Batik Tulis Masih Eksis di Madura
Meski alat pencetak batik yang canggih sudah marak, para perajin batik tulis di Banyumas, Klampar Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tetap bertahan dengan ciri khas. Mereka tetap membuat batik dengan teknik tradisonal, yakni batik tulis. Itu dilakukan untuk mempertahankan nilai seni turun temurun dan menciptakan lapangan kerja.
Para pembatik yang berada sekitar 20 kilometer Kota Pamekasan ini biasanya membatik di tiga bahan yaitu santung, katun, dan sutra. Perbedaan jenis kain itulah yang membedakan harga jualnya. Untuk bahan santung biaya produksinya bisa mencapai Rp 25 ribu dengan harga jual Rp 50 ribu per dua meter. Sedangkan bahan katun biaya produksinya sampai Rp 100 ribu dan dijual seharga Rp 150-200 ribu. Untuk yang terbuat dari sutra biaya produksinya adalah Rp 200 ribu dengan harga pasar senilai Rp 300. Setiap pengrajin rata-rata mampu menyelesaikan sepotong kain berukuran dua meter setiap harinya.
Sayangnya, para pengrajin tak dapat mempertahankan pewarna alami dari bahan tumbuh-tumbuhan, seperti akar mengkudu dan daun jati. Sebab, proses pewarnaan dengan bahan alami membutuhkan waktu yang lama. Barangkali pula, itu menjadi ciri khas lain batik tulis.
Sumber : (MTA/Mohammad Khodim) Liputan6.com, Madura