Archive for March, 2002

Melestarikan Batik sambil Membuka Diri terhadap Perkembangan Terbaru

Thursday, March 28th, 2002

Industri batik bisa tetap hidup karena kebebasan artistik para seniman atau perajinnya. Namun, minat banyak orang untuk membeli pakaian batik dimulai dari partisipasi para perancang busana dalam industri batik garmen dan high fashion. Prayudi, Sjamsidar Isa atau pun Lili Salim menjadi desainer pelopor. Mereka berkonsultasi dengan Batik Danar Hadi untuk menciptakan desain-desain khusus lewat motif dan warna.
Segalanya itu berawal pada tahun 1975 dengan produk kemeja dan daster. Kini mereka telah lebih jauh lagi mengembangkan sayapnya dengan busana Muslim, baju santai (untuk kaum muda dan kalangan ibu), baju anak, hingga busana high fashion. Nama perancang busana yang terlibat juga meningkat dengan generasi berikutnya, seperti Ghea Sukarya, Stephanus Hamy dan Itang Yunasz.
”Produksi baju batik untuk remaja dimulai dari lima tahun lalu. Ini menjadi bagian dari usaha Danar Hadi yang ingin melestarikan batik sebagai milik Indonesia. Yang dianggap tepat, bila dimulai dari membangkitkan animo remaja terhadap batik,” dijelaskan Sjamsidar Isa, yang menjabat manajer promosi dan PR Batik Danar Hadi.
”Bagaimana mereka bisa tertarik, kalau setelan batiknya sama dengan para orang tua yang seremonial dan untuk pesta perkawinan. Yang mereka butuhkan pasti adalah baju kasual, bisa dipakai sehari-hari dengan corak warna dan desain motif yang sesuai mode terkini. Sekarang mereka menyukai bahan-bahan stretch dan katun. Kami menyediakan sampai dengan tas, aksesoris, dan selop,” tambah Sjamsidar Isa.
Kemajuan
Berbicara tentang kemajuan, Danar Hadi selalu membuka diri dengan segala perkembangan terbaru. Namun, sentuhan tradisi tetap menjadi bagian dari tanggung jawab mereka. Sejak berdiri pada tahun 1967 di Solo, Batik Danar Hadi yang dibentuk oleh Santosa Doellah dan istri, hadir untuk memperkaya perkembangan seni membatik dan usaha batik di Indonesia. ”Kami menaruh perhatian besar terhadap upaya pelestarian seni tradisional batik, yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak abad ke-17,” seperti diungkap Diana Hariyadi, direktur Batik Danar Hadi.
Bentuk perkembangan seperti apa yang dipilih mereka?
”Pilihan warna dan bahan kain harus selalu mengikuti tren. Kini kami bereksperimen dengan lycra dan stretch. Kami telah terjun di fashion, dan justru makin berkembang lantaran itu dengan pola motif modifikasi. Kami sama sekali tidak tertarik pada corak kontemporer, karena berlawanan dengan konsep batik tradisional yang ingin kami lestarikan,” jawab Sjamsidar Isa.
Mereka lebih menganggap tepat untuk menggabungkan motif-motifnya dengan desain batik Belanda yang bergaya individual unik, Cina (yang berornamen oriental) atau Arab (bernuansa Islami), karena mempunyai latar belakang sejarah batik klasik yang hampir serupa. Atau pun olahan desainnya digabung dengan motif-motif Cirebon, Pekalongan, Kudus dan Demak yang berwarna cerah dan pastel, sampai dengan Batik Sudagaran.

Kalangan Ibu
Danar Hadi, kini telah melebarkan sayap usahanya ke Jakarta, dan kota-kota besar di Indonesia dengan membuka rumah-rumah batik dan rangkaian gerai pemasaran. Pasar utamanya masih terpusat pada kalangan ibu (mature women). ”Baju untuk para ibu masih menjadi porsi besar dan paling laris,” demikian ungkap Sjamsidar Isa.
Namun, gejolak baru perpindahan generasi pembeli mulai kentara. Dulu, kalangan ibu yang sekarang rata-rata telah berusia 70 tahun ke atas, selalu membeli batik dengan mencium terlebih dulu aromanya. ”Mereka juga teliti seratus persen untuk mengamati motif batik dan tarikan garis coraknya. Kebanyakan dari mereka adalah masyarakat Jawa Tengah,” ujar Sjamsidar Isa, menyambung cerita.
Berbeda sama sekali dengan pembeli batik dari kalangan ibu muda sekarang. ”Ibu-ibu muda itu, yang usianya berkisar antara 30 - 50 tahun, tidak terlalu memahami makna batik. Yang dicari hanya keindahan dan kenyamanan dari batik, yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, termasuk harganya,” lanjutnya.
”Fokus perhatian mereka terhadap batik baru segitu. Akan tetapi niatan seperti itu sudah bisa memenuhi harapan awal kami. Mereka jadi tahu pola dan motif batik tradisional yang dimodifikasi. Semoga lama kelamaan mereka bisa ikut mencintai makna batik yang sesungguhnya,” harap Sjamsidar Isa.

Peluang Baru
Sejak lima hingga tujuh tahun lalu, peluang baru muncul di pasar batik Indonesia melalui hadirnya para pelanggan busana Muslim. ”Tapi karena mereka juga ingin berpenampilan trendi, maka kami mengolahnya secara lebih praktis dengan alternatif dan selera baru,” tutur Sjamsidar Isa.
Selama ini, Danar Hadi juga tetap mempertahankan keaslian motif batik, namun sambil dimodifikasi sesuai dengan arah pemanfaatannya. ”Untuk gaun pengantin tentu dikecualikan, karena pernikahan adat Jawa selalu mengharuskan keaslian tradisi,” urainya lebih jauh.
Motif-motif yang kini banyak disukai adalah komposisi keindahan geometris yang sarat dengan warna pastel dan ornamen flora.
Peluang pasar baju batik di masa krisis berkepanjangan ini cukup baik. ”Itu kalau kita mampu mengikuti tren mode,” ditegaskan Sjamsidar Isa.
Peluang bagi batik tetap selalu ada dan luas, asalkan mau mengikuti kemauan pasar. ”Kita harus menguatkan pasar dalam negeri dulu, agar lebih memudahkan kita untuk mengenalkan merek-merek dalam negeri. Ini tugas penting, daripada peluang tersebut diambil oleh produk-produk baju luar,” singgungnya.
Membeli batik, diakuinya, kini menjadi alternatif baru dari konsumen yang dulu adalah pelanggan-pelanggan baju bermerek. Namun, mereka sekaligus mewakili sifat konsumen masa kini yang semakin pandai karena banyaknya informasi positif.
”Mereka adalah calon pembeli yang tidak bisa dibohongi,” ungkap wanita ramah yang juga pimpinan IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia) itu.
Publik memang harus semakin pandai menyeleksi kreativitas dan mutu produk fashion yang dibelinya.

Sumber : (jjs) Sinar Harapan, Jakarta

Batik Beri Inspirasi pada Seni Rupa Modern

Wednesday, March 13th, 2002

Seni batik klasik yang berkembang di Jawa sekitar tahun 1920-an, melahirkan beragam corak dan gaya. Perkembangan yang disertai lahirnya corak-corak tertentu itu terbentuk oleh kebutuhan estetika dan pengaruh karakter masyarakat setempat, atau menyangkut konsep estetika produsen. Pada masa sekarang, seni batik klasik itu diharapkan masih bisa memberi inspirasi bagi seni rupa modern.

Demikian perbincangan Kompas dengan Drs Putut H Pramana, pengajar di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, di tengah pameran Batik Klasik di Galeri Seni Rupa UNS, Selasa (12/3). Pameran diselenggarakan hingga 20 Maret 2002.

Menurut Putut, mahasiswa seni rupa di UNS perlu mendapatkan apresiasi terhadap karya seni tradisional. “Dari apresiasi ini diharapkan bisa memberi inspirasi bagi seni rupa modern. Mereka mungkin akan terilhami untuk membuat karya-karya kontemporer, atau karya-karya kriya yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari seperti busana, korden, taplak meja,” katanya.

Drs Narsen Avatara, juga pengajar di jurusan sama, menyebutkan mahasiswa seni rupa UNS sangat kurang mengenal karya-karya seni otentik terutama yang bernilai adikarya (masterpiece). Selain materi otentik seperti batik klasik, menurut Narsen, Galeri Seni Rupa UNS sangat berharap bisa memajang lukisan-lukisan adikarya dari pelukis ternama seperti Affandi, Trubus, Sudjojono, dan Hendra.

“Walau mahasiswa pernah melihatnya dalam bentuk reproduksi, namun dengan bisa melihat langsung karya pelukis ternama itu akan memberi efek psikologis yang berbeda. Paling tidak, dengan melihat karya aslinya mereka suatu saat kelak bisa membedakan dengan lukisan tiruannya yang kini juga beredar di masyarakat,” ujar Narsen.

Tidak diproduksi lagi

Koordinator pameran Titus, menyebutkan pameran seni batik klasik ini akan membuka ruang apresiasi, terutama kalangan mahasiswa sebagai generasi muda terhadap karya batik tradisional produk masa lalu. Sekitar 17 potong kain batik klasik buatan sekitar 1920-an, termasuk sarung yang dipajang merupakan koleksi perorangan di Solo.

Koleksi batik klasik yang dipamerkan sebagian besar sudah tidak diproduksi lagi. Seperti batik dengan corak Pisang Bali, Rujak Senthe, Nitik Solo, Ceplok Piring, motif Tambal, Bledak Yogyakarta. Sekalipun motif seperti Parang Rusak masih diproduksi, tetapi koleksi Parang Rusak yang dipamerkan menonjolkan corak yang halus dan unik.

Batik klasik itu, selain produksi juragan batik pribumi, juga produksi juragan batik Cina dan Belanda.

Sejumlah koleksi yang dipamerkan dengan jelas menyebutkan corak dan nama produsennya, seperti Bathetan Demak Oh Yoe Hong, Bathetan Kedung Wuni Tjoen Kiat Wee, Bathetan EV Zeylin. Ada batik klasik yang dibuat di masa Jepang dengan sebutan Jawa Hokokai, dan ada pula batik hasil paduan berbagai corak yang disebut Batik Tiga Negeri.

Pameran ini setiap hari dirangkai dengan pemutaran film dokumenter proses pembuatan batik karya Putut H Pramana bertajuk Bayang-bayang Batik Surakarta. Selain itu juga diputar film dokumenter tentang kimono Jepang, hasil kerja sama dengan Japan Foundation.

Sumber : (asa) Kompas Cetak, Solo

Batik Tetap Disukai, Telah Menjadi Milik Umum, dan Laris

Sunday, March 3rd, 2002

Pesona batik tetap disukai hingga sekarang. Bahkan, seorang jurnalis dari story-of-batik.com menyebut pengalaman pertamanya dengan batik bagaikan membawanya dalam perjalanan ke peradaban lama, kekayaan budaya dan bentuk seni terindah. Dia mengenal produk batik ketika berbelanja di sebuah pusat perdagangan tekstil. Saat melihat batik, ia merasa seperti memasuki dunia yang berbeda.

Pertama kali yang disukai dari batik adalah sarungnya. Dia mengagumi motifnya, yang pada bagian tengah terdapat segi empat kuning dengan imbuhan merah, hitam dan burung biru, bunga-bunga dan geometrik. Lantas baru diketahui bahwa sarung batik itu berasal dari pesisir utara Jawa di Indonesia, dan seniman perajinnya perlu waktu lama dalam pembuatannya.
Bahan yang digunakan terbilang lembut. Dibuat dari bahan katun halus, aroma lunak dari bahan celup tumbuhan, dan lilin parafin (wax) yang dipergunakan untuk membuat bagian cetakan.
Sebutan batik pun datang dari orang Jawa yakni Ambatik yang maknanya menggambar dan menulis. Hingga kini memang masih muncul berbagai teori tentang keaslian seni kerajinan batik, namun dipastikan kata batik adalah asli dari Indonesia.
Sebagian dari kain batik terbaik adalah buatan Jawa, Indonesia – yang telah berpengalaman berabad-abad membuat batik. Dan, hingga sekarang Jawa terkenal untuk batik-batik yang paling bagus. Dari dulu, warna biru nila dan cokelat digunakan pada batik Jawa. Celupan biru dan coklat yang digabungkan dengan kain putih, dari mula menggambarkan tiga dewa Hindu yakni Siwa, Wisnu dan Brahma.
Pesona kecantikan dari batik Indonesia terletak pada begitu banyaknya perubahan dalam corak dan motif yang muncul dalam perbedaan kebudayaan. Batik utama di Jawa dikenal sebagai batik kraton, dan motif-motifnya kaya dalam pengaruh Hindu – seperti pemujaan burung garuda, kesucian bunga teratai, naga dan tiga unsur kehidupan. Kemudian, dengan hadirnya pengaruh Islam, motif-motif batik menjadi lebih geometrik dan botanik.
Pada abad ke-17, Belanda menjajah pulau Jawa, dan mereka mencuri berbagai sample batik untuk dibawa ke Eropa. Teknik batik belakangan meluas ke sebagian dunia untuk cetakan di atas kulit, gading, kertas dan kemudian logam. Sebagai tambahan, Belanda mengenalkan berbagai teknik celup Jerman, yang memperkaya warna dan motif-motif baru untuk seni batik Indonesia.
Pengaruh batik Cina muncul di Indonesia beberapa dekade setelah pengaruh batik Belanda hadir. Motif-motif Cina di antaranya adalah naga-naga yang indah, phoenix, ular, singa dan bunga-bunga. Terlihat kontras dengan motif Jawa yang serba biru dan coklat redup, apalagi batik Cina memakai warna-warna pastel yang cemerlang. Sekarang ini batik Cina banyak dibuat oleh orang-orang Miao di perbatasan Cina Selatan. Mereka membikin batik rami dan katun untuk membuat rok, jaket, baju kerja dan gendongan bayi.
Pertama dan terpenting dari batik adalah memang sarung. Sarung adalah jenis kain batik paling popular dan dikenal secara luas. Ia bisa dibelitkan di pinggang sebagai penutup di pantai, dipakai sebagai rok, gaun atau selendang dan lain sebagainya. Kalangan perempuan memakai sarung secara resmi atau pun tidak, dan sarung juga digunakan di sekitar rumah oleh para lelaki di sejumlah negara.
Bagian penting lainnya dari batik adalah selendang. Fungsinya lebih dibutuhkan sebagai aksesori. Selendang yang bentuknya panjang itu, hanya secarik kain tipis yang juga bisa digunakan menghias kepala dalam beberapa cara. Selendang juga sering digunakan sebagai kain gendongan bayi, diikat di sekitar leher seperti ambin, dan si bayi duduk aman dan nyaman, saling intim dengan hati bundanya.
Pria Jawa memakai penutup kepala untuk suatu pertemuan resmi.Yang disebut ikat kepala (atau blangkon dalam bahasa Jawa). Blangkon bisa diikat dengan berbagai cara untuk membentuk ikat kepala yang menggambarkan usia, tingkatan, kepercayaan dan identitas suku.
Media batik juga dibuat untuk karya kemeja yang indah, dasi dan syal. Sandal batik yang sangat atraktif kini banyak pula yang telah memproduksinya. Dan, masih banyak lagi manfaat batik lainnya, termasuk untuk kehidupan rumahtangga sehari-hari.

Flora dan Fauna

Batik adalah produk kerajinan yang terbilang purba, yang telah ada sejak 2000 tahun silam. Batik berkesinambungan dipelajari di Jawa selama berabad-abad. Hingga kemudian teknik membatik dikenal di seni dan kerajinan Eropa.
Batik semakin digemari saat ini, ditegaskan oleh metode pemakaian desain warna pada tekstil dengan proses wax tanpa teknik pecelupan lagi. Fakta-fakta dari perubahan cara pembuatan ditemukan di beberapa negara di Asia Timur dan Timur Tengah seperti India, Cina, Jepang, kawasan Persia dan Mesir. Namun, pengembangan batik mencapai puncaknya di pulau Jawa, Indonesia.
Selama berabad-abad pengrajin-pengrajin di Jawa bekerja sepenuhnya dalam kesenian, merefleksikan kebudayaan dan kepercayaan di daerah mereka dalam kekayaan warna dan detil desain pada kain. Desain tradisional tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi lain dan sebagian besar bersumber dari flora dan fauna di sekeliling mereka. Pengerjaan kain batik seringkali menggambarkan sastra klasik Jawa. Berbagai sebutan menandakan karya batik selalu dipandang sebagai baju yang elok. Pakaian batik dahulu adalah kain resmi dari kalangan ningrat.
Petani perempuan menenun kain tetapi istri-istri para ningrat mengerjakan batik. Mereka (istri-istri ningrat) mempunyai waktu luang, dan memiliki tangan lembut yang dibutuhkan dalam pengerjaan batik. Sementara para pelayan bertugas dan bertanggung jawab dalam pekerjaan rumah tangga.
Seperti nyonya-nyonya Jepang yang tekun membuat rangkaian bunga artistik. Demikian pula yang terjadi sekarang, wanita-wanita di Jawa menekuni batik dengan pengembangan seni berkualitas. Corak desainnya terdiri dari flora, kupu-kupu dan burung.

Kebebasan Artistik
Industri batik masih tetap hidup hingga hari ini. Meski umumnya kini produksi massal batik dikerjakan dengan mesin, akan tetapi tetap batik buatan tangan masih dilakukan di sejumlah wilayah dunia. Di situlah letak pasar yang sesungguhnya untuk kain bermutu tinggi itu.
Mungkin batik bisa tetap popular saat ini karena nilai kebebasan artistiknya.Desain batik hadir dari keinginan kuat para pengrajinnya. Batik adalah sangat tahan lama, lebih tahan luntur dibandingkan kain cetakan karena melalui proses celup. Proses tersebut membikin kain menyerap warna secara baik, dan warna tidak mudah menjadi pudar.
Pemain-pemain utama dalam industri batik berada di Malaysia dan Indonesia. Batik menjadi kostum resmi di Malaysia sejak sekian lama. Industri batik juga tumbuh subur di Thailand, Filipina dan sebagian pelosok dunia lainnya.
Teknik membatik yang pertama dikenal sebagai dekorasi di lingkup kerajaan. Kini telah meluas sampai ke panggung fashion, perkantoran dan berbagai kesempatan resmi. Desainer mulai memasukkan batik menjadi pakaian sehari-hari, bukan hanya di negara-negara Asia, tetapi di seluruh dunia.

Kain Bermotif
Pengembangan batik terus terjadi, namun memang sudah tidak mau terbatas dengan corak membatik pada umumnya. Seperti Batik Kristiati, misalnya, yang pusat produksinya di Pekalongan (dengan 60 perajin dan tiga koordinator) mengaku tidak mau terkonsentrasi banget dengan batik Pekalongan. Padahal, batik pesisir semacam di Pekalongan masih lebih dinamis dengan ragam warna yang kesannya cerah seperti batik Cirebon.
Dalam hal motif, mereka tidak memfokuskan diri pada satu ciri saja. Dan, dengan adanya kain tenunan kerancang yang telah bermotif jadi lebih membantu mereka. Membatik bagi mereka, sekarang sudah bukan pekerjaan rumit lagi. Pilihan kombinasinya juga bisa sederhana, karena kain bermotif itu sudah bisa berbicara langsung. Bila dipaksakan dengan tambahan motif lain, ditakutkan malah menjadi terlalu padat atau motifnya malah jadi berantakan.
Kelompok pengrajin batik yang juga punya tempat produksi di Cirebon itu, juga menentukan pilihan desain sendiri. Yang penting bisa dinikmati, karena kalau desain berlebihan bisa mengurangi arti dari seni batik Namun, teknik potong dan menjahit harus tetap dikuasai.
”Kami menyeket sendiri sesuai dengan kemauan. Ada unsur modern. Warna dan gambarnya ditentukan dan disusun sesuai dengan keinginan dan tren yang sedang disukai konsumen Jakarta,” ungkap Euis Krustiati (Batik Kristiati), mantan kepala perpustakaan yang kini menekuni batik.
Apalagi mengenai warna, kita harus bisa menangkap tren yang terjadi, sambungnya. Pilihan tren sekarang, menurut Euis, adalah warna merah kombinasi.
Apa yang paling dicari orang, kebanyakan memang sarung dan selendang batik. Pada bagian ini ada pilihan dua selendang (untuk pagi dan sore) dan sebuah sarung. Atau pun satu sarung saja, yang bisa dipadu dengan atasan t-shirt, kemeja dan kombinasi multifungsi.

Kekayaan Indonesia
”Perhatian pembeli tetap tinggi, sebab batik sebagai bagian kekayaan Indonesia. Dan diperhatikan karena nilai seninya. Sayangnya, pengaruh serangan teror terhadap WTC membuat pembeli warga asing menurun. Akibat banjir juga mengurangi daya jual,” ujar ibu yang membuka usaha batik sejak 1994 itu.
Awal usahanya itu dibangun bersama pihak keluarga suami yang rata-rata adalah pengrajin batik. Kini, Euis telah mempunyai dua gerai pemasaran di Sarinah Thamrin, Jakarta dan di Sarinah Bandung. Yang umumnya dijual Kristiati di sana adalah pakaian jadi berupa kebaya, kemeja gaun, dan juga sarung.
”Para pecinta batik, biasanya mengerti batik. Maka kualitas tetap harus dijaga dan ditingkatkan agar tidak monoton,” katanya.
Adapun bahan baku yang digunakan Batik Kristiati antara lain sutera, sutera tenun/pabrik, katun, sifon, organdi (untuk selendang dan kebaya) dan belacu.
Panduan harga jual untuk media eksklusif kain ATBM (alat tenun bukan mesin) yakni antara 1 ? - 4 juta rupiah (selendang/kain). Selendang dan kain yang mahal biasanya memakai bahan kerancang dan berteknik tenun. Kain berbahan tenunan dan sulaman dihargai sebesar Rp 4.000.000.
Kemeja batik katun dihargai Rp 75.000, dan yang berbahan ATBM dijual seharga satu juta rupiah. Baju-baju wanita dijualnya seharga 300 ribu – 8 juta rupiah. ”Pakaian wanita yang mencapai 8 juta (rupiah), umumnya kebaya,” dijelaskan Euis.
Sedangkan celana komprang berbahan katun atau rayon dijualnya dengan harga 150 ribu rupiah. Kalau ingin dilengkapi syal, Anda mesti menambah dengan kisaran harga seratus ribu rupiah. Dan, bila hanya ingin dipadupadan dengan atasan t-shirt (batik tulis atau cap), Anda cukup menambah dengan Rp 75.000 saja.

Kebutuhan Utama
Di jajaran desainer fashion Indonesia, batik masih menjadi kebutuhan utama. Demikian banyak nama perancang yang memperhatikan kepentingan Batik bagi ajang fashion nasional, seperti halnya Ramli. Ramli adalah salah seorang desainer yang telah membuat desain batik sendiri, dan dibuat untuk menjadi pasangan busana-busananya yang berbordir.
Menurut Ramli, batik bisa dipakai untuk baju-baju rancangan dan desainnya, di samping dapat digunakan untuk padanan busananya. ”Batik bisa dimodifikasi seperti kebaya, kebaya encim atau lainnya,” tambahnya.
”Bagi saya, batik itu sangat penting sekali artinya, karena dapat digunakan untuk menjadi pasangan rancangan busana saya,” kata penggemar batik motif pesisir dan klasik itu.
Dan, tentang penggabungan unsur kontemporer dan batik yang sudah dilakukan beberapa desainer. Ramli sangat setuju, namun semua itu tetap tergantung pada desain busana yang dibuat. Sedap di pandang dan nyaman dipakai tetap menjadi kunci pertimbangan yang mantap.

Sumber : (john js) Sinar Harapan

Batik Belum Pasti dari Jawa

Sunday, March 3rd, 2002

Kata batik memang berasal dari bahasa Jawa. Kata ini pun sudah menjadi kata yang diadaptasi ke berbagai bahasa dunia. Namun hingga sekarang belum bisa dipastikan batik yang asli berasal dari negara mana. Para arkeolog menemukan bukti tentang orang-orang Mesir dan Persia yang memakai pakaian batik, namun lewat bukti serupa bisa juga dibilang orang India, Cina, Jepang dan banyak negeri lain di Asia Timur.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan kepastian asal-muasal batik. Namun tetap tidak bisa menyisakan keraguan. Meski kain batik telah ditemukan di Mesir pada tahun 500.
Bila benar berasal dari Mesir, memang akan begitu mudahnya menyebar ke Afrika dan Persia. Sesudah itu melalui berbagai arah bisa menuju Asia Timur, dan beradaptasi dengan sentuhan individu dari masing-masing negara.
Studi penelitian di dalam kesimpulan terbalik lebih memperkirakan bisa menemukan asal batik di Indian Archipelago.
Pencarian asal mula batik mulai kehilangan arah dalam kabut sejarah, tanpa catatan berarti. Beberapa arkeolog menemukan peninggalan batik yang terjadi di awal abad ke-10. Sisa keruntuhan kuil-kuil mengingatkan kembali ke sekitar abad ke-13, di saat menyaksikan fragmen figur batu memakai pakaian yang berdekorasi motif-motif kuat yang ditiru sarung keluaran abad- 20 dalam corak dan dekorasinya. Menurut fakta yang ada, batik telah mencapai Jawa pada abad- 12, sebagai bagian penting dari kebudayaan dan ekonomi Indonesia.
Pada awalnya, batik hanya sekadar hiburan dari para istri di kraton Jawa. Namun kemudian mulai berubah menjadi bagian status sosial, hingga menjadi kostum nasional yang dipakai oleh perempuan dan lelaki.

Sumber : (jjs) Sinar Harapan