Batik Tradisional Solo Mulai Bangkit

Permintaan masyarakat akan batik tradisional, yaitu batik tulis dan cap, dirasakan mulai meningkat. Hal ini terlihat dari peningkatan produksi batik dan semakin banyak jumlah orang muda yang terjun ke dunia batik tradisional.

“Dibanding tahun lalu, produksi batik cap perusahaan saya tahun ini meningkat 25 persen. Penambahan produksi ini terutama untuk memenuhi meningkatnya permintaan dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Lampung,” ujar pengusaha batik di Solo, Ahmad Fatchin, Kamis (4/7). Sepanjang tahun 2001, produksi batik perusahaan Ahmad tidak pernah mencapai angka 20.000 meter per bulan, tapi tahun ini, perusahaannya memproduksi batik cap rata-rata 25.000 meter per bulan.

Namun, menurut pengusaha yang mempekerjakan 50 orang dan memiliki dua toko batik ini, peningkatan permintaan batik dari luar kota tersebut tidak dibarengi permintaan batik dari Solo. Ahmad mengatakan, di Solo, pasar batik tradisional justru cenderung lesu.

Mulai bergairahnya usaha batik tradisonal juga diungkapkan Ketua Pamong Pengusaha Batik Surakarta (PPBS), Zaenal Mustaqin. PPBS, menurut data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Solo, merupakan satu dari tiga koperasi batik di Solo. Jumlah anggota PPBS tercatat 223 pengusaha.

Zaenal mengatakan, saat ini, batik tulis dan cap mulai tumbuh. Pertumbuhan usaha batik tradisional tersebut diikuti pula dengan penciptaan kreasi baru dalam hal motif batik. “Sejauh pengamatan saya, orang berusia muda kini mulai banyak yang menggeluti usaha batik tradisional,” ucap Zaenal.

Meski demikian, menurut Zaenal, jika dibandingkan dengan masa kejayaan batik tradisional pada dekade 1970-an dan 1980-an, kondisi sekarang masih kalah jauh. Dahulu, bank datang langsung ke pengusaha batik menawarkan kredit, sedangkan sekarang, sejak adanya batik printing, bank tidak berminat lagi menawarkan kredit kepada pengusaha batik tradisional.

Keengganan perbankan memberikan kredit kepada pengusaha batik tradisional juga diutarakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Supradi Kertomenawi. “Selama saya memfasilitasi pemberian kredit, tidak ada bank yang mau mengucurkan kredit pada usaha batik. Bukan saja batik tradisional, tetapi termasuk usaha batik printing. Mungkin karena usaha batik masih dinilai tidak terlalu menguntungkan,” kata Supradi.

Supradi juga menilai usaha batik masih kurang melakukan terobosan. Maksudnya, produksi batik bisa tidak hanya ditujukan untuk kain, tetapi juga untuk kaus dan sarung pantai. Mengingat kondisi pasar batik yang masih tidak sebagus dulu, koperasi batik akhirnya, menurut Supradi, saat ini justru lebih banyak mengembangkan usaha yang tidak berkaitan dengan batik, misalnya dengan mendirikan supermarket.

Selain PPBS, dua koperasi batik lainnya di Solo ialah Koperasi Pembatikan Nasional (KPN), yang memiliki anggota 201 pengusaha, dan Koperasi Batari, dengan 125 anggota.

Sumber : (M11) Kompas Cetak, Solo

Leave a Reply