Pascabanjir, Usaha Batik Pekalongan Terpuruk

Sejumlah pengusaha batik di Pekalongan mengeluhkan iklim usaha batik yang kian terpuruk, menyusul musibah banjir bandang yang melanda hampir 80 persen Kota Pekalongan beberapa waktu lalu. Jumlah pesanan batik menurun sampai 50 persen jika dibandingkan kondisi normal. Sejumlah pengusaha mengaku tidak mengurangi jumlah karyawan, namun jika kondisi ini berlangsung terus dikhawatirkan rasionalisasi akan terjadi juga.

Slamet Imron Utsman, perajin tenun tradisional dan batik UD Uspana yang tinggal di Kelurahan Medono, Kecamatan Podosugih, Kota Pekalongan, Senin (8/4), menduga, sepinya order batik disebabkan oleh banjir bandang lalu yang mengalihkan perhatian konsumen. “Daripada beli batik (pakaian), konsumen lebih memilih menggunakan uangnya untuk memperbaiki rumah atau perabot yang kebanjiran,” ujar Slamet yang mengaku 70 persen produksi batiknya dipasarkan ke Jakarta.

Hal senada juga diungkapkan HM Syafrudin Huna, pengusaha batik Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Selama setengah tahun terakhir, Syafrudin mengaku baru mendapat pesanan sekali dalam jumlah yang relatif kecil, 25 kodi. Padahal, dalam situasi normal, Syafrudin mampu mengirim 50 kodi batik jadi seperti daster, longdress, dan busana Muslim ke kota di luar Jawa, seperti Banjarmasin, Denpasar, dan Palembang setiap bulan.

Satu kodi batik dihargai Rp 380.000-Rp 420.000, tergantung kualitas bahan baku. Apabila dalam kondisi normal Syafrudin mampu meraup hasil penjualan batik khusus ke luar Jawa sekitar Rp 20 juta tiap bulan, kini ia hanya mendapat separuhnya untuk jangka waktu satu semester. Sementara itu, untuk pasaran lokal (Jawa-Red), ia menggantungkan pesanan dari sejumlah perusahaan batik ternama seperti Danarhadi dan Batik Keris di Solo.

Lesunya pasar batik membuat sejumlah pengusaha mengeluarkan tenaga ekstra. Slamet, misalnya, mengaku tiap dua minggu harus pergi ke Jakarta guna mencari pelanggan baru. Slamet yang harus menghidupi 50 karyawan bahkan terpaksa “berjudi” menawarkan produknya ke toko mebel, butik, dan kerajinan di Jakarta. “Mau bagaimana lagi, belum ada tanda-tanda usaha batik akan bangkit lagi,” jelas Slamet.

Selain itu, minimnya sinar Matahari di musim hujan lalu juga membuat pengusaha batik kerepotan. Proses pengeringan saat kain batik diberi pewarna terganggu oleh tingginya curah hujan.

Sumber : (ana) Kompas Cetak, Pekalongan

Leave a Reply