Prospek Batik Pekalongan Cerah

Perajin dan pedagang batik tradisional di Kota Pekalongan, selama bulan Ramadhan ini panen. Bisnis batik selama 14 hari terakhir ini cerah, setelah banyak pedagang maupun pembeli memborong batik di pasar grosir. Omzet perdagangan batik di Pasar Grosir Batik Setono, Pekalongan, mencapai Rp 300 juta per hari.

Sejumlah pedagang batik di Setono yang ditemui Jumat (30/11), mengemukakan, dalam sehari mereka rata-rata memperoleh minimal Rp 500.000-Rp 600.000. Kadang kalau yang datang membeli pedagang asal luar kota, bisa untung sampai Rp 3 juta per hari.

“Dua hari lalu, Ibu Gubernur Mardiyanto juga belanja di stan batik sini. Ibu Gubernur memborong pakaian sekaligus menawari perajin batik ikut pasar murah di Semarang, 6 Desember nanti,” kata Suwarto, pedagang batik.

Jenis batik yang diminati pembeli saat ini adalah baju batik sutra kecewa (sutra palsu), baju koko (baju muslim), dan baju batik anak-anak serta celana jins. Rata-rata harga pakaian itu naik Rp 1.000 per potong menjelang Lebaran 2001.

Direktur II Pasar Grosir Batik Setono Pekalongan, Nadhirin CH menjelaskan, puncak penjualan batik paling laris diperkirakan 10 hari menjelang Lebaran. Saat ini, kebanyakan pembeli yang datang adalah pedagang luar kota, juga pelancong yang kebetulan melintas di Pekalongan.

Nadhirin mengakui, omzet bisnis batik saat ini cerah, namun secara keseluruhan mengalami penurunan. Penurunan itu bisa dimaklumi setelah pasar grosir batik juga bertambah. Semula hanya dua termasuk di Setono, kini bertambah menjadi lima pasar grosir di Pekalongan dan sekitarnya.

“Jumlah kios dan los di Setono juga bertambah setelah mengalami pengembangan seiring banyaknya permintaan perajin membuka stan di Setono,” ujarnya.

Jumlah los maupun kios kini 204 unit, terdiri delapan kios VIP dengan sewa per tahun Rp 9 juta, enam kios eksekutif dengan sewa Rp 6 juta per tahun. Sisanya los dan kios di pelataran dengan harga sewa relatif terjangkau. Penambahan kios eksekutif dan VIP sudah habis digunakan perajin.

Barang langka

Seperti disaksikan Kompas, Jumat, pelataran parkir di pasar grosir Setono penuh dengan mobil pembeli. Pengunjung yang kebanyakan ibu-ibu dan remaja perempuan itu hilir mudik dari kios ke kios memilih pakaian batik dengan berbagai ragamnya.

Menurut pedagang batik, Ny Jenni, celana jins lokal rata-rata harganya Rp 31.000 per potong. Baju sutera kecewa dijual Rp 32.000 per potong dan baju koko rata-rata Rp 25.000-30.000 per potong. “Baju batik sutera kecewa sangat laris dicari pembeli sampai pedagang kehabisan stok,” ujarnya.

Ny Jenni mengatakan, naiknya omzet perdagangan kali ini disebabkan banyak pedagang yang juga membeli barang di pasar grosir. Sebelum ada pasar grosir, pedagang batik luar kota langsung membeli dari perajin maupun pabrik. Setelah ada pasar grosir, pedagang langsung membeli di sini.

Pedagang lain, Hasanudin menuturkan, penurunan pakaian jadi juga dirasakan setelah agak susah mendapatkan barang dari perajin. Padahal, baju muslim adalah barang yang paling laku menyambut Lebaran kali ini.

Ida Mudlofir (32), pedagang batik di pasar itu mengatakan, tahun lalu pendapatan kotor Rp 50 juta, tahun ini sekitar Rp 15 juta.

Dia memperkirakan, penurunan omzetnya karena jumlah perajin yang membuka stan di pasar grosir bertambah. Dahulu, pesanan habis sebelum barang selesai diproduksi. Pembeli berani membayar setengah harga barang saat batik masih basah. “Kalau sekarang keadaannya enggak seperti dulu,” katanya.

Dalam kesempatan itu, pedagang mengeluhkan kesulitan mereka mencari pembatik tulis. Menurut mereka, order batik tulis sangat besar, namun permintaan itu tidak diimbangi tersedianya pembatik tulis. Order sering lewat begitu saja karena tidak ada tenaga penggarap.

Sumber : (p06/who) Kompas Cetak, Jakarta

Leave a Reply