Archive for April, 2002

Jakarta Menggelar Pameran Batik Kuno

Monday, April 29th, 2002

Pameran Batik KunoSebuah galeri di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, baru-baru ini, menggelar pameran batik kuno yang berusia puluhan hingga ratusan tahun. Semua koleksi yang digelar dalam pameran ini berasal dari berbagai sentra pembuatan batik di Pulau Jawa yaitu Cirebon, Garut, Jawa Barat, Pekalongan, Lasem, Jawa Tengah, Sidoarjo, Jawa Timur. Pameran batik kuno ini akan berlangsung hingga 27 Mei mendatang.

Penyelenggara pameran membagi batik-batik ke dalam tiga kelompok: batik Belanda, Cina, dan Pesisiran. Penggolongan ini didasarkan pada pemakai batik-batik ini dahulu. Setiap kelompok batik memiliki ciri khas masing-masing. Di antaranya batik Belanda yang umumnya berwarna lembut. Sebaliknya, batik Cina cenderung menggunakan warna yang mencolok. Sedangkan batik Pesisiran biasanya memiliki motif yang ramai dan menggunakan gabungan berbagai jenis warna.

Dino, pengamat batik mengatakan, batik-batik yang dipamerkan ini konon dirancang secara khusus untuk berbagai macam keperluan. Antara lain batik yang digunakan sebagai penutup tempat tidur, celana, gendongan bayi, kemben, atau penutup altar upacara. Meski seluruh koleksi yang dipamerkan relatif tua, batik-batik yang dibuat dengan bahan sutra dan katun tersebut kondisinya masih tetap baik.

Sumber : (ZAQ/Miko Toro dan Anto Susanto) Liputan6.com, Jakarta

Seni dan Teknologi dalam Batik Iwan Tirta

Sunday, April 28th, 2002

Apa yang menyebabkan batik bisa bertahan melampaui waktu? Jawabnya, karena yang terlibat di dalam penciptaan batik selalu bersedia dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar tentang batik itu sendiri.

Dari sisi teknologi orang boleh mengatakan tidak ada terobosan setelah penciptaan teknik cap, tetapi para pembela batik akan mengatakan batik yang sesungguhnya selalu melibatkan teknik menahan warna dengan menggunakan lilin malam. Artinya, batik yang sesungguhnya dibuat melalui proses menahan warna memakai malam dengan alat canting dan cap. Kecuali, bila ada alat lain yang mampu membubuhkan malam untuk membentuk motif.

Sentuhan tangan di dalam batik dan bukannya mesin, memberi nilai khusus pada batik. Apalagi sekarang adalah masa di mana semua produk diciptakan dalam dunia konsumsi begitu masif dengan tampak luar lebih penting dari isi. Sentuhan artisan batik di dalam sehelai kain lalu memberi sebuah rasa kedekatan antarmanusia.

Cara termudah mengamati adaptasi batik terhadap perubahan zaman adalah pada jenis motif dan warna. Batik adalah juga catatan panjang perjalanan negeri ini. Ada motif jlamprang yang merupakan adaptasi kain cinde asal India, motif naga dan burung hong yang diperkenalkan pedagang dari daratan Cina, batik basurek yang bermotif kaligrafi, motif buketan yang diambil dari kata bouquet akibat pengaruh Eropa-Belanda, motif jawa hokokai berupa bunga seruni dan kupu-kupu ketika Jepang menginvasi Indonesia, atau batik Golkar yang pernah menjadi seragam pegawai negeri sipil.

Selain itu, batik sangat tertolong oleh perkembangan teknologi tekstil. “Batik bisa menjadi seperti sekarang dengan detail sangat halus dan garisnya bisa lurus setelah pemerintah kolonial memperkenalkan kain katun halus yang di sini disebut tjap (merek) Sen,” tutur Iwan Tirta, dua pekan lalu.

Kamis siang tanggal 18 April bertepatan dengan ulang tahunnya ke-67, Iwan Tirta, kembali menunjukkan kepiawaiannya sebagai artisan batik yang semakin langka: Ia memamerkan batik tulis halus di atas kain elastis yang mengandung serat Lycra.

***
Dalam pergelaran di Hotel Mulia, Senayan, itu-pergelaran tunda sebenarnya, karena semula direncanakan bulan November 2001-Iwan menawarkan berbagai kemungkinan yang bisa dicapai dalam memadukan seni batik dan kemajuan ilmu pengetahuan dalam hal ini serat regang Lycra. Selain sebagai kain panjang, sarung dan busana, menurut Iwan, katun dengan serat Lycra bisa menghasilkan lukisan batik yang duduk kainnya lebih mantap, dan bungkus bantal kursi.

Pergelaran diawali dengan rangkaian seragam awak pesawat maupun petugas darat maskapai penerbangan yang terus bertambah jumlahnya.

Sifat kain yang regang akan sangat membantu dalam pembuatan, kerapian tampilan, dan bukannya tidak mungkin juga kenyamanan pengguna. “Karena kainnya elastis, jadi bisa dibuat dalam ukuran S, M, L, tidak perlu diukur orang per orang.,” kata Chossy Latu yang membantu Iwan Tirta mewujudkan beberapa busana batik Lycra karya Iwan Tirta. Rancangan batik dan model seragam awak kabin dan petugas darat dari duet Iwan dan Chossy dipilih Garuda Indonesia menjadi seragam baru maskapai penerbangan nasional ini tahun 1999 lalu.

Iwan juga menunjukkan, penggunaan bahan bersifat regang itu bisa menjawab kebutuhan akan kain panjang batik yang praktis. Dengan membuat sarung, pemakai tidak perlu direpotkan lilitan berulang dari kain panjang. Apalagi sifat regang membuat kain melekat di tubuh. Hanya yang perlu dipertimbangkan adalah ketebalan kain, karena bila terlalu tebal, akan memperbesar daerah perut di mana lipatan sarung terletak.

Untuk kemeja laki-laki, Iwan seperti biasa menawarkan motif batik hasil olahan dari beragam motif batik gaya Yogyakarta seperti semen atau motif flora dan fauna, untuk menghasilkan batik-batik baru. Begitu juga untuk gaun malam perempuan maupun gaun pagi hari, motif yang digunakan adalah perpaduan dari berbagai motif klasik. Misalnya, motif yang dibingkai dalam motif diagonal parang untuk gaun panjang, motif batik pesisiran untuk sarung, motif mega mendung untuk celana panjang, atau truntum untuk celana bermuda dan rok mini.

Sari Narulita dari majalah Her World memuji gaun panjang berleher halter dalam warna biru dan kemerahmudaan dengan motif bunga dan kupu ukuran besar dari batik jawa hokokai.

Sementara Asmoro Damais, pemilik batik Parang Akik, terkesan dengan rangkaian batik yang oleh Iwan Tirta diposisikan sebagai pakaian di pantai atau kegiatan santai, yaitu sebagai kain panjang dengan motif tidak terlalu formal yang dipakai dengan mengikatkan di pinggang, sebagai celana bermuda, rok pendek, dan kemeja-kemeja T. Di sini Iwan menggunakan teknik batik tulis dan cap secara bergantian.

***
Sebenarnya jauh sebelum bekerja sama dengan Lycra, Iwan Tirta sudah pernah membuat batik di atas bahan regang. Sebagai seniman batik, Iwan selalu mencoba berbagai kemungkinan baru dalam pengembangan teknik ragam hias yang kini identik dengan Indonesia ini. Iwan memelopori batik tulis halus di atas kain sutra, dan Iwan pula yang memperkenalkan penggunaan warna keemasan prada pada batik. Prada emas segera ditiru perajin batik di mana-mana. Setelah itu, Iwan memperkenalkan prada warna perak, yang juga ditampilkan dalam pergelaran Kamis lalu.

Iwan juga terus mendokumentasikan beragam motif batik ke dalam data digital dengan bantuan PT National Gobel dan Epson. “Sudah selesai 400 motif dari 4.000-an,” tutur Iwan di butiknya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dan ketika ada pertemuan para kepala negara Asia-Pasifik yang tergabung dalam APEC di Bogor tahun 1994, Iwan membuatkan kemeja batik dengan motif disesuaikan lambang negara atau ciri khas masing-masing negara.

Untuk Lycra, ini adalah kali ketiga bekerja sama dengan perancang Indonesia. Pertama kali bersama duet Era dan Ichwan yang memproduksi label Urban Crew, yang kedua bersama Carmanita. Tentu saja ini adalah bagian dari usaha DuPont, perusahaan kimia berusia 200 tahun yang antara lain memproduksi Lycra, mempromosikan serat temuan Du Pont tersebut.

Inovasi teknologi selalu membuka peluang baru dalam kehidupan, seperti yang antara lain ditunjukkan dalam perpaduan antara serat alam dan sintetis Lycra dengan batik. Du Pont akan bisa lebih berperan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia seandainya bekerja sama bukan hanya dengan industri tekstil besar, tetapi juga dengan penenun skala kecil di sentra-sentra industri rakyat supaya mereka tidak cuma jadi penonton.

Sumber : (NMP) KCM, Jakarta

”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” - Memanfaatkan Lycra dalam ”Fashion” Indonesia

Monday, April 22nd, 2002

Pemakaian bahan lycra di fashion internasional sudah tidak asing lagi. Bahan ultra elastis ini sekarang makin banyak dipergunakan untuk tekstil aparel. Kita makin mengenalnya ketika Urban Crew (duo perancang Era Sukamto dan Ichwan Thoha) memperkenalkan baju-baju lifestyle dengan media lycra mulai tahun 1999 hingga kini. Lalu, disusul dengan desainer Carmanita yang melahirkan proses membatik di atas lycra pada tahun 2000.

 Kita kemudian makin memahami bahwa lycra bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam fashion Indonesia. Sifatnya yang fleksibel, nyaman, tidak mudah kusut atau meregang, ngepas di tubuh tanpa siksaan dan indah dipandang, membuat lycra semakin diminati orang.
Para pelanggan batik pun dibuat tersentak dengan dukungan inovasi dari teknologi lycra. Akan tetapi reaksi keras juga muncul akibat batik lycra ciptaan Carmanita dianggap cuma mementingkan proses pembuatan, dan ”mengecilkan” makna motif tradisi.
Padahal, siapa pun mungkin tahu, pencinta dan pemakai batik rata-rata seleranya fanatis. Mereka memang menyukai lycra yang nyaman, seksi, anggun dan bercitra modern, tapi sekaligus membutuhkan desain batik yang tidak jauh meninggalkan tradisi.
Namun, untunglah pelopor dan pakar batik Iwan Tirta kemudian memenuhi harapan mereka. Dia bisa disebut yang pertama kali menggunakan lycra dalam koleksi rancangan batik tradisional. Kemunculannya minggu lalu (18/4) di Hotel Mulia, Jakarta menghadirkan karya cipta dimensi baru dari busana tradisional. Iwan Tirta menciptakan busana-busana resmi (dari kemeja dan gaun pesta hingga kebaya dan kain ikat) yang kini dapat dipakai di tiap kesempatan secara nyaman.
Kenyamanan dalam bergaya hidup kini memang menjadi suatu hal penting ketika memilih bahan busana. Kalau dulu disebut batik hanya bagus dibuat dari katun Belanda, kini segalanya bisa jauh berubah lantaran lycra. Semua itu bisa dimungkinkan, misalnya, karena bisa ditemukan kadar percampuran yang tepat antara katun poplin dan lycra.
”Bukan hanya untuk batik tulis saja, karena buat batik cap juga bisa,” dijelaskan Iwan Tirta dalam jumpa wartawan.
Ini bisa dikatakan pengembangan sukses kedua dari Iwan Tirta, setelah ia berhasil menciptakan batik di atas sutera pada 1961. Pada mulanya, dia mengaku ragu tentang media bersifat elastis yang bisa digunakan untuk membatik. Tapi kini tidak lagi. Bahkan, ia berhasil dengan baik menghadirkan baju-baju denim stretch lycra, yang juga ditampilkan di pergelaran bertajuk ”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” itu.
”Bagus sekali daya penyerapannya. Unisex sifatnya,” komentar Iwan tentang paduan bahan denim dan lycra untuk koleksi batik terbarunya.
Untuk kandungan lycra yang kadarnya lebih tinggi, Iwan Tirta membuktikannya melalui karya rajut lycra. Kelebihan lain dari bahan lycra adalah bukan cuma bisa mengikuti selera orang sekarang yang ingin selalu bebas bergerak dengan langkah-langkah lebar, karena ternyata tendensi warna-warna pudarnya kini juga menjadi trendi.
”Selebihnya, penampilan warna-warna lycra adalah serba ada, dari yang cerah, pastel sampai yang terlihat pucat. Terserah pilihannya!” sambung Iwan.

Pengembangan Kreasi Baru
Sisi menarik lainnya dari baju berbahan lycra adalah tidak memerlukan perawatan khusus. Kita tidak direpotkan, karena tanpa perlu diseterika lagi. Bisa dicuci sendiri, dan tidak gampang luntur.
”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” menjadi tontonan yang menyenangkan dengan sarung yang seksi, t-shirt, baju olahraga, pakaian kasual, uniform kerja, kemeja batik sampai dengan gaun malam sifon stretch.
”Kombinasi serat sintetis serta alami dalam bahan lycra memberi platform untuk mengembangkan kreasi baru yang memanfaatkan seluruh potensi kedua bahan tersebut. Hasilnya antara lain adalah sarung stretch yang nyaman dan indah,” cetus Iwan Tirta.
Pergelaran batik tradisional inovatif ini sekaligus jadi ajang masukan untuk uniform maskapai penerbangan nasional. Sebab, bahan lycra kini sudah digunakan untuk seragam kepolisian di Hong Kong. Daya kelenturannya, kebebasan bergerak, ngepas badan, kenyamanan dan daya tahan menjadi daya tarik utama.
Di bagian ini Chossy Latu, desainer IPMI yang sudah selama 15 tahun bekerja sama dengan Iwan Tirta, ikut menginformasikan kemudahan lycra dalam kemampuan pengerjaan kostum hingga ratusan fitting.
”Bahan lycra lebih memudahkan dalam pengukuran (S-M-L). Cukup dengan cara penjahitan biasa, kita bisa membuat baju dengan model apa saja. Longgar atau pun sempit,” diungkapkan Chossy.
Pergelaran ”The Marriage of Traditional Batik and The Miracles of Science” juga berkaitan dengan perayaan ulang tahun Dupont (pencipta dan pemasar lycra) yang ke-200 tahun (1802-2002).
Ada pun lycra diciptakan oleh Dupont dari 50 tahun lalu. Lycra dapat merentang hingga tujuh kali dari ukuran sebenarnya tanpa robek dan dapat kembali ke bentuk semula. Lycra tidak pernah digunakan secara terpisah, melainkan selalu dipadukan dengan bahan katun, nilon, wol, polister dan jenis serat lainnya. Lycra menambah kenyamanan, kesesuaian dan keleluasaan bergerak serta ketahanan bentuk pada busana.
Pada awalnya, lycra digunakan sebagai pengganti girdles/long torso. Namun kemudian dimanfaatkan dalam beraneka pakaian jadi seperti baju renang, pakaian dalam wanita, pakaian kerja, pakaian jadi hingga sepatu dan bahan perawatan pribadi.
”Batik merupakan warisan leluhur Indonesia, dengan memadukan bahan konvensional tersebut dengan lycra, kami menciptakan peluang untuk merangkul generasi muda yang menginginkan kenyamanan dan gaya tetapi tetap melestarikan tradisi Indonesia,” seperti dikatakan Paul de Belay, regional business director RTW (ready-to-wear), Dupont Textile - Interior.
Kerja sama yang menarik, dan semoga tetap bisa saling menguntungkan.

Sumber : (str-john js) Sinar Harapan, Jakarta

Pascabanjir, Usaha Batik Pekalongan Terpuruk

Tuesday, April 9th, 2002

Sejumlah pengusaha batik di Pekalongan mengeluhkan iklim usaha batik yang kian terpuruk, menyusul musibah banjir bandang yang melanda hampir 80 persen Kota Pekalongan beberapa waktu lalu. Jumlah pesanan batik menurun sampai 50 persen jika dibandingkan kondisi normal. Sejumlah pengusaha mengaku tidak mengurangi jumlah karyawan, namun jika kondisi ini berlangsung terus dikhawatirkan rasionalisasi akan terjadi juga.

Slamet Imron Utsman, perajin tenun tradisional dan batik UD Uspana yang tinggal di Kelurahan Medono, Kecamatan Podosugih, Kota Pekalongan, Senin (8/4), menduga, sepinya order batik disebabkan oleh banjir bandang lalu yang mengalihkan perhatian konsumen. “Daripada beli batik (pakaian), konsumen lebih memilih menggunakan uangnya untuk memperbaiki rumah atau perabot yang kebanjiran,” ujar Slamet yang mengaku 70 persen produksi batiknya dipasarkan ke Jakarta.

Hal senada juga diungkapkan HM Syafrudin Huna, pengusaha batik Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Selama setengah tahun terakhir, Syafrudin mengaku baru mendapat pesanan sekali dalam jumlah yang relatif kecil, 25 kodi. Padahal, dalam situasi normal, Syafrudin mampu mengirim 50 kodi batik jadi seperti daster, longdress, dan busana Muslim ke kota di luar Jawa, seperti Banjarmasin, Denpasar, dan Palembang setiap bulan.

Satu kodi batik dihargai Rp 380.000-Rp 420.000, tergantung kualitas bahan baku. Apabila dalam kondisi normal Syafrudin mampu meraup hasil penjualan batik khusus ke luar Jawa sekitar Rp 20 juta tiap bulan, kini ia hanya mendapat separuhnya untuk jangka waktu satu semester. Sementara itu, untuk pasaran lokal (Jawa-Red), ia menggantungkan pesanan dari sejumlah perusahaan batik ternama seperti Danarhadi dan Batik Keris di Solo.

Lesunya pasar batik membuat sejumlah pengusaha mengeluarkan tenaga ekstra. Slamet, misalnya, mengaku tiap dua minggu harus pergi ke Jakarta guna mencari pelanggan baru. Slamet yang harus menghidupi 50 karyawan bahkan terpaksa “berjudi” menawarkan produknya ke toko mebel, butik, dan kerajinan di Jakarta. “Mau bagaimana lagi, belum ada tanda-tanda usaha batik akan bangkit lagi,” jelas Slamet.

Selain itu, minimnya sinar Matahari di musim hujan lalu juga membuat pengusaha batik kerepotan. Proses pengeringan saat kain batik diberi pewarna terganggu oleh tingginya curah hujan.

Sumber : (ana) Kompas Cetak, Pekalongan