Fendy Parulian: Di Antara Batik dan Batak
Setelah bereksplor mencari jati diri seninya, akhirnya perancang batik berdarah Batak Fendy Parulian menemukan muaranya.
Karena merasa benar-benar mencintai batik, lima tahun lalu ia memutuskan untuk menggeluti batik sebagai karya seni dan bisnis. Padahal, sebelumnya, selama 17 tahun, berbagai macam aktivitas seni seperti menari dan melukis pernah ditekuninya.
“Saya lebih memilih batik karena bisa memberikan saya kepuasan batin yang tidak saya temui saat saya melukis atau menari,” ucapnya saat ditemui di butik batik barunya yang berlabel Gorga, di Jalan Cibeber I no 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (26/11).
Dipilihnya Gorga sebagai merk dagang dan nama butiknya, kata Fendy, bukan lantaran supaya terdengar gaya. Tapi, filosofi yang dalam terkandung pada Gorga. Gorga adalah ukiran-ukiran pada rumah adat Batak, yang bermakna delapan penjuru angin. “Saya berharap semoga batik tulis saya bisa ke mana-mana,” ujar lelaki yang mengaku banyak belajar dari master batik Iwan Tirta.
Meski pengaruh budaya Batak kuat melekat pada dirinya, Fendy mengaku dalam karyanya ia tidak mau bersifat kedaerahan. Malah, sedikit banyak, karyanya dipengaruhi oleh corak batik pesisir, seperti Cirebon, Lasem dan Pekalongan.
Ciri batik Gorga, terang Fendy, terletak pada warna dan bahannya yang diambil dari unsur alam yang selalu berubah dinamis. “Sayang, bahannya, 100 persen sutra asli, dari empat sampai lima jenis benang sutra, sulit saya dapatkan di sini. Saya mendapatkannya dari India dan Pekalongan,” ungkap Fendy seraya menambahkan bahwa proses pembuatan sehelai kain batik Gorga bisa menghabiskan waktu dua sampai empat bulan.
“Mengerjakan batik harus dengan perasaan. Makanya, saya tidak mau terima order untuk mengerjakan batik,” tegas Fendy. Lantas, benarkah Megawati merupakan salah satu pelanggan setia karyanya yang berharga jutaan rupiah per lembar? “No comment, pokoknya saya tak akan pernah menyebutkan siapa saja yang jadi pelanggan saya,” tukasnya gesit.
Sumber : (eh) KCM, Jakarta