Archive for October, 2002

Batik Lasem Terancam Punah

Monday, October 28th, 2002

Berbeda dengan batik Pekalongan yang akhir-akhir ini semakin berkembang, batik tulis Lasem yang merupakan batik khas Cina Lasem justru mendekati kepunahan. Pada masa jayanya tahun 1970-an, hampir setiap rumah di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengembangkan usaha batik Lasem. Sekarang ini, tinggal sekitar 10 pengusaha atau perajin.

“Mulai tahun 1990-an, perajin batik Lasem semakin berkurang. Dan setelah krisis ekonomi, semakin berkurang lagi. Dulu ketika memulai usaha tahun 1980-an, pekerja saya sekitar 250 orang, sekarang tinggal 20 orang,” kata Purnomo, pemilik usaha Batik Purnomo, ketika ditemui di rumahnya di Jalan Gedung Mulyo, Lasem, Sabtu (26/10).

Sebagaimana pengusaha batik Lasem lainnya, Purnomo mewarisi usaha orangtuanya. Dibantu 20 pekerja, kain batik yang dihasilkan sekitar 200 potong (ukuran kain panjang) per bulan dengan harga Rp 200.000 sampai Rp 250.000 per potong. Lama pengerjaan bisa dua bulan per potong. Untuk motif lokcan, motif khas batik Lasem, harganya bisa Rp 950.000 per potong dengan lama pengerjaan sekitar lima bulan.

“Proses pembuatan batik Lasem tidak sama dengan batik Solo dan Pekalongan. Di Solo dan Pekalongan, satu kain dikerjakan oleh satu orang. Di Lasem bisa beberapa orang sehingga waktu pembuatan lama. Ini yang membuat kami ketinggalan, untuk membuat satu kain batik minimal makan waktu dua bulan,” kata Purnomo.

Selain itu, lanjut Purnomo, semakin punahnya keberadaan batik Lasem juga disebabkan tidak adanya minat generasi muda meneruskan usaha batik Lasem. Generasi muda di Lasem yang WNI keturunan, sebagian besar merantau ke luar kota dan mengembangkan usaha di bidang lain yang menguntungkan.

Batik cap

Maraknya batik cap (printing), kata Purnomo, juga membuat batik Lasem yang nota bene batik tulis semakin ditinggalkan. Orang lebih senang membeli batik cap yang harganya murah. Batik tulis, seperti batik Lasem, hanya diminati kalangan tertentu.

“Untuk mengembangkan batik printing, modalnya terlalu besar. Selain itu, di pasaran batik printing membanjir seperti batik Pekalongan. Saya tetap bertahan di batik tulis karena ingin melestarikan batik Lasem, tetapi enggak tahu sampai kapan. Sebenarnya saya sudah jenuh,” kata Purnomo yang mulai menjajagi usaha kerajinan kuningan karena dirasa lebih menguntungkan.

Secara terpisah, Budiman Darmawan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang mengakui, batik Lasem terancam punah. Untuk itu, Dinas Pariwisata Kabupaten Rembang akan mengembangkan batik cap agar batik Lasem tidak punah. Diharapkan, dengan sistem cap, produksi batik Lasem bisa diperbanyak dan harganya terjangkau untuk semua kalangan.

“Dalam waktu dekat kami akan mengikutkan perajin batik Lasem di Kecamatan Kalipancur (arah selatan Kecamatan Lasem), mengikuti kursus batik cap yang diadakan Provinsi Jateng. Di Kalipancur ada sekitar 15 perajin batik Lasem. Berbeda dengan asal muasal batik Lasem yang banyak dikembangkan orang Tionghoa (WNI keturunan) dan hanya terdapat di Lasem, di Kalipancur penduduk asli mulai menekuni usaha batik Lasem,” kata Budiman.

Sumber : (IKA) Kompas Cetak, Semarang

Transaksi Batik Terhenti, Perhotelan Tetap Optimistis

Monday, October 28th, 2002

Perajin dan pengusaha batik di Pekalongan rugi sekitar Rp 500 juta per bulan menyusul terhentinya pesanan batik asal Pekalongan oleh pengusaha dan pemilik toko di Bali. Transaksi batik itu terhenti setelah Bali dilanda peristiwa peledakan bom, awal Oktober lalu. Kini pengusaha batik berupaya mencari pangsa pasar lain di luar Bali.Meskipun demikian, kalangan perhotelan Kabupaten/Kota Magelang optimistis bisnis perhotelan tetap eksis asal mampu membidik pasar dengan tepat. Untuk itu, promosi gencar perlu dilakukan asal bersifat segmentatif. Hari raya Lebaran dan Natal di akhir tahun ini diyakini sangat menolong walaupun lebih banyak wisatawan domestik.

Demikian penjelasan Ketua Umum Yayasan Bina Niaga Mandiri (Nagari) Pekalongan, Sonny Hikmalul, dan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Magelang Firman Hidayat, Sabtu (26/10), di tempat terpisah. Sonny mengaku bermusyawarah dengan sejumlah pengusaha batik di Pekalongan untuk mengantisipasi lesunya perdagangan batik ke Bali. Sedangkan Firman (General Manager Hotel Puri Asri Magelang) tetap mengakui seminggu setelah peristiwa bom Bali, pembatalan kunjungan tamu dari luar negeri langsung bermunculan.

Batik Pekalongan

“Begitu pascapeledakan, pesanan batik berangsur-angsur dibatalkan untuk waktu tidak terbatas. Pembayaran atas produksi yang diterima di Bali pun juga ramai-ramai minta penundaan jatuh tempo,” kata Sonny Hikmalul.

Dia menyatakan, pangsa pasar batik asal Pekalongan ke Bali sangat bagus. Setiap bulan minimal dua kontainer batik dikirim ke Bali. Pesanan itu meliputi stelan batik hawaii, celana santai, kain pantai, kaus batik, berbagai ragam asesori, berbagai ragam keperluan rumah seperti taplak, sarung bantal hingga alas tidur serta kerajinan batik lain. Total omzet pengusaha dari bisnis batik ke Bali minimal Rp 200 juta-Rp 500 juta per bulan.

Sedangkan Direktur Pasar Grosir Batik Setono, Pekalongan, Hasanuddin mengemukakan, 209 pengusaha yang tergabung dalam pasar grosir di Setono mengalihkan perdagangan ke pasar grosir saja. Untungnya sejak pascapeledakan Bali, transaksi meningkat sampai 60 persen. Banyak pedagang asal Sumatera, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat maupun kota lain di Jateng mulai memborong pakaian jadi. “Kemungkinan peningkatan ini menyongsong Lebaran, Natal, dan Tahun Baru 2003,” ujar Hasanuddin.

Perajin batik di Pekalongan, Ny Mahmudi, biasanya mengirim produksi batik berbagai ragam ke Bali sekitar satu ton per bulan. Kalau kiriman digabung dengan pengusaha lain bisa satu kontainer per bulan. Produksinya dikirim ke Kuta dan Denpasar kemudian disebarkan ke toko-toko kecil di sejumlah kota di Bali.

Tetap optimistis

Menurut Firman Hidayat, biasanya hotel di Magelang menerima rombongan tamu dari Belanda sebulan dua kali untuk 60 kamar. “Sekarang terjadi pembatalan sampai Desember yang akan datang, jadi 180 kamar yang tadinya dipesan tak jadi digunakan,” kata Firman.

Puri Asri beruntung karena kebanyakan tamunya wisatawan domestik. “Di masa seperti sekarang ini, agar tetap eksis, promosi hotel harus kami arahkan dan fokuskan ke segmen yang sesuai dengan hotel kami. Namun, yang sangat diharapkan dari pemerintah dan masyarakat, kondisi keamanan harus terus dijaga,” katanya.

Sedangkan pemilik Hotel nDalem Kencono Wungu Borobudur, Kreshno Priawan Hadiningrat mengatakan, saat ini masih banyak permintaan wisatawan yang menginginkan suasana yang nyaman, tenang, hening, dan jauh dari kebisingan kota.

Pakar psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Sarlito Wirawan meminta agar masyarakat Indonesia jangan mudah panik dan terprovokasi oleh teror bom belakangan ini. Masyarakat perlu meningkatkan daya tahan, yaitu dengan membuat sistem pertahanan dan keamanan sendiri. Bukan malah terjebak dalam kepanikan massa yang dibuat oleh kelompok tertentu.

Peringatan Sarlito Wirawan dikemukakan dalam Kolokium Psikologi Nasional IX di Hotel Puri Garden Semarang, Sabtu.
Sumber : (WHO/VIN/SIG) Kompas Cetak, Semarang

Pertalian Tekstil India dan Indonesia

Sunday, October 27th, 2002

Akulturasi batik India dan IndonesiaSeni tekstil India dan Indonesia mempunyai pertalian yang sangat erat. Bahkan sejak pertengahan Abad 18 tekstil produksi India sudah masuk ke Tanah Air dan kemudian saling berakulturasi dengan seni tekstil di Indonesia. Pertalian budaya kedua negara ini tampak jelas dalam beberapa teknik dan motif yang sangat dikenal sekarang seperti Paisley atau Songket. Untuk melihat pertalian tersebut berikut laporan reporter SCTV yang menelusuri sejarah tekstil, baru-baru ini.

Patola, kain berwarna dasar merah merupakan tenun ikat ganda bermotif cantik dengan bahan sutra. Di Indonesia Patola dikenal dengan sebutan Cinde. Bahkan di kalangan keraton Yogyakarta dan Solo kain Cinde motif cakar buatan India sudah digunakan sebagai kain pengantin keluarga kerajaan dan kain para penari Bedoyo Ketawang atau Serimpi.

Pengrajin tekstil di Idia awal Abad 19 juga mempertimbangkan pasar sasaran mereka di Indonesia. Beberapa motif khas Indonesia seperti ujung kain yang disebut tumpal, jumputan kain pelangi dari Palembang akhirnya diadaptasi dalam seni tekstil India. Motif ini bertahan hingga sekarang. Sebaliknya, batik Jambi, batik Lasem atau batik Yogya juga menggunakan motif khas India.

Seni tekstil India yang disebut Brocade adalah Sulaman dengan benang emas dari daerah Tamil Nadu, sangat mempengaruhi seni tekstil Palembang yang biasa disebut songket. Hal ini tampak dalam persamaan teknik dan motif yang muncul dengan warna emas yang mewah. Selain itu, garisan emas pada kain batik yang biasa disebut Prada juga sebenarnya berasal dari India.

Sumber : (YYT/Esther Mulyanie dan Agus Ginanjar) Liputan6.com, Jakarta

Batik dari Titik Menjadi Abadi

Wednesday, October 23rd, 2002

Siapa yang tak kenal batik. Hampir semua orang mengenalnya. Kain ini memang populer di kalangan tertentu, dijadikan benda koleksi, dipuja, dan disimpan bak barang antik. Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik. ” Bukan nilai uangnya yang menjadi ukuran, tapi kepuasan jika berhasil memiliki,” ujar Thomas Sigar, kolektor batik yang juga seorang perancang busana.

 Jenis batik Pekalongan berwarna cerah dan coraknya besar. Biasa dipakai sebagai pasangan untuk kebaya encinKenapa kain itu disukai dan dijadikan koleksi? Menurut beberapa kolektor karena batik adalah barang seni. Batik ibarat sebuah lukisan, pembuatannya makan waktu, tidak pabrikan tapi satu persatu. Ini dianggap bernilai, terutama jenis batik kuno yang motifnya klasik. Batik klasik memiliki pola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif flora dan fauna.
Dulu sempat berkembang polemik soal arti kata batik berasal dari mana. Sampai sekarang pun mereka belum sepakat soal apa arti sebenarnya kata batik itu. Ada yang bilang bahwa sebutan batik berasal dari kata tik yang terdapat dalam kata titik. Titik berarti juga tetes. Memang dalam pembuatan kain batik dilakukan penetesan lilin di atas kain putih.
Ada juga yang mencari asal kata batik dalam sumber tertulis kuno. Oleh mereka yang menelusuri dari data kuno itu dihubungkan dengan kata tulis atau lukis. Pendek kata, asal mula batik lalu dikaitkan pula dengan seni lukis dan gambar pada umumnya. Setuju atau tidak, batik tak terpengaruh. Kain khas ini sudah hadir selama berabad-abad.

Bisa Punah
Pada awalnya batik adalah pakaian raja-raja di Jawa di masa silam. Kemudian berkembang menjadi pakaian sehari-hari orang Jawa. Walau batik identik dengan pakaian adat Jawa, namun kini sudah menjadi pakaian nasional, bahkan cukup dikenal di mancanegara. Kepopuleran batik seakan pisau bermata dua. Di satu sisi menjadikannya komoditas yang bernilai, di sisi lainnya batik kuno bakal punah karena dibeli oleh orang asing.untuk koleksi.
” Sebenarnya itu ketakutan yang nggak beralasan,” ujar Thomas. Batik kuno memang harganya mahal. Ada yang jutaan rupiah sampai ratusan juta rupiah. Orang-orang asing itu, lanjutnya, punya apresiasi yang baik terhadap batik dan punya uang. Mereka tak hanya sekadar mengoleksi tapi juga belajar tentang batik. Berbeda dengan orang kita yang sekadar koleksi dan cenderung ikut-ikutan. Apa itu batik dan apa makna di dalamnya, kurang dipahami.
Menurut Thomas, memang ada banyak juga warga Indonesia yang sangat mengerti batik. Mereka berusaha menyelamatkan dan melestarikan lewat perkumpulan atau upaya pribadi. Mereka ini saling bertukar informasi dengan berbagai kolektor, termasuk kolektor asing. ” Jadi saya nggak setuju kalau batik kuno bakal hilang. Mereka menyimpannya teliti dan sangat baik,” katanya.

Motif Langka
Thomas mengaku suka batik sejak lama. Sebagai perancang busana, dia mau tak mau akhirnya bersentuhan dengan kain itu. Koleksinya adalah batik-batik lawas tapi pilihan. Jumlahnya ratusan buah. Dia tak mau bicara soal nilai koleksinya, tapi dijamin semuanya berkualitas.
Dari sekian banyak koleksinya, ada batik yang amat disukainya, yakni batik Van Zuylen. Thomas memiliki tiga batik buatan orang Indo Belanda itu. Dalam perkembangan perbatikan di Tanah Air, ada fase penjajahan Belanda. Dalam fase ini, batik lokal dipengaruhi oleh selera Eropa. Makanya dalam motif-motif batik yang ada dalam masa itu terdapat buket, kartu remi, meriam dan sebagainya yang berbau-bau Eropa.
Koleksi Thomas lainnya adalah batik Cirebon yang bermotif mega mendung. Bagi penggemar batik, rasanya tak mungkin tak mengoleksi jenis batik pesisiran itu. Tapi yang ini, sambungnya, unik. Dasar kainnya hitam dengan motif mega mendung merah. Belum pernah Thomas melihat dasar kain batik Cirebonan berwarna hitam. Koleksi ini didapat seorang ibu yang dulu pernah bekerja pada Fatmawati Soekarno, presiden pertama RI.
Untuk menghadirkan motif klasik yang langka, ada upaya dari penggemar batik Mereka membuat batik baru dengan motif-motif lama. Ini salah satu pelestarian motif sehingga tidak hilang. Tetapi dari segi mutu, berbeda karena proses yang dilakukan pada zaman dulu berbeda dengan masa kini. Sehingga bagi kolektor fanatik, jenis batik replika ini kurang digemari. Tetapi bagi pecinta batik lainnya, ketimbang tidak dapat yang asli yang replika pun boleh-boleh saja.

 Etty Tejalaksana, koleksi batiknya barulah 150 buah
Sulit Membedakan
Membedakan yang asli dan replika bagi penggemar pemula, memang agak susah. Apalagi jika ia tak pernah melihat sebelumnya di literatur. Tapi bagi yang ahli, mudah membedakannya, jika memegangnya. Terutama dilihat dari tekstur kain dan tampilan warna. ” Yang replika biasanya lebih bagus dari aslinya,” sambung Thomas.
Tapi bukan pula yang bagus itu selalu replika. Sebab banyak batik Belanda, begitu julukannya, disimpan secara apik oleh pemiliknya. Sehingga sampai kini pun warnanya tidak berubah, kainnya mirip kain baru. Mungkin karena sama sekali tidak pernah dipakai. Begitu pun jenis batik klasik lainnya yang tetap bagus kondisinya hinga kini. ” Penyimpanan dan perawatan menentukan keawetannya. Sebaiknya jika ingin mengoleksi batik kuno, kita harus rajin tanya. Atau membeli langsung dari pemilik atau pewarisnya,” saran Thomas.
Etty Tejalaksana, penggemar baru, mengakui awalnya dia sering tertipu. Membedakan antara batik yang bagus dan tidak saja, sulit. Makanya sarannya jika seseorang ingin menekuni hobi batik, harus belajar. Ilmu batik tak hanya yang ada di buku-buku. Semakin sering terjun ke lapangan yakni mendatangi pembatik tradisional, berburu ke pelosok, bisa mengasah pengetahuan. Ibarat bayi, semakin sering jatuh maka semakin cepat berdiri.
Ibu tiga anak itu mencontohkan batik Pekalongan yang diperlihatkan pada SH. Secara kasat mata, penampakannya sempurna. Warna-warnanya serasi, motifnya menarik, namun kalau diperhatikan ada warna yang tidak merata. ” Dalam proses pembuatan, mungkin perajin kurang cermat mencelupkanya saat pewarnaan. Jadi batiknya belang-belang tipis. Ini produk gagal, namun ada yang suka karena gradasi warnanya serasi,” tuturnya.
Etty mengaku jumlah koleksinya baru sekitar 150 lembar, terdiri dari kain dan selendang. Maklum dia baru menyukai batik pada 1998 akhir. Ketika itu dia jatuh hati pada batik Hohokay. Dikatakannya, ini batik spesial yang dibuat pada masa penjajahan Jepang. Motifnya banyak dipengaruhi unsur Jepang. Seperti warnya yang condong kebiru-biruan dan kekuning-kuningan.
Dari sinilah dia kemudian mulai mengoleksi satu demi satu. Pikirnya ketimbang kebarat-baratan, lebih baik melestarikan karya leluhur saja.

Sumber : (SH/gatot irawan /bayu dwi mardana) Sinar Harapan, Jakarta

Peresmian Politeknik Batik Pusmanu

Tuesday, October 22nd, 2002

Politeknik Batik (Polbat) Pusmanu Pekalongan yang merupakan politeknik batik pertama di Indonesia, Minggu malam lalu diresmikan di Pondok Pesantren Al-utsmani Gejlig, Kajen. Tasyakuran dan persemian yang juga dirangkaikan dengan haflah dan khataman Alquran tersebut ditutup dengan pengajian umum yang dihadiri ribuan umat muslim di Kabupaten Pekalongan dan sekitar.

Sumber : (br-20j) Suara Merdeka, Kajen

Danar Hadi di Tengah Masyarakat yang Berubah

Sunday, October 20th, 2002

TIDAK banyak pengusaha batik yang bisa bertahan mengikuti perubahan zaman. Salah satu yang berhasil melalui pergantian abad adalah batik Danar Hadi.

Senin (21/10/02) malam lalu, selain meluncurkan buku berjudul “Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan”, H Santosa Doellah yang mendirikan batik Danar Hadi bersama sang istri, Danar, juga memperkenalkan ketiga anak mereka sebagai penerus bisnis keluarga yang cikal bakalnya dari Kauman, Solo, ini.

Usaha keluarga yang didirikan tahun 1967 ini berkembang menjadi usaha yang bergerak dari hulu berupa pembuatan benang tekstil, hingga ke hilir berupa pembuatan garmen. Usaha kelompok Danar Hadi bukan cuma dalam batik (tulis dan cap), tetapi juga tekstil dan garmen nonbatik.

Karena itu, menyaksikan peluncuran buku tulisan Santosa Doellah yang diikuti pergelaran aneka kain koleksi Santosa dan Danar serta inovasi baru dalam rancangan batik maupun desain busana itu, seperti melihat peluang batik pada masa mendatang.

Diana Hariyadi, putri sulung yang dipercaya menjadi Direktur PT Danar Hadi dan menangani usaha di Jakarta, tetap optimis dengan masa depan batik. Kerja sama dengan perancang adalah salah satu cara membuat batik tetap bisa bertahan terhadap perubahan zaman.

Danar yang selalu menyebut bahwa suaminya, Santosa Doellah, sebagai orang yang paling memahami desain dan nilai seni batik di Danar Hadi, mengatakan batik-batik lama Indonesia yang motifnya sangat kaya akan tetap menjadi sumber inspirasi untuk lahirnya motif-motif baru. “Motif bunga pada tepian batik, misalnya, sangat cocok dengan tema romantis yang kini sedang jadi tren,” tutur Danar mencontohkan.

Tidak mengherankan bila Santosa Doellah begitu berdedikasi mengoleksi kain-kain batik dari berbagai zaman dan rumah produksi. Santosa misalnya, memiliki koleksi batik yang berasal dari abad ke-19 yang diproduksi rumah batik Belanda. Santosa pun memiliki 1.000 kain batik bermutu milik peneliti dan kolektor batik asal Belanda, Veldhuisen. Semua disimpan di museum batik Danar Hadi di Solo.

***
DARI beragam batik yang dipamerkan Senin malam lalu, di atas pentas pergelaran ataupun di selasar ballroom Hotel Mulia, Jakarta, pesona batik memang belum pudar. Paduan kain dan kebaya yang diperlihatkan oleh perancang busana Edward Hutabarat, Ghea S Panggabean, maupun yang merupakan koleksi Danar Hadi sendiri
memperlihatkan setelan kain batik dan kebaya untuk acara khusus masih relevan sampai saat ini karena batik melekat dengan kehidupan spiritual sebagian besar orang Indonesia. Begitupun kemeja batik untuk laki-laki, tampaknya masih akan bertahan sepanjang bisa disesuaikan dengan selera masyarakat urban di tengah globalisasi.

Sebagai motif, batik telah mengilhami banyak perancang dunia, antara lain Paul Smith dan Giorgio Armani. Bahkan Victoria Secret pun pernah memakai tema batik untuk pakaian dalam beberapa tahun lalu. Masalahnya, bagaimana membuat batik menarik untuk kaum muda dan tidak dilihat sebagai pakaian untuk mereka yang sudah berusia.

Yongki Budi Sutisna mencoba menjawab tantangan itu dalam koleksi yang dirancang untuk mereka yang berusia muda. Yongki mengambil hanya sebagian motif yang sederhana seperti garis dan titik-titik -sebenarnya merupakan motif dasar batik-sederhana yang diaplikasi sebagai motif geometris, atau bunga-bunga kecil. Aplikasinya adalah pada gaun dengan garis desain yang sedang in, seperti garis asimetri, dipadukan dengan gaya mentel dari sifon transparan, serta gaun-gaun ala kemben.

Sebastian Gunawan membuat gaun cocktail batik yang meriah dengan tambahan manik-manik. Gaun pendek berleher persegi berpotongan empire tampak menarik dengan padu padan motif yang serasi. Sementara Ghea pada sekuens lain menggunakan batik dalam pendekatan lebih kontemporer. Nuansa etnis khas Ghea tercermin melalui gaun atau setelan celana panjang bermotif batik sederhana yang dibuat berlapis dengan aksen ikat pinggang esktra lebar ala obi, serta perpaduan dua-tiga gaun atau celana panjang.

Diana mengaku khawatir tragedi bom di Legian, Bali, akan membuat perginya pelanggan asing Danar Hadi yang terutama dari Taiwan, Jepang, serta negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Salah satu upaya untuk mengantisipasi pasar dalam negeri yang lesu adalah dengan meningkatkan ekspor ke Eropa dan Amerika yang sudah berjalan selama ini.

Pergelaran Senin malam lalu memberi harapan batik akan bertahan dan mencari jalannya sendiri, seperti juga batik telah melalui masa ratusan tahun hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Sayang, pengunjung sebagian tidak tinggal sampai acara selesai pukul 23.00 yang dimulai terlambat karena menunggu kedatangan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika yang harus lebih dulu membuka festival kebudayaan India di Taman Ismail Marzuki. Tetapi, bila pergelaran dibuat lebih dinamis, setidaknya rasa kantuk terobati.

Sumber : (Ninuk MP)KCM, Jakarta