Interaksi Warga Dunia dalam Kolase Jejak Kain
Dalam tahun 1999 terjadi semacam tragedi budaya yang sangat mengganggu hubungan antarbangsa. Kejadian berawal di Brisbane, tempat di mana masyarakat seni Australia mempersiapkan perayaan besar berupa pertukaran budaya lintas dalam bentuk Trinale Ketiga Asia Pasifik yang disponsori Galeri Seni Queenslands tepat ketika krisis Timor Timur mencapai klimaks yang tragis.
Ratusan Petisi dikirim melalui e-mail kepada Galeri Queenslands, menyerukan pemboikotan terhadap Trinale Ketiga Asia Pasifik dengan alasan partisipasi seniman Indonesia. Ledakan sentimen anti Indonesia yang meledak dalam sebagian komunitas seni Australia waktu itu dipanas-panasi oleh media massa yang menumpangi dengan memberi laporan yang tak seimbang.
Gambaran itu menunjukkan betapa kejamnya politik, ketika menginjak-injak wilayah kebudayaan. Jaringan kebudayaan entah itu dilakukan individu ataupun komunitas, menjadi berantakan dan itu artinya memberangus pula relasi pergaulan antarwarga bangsa.
Pameran Kain Australia Kontemporer, di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), 19-26 Agustus seperti ingin mengembalikan naluri relasi antar manusia yang tak dibentengi oleh sekat geopolitik yang terkadang justru menganggu. “Dengan kain entah itu motif batik atau model kain yang lain, kami tidak sekedar ingin menampilkan karya kontemporer negeri kami, di samping itu kami ingin mengembangkan sikap sosial budaya,” tegas Peter O’Neill Direktur Wollongong City Gallery kurator pameran yang dibuka GKR Pembayun dari Keraton Yogyakarta.
Pameran kain yang bertajuk Tracking Cloth/Menelusuri Kain, menurut Peter, kain sengaja dipilih, karena media tekstil merupakan satu suara yang terpenting dalam hampir semua tradisi kultural. Pola dan motif tekstil atau kain, telah berkelana ke seluruh dunia selama berabad-abad, mempengaruhi estetika budaya yang jauh melampaui asal-usul mereka. Medium kain, secara intim berhubungan dengan seremoni, ritual, dan pengalaman sehari-hari.
***
Ada 24 orang pendukung pameran ini, semuanya dari berbagai wilayah di Australia. Kain yang dipamerkan, sebagaimana diungkapkan Peter, erat kaitannya dengan pengaruh batik Indonesia. Seperti batik karya Karen Edin yang lebih bernuansa abstrak, merupakan paduan citra rasa halus Jawa dengan citra pedalaman Australia. Pengalaman empat bulan belajar batik di Yogyakarta sekitar 25 tahun lalu, masih sangat mempengaruhi karya Karen.
Kain kontemporer yang diciptakan Ruth Hadlow, sangat dipengaruhi budaya Timor Barat. Kain ciptaan Ruth Hadlow ini memang unik, gambar yang dimunculkan adalah mengenai budaya atau aturan tentang kehamilan dan melahirkan. Karena itu, Ruth menorehkan simbol laki-perempuan, tanda silang, garis-garis, dan lainnya.
Batik karya Nyukana Baker, Alison Carroll, Yilpi Marks, sangat dipengaruhi batik tradisional Indonesia, namun teknik penggarapan canting, lebih lembut dan lebih detail. Keindahan batik kontemporer terasa lebih artistik dibanding batik Indonesia.
Seorang Raja tinggal di istana, sedang seorang empu tinggal di angin, begitu tulis dramawan WS Rendra. Ini mengingatkan kita bahwa seniman sebagai empu harus selalu berusaha tinggal di angin yang tak mengenal batas. Itu yang hendak disampaikan seniman Australia tersebut lewat pameran kain kali ini.
Sumber : (TOP) Kompas Cetak