Di Balik Pembuatan Batik Tulis

Perajin Batik TulisBatik adalah hasil karya seni asli bangsa Indonesia yang hingga kini masih terpelihara dengan baik. Boleh disebut, hampir seluruh elemen masyarakat mengetahui dan pernah mengenakan kain bermotif batik. Satu di antara yang digemari dan tetap diminati masyarakat adalah batik tulis. Menurut Staf Edukasi Museum Tekstil di Jakarta Pusat, Misari, baru-baru ini di Jakarta, keberadaan batik tulis masih eksis dan tetap terus diminati masyarakat.

Dalam sejarahnya, menurut Misari, batik tulis di Indonesia dipengaruhi dua wilayah, yakni pedalaman dan pesisiran. Wilayah pedalaman terdiri dari Yogyakarta dan Solo. Sedangkan wilayah pesisiran meliputi Banten, Jakarta, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Madura, dan Sumatra. Setiap daerah mempunyai keunikan motif tersendiri. Motif batik pedalaman banyak dipengaruhi budaya India dan biasa menggunakan warna cokelat, biru, hitam, atau kuning gading. Sedangkan motif batik pesisiran banyak dipengaruhi budaya Cina, Eropa, dan Timur Tengah. Sifat batik pesisiran naturalis dan biasanya menggunakan warna yang cerah seperti, biru, kuning, dan hijau.

Tahap dasar pemrosesan batik, Misari menjelaskan, diawali dengan membakar lilin di atas kompor. Lilin itu direbus sampai tuntas. Setelah dipanaskan, air lilin kemudian dimasukkan dalam canting, yang juga berguna untuk melukis kerangka batik. Selanjutnya, pembuat batik membuat pola batik yang dikenal dengan istilah molani. Molani dikhususkan dalam pembuatan pola batik yang telah terancang. Kemudian kain diberi bingkai yang disebut ngolowong. Pada tahap ngiseni, para pembatik mesti membuat ornamen pelengkap dalam bingkai, seperti titik, bulatan, atau sisik.

Setelah memberikan motif, perajin batik memberi motif di bagian belakang kain atau nerusi. Langkah selanjutnya adalah memberi warna pada kain melalui proses pencelupan. Kemudian diteruskan dengan nglorod atau menggunakan air mendidih yang diberi campuran tepung sagu. Setelah selesai, barulah kerangka batik dibasahi parafin. Sebelumnya, kerangka batik harus terlebih dahulu dilapisi kertas koran agar jangan berimbas ke lantai. Tahap ngelorod adalah bagian akhir, selanjutnya batik yang telah jadi siap dikeringkan di panas matahari.

Sumber : (ULF/Esther Mulyanie dan Kurnia Supriatna) Liputan6.com, Jakarta

2 Responses to “Di Balik Pembuatan Batik Tulis”

  1. Melisa Says:

    Saya hanya ingin tahu apakah selain itu ada gambar seseorang sedang menggambar d atas kain???Jika ada, tolong kirmkan email kepada saya di melisa_kerenz@doramail.com.Saya sangat membutuhkan gambar ini untuk tugas bahasa indonesia.Terima kasih.

  2. imanda Says:

    Saya perlu sekali langkah-langkah pembuatan pola/motif batik disertai gambar-gambarnya, jika ada tolong kirimkan ke email sy di: imanda_coxon@yahoo.com. Saya perlukan sebagai referensi untuk pengeditan naskah buku pelajaran Seni Budaya. Terima Kasih.

Leave a Reply