Batik Adjie Notonegoro Meriahkan 255 Tahun Yogyakarta

Rancangan busana batik desainer kondang Adjie Notonegoro akan turut memeriahkan Gelar Seni Istana dan Rakyat sebagai bagian peringatan 255 tahun berdirinya Yogyakarta. Peringatan juga diramaikan Festival Jaran Kepang dan lomba keterampilan berkuda.

“Saya menyiapkan 26 rancangan busana batik khas Yogyakarta yang khusus dipersembahkan untuk masyarakat Yogyakarta. Dari pengalaman saya sebagai perancang, batik Yogyakarta mempunyai kekhasan yang menonjol, terutama karena berwarna cerah dan motif parangnya,” kata Adjie ketika ditemui Kompas usai meninjau lokasi peragaan di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Rabu (21/8).

Selama beberapa tahun ini, Adjie merasa mendapat kesempatan besar mengembangkan busana batik gaya Yogyakarta terutama setelah menjadi perancang busana Presiden Abdurrahman Wahid beberapa waktu lalu.

“Lewat Presiden Gus Dur, busana batik Yogyakarta terus berkembang bahkan sampai ke luar negeri karena banyak pemimpin negara lain memakainya,” tambahnya.

Untuk acara yang akan diselenggarakan tanggal 31 Agustus itu, Ajie menampilkan berbagai kebaya yang dikombinasi dengan motif batik Yogyakarta, kebaya yang dimodifikasi dan baju malam, dicampur dengan bahan yang gemerlap dan diperagakan peragawati Jakarta.

Acara lain yang ditampilkan, pentas Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal. Ini merupakan tari tradisi yang dikemas dengan garapan baru. Tarian ini merupakan refleksi perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan penjajah Belanda sampai berhasil membangun kerajaan baru bernama Keraton Yogyakarta yang diabadikan dalam bentuk candra sengkala berbunyi “Naga Rasa Tunggal” artinya tahun Jawa 1682.

Setelah itu digelar Beksan Tunggak Pamungkas. Menurut Ketua Panitia Sunaryadi SST, beksan ini menggambarkan kegigihan dan keterampilan prajurit Mangkubumi berlatih perang diilhami dari Beksan Tameng karya Sultan Hamengku Buwono I.

“Nama Tunggak Pamungkas diambil untuk mengenang sebuah peristiwa pertempuran di daerah Tidar, ketika Mangkubumi hampir tertangkap musuh namun berhasil terselamatkan karena berlindung di belakang tonggak kayu,” katanya.

Di Alun-alun Utara, tanggal 1 September diadakan Festival Jaran Kepang yang dimeriahkan ratusan penari dari empat kabupaten dan Kota Yogyakarta. Juga digelar tradisi keterampilan berkuda yang dulu disebut watangan. Lomba semacam ini berhenti sejak akhir tahun 1800-an dan belum pernah digali lagi. Acara digelar untuk umum dengan ketentuan berbusana tradisional bagi peserta lomba.

Sumber : (sig) Kompas Cetak, Yogyakarta

Leave a Reply