RUDY Corens (67), seniman dari Belgia, telah mengubah berbagai macam material menjadi hiasan dan aksesori unik. Kerang, batok kelapa, kayu, bambu, batu, dan benda-benda lain yang tidak biasa, diubahnya menjadi anting, kalung, bros, gelang, cincin, hiasan dinding, dan hiasan meja. Semua material itu dikombinasikan dengan perunggu, kain, rotan, batu giok, topas, ametis, manik dan perak.
“Aku senang menggunakan benda-benda yang tidak biasa untuk desain,” kata Corens, yang sejak tahun 1990 menetap di Yogyakarta. “Semua inspirasi dari desain perhiasanku sangat tergantung pada obyek. Batu, lingkungan, atau apa pun yang aku suka memberikan begitu banyak inspirasi,” tambah Corens di sela-sela pameran Spiral dan Gelombang, di Erasmus Huis Jakarta, Kamis (30/5).
Pameran yang diadakan tanggal 23-30 Mei 2002 itu menggelar 170 buah perhiasan perak, 60 buah perhiasan yang terbuat dari pasta kertas, 20 buah hiasan meja, dan lima hiasan dinding.
Desain terakhir Corens adalah perhiasan dari pasta kertas yang penuh warna dan ditujukan bagi orang muda. Kariernya dalam desain perhiasan dimulai sejak tahun 1975. Namun, waktu itu, desainnya hanya ditujukan untuk pementasan teater. Corens sendiri di Belgia dikenal sebagai sutradara drama. Selain itu, Corens juga menjadi dosen drama Barat di Institute of Aesthetic Studies di Colombo dan dosen Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, sejak lima tahun lalu, Corens berhenti mengajar dan memutuskan memfokuskan diri pada desain perhiasan dan kerajinan tangan.
“Sebenarnya saya menyukai desain modern dan kontemporer. Namun, sebagian besar orang tidak terlalu berani memakainya. Sekarang saya mencoba mendesain perhiasan yang kontemporer, namun tetap menarik orang untuk mengenakannya. Bukan hanya diletakkan di meja sebagai hiasan,” kata Corens.

Pada penutupan pameran, perhiasan Corens dipamerkan bersamaan dengan pergelaran batik karya Afif Syakur, seniman batik dari Yogyakarta. Acara itu digelar dalam rangka perpisahan dengan Duta Besar Belgia Luc Darras dan Ny Barbara Darras, yang akan pindah tugas ke Australia.
Dalam pergelaran Kamis malam lalu, Afif memadukan perhiasan Corens dengan busana batiknya, baik untuk setelan kain dan batik maupun busana malam. “Saya mempelajari perhiasan itu dulu, baru membuat batiknya. Bukan sekadar memadukan dengan batik yang sudah ada,” aku Afif.
Afif tidak hanya menampilkan warna sogan yang menjadi ciri khas batik pedalaman, namun juga menampilkan warna cerah, seperti merah muda, oranye, dan hijau. Semua pewarnaaan menggunakan bahan alami. Motif yang ditampilkan juga beragam, baik batik pedalaman maupun batik pesisir. Semua menggunakan bahan dasar sutera, termasuk sutera dari kepompong yang sudah keluar kupunya.
Seluruh busana itu tampak serasi dengan perhiasan Corens yang tidak saja dipakai di jari tangan, leher dan telinga, tetapi juga di pinggang, di kepala, di perut, dan di kaki. Perak yang dipasang untuk melapisi pinggiran batu-batu itu tampak menonjol ketika terkena sinar lampu. “Saya menyukai perak karena tidak terlalu mengkilat dan tidak terkesan sombong. Dari perak kita bisa membuat bermacam-macam benda,” tukas Corens. (ARN) Kompas cetak, Jakarta