”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” - Memanfaatkan Lycra dalam ”Fashion” Indonesia

Pemakaian bahan lycra di fashion internasional sudah tidak asing lagi. Bahan ultra elastis ini sekarang makin banyak dipergunakan untuk tekstil aparel. Kita makin mengenalnya ketika Urban Crew (duo perancang Era Sukamto dan Ichwan Thoha) memperkenalkan baju-baju lifestyle dengan media lycra mulai tahun 1999 hingga kini. Lalu, disusul dengan desainer Carmanita yang melahirkan proses membatik di atas lycra pada tahun 2000.

 Kita kemudian makin memahami bahwa lycra bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam fashion Indonesia. Sifatnya yang fleksibel, nyaman, tidak mudah kusut atau meregang, ngepas di tubuh tanpa siksaan dan indah dipandang, membuat lycra semakin diminati orang.
Para pelanggan batik pun dibuat tersentak dengan dukungan inovasi dari teknologi lycra. Akan tetapi reaksi keras juga muncul akibat batik lycra ciptaan Carmanita dianggap cuma mementingkan proses pembuatan, dan ”mengecilkan” makna motif tradisi.
Padahal, siapa pun mungkin tahu, pencinta dan pemakai batik rata-rata seleranya fanatis. Mereka memang menyukai lycra yang nyaman, seksi, anggun dan bercitra modern, tapi sekaligus membutuhkan desain batik yang tidak jauh meninggalkan tradisi.
Namun, untunglah pelopor dan pakar batik Iwan Tirta kemudian memenuhi harapan mereka. Dia bisa disebut yang pertama kali menggunakan lycra dalam koleksi rancangan batik tradisional. Kemunculannya minggu lalu (18/4) di Hotel Mulia, Jakarta menghadirkan karya cipta dimensi baru dari busana tradisional. Iwan Tirta menciptakan busana-busana resmi (dari kemeja dan gaun pesta hingga kebaya dan kain ikat) yang kini dapat dipakai di tiap kesempatan secara nyaman.
Kenyamanan dalam bergaya hidup kini memang menjadi suatu hal penting ketika memilih bahan busana. Kalau dulu disebut batik hanya bagus dibuat dari katun Belanda, kini segalanya bisa jauh berubah lantaran lycra. Semua itu bisa dimungkinkan, misalnya, karena bisa ditemukan kadar percampuran yang tepat antara katun poplin dan lycra.
”Bukan hanya untuk batik tulis saja, karena buat batik cap juga bisa,” dijelaskan Iwan Tirta dalam jumpa wartawan.
Ini bisa dikatakan pengembangan sukses kedua dari Iwan Tirta, setelah ia berhasil menciptakan batik di atas sutera pada 1961. Pada mulanya, dia mengaku ragu tentang media bersifat elastis yang bisa digunakan untuk membatik. Tapi kini tidak lagi. Bahkan, ia berhasil dengan baik menghadirkan baju-baju denim stretch lycra, yang juga ditampilkan di pergelaran bertajuk ”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” itu.
”Bagus sekali daya penyerapannya. Unisex sifatnya,” komentar Iwan tentang paduan bahan denim dan lycra untuk koleksi batik terbarunya.
Untuk kandungan lycra yang kadarnya lebih tinggi, Iwan Tirta membuktikannya melalui karya rajut lycra. Kelebihan lain dari bahan lycra adalah bukan cuma bisa mengikuti selera orang sekarang yang ingin selalu bebas bergerak dengan langkah-langkah lebar, karena ternyata tendensi warna-warna pudarnya kini juga menjadi trendi.
”Selebihnya, penampilan warna-warna lycra adalah serba ada, dari yang cerah, pastel sampai yang terlihat pucat. Terserah pilihannya!” sambung Iwan.

Pengembangan Kreasi Baru
Sisi menarik lainnya dari baju berbahan lycra adalah tidak memerlukan perawatan khusus. Kita tidak direpotkan, karena tanpa perlu diseterika lagi. Bisa dicuci sendiri, dan tidak gampang luntur.
”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” menjadi tontonan yang menyenangkan dengan sarung yang seksi, t-shirt, baju olahraga, pakaian kasual, uniform kerja, kemeja batik sampai dengan gaun malam sifon stretch.
”Kombinasi serat sintetis serta alami dalam bahan lycra memberi platform untuk mengembangkan kreasi baru yang memanfaatkan seluruh potensi kedua bahan tersebut. Hasilnya antara lain adalah sarung stretch yang nyaman dan indah,” cetus Iwan Tirta.
Pergelaran batik tradisional inovatif ini sekaligus jadi ajang masukan untuk uniform maskapai penerbangan nasional. Sebab, bahan lycra kini sudah digunakan untuk seragam kepolisian di Hong Kong. Daya kelenturannya, kebebasan bergerak, ngepas badan, kenyamanan dan daya tahan menjadi daya tarik utama.
Di bagian ini Chossy Latu, desainer IPMI yang sudah selama 15 tahun bekerja sama dengan Iwan Tirta, ikut menginformasikan kemudahan lycra dalam kemampuan pengerjaan kostum hingga ratusan fitting.
”Bahan lycra lebih memudahkan dalam pengukuran (S-M-L). Cukup dengan cara penjahitan biasa, kita bisa membuat baju dengan model apa saja. Longgar atau pun sempit,” diungkapkan Chossy.
Pergelaran ”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” juga berkaitan dengan perayaan ulang tahun Dupont (pencipta dan pemasar lycra) yang ke-200 tahun (1802-2002).
Ada pun lycra diciptakan oleh Dupont dari 50 tahun lalu. Lycra dapat merentang hingga tujuh kali dari ukuran sebenarnya tanpa robek dan dapat kembali ke bentuk semula. Lycra tidak pernah digunakan secara terpisah, melainkan selalu dipadukan dengan bahan katun, nilon, wol, polister dan jenis serat lainnya. Lycra menambah kenyamanan, kesesuaian dan keleluasaan bergerak serta ketahanan bentuk pada busana.
Pada awalnya, lycra digunakan sebagai pengganti girdles/long torso. Namun kemudian dimanfaatkan dalam beraneka pakaian jadi seperti baju renang, pakaian dalam wanita, pakaian kerja, pakaian jadi hingga sepatu dan bahan perawatan pribadi.
”Batik merupakan warisan leluhur Indonesia, dengan memadukan bahan konvensional tersebut dengan lycra, kami menciptakan peluang untuk merangkul generasi muda yang menginginkan kenyamanan dan gaya tetapi tetap melestarikan tradisi Indonesia,” seperti dikatakan Paul de Belay, regional business director RTW (ready-to-wear), Dupont Textile - Interior.
Kerja sama yang menarik, dan semoga tetap bisa saling menguntungkan.

Sumber : (str-john js) Sinar Harapan, Jakarta

Leave a Reply