Archive for June, 2002

Kiat Batik Yogyakarta Menembus Pasar Internasional

Friday, June 14th, 2002

Perajin Batik YogyakartaKrisis ekonomi yang melilit Indonesia cukup memukul industri batik di Yogyakarta. Harga bahan baku yang meninggi ikut melambungkan harga jual batik. Agar tak sampai gulung tikar, pengusaha batik Daud Hadinagoro mulai mencari terobosan baru. Dia tertantang menembus pasar internasional. Maklum, daya beli pasar lokal sangat rendah.

Memang, berebut pasar dunia tidak mudah. Hanya produk berkualitas tinggi yang mampu mendapat tempat. Hadi menggunakan pendekatan budaya untuk merebut konsumen di berbagai benua. Dia mulai memproduksi batik bermotif khas Indonesia dengan warna khas negara yang akan dibidik.

Daud mengakui menghasilkan batik spesial ini perlu kesabaran, ketekunan, dan keterampilan khusus. Selain menggunakan kemampuan dasar, para pengrajin juga mesti dilatih intensif untuk mengembangkan kemampuan berkreasi. Karena itu proses pembuatan batik tersebut memakan waktu yang tidak singkat.

Peluang batik masuk pasar internasional cukup terbuka. Celah itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dan, Daud tak mau karya cipta warisan bangsa Indonesia ini justru dikembangkan bangsa lain.

Sumber : (TNA/Esther Mulyanie dan Dwi Guntoro) Liputan6.com, Yogyakarta

Peragaan Karya Afif Syakur dan Rudi Corens : Batik Indonesia Bertemu Perhiasan Belgia

Tuesday, June 4th, 2002

 Motif bunga, pucuk daun, bunga, burung, kupu-kupu, ikan, serangga dan geometris, yang merangkum simbol tertentu jadi bagian penting dari karya batik. Meski batik makin berkembang sejak hadirnya generasi keempat, motif batik tetap bertahan seperti dulu. Afif Syakur, misalnya, dia adalah perancang batik dari Yogyakarta yang tetap menjaga motif-motif klasik. ”Ketimbang saya memakai tema Versace,” demikian alasan Afif.
”Saya yakin, ornamen batik Pekalongan, Yogya dan Pesisir tidak akan kalah,” ungkapnya, seusai peragaan seni batik Afif dan karya perhiasan seniman Belgia, Rudi Corens di Erasmus Huis, Jakarta Selatan, Kamis (30/5).
Mulai abad ke-19, bisa dikatakan aplikasi batik cap menyelamatkan industri batik dari persaingannya dengan baju cetak Eropa yang berharga murah. Batik cap berjaya melalui motif karakter epik Hindu yakni tumbuhan, binatang, makhluk laut dan perangkat gamelan.
Perbedaan paling utama pada pengembangan batik sekarang mungkin hanya pada bahan kain. Dulu melulu kain katun, kini desainer batik seperti Afif lebih banyak memakai sutra. ”Saya 90 persen menggunakan sutra. Memakai katun bila ada yang memesan saja,” kata Afif.
Materi batik mudah didapatkan di Indonesia, kendalanya cuma pada bahan celupan sintetis. Namun, diakui Afif, kekurangan yang terjadi itu malah menampilkan warna batik menjadi natural. Di samping itu, sumber daya manusianya lebih dari cukup di Indonesia.

Motif Etnik
Dalam kolaborasinya itu, Afif mengimajinasikan karya seni batiknya dengan aksesori perhiasan Rudi. Kebetulan karya-karya Rudi diilhami motif-motif etnik asli Indonesia. Bahan dasar yang digunakan Rudi di antaranya adalah perak, batu mulia, kelapa dan gading dari taring babi hutan.
Rudi mengerjakan perhiasan kontemporer, karpet dan patung sejak 1991. Hingga sekarang dia menetap di Yogyakarta sambil mengajar di Fakultas Sastra dan Psikologi Universitas Gajah Mada. Di samping itu dia aktif dalam organisasi pengembangan kerajinan di Indonesia.
Ketika batik Afif dicoba dipadukan dengan perhiasan-perhiasan Rudi yang berkonsep etnik, kesannya memang selaras.

Sumber : (jjs) Sinar Harapan, Jakarta

Semua Material Menjadi Hiasan

Sunday, June 2nd, 2002

RUDY Corens (67), seniman dari Belgia, telah mengubah berbagai macam material menjadi hiasan dan aksesori unik. Kerang, batok kelapa, kayu, bambu, batu, dan benda-benda lain yang tidak biasa, diubahnya menjadi anting, kalung, bros, gelang, cincin, hiasan dinding, dan hiasan meja. Semua material itu dikombinasikan dengan perunggu, kain, rotan, batu giok, topas, ametis, manik dan perak.

“Aku senang menggunakan benda-benda yang tidak biasa untuk desain,” kata Corens, yang sejak tahun 1990 menetap di Yogyakarta. “Semua inspirasi dari desain perhiasanku sangat tergantung pada obyek. Batu, lingkungan, atau apa pun yang aku suka memberikan begitu banyak inspirasi,” tambah Corens di sela-sela pameran Spiral dan Gelombang, di Erasmus Huis Jakarta, Kamis (30/5).

Pameran yang diadakan tanggal 23-30 Mei 2002 itu menggelar 170 buah perhiasan perak, 60 buah perhiasan yang terbuat dari pasta kertas, 20 buah hiasan meja, dan lima hiasan dinding.

Desain terakhir Corens adalah perhiasan dari pasta kertas yang penuh warna dan ditujukan bagi orang muda. Kariernya dalam desain perhiasan dimulai sejak tahun 1975. Namun, waktu itu, desainnya hanya ditujukan untuk pementasan teater. Corens sendiri di Belgia dikenal sebagai sutradara drama. Selain itu, Corens juga menjadi dosen drama Barat di Institute of Aesthetic Studies di Colombo dan dosen Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, sejak lima tahun lalu, Corens berhenti mengajar dan memutuskan memfokuskan diri pada desain perhiasan dan kerajinan tangan.

“Sebenarnya saya menyukai desain modern dan kontemporer. Namun, sebagian besar orang tidak terlalu berani memakainya. Sekarang saya mencoba mendesain perhiasan yang kontemporer, namun tetap menarik orang untuk mengenakannya. Bukan hanya diletakkan di meja sebagai hiasan,” kata Corens.

kompas/m clara wresti
Pada penutupan pameran, perhiasan Corens dipamerkan bersamaan dengan pergelaran batik karya Afif Syakur, seniman batik dari Yogyakarta. Acara itu digelar dalam rangka perpisahan dengan Duta Besar Belgia Luc Darras dan Ny Barbara Darras, yang akan pindah tugas ke Australia.

Dalam pergelaran Kamis malam lalu, Afif memadukan perhiasan Corens dengan busana batiknya, baik untuk setelan kain dan batik maupun busana malam. “Saya mempelajari perhiasan itu dulu, baru membuat batiknya. Bukan sekadar memadukan dengan batik yang sudah ada,” aku Afif.

Afif tidak hanya menampilkan warna sogan yang menjadi ciri khas batik pedalaman, namun juga menampilkan warna cerah, seperti merah muda, oranye, dan hijau. Semua pewarnaaan menggunakan bahan alami. Motif yang ditampilkan juga beragam, baik batik pedalaman maupun batik pesisir. Semua menggunakan bahan dasar sutera, termasuk sutera dari kepompong yang sudah keluar kupunya.

Seluruh busana itu tampak serasi dengan perhiasan Corens yang tidak saja dipakai di jari tangan, leher dan telinga, tetapi juga di pinggang, di kepala, di perut, dan di kaki. Perak yang dipasang untuk melapisi pinggiran batu-batu itu tampak menonjol ketika terkena sinar lampu. “Saya menyukai perak karena tidak terlalu mengkilat dan tidak terkesan sombong. Dari perak kita bisa membuat bermacam-macam benda,” tukas Corens. (ARN) Kompas cetak, Jakarta