Archive for August, 2002

Raja Selangor Batal Hadiri Festival Internasional Batik Yogya

Saturday, August 31st, 2002

Raja Selangor akhirnya memutuskan untuk tak datang menghadiri Festival Internasional Batik Yogya, yang akan berlangsung pada 4 – 7 September mendatang. Sang Raja batal datang karena hubungan antara RI dengan Malaysia yang tengah gonjang-ganjing.
Hal ini diungkapkan oleh Ardiyanto Pranata, Ketua Pelaksana Festival Internasional Batik Yogya, dalam sebuah jumpa pers di Yogya, Jumat siang (30/8). ‘’Beliau mengatakan, karena banyaknya kesibukan beliau tak bisa hadir. Tapi kita tahu dari pemberitaan soal TKI ini, bisa jadi batalnya beliau karena ini. Apalagi ayah beliau itu Yang Dipertuan Agong, tentu tak ingin menentang,’’ ujar Ardiyanto.
Ketidakhadiran Raja Selangor ini, menurut Ardiyanto, tentu akan merugikan penyelenggaraan festival ini. Sebab, bila hadir, maka festival ini tentu akan mempunyai nilai tambah. ‘’Akibat adanya soal TKI ini, kita kena imbasnya,’’ tutur Ardiyanto.
Festival Internasional Batik Yogya tahun ini mengangkat tema Revitalisasi Motif Batik Yogya. Dan berbagai kegiatan telah pula disusun oleh panita, sehingga memenuhi 3 aspek yang melekat pada batik sebagai kerja budaya. Aspek pertama meliputi produksi.
Aspek kedua menyangkut masalah reproduksi yang dimanifestasikan dalam bentuk sarasehan dengan topik Ragam Hias Ceplok dan Pengembangannya. Di samping itu juga diadakan lomba menulis tentang batik

Jangan Diputus
Di tempat terpisah, Ketua MPR Amien Rais menyatakan tidak setuju jika Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia, karena kodisi itu justru malah akan mempersulit melakukan komunikasi.
”Hubungan diplomatik dengan Malaysia jangan diputus. Nanti kalau diputus justru malah sulit untuk diajak komunikasi lagi,” kata Ketua MPR Amien Rais menanggapi hukuman cambuk dan pemulangan TKI ilegal dari Malaysia usai Sholat Jumat di Masjid Agung Surakarta, Jumat.
Untuk itu, ia mengajak seluruh bangsa Indonesia untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM), agar mampu bersaing dengan negara-negara lain dan tidak dihina seperti sekarang ini.
Ia mengatakan kualitas SDM bangsa Indonesia sekarang ini ”terseok-seok” jika dibanding dengan negara lain, untuk meningkatkan SDM maka pemerintah mengambil kebijakan anggaran pendidikan tahun 2003 ditingkatkan menjadi 20 persen dari anggaran tahun sebelumnya.
Jika kenaikan anggaran pendidikan bisa direalisasikan, katanya, bangsa Indonesia akan bangkit lagi dan negara lain pun akan segan menghina bangsa Indonesia. ”TNI/Polri dalam Sidang Tahunan MPR lalu tanpa didesak pun sekarang sudah mengundurkan diri dari panggung politik dan ini perlu diacungi jempol, selanjutnya TNI/Polri memfokuskan pada profesinya sebagai alat pengaman negara, kalau kita punya negara kuat tidak mungkin dihina seperti sekarang ini,” kata dia.

Pengamanan Warga
Sementara itu, Kapolri Jendral (Pol) Drs Da’i Bachtiar di Pekanbaru menyatakan, pengamanan polisi terhadap warga negara Malaysia yang ada di Indonesia tidak diberlakukan secara khusus, melainkan bersifat biasa saja. ”Pengawasan bersifat umum sebagaimana kepada WNA keseluruhan,” ujar Kapolri kepada pers di Pekanbaru, Jumat, usai meresmikan pemakaian gedung baru Mapoltabes Pekanbaru yang dilanjutkan dialog dengan jajaran kepolisian se Riau.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada kebijakan pengamanan khusus bagi daerah Riau, meski diakui bahwa daerah ini berbatasan langsung dengan negara Malaysia. ”Polda Riau malahan melakukan kerjasama dengan aparat kepolisian Penang dan Johor, dan ada komitmen tidak perlu memberikan pengamanan khusus di sini,” tutur Kapolri.
Kapolri mengulangi pernyataan yang pernah dikemukakan sebelumnya bahwa, penahanan atas 12 orang warga negara Malaysia yang dilakukan aparat polisi beberapa waktu lalu di Medan, Sumatera Utara, bukan tindak balasan atas Malaysia yang memulangkan paksa ratusan ribu TKI dari negeri jiran itu. ”Itu sudah dibicarakan kepada kepolisian Malaysia dan sudah kita jelaskan bahwa penahanan itu bukan balasan, dan mereka (Malaysia) bisa memahaminya” ujar Kapolri.
Kapolri menuturkan, penahanan atas warga Malaysia di Medan, dilakukan setelah ada laporan masyarakat yang mencurigai para WNA itu, yang kemudian polisi bertindak melakukan penggeledahan, pemeriksaan identitas diri.
”Identitas mereka lengkap, sehingga sekitar pukul 04:00 WIB pada hari kejadian itu, WNA yang diperiksa itu langsung dilepas kembali” katanya.

Sumber : (yuk/ant) Sinar Harapan, Yogyakarta

Batik Adjie Notonegoro Meriahkan 255 Tahun Yogyakarta

Thursday, August 22nd, 2002

Rancangan busana batik desainer kondang Adjie Notonegoro akan turut memeriahkan Gelar Seni Istana dan Rakyat sebagai bagian peringatan 255 tahun berdirinya Yogyakarta. Peringatan juga diramaikan Festival Jaran Kepang dan lomba keterampilan berkuda.

“Saya menyiapkan 26 rancangan busana batik khas Yogyakarta yang khusus dipersembahkan untuk masyarakat Yogyakarta. Dari pengalaman saya sebagai perancang, batik Yogyakarta mempunyai kekhasan yang menonjol, terutama karena berwarna cerah dan motif parangnya,” kata Adjie ketika ditemui Kompas usai meninjau lokasi peragaan di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Rabu (21/8).

Selama beberapa tahun ini, Adjie merasa mendapat kesempatan besar mengembangkan busana batik gaya Yogyakarta terutama setelah menjadi perancang busana Presiden Abdurrahman Wahid beberapa waktu lalu.

“Lewat Presiden Gus Dur, busana batik Yogyakarta terus berkembang bahkan sampai ke luar negeri karena banyak pemimpin negara lain memakainya,” tambahnya.

Untuk acara yang akan diselenggarakan tanggal 31 Agustus itu, Ajie menampilkan berbagai kebaya yang dikombinasi dengan motif batik Yogyakarta, kebaya yang dimodifikasi dan baju malam, dicampur dengan bahan yang gemerlap dan diperagakan peragawati Jakarta.

Acara lain yang ditampilkan, pentas Langen Beksa Dwi Naga Rasa Tunggal. Ini merupakan tari tradisi yang dikemas dengan garapan baru. Tarian ini merupakan refleksi perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan penjajah Belanda sampai berhasil membangun kerajaan baru bernama Keraton Yogyakarta yang diabadikan dalam bentuk candra sengkala berbunyi “Naga Rasa Tunggal” artinya tahun Jawa 1682.

Setelah itu digelar Beksan Tunggak Pamungkas. Menurut Ketua Panitia Sunaryadi SST, beksan ini menggambarkan kegigihan dan keterampilan prajurit Mangkubumi berlatih perang diilhami dari Beksan Tameng karya Sultan Hamengku Buwono I.

“Nama Tunggak Pamungkas diambil untuk mengenang sebuah peristiwa pertempuran di daerah Tidar, ketika Mangkubumi hampir tertangkap musuh namun berhasil terselamatkan karena berlindung di belakang tonggak kayu,” katanya.

Di Alun-alun Utara, tanggal 1 September diadakan Festival Jaran Kepang yang dimeriahkan ratusan penari dari empat kabupaten dan Kota Yogyakarta. Juga digelar tradisi keterampilan berkuda yang dulu disebut watangan. Lomba semacam ini berhenti sejak akhir tahun 1800-an dan belum pernah digali lagi. Acara digelar untuk umum dengan ketentuan berbusana tradisional bagi peserta lomba.

Sumber : (sig) Kompas Cetak, Yogyakarta

Interaksi Warga Dunia dalam Kolase Jejak Kain

Wednesday, August 21st, 2002

Pameran Kain Australia KontemporerDalam tahun 1999 terjadi semacam tragedi budaya yang sangat mengganggu hubungan antarbangsa. Kejadian berawal di Brisbane, tempat di mana masyarakat seni Australia mempersiapkan perayaan besar berupa pertukaran budaya lintas dalam bentuk Trinale Ketiga Asia Pasifik yang disponsori Galeri Seni Queenslands tepat ketika krisis Timor Timur mencapai klimaks yang tragis.

Ratusan Petisi dikirim melalui e-mail kepada Galeri Queenslands, menyerukan pemboikotan terhadap Trinale Ketiga Asia Pasifik dengan alasan partisipasi seniman Indonesia. Ledakan sentimen anti Indonesia yang meledak dalam sebagian komunitas seni Australia waktu itu dipanas-panasi oleh media massa yang menumpangi dengan memberi laporan yang tak seimbang.

Gambaran itu menunjukkan betapa kejamnya politik, ketika menginjak-injak wilayah kebudayaan. Jaringan kebudayaan entah itu dilakukan individu ataupun komunitas, menjadi berantakan dan itu artinya memberangus pula relasi pergaulan antarwarga bangsa.

Pameran Kain Australia Kontemporer, di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), 19-26 Agustus seperti ingin mengembalikan naluri relasi antar manusia yang tak dibentengi oleh sekat geopolitik yang terkadang justru menganggu. “Dengan kain entah itu motif batik atau model kain yang lain, kami tidak sekedar ingin menampilkan karya kontemporer negeri kami, di samping itu kami ingin mengembangkan sikap sosial budaya,” tegas Peter O’Neill Direktur Wollongong City Gallery kurator pameran yang dibuka GKR Pembayun dari Keraton Yogyakarta.

Pameran kain yang bertajuk Tracking Cloth/Menelusuri Kain, menurut Peter, kain sengaja dipilih, karena media tekstil merupakan satu suara yang terpenting dalam hampir semua tradisi kultural. Pola dan motif tekstil atau kain, telah berkelana ke seluruh dunia selama berabad-abad, mempengaruhi estetika budaya yang jauh melampaui asal-usul mereka. Medium kain, secara intim berhubungan dengan seremoni, ritual, dan pengalaman sehari-hari.

***

Ada 24 orang pendukung pameran ini, semuanya dari berbagai wilayah di Australia. Kain yang dipamerkan, sebagaimana diungkapkan Peter, erat kaitannya dengan pengaruh batik Indonesia. Seperti batik karya Karen Edin yang lebih bernuansa abstrak, merupakan paduan citra rasa halus Jawa dengan citra pedalaman Australia. Pengalaman empat bulan belajar batik di Yogyakarta sekitar 25 tahun lalu, masih sangat mempengaruhi karya Karen.

Kain kontemporer yang diciptakan Ruth Hadlow, sangat dipengaruhi budaya Timor Barat. Kain ciptaan Ruth Hadlow ini memang unik, gambar yang dimunculkan adalah mengenai budaya atau aturan tentang kehamilan dan melahirkan. Karena itu, Ruth menorehkan simbol laki-perempuan, tanda silang, garis-garis, dan lainnya.

Batik karya Nyukana Baker, Alison Carroll, Yilpi Marks, sangat dipengaruhi batik tradisional Indonesia, namun teknik penggarapan canting, lebih lembut dan lebih detail. Keindahan batik kontemporer terasa lebih artistik dibanding batik Indonesia.

Seorang Raja tinggal di istana, sedang seorang empu tinggal di angin, begitu tulis dramawan WS Rendra. Ini mengingatkan kita bahwa seniman sebagai empu harus selalu berusaha tinggal di angin yang tak mengenal batas. Itu yang hendak disampaikan seniman Australia tersebut lewat pameran kain kali ini.

Sumber : (TOP) Kompas Cetak

Raja Selangor Hadiri Festival Batik Internasional

Monday, August 12th, 2002

Raja Selangor (Malaysia) Duli Yang Mulia (DYM) Idris Shah, dijadwalkan hadir dan menyaksikan Festival Batik Internasional II dan Lomba Batik Motif Jogja di Yogyakarta tanggal 4-7 September 2002. Kehadiran raja dari negeri jiran itu diharapkan memperkukuh citra Yogyakarta sebagai “kiblat” (trend setter) batik dunia.

Panitia festival, Ari Widya Hatmoko dan Ima Primastuti, Sabtu (10/8), mengaku telah menerima surat tentang kepastian hadirnya Raja Selangor. Putra Yang Dipertuan Agung Malaysia tersebut memang sudah beberapa kali ke Yogya untuk memborong batik.

“Sejak masih menjadi Putra Mahkota di Selangor, dia sudah sering berkunjung ke berbagai galeri batik di Yogya, seperti milik Pak Ardiyanto. Kali ini, kehadirannya dalam rangka festival,” ujar Ima.

Sama dengan festival tahun 2000, ajang kali ini akan dimanfaatkan sebagai wahana pertemuan para penggemar batik dari dalam maupun luar negeri. Selama empat hari, para penggemar batik yang diinapkan di Hotel Melia Purosani dipersilakan mengikuti berbagai rangkaian acara. Mulai dari sarasehan batik, fashion show, workshop pewarnaan alam, kunjungan ke galeri-galeri batik Yogyakarta, hingga wisata perkebunan kopi di Ambarawa.

Lomba dan festival tersebut itu mempersyaratkan motif dasar khas Yogyakarta berupa pola hias ceplokan. Polanya dihiasi gabungan bermacam garis, namun bukan meniru bentuk hewan, tumbuhan, dan benda-benda di alam semesta. Ragamnya berupa hiasan pada suatu bidang kain yang simetris.

Ari menambahkan, jenis produk yang dilombakan berupa satu perangkat jarik/ nyamping dan selendang. Jarik/nyamping itu berukuran 260 x 105 cm ditambah 15 cm, sedangkan selendang berukuran 255 cm (panjang), ukuran lebarnya bebas.

Syarat lainnya, bahan harus sutera untuk jarik/nyamping, sedangkan selendang bahannya bebas. Teknik pembuatannya bisa tulis bisa pula cap. “Syarat yang lebih penting lagi, pewarnaannya harus alami. Tidak dibenarkan menggunakan warna dari bahan kimia sintetis,” papar Ari.

Sumber : (NAR) Kompas Cetak, Yogyakarta