Ceplok yang Kian Membumi
ENTAH kenapa dinamai ceplok. Yang pasti arti ceplok adalah tutup (gelas) yang berornamen bunga mawar. Namun, corak dasar batik ceplok adalah geometris (bundar) dan empat persegi. Ornamen di dalamnya bisa diletakkan motif parang, kawung, atau bahkan cerita wayang komplet dengan ceritanya. Atau dalam garis besar, AN Suyanto menyebut ragam hias ceplok secara tidak sengaja menggambarkan bunga, hewan, atau benda-benda dari alam semesta.
Itu semua merupakan gambaran awal atau semacam konvensi tak tertulis ragam hias motif ceplok. Namun, dalam perkembangannya, motif ceplok jauh melangkah berkembang luas corak hiasnya. Kebebasan para kreator desain batik telah membawa motif ceplok keluar dari batas patokan yang ada. Hal itulah yang membuat ragam hias ceplok di Yogyakarta, misalnya, mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan daerah lain.
Bahkan, Ir Sri Soedewi Samsi, pengamat batik di Yogyakarta, menyatakan generasi sekarang sudah sulit melacak apa yang namanya ceplok karena demikian jauhnya perkembangan kreativitas motif ceplok, khususnya di Yogyakarta. Apalagi motif ceplok sekarang tidak lagi hanya menggunakan latar belakang warna dasar hitam dan putih.
”Motif ceplok ini sepertinya mengikuti gaya hidup yang berubah-ubah dari zaman ke zaman. Bahkan kreativitas motif ceplok sudah banyak dipadukan dengan motif lainnya untuk memenuhi selera pemakai,” kata Sri Soedewi.
Perjalanan kreatif motif ceplok, jelas bisa terlihat dalam lomba desain batik ceplok motif Yogyakarta yang diselenggarakan dalam ”Festival dan Lomba Internasional Batik Motif Yogyakarta” di Yogyakarta yang ditutup Sabtu (7/9). Ada 42 peserta lomba kreatif motif ceplok ini, sebagian besar datang dari Yogyakarta, yang lain berasal dari Solo, Cirebon (Jabar), Sidoharjo (Jatim), ada pula peserta dari Provinsi Jambi.
Meskipun peserta lomba motif batik ceplok tahun ini menurun dibanding lomba pertama tahun lalu yang diikuti 90 peserta lebih, menurut Ardiyanto Pranata sebagai ketua panitia, kualitas dan kreativitas makin jelas terbaca dalam lomba kali ini.
***
KREATIVITAS peserta lomba motif ceplok yang menonjol adalah keberanian untuk keluar dari warna dasar hitam-putih, dan juga penciptaan keragaman hias yang makin bervariasi. Seperti dalam lomba itu muncul karya yang diberi nama Ceplok Gusti Putri, yang mengetengahkan kelopak-kelopak bunga menyerupai mawar dan bunga matahari dalam ukuran cukup besar. Di antara deretan dua macam bunga-bunga itu dirangkai bunga-bunga kecil berwarna cokelat dan ungu keputihan. Warna dasar ungu keputihan menjadikan motif ini tampak cerah.
Ada peserta yang menamakan karyanya Ceplok Sekar Budi Kusumo Sari, bukan saja berkesan cerah, tetapi juga menghindari permainan blok sebagaimana layaknya kain batik. Warna dasar ungu keputihan masih tampak dominan karena ornamen hias bunga-bunga yang bebas dari konvensi ceplok itu hanya diletakkan di beberapa tempat saja, di mana masing-masing bunga dihubungkan garis-garis yang menyerupai tangkai.
Ceplok caronsih, masih lekat dalam konvensi ceplok, seluruh kain diblok dengan jajaran empat persegi, yang di dalamnya diletakkan gambar loro blonyo, sepasang ikan, dan simbol kerajaan. Karya ini mirip dengan karya peserta lain, yaitu motif ceplok goro-goro dan ceplok rama sinta. Ceplok puspa ragam dan ceplok suarna dwipa, terlihat jelas sebagai karya batik modern khususnya dalam hal tata warna.
”Revitalisasi yang terus-menerus dari karya batik, bukan saja memperkaya khazanah dunia batik, tetapi juga cara untuk pelestarian kain batik,” kata GKR Hemas. Revitalisasi ini pula yang akan melahirkan sentuhan-sentuhan modernisasi, akulturasi dalam motif batik. Revitalisasi ini yang akhirnya mengantar batik ke dalam tata nilai ekonomi dan akan menjadi wacana yang mendunia.
Sumber : (TOP) Kompas Cetak, Yogyakarta