Archive for February, 2002

Limbah Batik Mengganggu Pengolahan Limbah Rumah Tangga

Thursday, February 21st, 2002

Limbah home industry (industri rumah tangga) batik dikhawatirkan mengganggu proses pengolahan limbah rumah penduduk. DPRD diminta ikut mencarikan solusi terhadap maraknya perkembangan industri batik di Kota Solo.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama (Dirut) Tirta Dharma Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surakarta, Abimanyu, di sela-sela kunjungan kerja Komisi D DPRD Surakarta ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Semanggi, Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/2). Kunjungan tersebut dilakukan Sekretaris Komisi D, Bandung Joko Suryono, didampingi anggotanya, Bambang Rusiantono.

Abimanyu menjelaskan, sejumlah industri rumah tangga batik seperti di Laweyan,
Sondakan, dan Premulung, hingga kini belum memiliki pengolahan limbah sendiri. Akibatnya, mereka seenaknya membuang limbah cair obat membatik itu.

Ia mengatakan, peralatan sistem aerasi yang diberikan oleh Proyek Pengembangan Permukiman (P2P) Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah tidak mampu mengolah limbah batik. IPAL yang dibangun senilai Rp 35 milyar itu membutuhkan obat tertentu untuk mengolah limbah industri batik.

“Seharusnya pengusaha industri batik berpotensi kecil itu mengolah dulu limbahnya bersama-sama. Misalnya, 5-10 pengusaha membuat sendiri teknik pengolahan limbah,” ujar Abimanyu.

Bandung menuturkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang diwakili Kantor Dinas Lingkungan Hidup seharusnya memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah industri.

Sumber : (sto) Kompas Cetak, Solo

Pameran “Batik of Change” Disambut Hangat Masyarakat Hannover

Monday, February 4th, 2002

Pameran dan peragaan busana batik berskala internasional, yang digelar di Hannover, Jerman, 1-2 Maret 2002, disambut hangat masyarakat setempat. Hal tersebut ditandai dengan membludaknya jumlah pengunjung yang hadir.

Pameran bertema “Batik of Change” tersebut, menampilkan rancangan dari Indonesia dan berbagai hasil karya para perancang mode, koleksi, dan lukisan motif batik dari 28 negara di kawasan Eropa.

Kapala bidang Penerangan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hamburg, Eddy Basuki, kepada Antara, Minggu, mengatakan para pengunjung masyarakat Jerman umumnya tertarik oleh berbagai corak batik, baik modern maupun klasik.

“Para perancang asing yang hadir langsung pada acara pembukaan
yakni dari Indonesia, Jerman, Belgia, Austria, Denmark, dan Jepang. Dari Indonesia diwakili perancang mode Carmanita dan Ardiyanto Pranata, sementara dari Jerman diwakili perancang mode terkenal Erika Knoop,” kata Eddy Basuki.

Para perancang mode dari negara-negara Eropa lainnya hanya
mengirimkan hasil karyanya untuk ditampilkan pada pameran dan
peragaan busana tersebut, demikian pula para perancang Indonesia
yang tidak bisa hadir pada acara pembukaan tersebut, antara lain
perancang busana Linda Kaun, Agus Ismoyo, Nia Fliam, Winoto Sastro, Afif Syakur, Soemihardjo, dan Hambardjan.

Selain busana batik, Indonesia juga menampilkan lukisan-lukisan
batik dari pelukis kondang Amri Yahya yang mengundang decak kagum
para pengunjung.

Selama berlangsungnya pameran, juga diisi dengan ceramah dan
penayangan mengenai seluk-beluk batik serta pagelaran musik gamelan.

Pameran batik tersebut terselenggara atas upaya Ny.Brigitte
Willach, seorang warga Jerman yang juga pencinta dan kolektor batik, bekerjasama dengan “Handwerkskammer (Dewan Pengrajin) kota Hannover.

Konjen RI Hamburg, I.B.Putu Djendra, dalam sambutannya saat
membuka pameran tersebut menyatakan harapannya agar para pengunjung masyarakat Jerman dapat lebih mengenal Indonesia melalui pameran batik tersebut.

Sumber : (Ant/eh) Kompas Cetak

Semangat Keimanan pada Ragam Hias Batik Pesisir

Sunday, February 3rd, 2002

Judul: Batik Pesisir: Melacak Pengaruh Etis Dagang Santri pada Ragam Hias Batik,
Penulis: Hasanudin,
Penerbit: Kiblat Buku Utama,
Cetakan : I, Agustus 2001,
Tebal: 364 hal.,
Harga: Rp 39.000,-

BATIK pesisir adalah batik dengan ragam hias khas daerah pesisir utara Pulau Jawa. Batik ini dianggap sebagai salah satu produk seni rupa tradisional Islam yang memantulkan semangat keimanan secara esensial. Daerah-daerah yang terkenal dengan batik pesisirnya antara lain Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Rembang, Juwana, Lasem, dan Tuban.

Usaha dan perdagangan batik pesisir banyak dikelola oleh masyarakat dari golongan haji atau wong kaji, yaitu orang yang telah melaksanakan ibadah haji. Sebagai orang alim (santri), terhormat, dan bermodal, wong kaji dijadikan sebagai tempat untuk bertanya mengenai segala hal termasuk usaha pembatikan.

Untuk menjalankan roda usaha, golongan santri menempatkan tauhid sebagai landasan bisnis pembatikan. Tauhid merupakan landasan iman yang berhubungan erat dengan keyakinan terhadap Allah SWT. Selain digunakan dalam pengelolaan usaha, tauhid juga menjadi pedoman etos dagang mereka. Nilai-nilai keislaman dalam etos dagang santri mencakup iradah, amanah, ikhtiar, ilmu, amal, dan tawakal. Kesemuanya ini saling terkait satu sama lain.

Semangat keimanan Islam juga tercermin dalam proses penciptaan bentuk ragam hias batik pesisir. Bentuk yang dihasilkan adalah bentuk ragam hias yang tidak menimbulkan syirik, seperti kaligrafi Arab, bentuk geometris, flora, fauna, pola diagonal, ceplok, pemandangan alam, alam benda, mitologi, tambal, sekarjagat, dan pola pinggir.

Buku ini semula merupakan sebuah tesis yang ditulis oleh seorang pakar tekstil yang lahir di “kota batik” Pekalongan, Jawa Tengah, dari keluarga pembatik. Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap batik, penulis mendirikan pendidikan perbatikan untuk kalangan terbatas di tengah-tengah kesibukannya mengajar di sebuah perguruan tinggi.

Sumber : (Titis SD, Litbang Kompas ) Kompas Cetak, Jakarta