Ekspor Lesu, Penjualan Lokal Meningkat
Ekspor batik Solo ke mancanegara, antara lain ke Australia dan Perancis, sejak akhir Juni dirasakan menurun. Hal ini diduga akibat pengaruh menguatnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sejumlah pengusaha yang biasanya melayani pasar ekspor mulai mengurangi produksi batik, menunggu saat yang tepat untuk memulai lagi produksi batik.
“Biasanya, kalau pasar ekspor lesu, tidak lama kemudian pasar lokal batik akan ramai. Namun, saat ini, pasar lokal batik belum terlampau ramai. Saya memperkirakan, akhir bulan ini, pasar lokal batik akan lebih ramai,” kata Abdul Mutholib, Kepala Seksi Industri Kecil, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal (Disperindag dan PM) Solo, Senin (8/7), di ruang kerjanya.
Menurut Abdul, pada masa sekarang, sekitar 40 persen produksi batik Solo dijual di pasaran ekspor, sisanya dijual di pasaran domestik. Waktu nilai dollar AS Rp 12.000, misalnya, hampir 70 persen produksi batik Solo diekspor.
Abdul menjelaskan, tahun lalu nilai ekspor batik tidak langsung sekitar Rp 200 milyar, sedangkan ekspor langsung nilainya 3,2 juta dollar AS. Jenis batik yang saat ini paling banyak diminati pasar ekspor adalah batik yang dipakai untuk sarung pantai. Sementara batik yang digunakan untuk baju atau kaus, berkisar 20-30 persen dari total ekspor.
Kepala Disperindag dan PM Solo, Zainal Mustafa, menjelaskan industri batik merupakan salah satu unggulan, selain industri garmen, mebel, dan alat tulis. “Syarat suatu industri dijadikan unggulan adalah bahan baku yang dipergunakan tersedia secara lokal. Selain itu, industri tersebut juga harus menyerap tenaga kerja yang relatif banyak dan memiliki performance ekspor yang stabil,” ujar Zainal.
Sudijono, Kepala Sub-Dinas Perdagangan, Disperindag dan PM, menguraikan, tahun 2001 ekspor mebel dari Solo bernilai 11,7 juta dollar AS, sedangkan ekspor tekstil 4,3 juta dollar AS. “Nilai ekspor itu juga meliputi industri mebel dan tekstil di luar Solo, seperti Sukoharjo. Sebab, Solo sering menjadi domisili perusahaan yang melakukan ekspor impor kedua komoditas tersebut,” tambah Sudijono.
Sumber : (M11) Kompas Cetak, Solo