir ini semakin berkembang, batik tulis Lasem yang merupakan batik khas Cina Lasem justru mendekati kepunahan. Pada masa jayanya tahun 1970-an, hampir setiap rumah di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengembangkan usaha batik Lasem. Sekarang ini, tinggal sekitar 10 pengusaha atau perajin.

“Mulai tahun 1990-an, perajin batik Lasem semakin berkurang. Dan setelah krisis ekonomi, semakin berkurang lagi. Dulu ketika memulai usaha tahun 1980-an, pekerja saya sekitar 250 orang, sekarang tinggal 20 orang,” kata Purnomo, pemilik usaha Batik Purnomo, ketika ditemui di rumahnya di Jalan Gedung Mulyo, Lasem, Sabtu (26/10).

Sebagaimana pengusaha batik Lasem lainnya, Purnomo mewarisi usaha orangtuanya. Dibantu 20 pekerja, kain batik yang dihasilkan sekitar 200 potong (ukuran kain panjang) per bulan dengan harga Rp 200.000 sampai Rp 250.000 per potong. Lama pengerjaan bisa dua bulan per potong. Untuk motif lokcan, motif khas batik Lasem, harganya bisa Rp 950.000 per potong dengan lama pengerjaan sekitar lima bulan.

“Proses pembuatan batik Lasem tidak sama dengan batik Solo dan Pekalongan. Di Solo dan Pekalongan, satu kain dikerjakan oleh satu orang. Di Lasem bisa beberapa orang sehingga waktu pembuatan lama. Ini yang membuat kami ketinggalan, untuk membuat satu kain batik minimal makan waktu dua bulan,” kata Purnomo.

Selain itu, lanjut Purnomo, semakin punahnya keberadaan batik Lasem juga disebabkan tidak adanya minat generasi muda meneruskan usaha batik Lasem. Generasi muda di Lasem yang WNI keturunan, sebagian besar merantau ke luar kota dan mengembangkan usaha di bidang lain yang menguntungkan.

Batik cap

Maraknya batik cap (printing), kata Purnomo, juga membuat batik Lasem yang nota bene batik tulis semakin ditinggalkan. Orang lebih senang membeli batik cap yang harganya murah. Batik tulis, seperti batik Lasem, hanya diminati kalangan tertentu.

“Untuk mengembangkan batik printing, modalnya terlalu besar. Selain itu, di pasaran batik printing membanjir seperti batik Pekalongan. Saya tetap bertahan di batik tulis karena ingin melestarikan batik Lasem, tetapi enggak tahu sampai kapan. Sebenarnya saya sudah jenuh,” kata Purnomo yang mulai menjajagi usaha kerajinan kuningan karena dirasa lebih menguntungkan.

Secara terpisah, Budiman Darmawan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang mengakui, batik Lasem terancam punah. Untuk itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang akan mengembangkan batik cap agar batik Lasem tidak punah. Diharapkan, dengan sistem cap, produksi batik Lasem bisa diperbanyak dan harganya terjangkau untuk semua kalangan.

“Dalam waktu dekat kami akan mengikutkan perajin batik Lasem di Kecamatan Kalipancur (arah selatan Kecamatan Lasem), mengikuti kursus batik cap yang diadakan Provinsi Jateng. Di Kalipancur ada sekitar 15 perajin batik Lasem. Berbeda dengan asal muasal batik Lasem yang banyak dikembangkan orang Tionghoa (WNI keturunan) dan hanya terdapat di Lasem, di Kalipancur penduduk asli mulai menekuni usaha batik Lasem,” kata Budiman.

Sumber : (IKA) Kompas Cetak, Semarang

One Response to “Batik Lasem Terancam Punah”

  1. Moh Jauhar al-Hakimi Says:

    Ketika Malaysia telah mematenkan batik sebagai Khasanah budaya sekaligus potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di masa datang, justru banyak khasanah budaya yang terancam hilang. Mbok para pembuat-pengambil keputusan segera sadar. Ini juga masalah serius.

Leave a Reply