Archive for July, 2002

Gunawan Kurnia Pribadi: Perubahan Tiada Henti

Sunday, July 28th, 2002

PERJALANAN karier Gunawan Kurnia Pribadi (33) di dunia batik, seperti jalan yang tiada ujung. Selalu ada perubahan, perbaikan, dan cita-cita menjadi seniman batik yang memiliki ciri khas sendiri. Gunawan memulai usahanya sebagai pedagang batik pada usia 21 tahun. Dia membeli batik dari perajin batik di Solo, lalu dijualnya di Jakarta. Setiap bulan, Gunawan mondar-mandir Solo-Jakarta untuk usaha ini. Gunawan yakin, usahanya akan sukses karena Solo telah dikenal sebagai penghasil batik, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di mancanegara.

Di Solo, batik-batik yang dibelinya termasuk batik berkualitas tinggi. Namun di Jakarta, batik-batik itu seolah biasa saja, karena begitu banyak batik berkualitas dijajakan di Jakarta. Ada batik dari Pekalongan, Cirebon, Madura, Tuban, dan dari daerah-daerah lainnya.

”Ternyata, selera konsumen di Jakarta bukan dari daerah mana batik itu berasal, namun dari kualitas batik itu sendiri. Batik solo yang cenderung konservatif dalam motif dan warna, jadi kalah bersaing dengan batik pekalongan yang memiliki aneka ragam warna dan motif. Konsumen Jakarta yang begitu banyak, hampir tidak ada yang peduli pada dari mana batik itu berasal,” kata Gunawan.

Kesadaran akan selera konsumen yang menjadi target pasarnya membuat Gunawan berpaling pada latar belakang keluarganya. Gunawan yang berasal dari daerah Laweyan, Solo, mempunyai latar belakang keluarga pembatik. Dari kakek buyut, kakek, paman hingga ayahnya adalah perajin batik di Laweyan. Namun, tidak ada seorang keturunan pun di generasi Gunawan yang bersedia menekuni batik. ”Saya ini keluarga pembatik, mengapa saya hanya menjual? Mengapa saya tidak membuat saja sendiri? Tentu penghasilan yang bisa saya terima akan lebih banyak. Apalagi saya sudah tahu selera konsumen di Jakarta,” ujar Gunawan.

***

KEINGINAN membuat dan menjual batik sendiri, menurut Gunawan harus tidak sekadar asal jadi. ”Saya memang tahu dan bisa bagaimana membatik, namun itu tidak cukup. Teknik yang digunakan di Solo sangat berbeda dari teknik yang digunakan di Pekalongan, dari proses pembatikan, pewarnaan hingga obat-obatan yang dipakai. Oleh karena itu, saya harus belajar batik ke Pekalongan,” kata dia.

Belajar membatik di Pekalongan membuat Gunawan terkagum-kagum. Begitu sederhananya para pembatik itu bekerja, namun hasil yang dicapai sangat luar biasa.

”Untuk motif ranting kayu yang tipis, saya pikir akan menggunakan kuas kecil. Lalu, saya beli kuas dengan berbagai macam ukuran. Harganya Rp 15.000 per batang. Ternyata setelah saya datang ke perajin batik, mereka tidak menggunakan kuas. Mereka memotong sebilah bambu kecil, lalu salah satu ujungnya dipukul-pukul hingga menyerupai kuas. Bambu kecil itulah yang digunakan sebagai kuas. Sangat luar biasa dan murah,” ujar Gunawan, masih dengan nada kagum.

Usai belajar membatik dan mencoba mengawinkan antara batik Pekalongan dan Solo, Gunawan ingin belajar menjahit baju. ”Saya ingin memberikan pilihan pada konsumen, bahan batik atau baju batik. Namun, harus spesial. Lalu saya belajar menjahit di sebuah sekolah jahit yang mempunyai banyak cabang di Jakarta. Di sana, saya tidak mendapatkan apa yang saya cari,” kata Gunawan yang tetap menjalankan usaha batiknya walau sedang sekolah jahit. Gunawan juga mengelola konter batiknya di lima toko serba ada yang besar di Jakarta.

Tidak puas dengan sekolah tersebut, Gunawan pindah ke sekolah yang lebih bagus lagi, namun ilmu yang didapat dari sekolah itu belum juga memuaskan apa yang dicarinya. Sampai pada suatu hari, dia membaca sebuah iklan belajar menjahit di sebuah tabloid wanita.

”Ketika datang saya sempat digoda, kok laki-laki belajar jahit. Saya laki-laki satu-satunya di sana. Walau diejek, saya beruntung belajar di sana, karena di sanalah saya menemukan bahwa inti menjahit adalah pecah pola,” kata ayah dua anak ini.

Setelah menguasai teknik pecah pola, Gunawan mengawinkannya dengan kemampuan mendesain motif dan membatik. Mulai saat itu Gunawan tidak lagi asal membatik. Gunawan hanya membatik di daerah kain yang akan terlihat bila sudah jadi baju. Jadi, tidak seluruh permukaan kain dibatiknya. Selain efisien, motif batik pun menjadi terfokus. ”Perajin saya heran, namun juga senang karena pekerjaannya menjadi ringan,” ujar Gunawan yang memiliki 15 perajin batik.

***

PENEMUAN baru ini tentu saja menggugah Gunawan untuk lebih maju lagi. Cita-citanya ingin menjadi pembatik yang dikenal memiliki ciri khas tertentu harus diwujukannya. ”Saya tidak mungkin mengikuti ciri desainer batik yang telah punya nama. Jika begitu, saya tidak akan maju. Saya harus mencari sesuatu yang lain, yang belum ada. Akhirnya saya menemukan ide, yakni batik, bordir, dan payet. Ketiganya saya kawinkan jadi satu,” kata Gunawan.

Ide ini ternyata bukanlah ide murah. Gunawan telah menghabiskan modal Rp 200 juta untuk mewujudkannya. ”Itu biaya eksperimen, yang hasilnya tidak bisa dijual. Beberapa kali saya harus mencoba dan gagal. Yang bordirnya jelek, motif yang mati, kain susut, letak motif salah, dan sebagainya. Semuanya saya tumpuk di gudang,” ungkap Gunawan.

Namun, modal besar untuk biaya eksperimen ini agaknya tidak sebanding dengan kepuasan yang didapatkan Gunawan setelah batik-bordir-payet berhasil diwujudkannya. ”Ide saya ini ternyata mendapat pengakuan dari pasar. Begitu saya tampilkan di sebuah pameran, langsung 10 orang memesan. Pesanannya bukan satu orang satu pesanan, tetapi bisa lebih. Bahkan, ada satu ibu yang memesan 16 potong baju untuk pesta perkawinan putrinya,” kata Gunawan.

Rasa percaya diri Gunawan langsung bertambah dengan respons yang sangat baik. ”Padahal, saya sudah tidak bisa lagi memasang dengan harga ratusan ribu rupiah. Dengan tingkat kesulitan dan risiko yang demikian tinggi, saya terpaksa mematok harga yang cukup tinggi,” ujar Gunawan yang mengaku satu setel baju dan selendang bisa mencapai harga di atas Rp 5 juta.

Walau telah mendapat respons pasar yang baik, Gunawan mengaku hingga sekarang tidak bisa memenuhi pesanan secara cepat. ”Sebenarnya, saya ini lebih ke seniman daripada penjual batik. Saya harus merancang sendiri, membeli kain dan benang, dan menunggu para tukang bordir bekerja. Semuanya satu per satu saya harus lakukan sendiri. Bukannya saya tidak percaya kepada orang, namun itu adalah karya saya. Para tukang itu hanya menolong menjahit dan membordir saja. Jika tiba-tiba timbul ide baru, bukan tidak mungkin bordir yang sudah dibuat, saya minta untuk dibongkar,” jelas Gunawan.

Kebiasaannya untuk melakukannya sendiri memang menyebabkan lamanya waktu pengerjaan. Namun, untunglah setiap konsumen yang ingin memesan gaun batik-bordir-payet dari Gunawan telah mengetahui kesulitan tersebut, dan mereka bersedia menunggu.

Sumber : (ARN) Kompas Cetak

Menghibur Warga Surabaya dengan Batik di Atas Kayu

Monday, July 22nd, 2002

Batik KayuDUA perempuan berkain dan kebaya duduk bersimpuh di atas panggung kecil berlapis karpet merah. Tangan kiri mereka memegang topeng kayu sengon berwarna putih kekuningan, sedangkan tangan kanannya memegang canting atau alat khusus untuk membatik. Sesekali tangan mereka bergerak ke arah wajan yang terjerang di atas kompor di hadapan mereka, mengisi kembali canting yang sudah kosong dengan cairan lilin panas.Di sisi panggung yang terletak di sudut lobi Hotel Majapahit itu berjajar berbagai barang bermotif batik. Topeng, cermin kecil, nampan, wayang, tempat tisu, dan beragam binatang yang semuanya terbuat dari kayu. Motif batik yang menghiasi permukaan benda-benda itu bermacam-macam, di antaranya parang rusak, parang ceplok, truntum, kawung, dan dlereng.

Pameran yang bisa menjadi ide mengemas karya tradisional Surabaya menghadapi dunia global mendatang. Tidak berbeda dengan penampilan Butet Kertaredjasa, raja monolog dengan Teater Gandrik beberapa waktu lalu yang juga tampil di Surabaya mengajarkan bagaimana lelucon itu dibuat profesional. Bukannya anggota DPRD lebih dominan lawakannya dibandingkan dengan grup lawak Srimulat Surabaya yang malah tutup, dan kelompok ketoprak yang sudah koma dan tinggal menunggu saat-saat terakhirnya.

Menurut Tugiyo (32) asal Desa Krebet, Sendangsari, Bantul, Yogyakarta, pemilik usaha batik di atas kayu itu, dia datang dan menggelar karyanya di hotel di Jalan Tunjungan, Surabaya, 18-28 Juli, tersebut bukan untuk mengajari. “Tidak ada target apa-apa selain untuk mempromosikan usaha saya,” kata pemilik Sanggar Joko Tingkir itu.

Kata-kata Tugiyo itu seakan merupakan cermin kerendahan hatinya, sekalipun juga bisa bermakna sebagai ketidakberdayaannya memasarkan hasil karya 31 pekerjanya, yang masih terbatas di seputaran Yogyakarta. Padahal, suami Tugini (23) ini tahu pasti bahwa kerajinan batik di atas kayu yang ia produksi sudah merambah pasaran luar negeri.

***

BATIK sudah bukan monopoli untuk pakaian resmi seperti yang dipakai para anggota DPRD Surabaya ketika menghadap Gubernur Jawa Timur (Jatim) untuk menyerahkan surat keputusan (SK) pemecatan wali kotanya. Tetapi, sudah dikemas dalam bentuk kerajinan, yang bahkan sudah digemari di luar negeri, dan sangat mungkin untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) yang dalam era otonomisasi daerah menjadi andalan setiap pemerintah daerah.

“Setiap tiga bulan sekali seorang pembeli dari Belanda datang ke rumah untuk membeli berbagai bentuk kerajinan batik di atas kayu,” tutur mantan pembuat kerajinan dari kayu sengon ini. Terakhir kali sekitar sebulan lalu. Wisatawan asing yang selalu disertai pemandu wisata dari Yogyakarta ini membelanjakan Rp 15 juta.

Padahal, bukan sekali dua kali saja tamu dari luar negeri mengunjungi rumah sekaligus tempat usaha dan ruang pamer (show room) kerajinan batik di atas kayu milik Tugiyo. Setidaknya, ada lima pemandu wisata yang rutin datang dengan mengajak tamu-tamunya. Tentu saja, pemandu wisata itu tidak berbaik hati tanpa imbalan.

“Mereka berani meminta uang setiap kali datang, kadang-kadang sampai 15 persen dari pengeluaran tamu yang mereka bawa,” kata laki-laki yang sudah mempunyai tiga rumah dan sebidang tanah dari hasil usahanya itu.

Saat ini, hasil usahanya sejak tahun 1997 itu sudah dijual secara tetap di beberapa toko di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Menurut pengakuan Tugiyo, ada toko yang menetapkan sistem titip barang, tetapi ada juga pemilik toko yang membeli langsung ke rumahnya untuk dijual lagi. Kekhasan produknya membuat warga Kecamatan Pajangan ini tahu persis bahwa barangnya dijual di beberapa toko.

Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah harga kerajinan hasil karyanya yang dipajang di toko. “Kalau di toko harganya bisa tiga sampai empat kali lipat,” kata Tugiyo. Misalnya topeng ukuran besar yang hanya dijual Rp 20.000 di rumahnya, dijual di toko Rp 60.000 hingga Rp 80.000. Tentu saja, keuntungan terbesar diperoleh oleh pemilik toko.

Bahkan, Tugiyo juga rajin mengirimkan hasil usahanya ke Bali atas permintaan seorang pembeli. Namun, ia tidak tahu persis kerajinan batik di atas kayu itu dikemanakan, termasuk berapa harga jualnya setelah sampai di Bali.

***

PROSES membatik di atas kayu yang ditekuni Tugiyo saat ini dimulai dari membuat beberapa bentuk kayu sengon yang dia beli dari daerah Bubung, Wonosari, Gunung Kidul, arah tenggara Yogyakarta. Sebanyak 10 orang ia pekerjakan untuk membuat berupa-rupa pajangan, termasuk menghaluskan. Hiasan yang sudah siap itu lantas digambari motif batik, yang umumnya sederhana dan klasik.

Langkah berikutnya adalah menggambari dengan lilin cair, yang dilanjutkan dengan mencelupkannya ke dalam cairan pewarna, kemudian direbus dalam air panas. Proses terakhir adalah penjemuran, namun menghindari terik Matahari yang terlalu menyengat.

Kayu sengon yang harga per meter kubik Rp 250.000 sengaja dipilih Tugiyo karena mudah menyerap cairan pewarna. Motif yang dipilih oleh pengusaha batik di atas kayu-tetapi tidak mempunyai keahlian membatik ini-adalah motif klasik, dengan tidak lebih dari dua macam warna. “Motif yang disukai pembeli adalah yang klasik, sedangkan pemilihan dua macam warna agar mudah saja,” tuturnya.

Saat ini, Tugiyo mulai mengembangkan penggunaan lapisan melamin di permukaan batik on wood-nya, atas permintaan pembeli. Setiap barang yang disemprot melamin dikenai tambahan biaya Rp 2.500. Cara yang mendukung pengawetan hasil karyanya ini, menurut Tugiyo, akan terus dikembangkan seiring niatnya mengekspor kerajinan batik di atas kayu yang beromzet kotor Rp 20 juta-Rp 30 juta per bulan itu.

Perolehannya itu masih harus dipotong gaji karyawan yang mencapai Rp 2,5 juta tiap minggu. Karyawannya dikenai sistem pembayaran yang berlainan, tergantung jenis pekerjaannya. Misalnya perajin kayu sengon memperoleh bayaran Rp 10.000 per topeng, sedangkan perebus topeng diupah
Rp 6.000.

Maka, tak salah jika harapannya untuk meningkatkan pendapatan dan memperluas jaringan pemasaran produk ia wujudkan melalui ekspor. Namun, perajin yang memperoleh pelatihan manajemen dari Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta dan dukungan pemasaran dari Titian Mandiri Foundation itu berpikir untuk lebih dulu memperluas dan memperbesar kapasitas produksinya.

Selama ini, hambatan yang dirasakan mengganjal adalah terbatasnya dana. Kemampuan daya beli bahan baku kayu sengon setiap kali produksi adalah sebanyak empat meter kubik seharga Rp 1 juta. Padahal, jumlah kayu sebanyak ini sudah habis dalam waktu 15 hari.

“Saya sudah mengajukan kredit kepada Bank Rakyat Indonesia unit Pajangan, Bantul,” kata Tugiyo. Kredit sebesar Rp 40 juta itu nantinya akan ia gunakan untuk memperbesar kapasitas produksi, termasuk melengkapi sebuah kios atau ruang pajang yang tengah ia bangun di atas tanah sewaan di daerah Kasongan, Bantul. Tanah yang terletak di lokasi kerajinan gerabah itu disewanya selama empat tahun, dan sudah siap digunakan akhir tahun ini.

Kredit yang akan diangsur selama setahun itu diperoleh Tugiyo dengan agunan tanah seluas 2.800 meter persegi. “Kreditnya sudah disetujui sekitar dua minggu lalu, tetapi sampai sekarang belum ada kabar, kapan uangnya bisa turun,” katanya.

Saat ini, perajin yang sedang menggiatkan hiasan fauna bermotif batik ini hanya bisa berharap agar rencana yang sudah dia susun untuk memperbesar usahanya bisa tercapai. “Masalah yang utama saat ini kan soal modal. Makanya, saya mengajukan kredit ke bank untuk memperoleh tambahan modal,” tutur Tugiyo. Menurut yang dia dengar, pengusaha kecil seperti dirinya akan diutamakan dalam memperoleh kucuran dana dari bank.

Sumber : (M07) Kompas Cetak

Batik Tulis Masih Eksis di Madura

Monday, July 15th, 2002

Perajin batik tulis di Klampar Pamekasan, Madura.Meski alat pencetak batik yang canggih sudah marak, para perajin batik tulis di Banyumas, Klampar Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tetap bertahan dengan ciri khas. Mereka tetap membuat batik dengan teknik tradisonal, yakni batik tulis. Itu dilakukan untuk mempertahankan nilai seni turun temurun dan menciptakan lapangan kerja.

Para pembatik yang berada sekitar 20 kilometer Kota Pamekasan ini biasanya membatik di tiga bahan yaitu santung, katun, dan sutra. Perbedaan jenis kain itulah yang membedakan harga jualnya. Untuk bahan santung biaya produksinya bisa mencapai Rp 25 ribu dengan harga jual Rp 50 ribu per dua meter. Sedangkan bahan katun biaya produksinya sampai Rp 100 ribu dan dijual seharga Rp 150-200 ribu. Untuk yang terbuat dari sutra biaya produksinya adalah Rp 200 ribu dengan harga pasar senilai Rp 300. Setiap pengrajin rata-rata mampu menyelesaikan sepotong kain berukuran dua meter setiap harinya.

Sayangnya, para pengrajin tak dapat mempertahankan pewarna alami dari bahan tumbuh-tumbuhan, seperti akar mengkudu dan daun jati. Sebab, proses pewarnaan dengan bahan alami membutuhkan waktu yang lama. Barangkali pula, itu menjadi ciri khas lain batik tulis.

Sumber : (MTA/Mohammad Khodim) Liputan6.com, Madura

Ekspor Lesu, Penjualan Lokal Meningkat

Tuesday, July 9th, 2002

Ekspor batik Solo ke mancanegara, antara lain ke Australia dan Perancis, sejak akhir Juni dirasakan menurun. Hal ini diduga akibat pengaruh menguatnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sejumlah pengusaha yang biasanya melayani pasar ekspor mulai mengurangi produksi batik, menunggu saat yang tepat untuk memulai lagi produksi batik.

“Biasanya, kalau pasar ekspor lesu, tidak lama kemudian pasar lokal batik akan ramai. Namun, saat ini, pasar lokal batik belum terlampau ramai. Saya memperkirakan, akhir bulan ini, pasar lokal batik akan lebih ramai,” kata Abdul Mutholib, Kepala Seksi Industri Kecil, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal (Disperindag dan PM) Solo, Senin (8/7), di ruang kerjanya.

Menurut Abdul, pada masa sekarang, sekitar 40 persen produksi batik Solo dijual di pasaran ekspor, sisanya dijual di pasaran domestik. Waktu nilai dollar AS Rp 12.000, misalnya, hampir 70 persen produksi batik Solo diekspor.

Abdul menjelaskan, tahun lalu nilai ekspor batik tidak langsung sekitar Rp 200 milyar, sedangkan ekspor langsung nilainya 3,2 juta dollar AS. Jenis batik yang saat ini paling banyak diminati pasar ekspor adalah batik yang dipakai untuk sarung pantai. Sementara batik yang digunakan untuk baju atau kaus, berkisar 20-30 persen dari total ekspor.

Kepala Disperindag dan PM Solo, Zainal Mustafa, menjelaskan industri batik merupakan salah satu unggulan, selain industri garmen, mebel, dan alat tulis. “Syarat suatu industri dijadikan unggulan adalah bahan baku yang dipergunakan tersedia secara lokal. Selain itu, industri tersebut juga harus menyerap tenaga kerja yang relatif banyak dan memiliki performance ekspor yang stabil,” ujar Zainal.

Sudijono, Kepala Sub-Dinas Perdagangan, Disperindag dan PM, menguraikan, tahun 2001 ekspor mebel dari Solo bernilai 11,7 juta dollar AS, sedangkan ekspor tekstil 4,3 juta dollar AS. “Nilai ekspor itu juga meliputi industri mebel dan tekstil di luar Solo, seperti Sukoharjo. Sebab, Solo sering menjadi domisili perusahaan yang melakukan ekspor impor kedua komoditas tersebut,” tambah Sudijono.

Sumber : (M11) Kompas Cetak, Solo

Nuansa Jawa di Batik Aborigin

Sunday, July 7th, 2002

Karya Batik AboriginKeindahan batik Jawa, ternyata telah menginspirasi sejumlah seniman tekstil di Australia. Buktinya, sejumlah karya batik khas Suku Aborigin yang dipamerkan dalam Pesta Kesenian Bali di Gedung Arda Chandra Bali, Denpasar, baru-baru ini, justru menampakkan nuansa batik Jawa di guratan garisnya.

Pameran yang bertajuk “Tracking Cloth” atau jejak kain ini menampilkan karya 17 seniman tekstil dari Benua Kanguru. Nama-nama yang cukup menonjol adalah Karen Edin, Ellison Carol, dan Nyukana Baker. Mereka adalah seniman tekstil tradisional Aborigin yang mengembangkan motif-motif batik dalam karyanya.

Mereka pun mengakui, sejumlah kreasi tersebut diperoleh dari hasil lawatan ke beberapa negara Asia. Seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Namun, pengaruh batik Jawa tampak paling dominan. Tak hanya motif, tapi juga proses pembuatan. Bahkan, seorang seniman bernama Sue Blanhfield mengaku sengaja belajar proses celup untuk pewarnaan di Surabaya dan Yogyakarta, sekitar 1970-an.

Blanhfield menambahkan, dewasa ini, banyak seniman tekstil Australia tertarik motif-motif tradisional dari luar Australia [baca: Ketika Perupa Batik Jawa dan Aborigin Berpadu]. Kondisi ini berkaitan dengan tumbuhnya kesadaran baru mengenai pentingnya menjalin hubungan kebudayaan dengan dunia luar, terutama Indonesia.

Kerja sama kebudayaan Indonesia-Australia sempat terganggu saat kasus Timor Timur memanas, beberapa tahun silam. Itulah sebabnya, para seniman tekstil ini bertekad kembali membangun hubungan bilateral kedua negara melalui seni budaya.

Sumber : (ANS/Iwan Gunawan) Liputan6.com, Denpasar

Batik Tradisional Solo Mulai Bangkit

Friday, July 5th, 2002

Permintaan masyarakat akan batik tradisional, yaitu batik tulis dan cap, dirasakan mulai meningkat. Hal ini terlihat dari peningkatan produksi batik dan semakin banyak jumlah orang muda yang terjun ke dunia batik tradisional.

“Dibanding tahun lalu, produksi batik cap perusahaan saya tahun ini meningkat 25 persen. Penambahan produksi ini terutama untuk memenuhi meningkatnya permintaan dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Lampung,” ujar pengusaha batik di Solo, Ahmad Fatchin, Kamis (4/7). Sepanjang tahun 2001, produksi batik perusahaan Ahmad tidak pernah mencapai angka 20.000 meter per bulan, tapi tahun ini, perusahaannya memproduksi batik cap rata-rata 25.000 meter per bulan.

Namun, menurut pengusaha yang mempekerjakan 50 orang dan memiliki dua toko batik ini, peningkatan permintaan batik dari luar kota tersebut tidak dibarengi permintaan batik dari Solo. Ahmad mengatakan, di Solo, pasar batik tradisional justru cenderung lesu.

Mulai bergairahnya usaha batik tradisonal juga diungkapkan Ketua Pamong Pengusaha Batik Surakarta (PPBS), Zaenal Mustaqin. PPBS, menurut data dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Solo, merupakan satu dari tiga koperasi batik di Solo. Jumlah anggota PPBS tercatat 223 pengusaha.

Zaenal mengatakan, saat ini, batik tulis dan cap mulai tumbuh. Pertumbuhan usaha batik tradisional tersebut diikuti pula dengan penciptaan kreasi baru dalam hal motif batik. “Sejauh pengamatan saya, orang berusia muda kini mulai banyak yang menggeluti usaha batik tradisional,” ucap Zaenal.

Meski demikian, menurut Zaenal, jika dibandingkan dengan masa kejayaan batik tradisional pada dekade 1970-an dan 1980-an, kondisi sekarang masih kalah jauh. Dahulu, bank datang langsung ke pengusaha batik menawarkan kredit, sedangkan sekarang, sejak adanya batik printing, bank tidak berminat lagi menawarkan kredit kepada pengusaha batik tradisional.

Keengganan perbankan memberikan kredit kepada pengusaha batik tradisional juga diutarakan Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Supradi Kertomenawi. “Selama saya memfasilitasi pemberian kredit, tidak ada bank yang mau mengucurkan kredit pada usaha batik. Bukan saja batik tradisional, tetapi termasuk usaha batik printing. Mungkin karena usaha batik masih dinilai tidak terlalu menguntungkan,” kata Supradi.

Supradi juga menilai usaha batik masih kurang melakukan terobosan. Maksudnya, produksi batik bisa tidak hanya ditujukan untuk kain, tetapi juga untuk kaus dan sarung pantai. Mengingat kondisi pasar batik yang masih tidak sebagus dulu, koperasi batik akhirnya, menurut Supradi, saat ini justru lebih banyak mengembangkan usaha yang tidak berkaitan dengan batik, misalnya dengan mendirikan supermarket.

Selain PPBS, dua koperasi batik lainnya di Solo ialah Koperasi Pembatikan Nasional (KPN), yang memiliki anggota 201 pengusaha, dan Koperasi Batari, dengan 125 anggota.

Sumber : (M11) Kompas Cetak, Solo