Batik Beri Inspirasi pada Seni Rupa Modern
Seni batik klasik yang berkembang di Jawa sekitar tahun 1920-an, melahirkan beragam corak dan gaya. Perkembangan yang disertai lahirnya corak-corak tertentu itu terbentuk oleh kebutuhan estetika dan pengaruh karakter masyarakat setempat, atau menyangkut konsep estetika produsen. Pada masa sekarang, seni batik klasik itu diharapkan masih bisa memberi inspirasi bagi seni rupa modern.
Demikian perbincangan Kompas dengan Drs Putut H Pramana, pengajar di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, di tengah pameran Batik Klasik di Galeri Seni Rupa UNS, Selasa (12/3). Pameran diselenggarakan hingga 20 Maret 2002.
Menurut Putut, mahasiswa seni rupa di UNS perlu mendapatkan apresiasi terhadap karya seni tradisional. “Dari apresiasi ini diharapkan bisa memberi inspirasi bagi seni rupa modern. Mereka mungkin akan terilhami untuk membuat karya-karya kontemporer, atau karya-karya kriya yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari seperti busana, korden, taplak meja,” katanya.
Drs Narsen Avatara, juga pengajar di jurusan sama, menyebutkan mahasiswa seni rupa UNS sangat kurang mengenal karya-karya seni otentik terutama yang bernilai adikarya (masterpiece). Selain materi otentik seperti batik klasik, menurut Narsen, Galeri Seni Rupa UNS sangat berharap bisa memajang lukisan-lukisan adikarya dari pelukis ternama seperti Affandi, Trubus, Sudjojono, dan Hendra.
“Walau mahasiswa pernah melihatnya dalam bentuk reproduksi, namun dengan bisa melihat langsung karya pelukis ternama itu akan memberi efek psikologis yang berbeda. Paling tidak, dengan melihat karya aslinya mereka suatu saat kelak bisa membedakan dengan lukisan tiruannya yang kini juga beredar di masyarakat,” ujar Narsen.
Tidak diproduksi lagi
Koordinator pameran Titus, menyebutkan pameran seni batik klasik ini akan membuka ruang apresiasi, terutama kalangan mahasiswa sebagai generasi muda terhadap karya batik tradisional produk masa lalu. Sekitar 17 potong kain batik klasik buatan sekitar 1920-an, termasuk sarung yang dipajang merupakan koleksi perorangan di Solo.
Koleksi batik klasik yang dipamerkan sebagian besar sudah tidak diproduksi lagi. Seperti batik dengan corak Pisang Bali, Rujak Senthe, Nitik Solo, Ceplok Piring, motif Tambal, Bledak Yogyakarta. Sekalipun motif seperti Parang Rusak masih diproduksi, tetapi koleksi Parang Rusak yang dipamerkan menonjolkan corak yang halus dan unik.
Batik klasik itu, selain produksi juragan batik pribumi, juga produksi juragan batik Cina dan Belanda.
Sejumlah koleksi yang dipamerkan dengan jelas menyebutkan corak dan nama produsennya, seperti Bathetan Demak Oh Yoe Hong, Bathetan Kedung Wuni Tjoen Kiat Wee, Bathetan EV Zeylin. Ada batik klasik yang dibuat di masa Jepang dengan sebutan Jawa Hokokai, dan ada pula batik hasil paduan berbagai corak yang disebut Batik Tiga Negeri.
Pameran ini setiap hari dirangkai dengan pemutaran film dokumenter proses pembuatan batik karya Putut H Pramana bertajuk Bayang-bayang Batik Surakarta. Selain itu juga diputar film dokumenter tentang kimono Jepang, hasil kerja sama dengan Japan Foundation.
Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo