Danar Hadi di Tengah Masyarakat yang Berubah
TIDAK banyak pengusaha batik yang bisa bertahan mengikuti perubahan zaman. Salah satu yang berhasil melalui pergantian abad adalah batik Danar Hadi.
Senin (21/10/02) malam lalu, selain meluncurkan buku berjudul “Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan”, H Santosa Doellah yang mendirikan batik Danar Hadi bersama sang istri, Danar, juga memperkenalkan ketiga anak mereka sebagai penerus bisnis keluarga yang cikal bakalnya dari Kauman, Solo, ini.
Usaha keluarga yang didirikan tahun 1967 ini berkembang menjadi usaha yang bergerak dari hulu berupa pembuatan benang tekstil, hingga ke hilir berupa pembuatan garmen. Usaha kelompok Danar Hadi bukan cuma dalam batik (tulis dan cap), tetapi juga tekstil dan garmen nonbatik.
Karena itu, menyaksikan peluncuran buku tulisan Santosa Doellah yang diikuti pergelaran aneka kain koleksi Santosa dan Danar serta inovasi baru dalam rancangan batik maupun desain busana itu, seperti melihat peluang batik pada masa mendatang.
Diana Hariyadi, putri sulung yang dipercaya menjadi Direktur PT Danar Hadi dan menangani usaha di Jakarta, tetap optimis dengan masa depan batik. Kerja sama dengan perancang adalah salah satu cara membuat batik tetap bisa bertahan terhadap perubahan zaman.
Danar yang selalu menyebut bahwa suaminya, Santosa Doellah, sebagai orang yang paling memahami desain dan nilai seni batik di Danar Hadi, mengatakan batik-batik lama Indonesia yang motifnya sangat kaya akan tetap menjadi sumber inspirasi untuk lahirnya motif-motif baru. “Motif bunga pada tepian batik, misalnya, sangat cocok dengan tema romantis yang kini sedang jadi tren,” tutur Danar mencontohkan.
Tidak mengherankan bila Santosa Doellah begitu berdedikasi mengoleksi kain-kain batik dari berbagai zaman dan rumah produksi. Santosa misalnya, memiliki koleksi batik yang berasal dari abad ke-19 yang diproduksi rumah batik Belanda. Santosa pun memiliki 1.000 kain batik bermutu milik peneliti dan kolektor batik asal Belanda, Veldhuisen. Semua disimpan di museum batik Danar Hadi di Solo.
***
DARI beragam batik yang dipamerkan Senin malam lalu, di atas pentas pergelaran ataupun di selasar ballroom Hotel Mulia, Jakarta, pesona batik memang belum pudar. Paduan kain dan kebaya yang diperlihatkan oleh perancang busana Edward Hutabarat, Ghea S Panggabean, maupun yang merupakan koleksi Danar Hadi sendiri
memperlihatkan setelan kain batik dan kebaya untuk acara khusus masih relevan sampai saat ini karena batik melekat dengan kehidupan spiritual sebagian besar orang Indonesia. Begitupun kemeja batik untuk laki-laki, tampaknya masih akan bertahan sepanjang bisa disesuaikan dengan selera masyarakat urban di tengah globalisasi.
Sebagai motif, batik telah mengilhami banyak perancang dunia, antara lain Paul Smith dan Giorgio Armani. Bahkan Victoria Secret pun pernah memakai tema batik untuk pakaian dalam beberapa tahun lalu. Masalahnya, bagaimana membuat batik menarik untuk kaum muda dan tidak dilihat sebagai pakaian untuk mereka yang sudah berusia.
Yongki Budi Sutisna mencoba menjawab tantangan itu dalam koleksi yang dirancang untuk mereka yang berusia muda. Yongki mengambil hanya sebagian motif yang sederhana seperti garis dan titik-titik -sebenarnya merupakan motif dasar batik-sederhana yang diaplikasi sebagai motif geometris, atau bunga-bunga kecil. Aplikasinya adalah pada gaun dengan garis desain yang sedang in, seperti garis asimetri, dipadukan dengan gaya mentel dari sifon transparan, serta gaun-gaun ala kemben.
Sebastian Gunawan membuat gaun cocktail batik yang meriah dengan tambahan manik-manik. Gaun pendek berleher persegi berpotongan empire tampak menarik dengan padu padan motif yang serasi. Sementara Ghea pada sekuens lain menggunakan batik dalam pendekatan lebih kontemporer. Nuansa etnis khas Ghea tercermin melalui gaun atau setelan celana panjang bermotif batik sederhana yang dibuat berlapis dengan aksen ikat pinggang esktra lebar ala obi, serta perpaduan dua-tiga gaun atau celana panjang.
Diana mengaku khawatir tragedi bom di Legian, Bali, akan membuat perginya pelanggan asing Danar Hadi yang terutama dari Taiwan, Jepang, serta negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Salah satu upaya untuk mengantisipasi pasar dalam negeri yang lesu adalah dengan meningkatkan ekspor ke Eropa dan Amerika yang sudah berjalan selama ini.
Pergelaran Senin malam lalu memberi harapan batik akan bertahan dan mencari jalannya sendiri, seperti juga batik telah melalui masa ratusan tahun hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Sayang, pengunjung sebagian tidak tinggal sampai acara selesai pukul 23.00 yang dimulai terlambat karena menunggu kedatangan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika yang harus lebih dulu membuka festival kebudayaan India di Taman Ismail Marzuki. Tetapi, bila pergelaran dibuat lebih dinamis, setidaknya rasa kantuk terobati.
Sumber : (Ninuk MP)KCM, Jakarta