Berburu Batik Pesisiran
Pekalongan punya karya, Solo dan Yogya punya nama. Ungkapan itu tepat untuk menggambarkan betapa merambahnya produk batik Pekalongan ke toko-toko batik di Solo dan Yogya.
Tidak percaya? Cobalah mengutak-atik lembaran kain kemeja yang terpajang di sentra perdagangan batik Solo maupun Yogya. Dengan mudahnya, ditemukan batik buatan Pekalongan, bergelantungan di antara batik lokal Solo dan Yogya. Mulai dari yang berbahan blacu, mori, katun, hingga sutra.
Saat mencari batik, biasanya wisatawan domestik maupun mancanegara tidak peduli apakah itu buatan Solo atau Yogya. Yang penting, ketika tiba kembali di daerah maupun negara asalnya, mereka bisa dengan bangga mengklaim telah membeli buah tangan khas Solo maupun Yogya. Maka, di mata orang kebanyakan, berkibarlah nama Solo dan Yogya, sementara Pekalongan tidak begitu populer.
Bagi pengusaha batik Pekalongan, itu tidak masalah. Toh, yang mereka kejar bukanlah nama, melainkan uang. “Yang penting, order terus mengalir, dan kami tetap bisa memberi nafkah kepada pekerja dan ratusan tetangga yang terlibat dalam usaha ini,” tutur Hj Juariyah (58), pengusaha batik di Wiradesa, Pekalongan.
Juariyah yang mengaku pelanjut dari usaha orangtuanya, setiap pekan mengirim 15-20 kodi produk batik ke Solo maupun Yogya. Di antaranya ke Galeri Batik Keris dan Danarhadi. Ratusan bahkan ribuan pengusaha lainnya juga secara rutin melempar produknya ke berbagai kota. Pemesanan mencapai puncaknya menjelang Ramadhan hingga Lebaran, dan Natal.
Untuk kemeja batik tulis dari bahan sutra, mereka mematok harga rata-rata Rp 200.000 per lembterpaksa membatasi jalur masuk ke areal yang dijadikan jarahan itu dengan penempatkan petugas keamanan, baik dari Polres Barut maupun satpam perusahaan.
Sumber : (tap) Kompas Cetak, Jakarta
July 24th, 2007 at 1:30 pm
Pekalongan memang pantas menyandang Kota Batik. Batik menjadi icon masyarakatnya di semua lapisan. Tidak seperti batik Yogya dan Solo yang berkembang dikalangan menengah atas “Keraton”. Maju Pekalongan
Bandung, 24 Juli 2007