Menghibur Warga Surabaya dengan Batik di Atas Kayu

Batik KayuDUA perempuan berkain dan kebaya duduk bersimpuh di atas panggung kecil berlapis karpet merah. Tangan kiri mereka memegang topeng kayu sengon berwarna putih kekuningan, sedangkan tangan kanannya memegang canting atau alat khusus untuk membatik. Sesekali tangan mereka bergerak ke arah wajan yang terjerang di atas kompor di hadapan mereka, mengisi kembali canting yang sudah kosong dengan cairan lilin panas.Di sisi panggung yang terletak di sudut lobi Hotel Majapahit itu berjajar berbagai barang bermotif batik. Topeng, cermin kecil, nampan, wayang, tempat tisu, dan beragam binatang yang semuanya terbuat dari kayu. Motif batik yang menghiasi permukaan benda-benda itu bermacam-macam, di antaranya parang rusak, parang ceplok, truntum, kawung, dan dlereng.

Pameran yang bisa menjadi ide mengemas karya tradisional Surabaya menghadapi dunia global mendatang. Tidak berbeda dengan penampilan Butet Kertaredjasa, raja monolog dengan Teater Gandrik beberapa waktu lalu yang juga tampil di Surabaya mengajarkan bagaimana lelucon itu dibuat profesional. Bukannya anggota DPRD lebih dominan lawakannya dibandingkan dengan grup lawak Srimulat Surabaya yang malah tutup, dan kelompok ketoprak yang sudah koma dan tinggal menunggu saat-saat terakhirnya.

Menurut Tugiyo (32) asal Desa Krebet, Sendangsari, Bantul, Yogyakarta, pemilik usaha batik di atas kayu itu, dia datang dan menggelar karyanya di hotel di Jalan Tunjungan, Surabaya, 18-28 Juli, tersebut bukan untuk mengajari. “Tidak ada target apa-apa selain untuk mempromosikan usaha saya,” kata pemilik Sanggar Joko Tingkir itu.

Kata-kata Tugiyo itu seakan merupakan cermin kerendahan hatinya, sekalipun juga bisa bermakna sebagai ketidakberdayaannya memasarkan hasil karya 31 pekerjanya, yang masih terbatas di seputaran Yogyakarta. Padahal, suami Tugini (23) ini tahu pasti bahwa kerajinan batik di atas kayu yang ia produksi sudah merambah pasaran luar negeri.

***

BATIK sudah bukan monopoli untuk pakaian resmi seperti yang dipakai para anggota DPRD Surabaya ketika menghadap Gubernur Jawa Timur (Jatim) untuk menyerahkan surat keputusan (SK) pemecatan wali kotanya. Tetapi, sudah dikemas dalam bentuk kerajinan, yang bahkan sudah digemari di luar negeri, dan sangat mungkin untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) yang dalam era otonomisasi daerah menjadi andalan setiap pemerintah daerah.

“Setiap tiga bulan sekali seorang pembeli dari Belanda datang ke rumah untuk membeli berbagai bentuk kerajinan batik di atas kayu,” tutur mantan pembuat kerajinan dari kayu sengon ini. Terakhir kali sekitar sebulan lalu. Wisatawan asing yang selalu disertai pemandu wisata dari Yogyakarta ini membelanjakan Rp 15 juta.

Padahal, bukan sekali dua kali saja tamu dari luar negeri mengunjungi rumah sekaligus tempat usaha dan ruang pamer (show room) kerajinan batik di atas kayu milik Tugiyo. Setidaknya, ada lima pemandu wisata yang rutin datang dengan mengajak tamu-tamunya. Tentu saja, pemandu wisata itu tidak berbaik hati tanpa imbalan.

“Mereka berani meminta uang setiap kali datang, kadang-kadang sampai 15 persen dari pengeluaran tamu yang mereka bawa,” kata laki-laki yang sudah mempunyai tiga rumah dan sebidang tanah dari hasil usahanya itu.

Saat ini, hasil usahanya sejak tahun 1997 itu sudah dijual secara tetap di beberapa toko di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Menurut pengakuan Tugiyo, ada toko yang menetapkan sistem titip barang, tetapi ada juga pemilik toko yang membeli langsung ke rumahnya untuk dijual lagi. Kekhasan produknya membuat warga Kecamatan Pajangan ini tahu persis bahwa barangnya dijual di beberapa toko.

Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah harga kerajinan hasil karyanya yang dipajang di toko. “Kalau di toko harganya bisa tiga sampai empat kali lipat,” kata Tugiyo. Misalnya topeng ukuran besar yang hanya dijual Rp 20.000 di rumahnya, dijual di toko Rp 60.000 hingga Rp 80.000. Tentu saja, keuntungan terbesar diperoleh oleh pemilik toko.

Bahkan, Tugiyo juga rajin mengirimkan hasil usahanya ke Bali atas permintaan seorang pembeli. Namun, ia tidak tahu persis kerajinan batik di atas kayu itu dikemanakan, termasuk berapa harga jualnya setelah sampai di Bali.

***

PROSES membatik di atas kayu yang ditekuni Tugiyo saat ini dimulai dari membuat beberapa bentuk kayu sengon yang dia beli dari daerah Bubung, Wonosari, Gunung Kidul, arah tenggara Yogyakarta. Sebanyak 10 orang ia pekerjakan untuk membuat berupa-rupa pajangan, termasuk menghaluskan. Hiasan yang sudah siap itu lantas digambari motif batik, yang umumnya sederhana dan klasik.

Langkah berikutnya adalah menggambari dengan lilin cair, yang dilanjutkan dengan mencelupkannya ke dalam cairan pewarna, kemudian direbus dalam air panas. Proses terakhir adalah penjemuran, namun menghindari terik Matahari yang terlalu menyengat.

Kayu sengon yang harga per meter kubik Rp 250.000 sengaja dipilih Tugiyo karena mudah menyerap cairan pewarna. Motif yang dipilih oleh pengusaha batik di atas kayu-tetapi tidak mempunyai keahlian membatik ini-adalah motif klasik, dengan tidak lebih dari dua macam warna. “Motif yang disukai pembeli adalah yang klasik, sedangkan pemilihan dua macam warna agar mudah saja,” tuturnya.

Saat ini, Tugiyo mulai mengembangkan penggunaan lapisan melamin di permukaan batik on wood-nya, atas permintaan pembeli. Setiap barang yang disemprot melamin dikenai tambahan biaya Rp 2.500. Cara yang mendukung pengawetan hasil karyanya ini, menurut Tugiyo, akan terus dikembangkan seiring niatnya mengekspor kerajinan batik di atas kayu yang beromzet kotor Rp 20 juta-Rp 30 juta per bulan itu.

Perolehannya itu masih harus dipotong gaji karyawan yang mencapai Rp 2,5 juta tiap minggu. Karyawannya dikenai sistem pembayaran yang berlainan, tergantung jenis pekerjaannya. Misalnya perajin kayu sengon memperoleh bayaran Rp 10.000 per topeng, sedangkan perebus topeng diupah
Rp 6.000.

Maka, tak salah jika harapannya untuk meningkatkan pendapatan dan memperluas jaringan pemasaran produk ia wujudkan melalui ekspor. Namun, perajin yang memperoleh pelatihan manajemen dari Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta dan dukungan pemasaran dari Titian Mandiri Foundation itu berpikir untuk lebih dulu memperluas dan memperbesar kapasitas produksinya.

Selama ini, hambatan yang dirasakan mengganjal adalah terbatasnya dana. Kemampuan daya beli bahan baku kayu sengon setiap kali produksi adalah sebanyak empat meter kubik seharga Rp 1 juta. Padahal, jumlah kayu sebanyak ini sudah habis dalam waktu 15 hari.

“Saya sudah mengajukan kredit kepada Bank Rakyat Indonesia unit Pajangan, Bantul,” kata Tugiyo. Kredit sebesar Rp 40 juta itu nantinya akan ia gunakan untuk memperbesar kapasitas produksi, termasuk melengkapi sebuah kios atau ruang pajang yang tengah ia bangun di atas tanah sewaan di daerah Kasongan, Bantul. Tanah yang terletak di lokasi kerajinan gerabah itu disewanya selama empat tahun, dan sudah siap digunakan akhir tahun ini.

Kredit yang akan diangsur selama setahun itu diperoleh Tugiyo dengan agunan tanah seluas 2.800 meter persegi. “Kreditnya sudah disetujui sekitar dua minggu lalu, tetapi sampai sekarang belum ada kabar, kapan uangnya bisa turun,” katanya.

Saat ini, perajin yang sedang menggiatkan hiasan fauna bermotif batik ini hanya bisa berharap agar rencana yang sudah dia susun untuk memperbesar usahanya bisa tercapai. “Masalah yang utama saat ini kan soal modal. Makanya, saya mengajukan kredit ke bank untuk memperoleh tambahan modal,” tutur Tugiyo. Menurut yang dia dengar, pengusaha kecil seperti dirinya akan diutamakan dalam memperoleh kucuran dana dari bank.

Sumber : (M07) Kompas Cetak

Leave a Reply