Mau belanja batik, garmen, dan handycraft Pekalongan? Ya… di Pantura.” Demikian promosi pengelola Pusat Perbelanjaan Pantura untuk menggaet pembeli agar datang dan membeli barang dagangan yang ditawarkan di Pusat Perbelanjaan Pantura, yang baru dibuka bulan Agustus lalu.
Pusat Perbelanjaan Pantura yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Pekalongan, tersebut hanyalah satu dari pasar grosir baru yang dibangun di sepanjang Jalan Raya Tegal-Pekalongan.
Setelah Pusat Perbelanjaan Setono, yang merupakan pasar grosir pertama di Pekalongan dibuka pada pertengahan tahun 2000, sejak setahun terakhir mulai berdiri pasar grosir-pasar grosir baru. Selain Pusat Perbelanjaan Pantura, juga ada Pasar Grosir Bondansari, Mega Grosir MM, Pasar Grosir Gramer.
Berbagai upaya dilakukan pihak pengelola pasar grosir untuk menarik minat pembeli berbelanja di pasar grosir baru. Seperti yang dilakukan PT Rankifi, pengelola Pusat Perbelanjaan Pantura yang mempromosikannya sebagai pintu gerbang batik, garmen, dan handycraft Pekalongan.
Meski lebih dikenal sebagai pasar grosir, Direktur PT Rankifi, Ghofar Djawahir, pihak pengelola, menolak jika Pusat Perbelanjaan Pantura disebut sebagai pasar grosir. Alasannya, grosir mempunyai konotasi murah dan konsekuensinya kualitas barangnya rendah.
“Kami ingin eksklusif karena barang-barang yang kami tawarkan kualitas Sogo (sebuah mal di Jalan Thamrin, Jakarta) dengan harga murah. Sasaran kami menengah atas, bukan kulakan,” kata Ghofar.
Karena itu, dalam promosinya, PT Rankifi, menawarkan bahwa barang-barang yang dijual di Pusat Perbelanjaan Pantura merupakan produk-produk unggulan. “Selama ini batik Pekalongan kalau dijual di pameran harganya bisa dinaikkan 200 persen. Bahkan di Singapura bisa sampai 1.000 persen, tetapi giliran orang Singapura membeli langsung, Batik Pekalongan dikira palsu,” ujar Ghofar.
***
Apa pun sebutannya, pendirian pasar-pasar grosir tersebut dimaksudkan untuk menawarkan produk Pekalongan, terutama batik, langsung ke konsumen. Ini dilakukan untuk memotong jalur calo (sebutan untuk pedagang pengumpul) yang selama ini merugikan pengusaha batik, terutama pengusaha kecil.
“Sebagai pedagang, kami diuntungkan dengan adanya pasar-pasar grosir karena bisa langsung menjual ke konsumen, tidak ke calo lagi. Dulu, kalau jual ke calo untungnya kecil, hampir 90 persen keuntungan mengalir ke calo, sekarang berbalik,” kata Hasanuddin, pemilik usaha batik Rahmi Madina.
Pembangunan pasar grosir baru tersebut merupakan upaya untuk membangun dan mengembangkan Pekalongan sebagai pusat batik. Selain mempunyai nilai bagi pengusaha dan pengrajin batik serta mereka yang terlibat di dalamnya, diharapkan keberadaan pasar grosir baru tersebut dapat memberi nilai tambah bagi daerah (Pekalongan). Tujuannya untuk mengembangkan pasar di masa mendatang yang selama ini peran tersebut dilakukan orang lain di luar Pekalongan.
Saat ini, ada sekitar 435 unit usaha batik dan produk tekstil lainnya di Kabupaten Pekalongan. Mulai dari kain batik printing (cap), sarung palekat, batik tulis, batik sutera, batik shantung, bordir, tenun ikat, tenun sulam, usaha konveksi.
Meski krisis melanda Indonesia, unit usaha baru terus bertambah. Tahun 2001, unit usaha baru yang terdaftar di Kabupaten Pekalongan sebanyak 240 unit, sebagian terbesar berupa unit usaha batik dan produk tekstil lainnya.
Pembangunan pasar grosir baru tersebut juga dalam rangka membangun wisata ekonomi daerah. Dengan menyebut sebagai pasar grosir, ada kesan murah sehingga diharapkan menarik minat wisatawan mengunjungi Pekalongan.
Dengan adanya pasar-pasar grosir tersebut, para pengrajin atau pemilik usaha batik mempunyai tempat untuk langsung memasarkan produknya. Di sisi lain, konsumen maupun pedagang dari luar kota tidak perlu lagi ke pelosok Pekalongan, mencari pengusaha batik. “Kami ingin mengembalikan batik Pekalongan ke Pekalongan. Kalau selama ini batik itu nilai tambahnya dipegang orang Solo, Jogya, dan Bali dengan basic dari Pekalongan, kami sekarang punya pasar sendiri. Dengan demikian, Pekalongan dapat dikenal secara nasional, bahkan internasional,” jelas Ghofar yang berencana membuat website tentang batik Pekalongan.
Tanpa disengaja, pendirian pasar-pasar grosir baru di jalur pantai utara (pantura) Jawa menguntungkan pedagang maupun pembeli. Jalur pantura yang merupakan jalur ekonomi memudahkan pembeli mencapai lokasi pasar. Lokasi itu merupakan tempat promosi gratis bagi pedagang.
“Sekarang memang masih sepi, tetapi saya yakin sebentar lagi tempat ini ramai. Saingan memang banyak, tetapi orang kan tetap suka batik. Batik akan tetap laku,” kata Lukman, pemilik Toko Eldanha di Pasar Grosir Bondansari.
Sumber : (IKA/WHO) Kompas Cetak, Jawa Tengah