Mendapat Saingan Di Pasar Internasional - Malaysia, Jepang dan Inggris Produksi Batik
Pangsa pasar bisnis batik Indonesia semakin mendapat persaingan di pasaran internasional. Sejumlah negara malah sengaja mengadopsi kerajinan batik, bahkan memakai proses membatik Indonesia, sehingga batik dari negara-negara tersebut hampir sama dengan batik Indonesia. Demikian dikemukakan Direktur Kerajinan Ditjen Industri dan Dagang Kecil (IDKM) Depperindag, Edith Ratna di sela Pameran Batik Nusantara di Jakarta, Senin (29/10).
Sejumlah negara yang mengadopsi kerajinan Batik Indonesia, khususnya proses pengerjaannya antara lain, Malaysia, Jepang dan Inggris. Namun dari segi desain, batik Indonesia masih unggul.
Menurut Edith, keragaman budaya nusantara merupakan keunggulan Batik Indonesia di pasar internasional. Terutama karena desain dan motifnya menjadi beranekaragam sebagai ekspresi hasil seni dan budaya. Namun hal itu hendaknya tidak membuat pengrajin dan pengusaha batik lengah. Perajin dan pengusaha batik harus tetap mengembangkan mutu dan desain agar lebih mampu bersaing di pasar global.
“Saya optimis ekspor batik akan tetap meningkat tahun ini meskipun secara keseluruhan ekspor TPT (tekstil dan produk tekstil) nasional diperkirakan turun, karena ciri khas corak Batik Indonesia yang sudah dikenal pasar dunia,” ujarnya.
Disebutkan, tahun 2000 nilai ekspor batik mencapai US$ 322 juta atau naik sekitar 32,5 persen dibandingkan tahun 1999 yang mencapai US$ 243 juta. Pasar utama Batik Indonesia antara lain Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.
Sampai kini, lanjutnya, sebagian besar produksi Batik Indonesia masih mengandalkan pasar dalam negeri, walaupun minat pemakaian masih rendah. Harga kain batik itu sebetulnya tidak mahal. “Di sini saja harganya ada yang Rp 25 ribu sampai Rp 8,0 juta/ potong, tergantung konsumen mau pakai batik yang mana. Orang Afrika saja menyukai Batik kita,” katanya.
Sumber : (kbn) Sinar Harapan, Jakarta