Melestarikan Batik sambil Membuka Diri terhadap Perkembangan Terbaru
Industri batik bisa tetap hidup karena kebebasan artistik para seniman atau perajinnya. Namun, minat banyak orang untuk membeli pakaian batik dimulai dari partisipasi para perancang busana dalam industri batik garmen dan high fashion. Prayudi, Sjamsidar Isa atau pun Lili Salim menjadi desainer pelopor. Mereka berkonsultasi dengan Batik Danar Hadi untuk menciptakan desain-desain khusus lewat motif dan warna.
Segalanya itu berawal pada tahun 1975 dengan produk kemeja dan daster. Kini mereka telah lebih jauh lagi mengembangkan sayapnya dengan busana Muslim, baju santai (untuk kaum muda dan kalangan ibu), baju anak, hingga busana high fashion. Nama perancang busana yang terlibat juga meningkat dengan generasi berikutnya, seperti Ghea Sukarya, Stephanus Hamy dan Itang Yunasz.
”Produksi baju batik untuk remaja dimulai dari lima tahun lalu. Ini menjadi bagian dari usaha Danar Hadi yang ingin melestarikan batik sebagai milik Indonesia. Yang dianggap tepat, bila dimulai dari membangkitkan animo remaja terhadap batik,” dijelaskan Sjamsidar Isa, yang menjabat manajer promosi dan PR Batik Danar Hadi.
”Bagaimana mereka bisa tertarik, kalau setelan batiknya sama dengan para orang tua yang seremonial dan untuk pesta perkawinan. Yang mereka butuhkan pasti adalah baju kasual, bisa dipakai sehari-hari dengan corak warna dan desain motif yang sesuai mode terkini. Sekarang mereka menyukai bahan-bahan stretch dan katun. Kami menyediakan sampai dengan tas, aksesoris, dan selop,” tambah Sjamsidar Isa.
Kemajuan
Berbicara tentang kemajuan, Danar Hadi selalu membuka diri dengan segala perkembangan terbaru. Namun, sentuhan tradisi tetap menjadi bagian dari tanggung jawab mereka. Sejak berdiri pada tahun 1967 di Solo, Batik Danar Hadi yang dibentuk oleh Santosa Doellah dan istri, hadir untuk memperkaya perkembangan seni membatik dan usaha batik di Indonesia. ”Kami menaruh perhatian besar terhadap upaya pelestarian seni tradisional batik, yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak abad ke-17,” seperti diungkap Diana Hariyadi, direktur Batik Danar Hadi.
Bentuk perkembangan seperti apa yang dipilih mereka?
”Pilihan warna dan bahan kain harus selalu mengikuti tren. Kini kami bereksperimen dengan lycra dan stretch. Kami telah terjun di fashion, dan justru makin berkembang lantaran itu dengan pola motif modifikasi. Kami sama sekali tidak tertarik pada corak kontemporer, karena berlawanan dengan konsep batik tradisional yang ingin kami lestarikan,” jawab Sjamsidar Isa.
Mereka lebih menganggap tepat untuk menggabungkan motif-motifnya dengan desain batik Belanda yang bergaya individual unik, Cina (yang berornamen oriental) atau Arab (bernuansa Islami), karena mempunyai latar belakang sejarah batik klasik yang hampir serupa. Atau pun olahan desainnya digabung dengan motif-motif Cirebon, Pekalongan, Kudus dan Demak yang berwarna cerah dan pastel, sampai dengan Batik Sudagaran.
Kalangan Ibu
Danar Hadi, kini telah melebarkan sayap usahanya ke Jakarta, dan kota-kota besar di Indonesia dengan membuka rumah-rumah batik dan rangkaian gerai pemasaran. Pasar utamanya masih terpusat pada kalangan ibu (mature women). ”Baju untuk para ibu masih menjadi porsi besar dan paling laris,” demikian ungkap Sjamsidar Isa.
Namun, gejolak baru perpindahan generasi pembeli mulai kentara. Dulu, kalangan ibu yang sekarang rata-rata telah berusia 70 tahun ke atas, selalu membeli batik dengan mencium terlebih dulu aromanya. ”Mereka juga teliti seratus persen untuk mengamati motif batik dan tarikan garis coraknya. Kebanyakan dari mereka adalah masyarakat Jawa Tengah,” ujar Sjamsidar Isa, menyambung cerita.
Berbeda sama sekali dengan pembeli batik dari kalangan ibu muda sekarang. ”Ibu-ibu muda itu, yang usianya berkisar antara 30 - 50 tahun, tidak terlalu memahami makna batik. Yang dicari hanya keindahan dan kenyamanan dari batik, yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, termasuk harganya,” lanjutnya.
”Fokus perhatian mereka terhadap batik baru segitu. Akan tetapi niatan seperti itu sudah bisa memenuhi harapan awal kami. Mereka jadi tahu pola dan motif batik tradisional yang dimodifikasi. Semoga lama kelamaan mereka bisa ikut mencintai makna batik yang sesungguhnya,” harap Sjamsidar Isa.
Peluang Baru
Sejak lima hingga tujuh tahun lalu, peluang baru muncul di pasar batik Indonesia melalui hadirnya para pelanggan busana Muslim. ”Tapi karena mereka juga ingin berpenampilan trendi, maka kami mengolahnya secara lebih praktis dengan alternatif dan selera baru,” tutur Sjamsidar Isa.
Selama ini, Danar Hadi juga tetap mempertahankan keaslian motif batik, namun sambil dimodifikasi sesuai dengan arah pemanfaatannya. ”Untuk gaun pengantin tentu dikecualikan, karena pernikahan adat Jawa selalu mengharuskan keaslian tradisi,” urainya lebih jauh.
Motif-motif yang kini banyak disukai adalah komposisi keindahan geometris yang sarat dengan warna pastel dan ornamen flora.
Peluang pasar baju batik di masa krisis berkepanjangan ini cukup baik. ”Itu kalau kita mampu mengikuti tren mode,” ditegaskan Sjamsidar Isa.
Peluang bagi batik tetap selalu ada dan luas, asalkan mau mengikuti kemauan pasar. ”Kita harus menguatkan pasar dalam negeri dulu, agar lebih memudahkan kita untuk mengenalkan merek-merek dalam negeri. Ini tugas penting, daripada peluang tersebut diambil oleh produk-produk baju luar,” singgungnya.
Membeli batik, diakuinya, kini menjadi alternatif baru dari konsumen yang dulu adalah pelanggan-pelanggan baju bermerek. Namun, mereka sekaligus mewakili sifat konsumen masa kini yang semakin pandai karena banyaknya informasi positif.
”Mereka adalah calon pembeli yang tidak bisa dibohongi,” ungkap wanita ramah yang juga pimpinan IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) itu.
Publik memang harus semakin pandai menyeleksi kreativitas dan mutu produk fashion yang dibelinya.
Sumber : (jjs) Sinar Harapan, Jakarta