Busana Batik untuk Hari Raya, dari Kreasi Desainer sampai ATBM
BATIK menjadi salah satu ciri khas Indonesia. Bahkan menjadi kebanggan, karena batik Indonesia punya keistimewaan dalam motif, warna, dan cara pembuatannya. Busana batik ini sering dipakai pada hari raya Lebaran dan Natal.
BEBERAPA tahun belakangan ini para produsen batik Indonesia merancang busana batik mengikuti tren mode. Sehingga para konsumen tidak lagi menganggap batik sebagai busana tradisional yang khusus digunakan untuk kesempatan resmi. Untuk santai pun ternyata batik bisa juga dipakai.
Seperti yang dilakukan PT Batik Danar Hadi. Dalam merancang busananya perusahaan ini menjalin kerja sama dengan beberapa perancang Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengangkat citra batik menjadi busana yang tidak ketinggalan zaman.
“Kerja sama dengan perancang ini telah dilakukan saat Batik Danar Hadi membuka cabangnya di Jakarta pada 1975. Bapak Santoso (pemilik Danar Hadi — Red) yang pertama kali punya ide untuk melakukan kerja sama tersebut,” ujar Sjamsidar Isa T, Promotion & Public Relations Manager PT Batik Danar Hadi.
Menurut Cami, panggilan akrab Syamsidar, untuk pertama kalinya batik Danar Hadi (DH) menggalang kerja sama dengan Prajudi. Dan sampai saat ini sudah banyak perancang yang mendukungnya, antara lain Ghea S Panggabean, Stefanus Hamy, Itang Yunaz, Denny Wirawan, dan Yongky Budi Sutisna. Produk koleksi para perancang ini diberi label Danar. Sedangkan produk regulernya diberi laber Danar Hadi.
“Sampai saat ini batik Danar Hadi dapat bertahan karena selalu coba mengikuti tren, baik dari model maupun warna. Namun tetap tidak melupakan ciri khasnya sebagai batik,” jelas Tami.
Peragaan setiap bulan
Setiap sebulan sekali batik DH selalu mengadakan peragaan busana. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan pada para pelanggannya.
“Bisa dibilang kami selalu mengeluarkan motif dan warna baru setiap bulannya. Sehingga untuk memperkenalkan pada pelanggan akan lebih bagus diperagakan dari pada hanya dipajang saja,” ungkap Cami.
Menurut Cami setiap kali diadakan peragaan busana, secara tidak langsung meningkatkan omzet penjualan. Karena biasanya para pelanggan akan langsung tertarik untuk membeli baju yang diperagakan.
Para peragawati yang memeragakan, setelah berjalan di panggung kemudian mendekati pengunjung sehingga mereka bisa melihat dari dekat serta bisa memegang langsung baju yang diperagakan.
Seperti yang dilakukan pada akhir pekan lalu, dalam menyambut hari raya, Batik DH menggelar peragaan busana dengan tema Secret in the Garden. Peragaan busana akhir tahun kali ini menampilkan rancangan karya dari perancang muda Indonesia Yongky Budi Sutisna.
Untuk saat ini, kata Cami, proyek yang sedang digarap adalah membuat baju untuk segmen remaja. Bagaimana caranya agar para remaja juga senang memakai batik tanpa merasa malu atau segan hanya karena takut dianggap seperti orang tua.
“Ini merupakan tantangan terberat bagi kami. Karena remaja sekarang selalu mengikuti tren sehingga mau tidak mau kami pun harus mengikuti selera remaja namun tidak lepas dari konsep batik itu sendiri,” ujar Cami.
Untuk koleksi pakaian remaja, DH antara lain membuat kaos ketat yang dipadu dengan motif-motif batik sehingga mereka tetap bisa bergaya. Sedangkan bahan lebih banyak menggunakan sutera, katun, dan sifon. Motif digunakan yang berkesan ringan seperti motif bunga truntum, lereng, cirebonan dan masih banyak lagi.
Selain busana dan tekstil, DH juga mengeluarkan rangkaian produk rumah tangga (household) seperti taplak meja, sarung bantal kursi, boneka, tatakan piring, sandal, tas, dan boneka.
“Saat ini produk yang paling diminati konsumen adalah kebaya dan baju muslim. Cukup laku dipasaran karena mendekati hari raya,” kata Cami.
Sedangkan untuk ekspansi tempat, kata Cami, saat ini Danar Hadi belum berencana menambah butik atau konter di departemen store karena dirasakan sudah cukup.
Koleksi Parang Kencana
Sementara itu produk batik Parang Kencana memiliki lima koleksi, yaitu Soloan, Cinde, Biru-putih, household dan eksklusif. Untuk koleksi Solon lebih didominasi warna sogan, yaitu warna coklat alami pada kain batik yang didapat dari buah tanaman sogan. Batik sogan sangat identik dengan daerah Yogya.
Sedangkan koleksi Cinde merupakan koleksi batik dengan motif-motif etnik dan lebih banyak menggunakan tren warna Asia.
“Koleksi Cinde ini memang lebih disuka para ekspatriat dari Jepang dan Singapura. Karena warna-warnanya sangat terang dan berani,” ujar Masruhin, Supervisor Counter Batik Parang Kencana di Pasaraya Grande.
Koleksi Cinde lebih banyak menggunakan payet-payet sebagai aksesori yang ditempelkan pada busana maupun aksesoris seperti tas dan gelang. Sedangkan warna terang yang disediakan antaral lain jingga, ungu, dan coklat muda.
Sedangkan koleksi biru putih, ditawarkan bagi konsumen yang menyukai warna biru putih. Tidak hanya untuk busana seperti kebaya, kemeja, blus, dan kimono, juga produk interior seperti bed cover, sarung bantal, taplak meja, peralatan makan dengan motif batik yang beraneka ragam.
Menurut Masruhin koleksi Parang Kencana lebih banyak menggunakan kain hasil dari alat tenun bukan mesin (ATBM) baik bahan katun maupun sutera. Dengan cara ini, dihasilkan batik dengan kualitas tinggi karena motifnya dilakukan ala batik tulis.
“Bahan ATBM memang sedang tren pada saat ini, peminat batik cenderung memilih batik dari bahan ATBM. Dari segi harga memang masih tergolong mahal,” tutur Masruhin.
Koleksi terbaru Batik Parang Kencana dalam menyambut Lebaran dan Natal lebih banyak menggunakan bahan viscose dengan motif bunga truntum. Koleksi ini terdiri dari setelan tunik dan celana panjang serta perpaduan tunik dengan kain panjang. Seluruhnya bernuansa warna merah marun.
“Semua ini merupakan rancangan dari tim desainer Parang Kencana. Menjelang hari raya koleksi yang dikeluarkan lebih banyak dibandingkan pada bulan biasa,” jelas Masruhin.
Khusus koleksi kemeja, satu motif biasanya dibuat Parang Kencana hanya untuk satu ukuran, misalnya small saja, atau medium saja. Model yang sama untuk ukuran lainnya, biasanya berbeda motif. Kesannya memang eksklusif, namun menjadi kesulitan tersendiri bagi konsumen. Suka motifnya, tak ada ukurannya. Untuk yang bertubuh lebih kecil dari ukuran kemeja yang disukai, Parang Kencana memberikan servis memperkecil baju tanpa dipungut biaya.
Masih sepi
Dua minggu memasuki Ramadhan belum nampak ada peningkatan penjualan. Bila dibandingkan tahun lalu sangat jauh berbeda keadaannya. Kalau tahun lalu awal puasa para konsumen sudah mulai borong baju, tetapi sekarang ini belum terlihat.
“Tapi sepertinya semua konter merasakan hal yang sama. Apalagi menjelang hari raya, biasanya konsumen akan lebih mementingkan belanja bahan pokok dari pada baju. Kemungkinan sua minggu sebelum Lebaran baru mulai ramai,” kata Masruhin.
Diperkirakan, saat menjelang lebaran omzet penjualan di satu konter Parang Kencana bisa mencapai Rp 300 juta per bulan, sedangkan pada bulan biasa hanya Rp 200 juta per bulan. Berhubung Pasaraya Grande mengadakan program diskon, maka Parang Kencana juga memberlakukan diskon sebesar 20 persen.
Sementara, untuk akhir tahun, Danar Hadi menawarkan potongan harga sebesar 20 persen hingga 70 persen. Untuk koleksi busana dan tekstil yang sudah lama, diskon bisa mencapai 50-70 persen, yan ditempatkan pada areal tertentu. Sedangkan diskon 20 persen berlaku untuk semua produk, termasuk juga koleksi terbaru dari para perancang. Diskon ini berlangsung sampai akhir Desember.
Harga yang ditawarkan untuk produk rumah tangga berkisar Rp 25.000-320.000, kemeja pria berkisar Rp 64.500-1 juta, blus wanita Rp 119.000-159.000.
Sumber : (dam) KCM
January 19th, 2007 at 11:31 am
Salam,
Saat ini saya sedang mempelajari motif2 batik tradisional, khususnya motif dari Yogyakarta. Dari beberapa sumber saya menemukan beberapa kelompok motif batik, di antaranya adalah GANGGONG. Namun dari sumber yang lain sering juga disebutkan adanya motif batik yang disebut GANGGANG. Apakah motif ganggong=ganggang?
September 27th, 2007 at 12:20 pm
boleh minta alamat pembuat parcelnya? trimakasih