Archive for September, 2002

Puluhan Murid SD Belajar Membatik

Thursday, September 26th, 2002

Anak-anak SD belajar membatikBerbagai cara terus dilakukan untuk melestarikan budaya bangsa. Satu di antaranya adalah memperkenalkan batik kepada puluhan siswa sekolah dasar seperti yang dilakukan Museum Tekstil Jakarta, baru-baru ini. Para siswa SD itu diajarkan cara membatik secara tradisional yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Sebelum membatik, para siswa SD itu berkumpul di sebuah ruangan. Mereka duduk melingkar mengelilingi kompor yang memanasi lilin atau bahan untuk membatik, didampingi seorang instruktur. Di tangan mereka masing-masing juga telah memegang canting dan kain yang telah diberi pola. Antusiasme para siswa untuk mencoba satu warisan budaya bangsa itu pun terlihat.

Diselingi canda bersama kawan-kawan, mereka belajar membatik mulai dari proses nglowongi, nerusi hingga pencelupan dan pewarnaan. Proses pewarnaan pun menjadi acara yang paling ditunggu para siswa karena mereka dapat segera melihat hasil kreasi yang telah dibuat.

Sumber : (PIN/Esther Mulyanie dan Zakaria) Liputan6.com, Jakarta

Pasar Grosir Batik Pekalongan, Upaya Wujudkan Citra Pusat Batik

Tuesday, September 10th, 2002

Mau belanja batik, garmen, dan handycraft Pekalongan? Ya… di Pantura.” Demikian promosi pengelola Pusat Perbelanjaan Pantura untuk menggaet pembeli agar datang dan membeli barang dagangan yang ditawarkan di Pusat Perbelanjaan Pantura, yang baru dibuka bulan Agustus lalu.

Pusat Perbelanjaan Pantura yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Pekalongan, tersebut hanyalah satu dari pasar grosir baru yang dibangun di sepanjang Jalan Raya Tegal-Pekalongan.

Setelah Pusat Perbelanjaan Setono, yang merupakan pasar grosir pertama di Pekalongan dibuka pada pertengahan tahun 2000, sejak setahun terakhir mulai berdiri pasar grosir-pasar grosir baru. Selain Pusat Perbelanjaan Pantura, juga ada Pasar Grosir Bondansari, Mega Grosir MM, Pasar Grosir Gramer.

Berbagai upaya dilakukan pihak pengelola pasar grosir untuk menarik minat pembeli berbelanja di pasar grosir baru. Seperti yang dilakukan PT Rankifi, pengelola Pusat Perbelanjaan Pantura yang mempromosikannya sebagai pintu gerbang batik, garmen, dan handycraft Pekalongan.

Meski lebih dikenal sebagai pasar grosir, Direktur PT Rankifi, Ghofar Djawahir, pihak pengelola, menolak jika Pusat Perbelanjaan Pantura disebut sebagai pasar grosir. Alasannya, grosir mempunyai konotasi murah dan konsekuensinya kualitas barangnya rendah.

“Kami ingin eksklusif karena barang-barang yang kami tawarkan kualitas Sogo (sebuah mal di Jalan Thamrin, Jakarta) dengan harga murah. Sasaran kami menengah atas, bukan kulakan,” kata Ghofar.

Karena itu, dalam promosinya, PT Rankifi, menawarkan bahwa barang-barang yang dijual di Pusat Perbelanjaan Pantura merupakan produk-produk unggulan. “Selama ini batik Pekalongan kalau dijual di pameran harganya bisa dinaikkan 200 persen. Bahkan di Singapura bisa sampai 1.000 persen, tetapi giliran orang Singapura membeli langsung, Batik Pekalongan dikira palsu,” ujar Ghofar.

***
Apa pun sebutannya, pendirian pasar-pasar grosir tersebut dimaksudkan untuk menawarkan produk Pekalongan, terutama batik, langsung ke konsumen. Ini dilakukan untuk memotong jalur calo (sebutan untuk pedagang pengumpul) yang selama ini merugikan pengusaha batik, terutama pengusaha kecil.

“Sebagai pedagang, kami diuntungkan dengan adanya pasar-pasar grosir karena bisa langsung menjual ke konsumen, tidak ke calo lagi. Dulu, kalau jual ke calo untungnya kecil, hampir 90 persen keuntungan mengalir ke calo, sekarang berbalik,” kata Hasanuddin, pemilik usaha batik Rahmi Madina.

Pembangunan pasar grosir baru tersebut merupakan upaya untuk membangun dan mengembangkan Pekalongan sebagai pusat batik. Selain mempunyai nilai bagi pengusaha dan pengrajin batik serta mereka yang terlibat di dalamnya, diharapkan keberadaan pasar grosir baru tersebut dapat memberi nilai tambah bagi daerah (Pekalongan). Tujuannya untuk mengembangkan pasar di masa mendatang yang selama ini peran tersebut dilakukan orang lain di luar Pekalongan.

Saat ini, ada sekitar 435 unit usaha batik dan produk tekstil lainnya di Kabupaten Pekalongan. Mulai dari kain batik printing (cap), sarung palekat, batik tulis, batik sutera, batik shantung, bordir, tenun ikat, tenun sulam, usaha konveksi.

Meski krisis melanda Indonesia, unit usaha baru terus bertambah. Tahun 2001, unit usaha baru yang terdaftar di Kabupaten Pekalongan sebanyak 240 unit, sebagian terbesar berupa unit usaha batik dan produk tekstil lainnya.

Pembangunan pasar grosir baru tersebut juga dalam rangka membangun wisata ekonomi daerah. Dengan menyebut sebagai pasar grosir, ada kesan murah sehingga diharapkan menarik minat wisatawan mengunjungi Pekalongan.

Dengan adanya pasar-pasar grosir tersebut, para pengrajin atau pemilik usaha batik mempunyai tempat untuk langsung memasarkan produknya. Di sisi lain, konsumen maupun pedagang dari luar kota tidak perlu lagi ke pelosok Pekalongan, mencari pengusaha batik. “Kami ingin mengembalikan batik Pekalongan ke Pekalongan. Kalau selama ini batik itu nilai tambahnya dipegang orang Solo, Jogya, dan Bali dengan basic dari Pekalongan, kami sekarang punya pasar sendiri. Dengan demikian, Pekalongan dapat dikenal secara nasional, bahkan internasional,” jelas Ghofar yang berencana membuat website tentang batik Pekalongan.

Tanpa disengaja, pendirian pasar-pasar grosir baru di jalur pantai utara (pantura) Jawa menguntungkan pedagang maupun pembeli. Jalur pantura yang merupakan jalur ekonomi memudahkan pembeli mencapai lokasi pasar. Lokasi itu merupakan tempat promosi gratis bagi pedagang.

“Sekarang memang masih sepi, tetapi saya yakin sebentar lagi tempat ini ramai. Saingan memang banyak, tetapi orang kan tetap suka batik. Batik akan tetap laku,” kata Lukman, pemilik Toko Eldanha di Pasar Grosir Bondansari.

Sumber : (IKA/WHO) Kompas Cetak, Jawa Tengah

Batik Tanjungbumi Mampu Bertahan Ratusan Tahun

Monday, September 9th, 2002

Batik Khas MaduraWarga Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, boleh berbangga. Sebab, dari daerah itulah konon asal batik Tanjungbumi yang banyak dicari turis mancanegara. Selain itu, batik yang awet sampai ratusan tahun ini disebut-sebut menjadi cikal bakal semua motif batik khas Madura. “Daerah kami adalah asal muasal tradisi batik di Madura,” kata Siti Syamsiah Achmadi, seorang pembatik Tanjungbumi, baru-baru ini.

Proses pembuatan batik Tanjungbumi tergolong rumit. Untuk menghasilkan selembar kain, dibutuhkan waktu tiga bulan hingga satu tahun. Di samping itu, bahan warna yang digunakan pun masih tradisional. Karena itu, jika perawatan dilakukan tanpa menggunakan zat kimia, batik Tanjungbumi dapat bertahan hingga 150 tahun.

Siti menjelaskan, di daerah ini terdapat beberapa motif batik tertua, yakni ramok, tasikmalaya, sebar jagab, rumput laut, okel, dan panji lintrik. Selain itu, terdapat juga 50 motif lain yang berasal dari pengembangan motif dasar. Kini, seiring berjalannya waktu, hadir pula perpaduan motif batik Tanjungbumi dan Solo serta Pekalongan.

Sumber : (MTA/Hasan Sentot dan Joko Sulistiyo Budi) Liputan6.com, Madura

Ceplok yang Kian Membumi

Sunday, September 8th, 2002

ENTAH kenapa dinamai ceplok. Yang pasti arti ceplok adalah tutup (gelas) yang berornamen bunga mawar. Namun, corak dasar batik ceplok adalah geometris (bundar) dan empat persegi. Ornamen di dalamnya bisa diletakkan motif parang, kawung, atau bahkan cerita wayang komplet dengan ceritanya. Atau dalam garis besar, AN Suyanto menyebut ragam hias ceplok secara tidak sengaja menggambarkan bunga, hewan, atau benda-benda dari alam semesta.

Itu semua merupakan gambaran awal atau semacam konvensi tak tertulis ragam hias motif ceplok. Namun, dalam perkembangannya, motif ceplok jauh melangkah berkembang luas corak hiasnya. Kebebasan para kreator desain batik telah membawa motif ceplok keluar dari batas patokan yang ada. Hal itulah yang membuat ragam hias ceplok di Yogyakarta, misalnya, mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan daerah lain.

Bahkan, Ir Sri Soedewi Samsi, pengamat batik di Yogyakarta, menyatakan generasi sekarang sudah sulit melacak apa yang namanya ceplok karena demikian jauhnya perkembangan kreativitas motif ceplok, khususnya di Yogyakarta. Apalagi motif ceplok sekarang tidak lagi hanya menggunakan latar belakang warna dasar hitam dan putih.

”Motif ceplok ini sepertinya mengikuti gaya hidup yang berubah-ubah dari zaman ke zaman. Bahkan kreativitas motif ceplok sudah banyak dipadukan dengan motif lainnya untuk memenuhi selera pemakai,” kata Sri Soedewi.

Perjalanan kreatif motif ceplok, jelas bisa terlihat dalam lomba desain batik ceplok motif Yogyakarta yang diselenggarakan dalam ”Festival dan Lomba Internasional Batik Motif Yogyakarta” di Yogyakarta yang ditutup Sabtu (7/9). Ada 42 peserta lomba kreatif motif ceplok ini, sebagian besar datang dari Yogyakarta, yang lain berasal dari Solo, Cirebon (Jabar), Sidoharjo (Jatim), ada pula peserta dari Provinsi Jambi.

Meskipun peserta lomba motif batik ceplok tahun ini menurun dibanding lomba pertama tahun lalu yang diikuti 90 peserta lebih, menurut Ardiyanto Pranata sebagai ketua panitia, kualitas dan kreativitas makin jelas terbaca dalam lomba kali ini.

***

KREATIVITAS peserta lomba motif ceplok yang menonjol adalah keberanian untuk keluar dari warna dasar hitam-putih, dan juga penciptaan keragaman hias yang makin bervariasi. Seperti dalam lomba itu muncul karya yang diberi nama Ceplok Gusti Putri, yang mengetengahkan kelopak-kelopak bunga menyerupai mawar dan bunga matahari dalam ukuran cukup besar. Di antara deretan dua macam bunga-bunga itu dirangkai bunga-bunga kecil berwarna cokelat dan ungu keputihan. Warna dasar ungu keputihan menjadikan motif ini tampak cerah.

Ada peserta yang menamakan karyanya Ceplok Sekar Budi Kusumo Sari, bukan saja berkesan cerah, tetapi juga menghindari permainan blok sebagaimana layaknya kain batik. Warna dasar ungu keputihan masih tampak dominan karena ornamen hias bunga-bunga yang bebas dari konvensi ceplok itu hanya diletakkan di beberapa tempat saja, di mana masing-masing bunga dihubungkan garis-garis yang menyerupai tangkai.

Ceplok caronsih, masih lekat dalam konvensi ceplok, seluruh kain diblok dengan jajaran empat persegi, yang di dalamnya diletakkan gambar loro blonyo, sepasang ikan, dan simbol kerajaan. Karya ini mirip dengan karya peserta lain, yaitu motif ceplok goro-goro dan ceplok rama sinta. Ceplok puspa ragam dan ceplok suarna dwipa, terlihat jelas sebagai karya batik modern khususnya dalam hal tata warna.

”Revitalisasi yang terus-menerus dari karya batik, bukan saja memperkaya khazanah dunia batik, tetapi juga cara untuk pelestarian kain batik,” kata GKR Hemas. Revitalisasi ini pula yang akan melahirkan sentuhan-sentuhan modernisasi, akulturasi dalam motif batik. Revitalisasi ini yang akhirnya mengantar batik ke dalam tata nilai ekonomi dan akan menjadi wacana yang mendunia.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak, Yogyakarta

Motif Batik Indonesia Turut Mengangkat Kain Australia

Thursday, September 5th, 2002

Pesona motif batik Indonesia ternyata mampu menjadi sumber inspirasi para seniman tekstil kontemporer Australia. Perpaduan bahan-bahan khas suku Aborigin dan motif batik Jawa mampu mengangkat kain Australia menjadi hasil seni berkualitas tinggi. Kekuatan pengaruh motif batik Jawa dalam kain Australia itu terlihat dalam pameran karya-karya seniman tekstil kontemporer Negeri Kanguru di Bentara Budaya Yogyakarta, pekan pertama September ini.

Tak kurang dari 30 karya seniman besar Australia, seperti Patricia Black, Jennifer Dudley, Karen Edin, Ruth Hadlow, ambil bagian dalam pameran untuk mempererat hubungan persahabatan dua negara bertetangga ini. Menurut informasi yang diperoleh SCTV, sebelum berkarya, para seniman itu menyempatkan diri melawat ke Indonesia dan mempelajari sejumlah motif batik tradisional.

Menurut mereka, pengaruh batik Jawa mampu memperkaya keindahan tekstil tradisional Australia, terutama kain khas suku Aborigin. Perpaduan motif batik Jawa dan bahan kain tradisional Aborigin, seperti kulit kayu, binatang, atau benang sutra dinilai mampu mengangkat citra kain Australia menjadi benda seni yang layak dipamerkan.

Sumber : (DEN/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta

GKR Hemas: Batik dan Yogyakarta Tak Bisa Dipisahkan

Thursday, September 5th, 2002

Batik dan Yogyakarta adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Kerajinan batik tidak dapat terlepas dari budaya masyarakat Yogyakarta dan telah diketahui dan diakui oleh masyarakat Indonesia dan dunia internasional.

Hal tersebut diungkapkan GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Hemas ketika membuka Festival dan Lomba Batik Internasional Motif Yogyakarta, Rabu (4/9). Festival dan lomba batik motif Yogyakarta yang akan berlangsung hingga Sabtu (7/9) ini, dihadiri kalangan pencinta batik Indonesia, di antaranya Ny Ginandjar Kartasasmita (Ketua Yayasan Batik Indonesia) dan Ny Harmoko, GBPH (Gusti Bendoro Pangeran Hario) Hadiwinoto, dan kalangan pencinta batik dari Jakarta.

Membicarakan kerajinan batik, kata GKR Hemas, merupakan hal yang sangat menarik dan mengasyikkan, karena batik adalah hasil budaya yang luhur warisan nenek moyang yang penuh nuansa seni, kultur, sekaligus bernilai ekonomis.

“Hasil budaya batik yang demikian terkenal mampu mengangkat citra Yogyakarta dan menjadi ciri khas kota ini, sudah selayaknya perlu dilestarikan dengan berbagai jenis kegiatan yang memperkaya khasanah budaya bangsa, seperti rangkaian kegiatan semacam ini,” tegasnya.

Menurut GKR Hemas, batik sebagai produk unggulan Yogyakarta dan nasional tersebut dapat senantiasa berkembang dinamis seiring dengan perkembangan global. Untuk itu perlu dipersiapkan langkah-langkah terobosan yang signifikan antara lain dengan mencari model-model pelestarian, merancang pengembangan dan revitalisasi, meningkatkan ekspor dan mendorong perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk batik yang mempunyai ciri khas kedaerahan.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak, Yogyakarta

Karyawan Keris Galeri Surabaya Mendatangi Anggota Dewan

Wednesday, September 4th, 2002

Karyawan toko batik Keris Galeri di DPRD Surabaya.Sekitar 185 karyawan toko batik Keris Galeri Surabaya, Jawa Timur, yang diskors mendatangi Kantor DPRD setempat di Jalan Indrapura, awal September ini. Mereka meminta anggota Dewan untuk membantu memperjuangkan hak mereka yang dinilai telah diperlakukan semena-mena oleh manajemen departemen store yang memiliki cabang hampir di seluruh Tanah Air itu. “Kami mohon anggota Dewan jeli melihat masalah ini, bukan cuma memandang kepentingan perusahaan semata,” kata Doni, seorang karyawan Keris Galeri.

Menurut Doni, keputusan skorsing tanpa batas waktu yang diberlakukan terhadap mereka tak berdasar. Apalagi setelah itu, Keris Galeri langsung merekrut karyawan baru. “Padahal, kami belum resmi dipecat,” jelas Doni. Menanggapi masalah ini, wakil dari Keris Galeri Budi Kusianto mengatakan, keputusan yang diambil telah sesuai peraturan perusahaan.

Sumber : (MTA/Tim Liputan 6 SCTV) Liputan6.com, Surabaya