Batik Sutra dengan Filosofi Gorga
Wednesday, November 28th, 2001 Kain batik merupakan wujud kekayaan budaya Indonesia yang meyimpan pesona dan nilai luar biasa. Inilah yang mendorong putra kelahiran Batak Fendy Parulian Simanjuntak menciptakan batik yang diberi label Gorga.
Ciri khas Batik Gorga ini terletak pada corak atau motif batik yang banyak mengambil dari motif batik Solo, Pekalongan, Cirebon, dan Lasem. Ini ditambah lagi dengan keberaniannya memberi warna berbeda untuk setiap karyanya. Fendy selalu menggunakan warna dari unsur alam, seperti cokelat tua, biru, jingga, atau merah bata. Kehadiran warna cerah sangat erat kaitannya dengan momentum kapan batik itu dibuat. Bisa dibuat pagi, siang atau sore hari, demikian pula sebaliknya dengan warna gelap.
Warna-warna batik Gorga yang khas memang sangat dipengaruhi latar belakang pengalaman hidup Fendy yang lama tinggal di daerah pesisir yang sangat kuat dipengaruhi warna dan ragam hias dari Cina serta Eropa.
Meski karyanya banyak dipengaruhi motif Solo dan daerah pesisir, Fendy mengaku ide bisa datang dari mana saja dan tidak terpatok motif tertentu. Seperti halnya istilah Gorga–yang diambil dari ukiran-ukiran indah yang terdapat di rumah adat Batak. Salah satu dari ornamen ini menjadi filosofi Gorga yang mempunyai makna delapan penjuru mata angin, yang diumpamakan Fendy dalam berkarya bisa mengerjakan motif apa pun.
Ini sesuai dengan filosofi batik, mengalir bagaikan air, demikian pula filosofi Fendy dalam berkarya. ”Saya membuat batik apa saja yang saya suka, kapan saja. Saya tidak mau terikat dengan motif dari satu daerah saja,” kata Fendy saat pembukaan butik batik Gorga di Jl Cibeber I No 1, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin malam kemarin (26/11). Fendy mulai merintis usahanya di dunia batik sejak 1995 dan melakukan observasi selama satu tahun di sepanjang Pulau Jawa, Madura dan Jambi. Hingga akhirnya di tahun 1996, ia memutuskan untuk membuka pabriknya di Cirebon.
Dalam berkarya, Fendy juga pantang mengulang karya yang sama apalagi menjiplak motif orang lain. ”Paling banyak satu motif saya buat tiga setel. Setelah itu, saya tidak akan membuat motif yang sama,” kata perancang yang karyanya pernah dijiplak habis-habisan di Tanah Abang.
Ciri khas batik Gorga lainnya adalah semua batik dibuat secara tulis dengan tangan. Batik Gorga juga selalu menggunakan bahan sutra asli yang memadukan antara empat hingga lima jenis benang sutra yang berbeda agar menghasilkan warna yang berbeda pula. Benang yang dipakai bervariasi, mulai dari benang India, Jawa dan Sumatra.
Benang yang dipilih juga istimewa, bisa dicuci dengan tangan. Selain itu, berbeda dengan batik-batik pada umumnya yang berbau malam, batik Gorga sengaja dicuci dengan menggunakan zat kimia tertentu untuk menghilangkan bau malam yang menyengat. Tak aneh jika proses pembuatan batik Gorga memakan waktu antara dua hingga empat bulan, tergantung motif dan warna.
Yang juga menambah nilai plus batik Gorga, Fendy selalu memikirkan agar kain batik yang diproduksinya bisa dipakai berulang-ulang dan tetap terkesan trendy, mengikuti tren busana. ”Saya tidak terpengaruh trend, tapi untuk urusan warna saya memang mengikuti tren supaya orang mau terus memakai batik. Makanya saya cenderung menggunakan multiwarna antara tiga, tujuh atau delapan warna sekaligus dalam batik saya,” tandas Fendy yang mengaku belajar batik secara otodidak dan dari para perajinnya yang tersebar di berbagai daerah di Jawa.
Sumber : (din) Sinar Harapan, Jakarta
Pekalongan punya karya, Solo dan Yogya punya nama. Ungkapan itu tepat untuk menggambarkan betapa merambahnya produk batik Pekalongan ke toko-toko batik di Solo dan Yogya.