Gunawan Kurnia Pribadi: Perubahan Tiada Henti
Sunday, July 28th, 2002PERJALANAN karier Gunawan Kurnia Pribadi (33) di dunia batik, seperti jalan yang tiada ujung. Selalu ada perubahan, perbaikan, dan cita-cita menjadi seniman batik yang memiliki ciri khas sendiri. Gunawan memulai usahanya sebagai pedagang batik pada usia 21 tahun. Dia membeli batik dari perajin batik di Solo, lalu dijualnya di Jakarta. Setiap bulan, Gunawan mondar-mandir Solo-Jakarta untuk usaha ini. Gunawan yakin, usahanya akan sukses karena Solo telah dikenal sebagai penghasil batik, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di mancanegara.
Di Solo, batik-batik yang dibelinya termasuk batik berkualitas tinggi. Namun di Jakarta, batik-batik itu seolah biasa saja, karena begitu banyak batik berkualitas dijajakan di Jakarta. Ada batik dari Pekalongan, Cirebon, Madura, Tuban, dan dari daerah-daerah lainnya.
”Ternyata, selera konsumen di Jakarta bukan dari daerah mana batik itu berasal, namun dari kualitas batik itu sendiri. Batik solo yang cenderung konservatif dalam motif dan warna, jadi kalah bersaing dengan batik pekalongan yang memiliki aneka ragam warna dan motif. Konsumen Jakarta yang begitu banyak, hampir tidak ada yang peduli pada dari mana batik itu berasal,” kata Gunawan.
Kesadaran akan selera konsumen yang menjadi target pasarnya membuat Gunawan berpaling pada latar belakang keluarganya. Gunawan yang berasal dari daerah Laweyan, Solo, mempunyai latar belakang keluarga pembatik. Dari kakek buyut, kakek, paman hingga ayahnya adalah perajin batik di Laweyan. Namun, tidak ada seorang keturunan pun di generasi Gunawan yang bersedia menekuni batik. ”Saya ini keluarga pembatik, mengapa saya hanya menjual? Mengapa saya tidak membuat saja sendiri? Tentu penghasilan yang bisa saya terima akan lebih banyak. Apalagi saya sudah tahu selera konsumen di Jakarta,” ujar Gunawan.
***
KEINGINAN membuat dan menjual batik sendiri, menurut Gunawan harus tidak sekadar asal jadi. ”Saya memang tahu dan bisa bagaimana membatik, namun itu tidak cukup. Teknik yang digunakan di Solo sangat berbeda dari teknik yang digunakan di Pekalongan, dari proses pembatikan, pewarnaan hingga obat-obatan yang dipakai. Oleh karena itu, saya harus belajar batik ke Pekalongan,” kata dia.
Belajar membatik di Pekalongan membuat Gunawan terkagum-kagum. Begitu sederhananya para pembatik itu bekerja, namun hasil yang dicapai sangat luar biasa.
”Untuk motif ranting kayu yang tipis, saya pikir akan menggunakan kuas kecil. Lalu, saya beli kuas dengan berbagai macam ukuran. Harganya Rp 15.000 per batang. Ternyata setelah saya datang ke perajin batik, mereka tidak menggunakan kuas. Mereka memotong sebilah bambu kecil, lalu salah satu ujungnya dipukul-pukul hingga menyerupai kuas. Bambu kecil itulah yang digunakan sebagai kuas. Sangat luar biasa dan murah,” ujar Gunawan, masih dengan nada kagum.
Usai belajar membatik dan mencoba mengawinkan antara batik Pekalongan dan Solo, Gunawan ingin belajar menjahit baju. ”Saya ingin memberikan pilihan pada konsumen, bahan batik atau baju batik. Namun, harus spesial. Lalu saya belajar menjahit di sebuah sekolah jahit yang mempunyai banyak cabang di Jakarta. Di sana, saya tidak mendapatkan apa yang saya cari,” kata Gunawan yang tetap menjalankan usaha batiknya walau sedang sekolah jahit. Gunawan juga mengelola konter batiknya di lima toko serba ada yang besar di Jakarta.
Tidak puas dengan sekolah tersebut, Gunawan pindah ke sekolah yang lebih bagus lagi, namun ilmu yang didapat dari sekolah itu belum juga memuaskan apa yang dicarinya. Sampai pada suatu hari, dia membaca sebuah iklan belajar menjahit di sebuah tabloid wanita.
”Ketika datang saya sempat digoda, kok laki-laki belajar jahit. Saya laki-laki satu-satunya di sana. Walau diejek, saya beruntung belajar di sana, karena di sanalah saya menemukan bahwa inti menjahit adalah pecah pola,” kata ayah dua anak ini.
Setelah menguasai teknik pecah pola, Gunawan mengawinkannya dengan kemampuan mendesain motif dan membatik. Mulai saat itu Gunawan tidak lagi asal membatik. Gunawan hanya membatik di daerah kain yang akan terlihat bila sudah jadi baju. Jadi, tidak seluruh permukaan kain dibatiknya. Selain efisien, motif batik pun menjadi terfokus. ”Perajin saya heran, namun juga senang karena pekerjaannya menjadi ringan,” ujar Gunawan yang memiliki 15 perajin batik.
***
PENEMUAN baru ini tentu saja menggugah Gunawan untuk lebih maju lagi. Cita-citanya ingin menjadi pembatik yang dikenal memiliki ciri khas tertentu harus diwujukannya. ”Saya tidak mungkin mengikuti ciri desainer batik yang telah punya nama. Jika begitu, saya tidak akan maju. Saya harus mencari sesuatu yang lain, yang belum ada. Akhirnya saya menemukan ide, yakni batik, bordir, dan payet. Ketiganya saya kawinkan jadi satu,” kata Gunawan.
Ide ini ternyata bukanlah ide murah. Gunawan telah menghabiskan modal Rp 200 juta untuk mewujudkannya. ”Itu biaya eksperimen, yang hasilnya tidak bisa dijual. Beberapa kali saya harus mencoba dan gagal. Yang bordirnya jelek, motif yang mati, kain susut, letak motif salah, dan sebagainya. Semuanya saya tumpuk di gudang,” ungkap Gunawan.
Namun, modal besar untuk biaya eksperimen ini agaknya tidak sebanding dengan kepuasan yang didapatkan Gunawan setelah batik-bordir-payet berhasil diwujudkannya. ”Ide saya ini ternyata mendapat pengakuan dari pasar. Begitu saya tampilkan di sebuah pameran, langsung 10 orang memesan. Pesanannya bukan satu orang satu pesanan, tetapi bisa lebih. Bahkan, ada satu ibu yang memesan 16 potong baju untuk pesta perkawinan putrinya,” kata Gunawan.
Rasa percaya diri Gunawan langsung bertambah dengan respons yang sangat baik. ”Padahal, saya sudah tidak bisa lagi memasang dengan harga ratusan ribu rupiah. Dengan tingkat kesulitan dan risiko yang demikian tinggi, saya terpaksa mematok harga yang cukup tinggi,” ujar Gunawan yang mengaku satu setel baju dan selendang bisa mencapai harga di atas Rp 5 juta.
Walau telah mendapat respons pasar yang baik, Gunawan mengaku hingga sekarang tidak bisa memenuhi pesanan secara cepat. ”Sebenarnya, saya ini lebih ke seniman daripada penjual batik. Saya harus merancang sendiri, membeli kain dan benang, dan menunggu para tukang bordir bekerja. Semuanya satu per satu saya harus lakukan sendiri. Bukannya saya tidak percaya kepada orang, namun itu adalah karya saya. Para tukang itu hanya menolong menjahit dan membordir saja. Jika tiba-tiba timbul ide baru, bukan tidak mungkin bordir yang sudah dibuat, saya minta untuk dibongkar,” jelas Gunawan.
Kebiasaannya untuk melakukannya sendiri memang menyebabkan lamanya waktu pengerjaan. Namun, untunglah setiap konsumen yang ingin memesan gaun batik-bordir-payet dari Gunawan telah mengetahui kesulitan tersebut, dan mereka bersedia menunggu.
Sumber : (ARN) Kompas Cetak
DUA perempuan berkain dan kebaya duduk bersimpuh di atas panggung kecil berlapis karpet merah. Tangan kiri mereka memegang topeng kayu sengon berwarna putih kekuningan, sedangkan tangan kanannya memegang canting atau alat khusus untuk membatik. Sesekali tangan mereka bergerak ke arah wajan yang terjerang di atas kompor di hadapan mereka, mengisi kembali canting yang sudah kosong dengan cairan lilin panas.Di sisi panggung yang terletak di sudut lobi Hotel Majapahit itu berjajar berbagai barang bermotif batik. Topeng, cermin kecil, nampan, wayang, tempat tisu, dan beragam binatang yang semuanya terbuat dari kayu. Motif batik yang menghiasi permukaan benda-benda itu bermacam-macam, di antaranya parang rusak, parang ceplok, truntum, kawung, dan dlereng.
Meski alat pencetak batik yang canggih sudah marak, para perajin batik tulis di Banyumas, Klampar Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tetap bertahan dengan ciri khas. Mereka tetap membuat batik dengan teknik tradisonal, yakni batik tulis. Itu dilakukan untuk mempertahankan nilai seni turun temurun dan menciptakan lapangan kerja.
Keindahan batik Jawa, ternyata telah menginspirasi sejumlah seniman tekstil di Australia. Buktinya, sejumlah karya batik khas Suku Aborigin yang dipamerkan dalam Pesta Kesenian Bali di Gedung Arda Chandra Bali, Denpasar, baru-baru ini, justru menampakkan nuansa batik Jawa di guratan garisnya.