Batik Gajah Uling Semakin Terdesak
Batik khas Banyuwangi, yang dikenal bermotif gajah uling, semakin terdesak. Berbeda dengan batik Solo, batik Yogya, atau batik Cirebon, batik gajah uling masih dijual di pasar lokal, belum banyak merambah pasar nasional maupun global. Kian hari, jumlah pengrajin batik gajah uling pun semakin menurun dikarenakan profesi ini dianggap tidak terlalu menjanjikan.
Pengrajin batik gajah uling Sayu Wiwit, Soedjojo Dulhadji, Kamis (25/10), menjelaskan, ada berbagai kendala mengembangkan batik Banyuwangi agar setara dengan batik Solo atau batik Yogya. Kendala itu menyangkut sumber daya manusia, modal, dan dukungan pemerintah.
Persoalan minimnya modal menjadi masalah tersendiri. Hal itu terutama dirasakan setelah terjadinya krisis moneter. Akibat dari naiknya bahan baku yang mencapai empat kali lipat, perajin batik Banyuwangi yang sebagian besar merupakan industri kecil kelimpungan. Produksinya pun merosot tajam.
Perhatian pemerintah, menurut Soedjojo, sudah lumayan baik. Akan tetapi, untuk mengembangkan Batik Banyuwangi lebih berkembang, harus memberi perhatian lebih serius lagi.
Pemerintah sudah memopulerkan pemakaian batik di kalangan pegawai atau sekolah. Tetapi, disayangkan, proyek itu tidak selalu diberikan pada perajin lokal, tetapi terkadang malah diberikan pada perajin Batik di Yogya atau daerah lain. Akibatnya, pengrajin lokal tidak maju dan berkembang.
Populerkan batik
Kepala Subdinas Sarana Pariwisata Kabupaten Banyuwangi Sih Wahyudi mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten Banyuwangi menaruh perhatian besar terhadap pengembangan sentra industri batik yang menunjang sektor pariwisata.
Berbagai upaya untuk memopulerkan batik Banyuwangi juga terus diupayakan. Salah satunya adalah dengan memasyarakatkan pemakaian batik Banyuwangi di kalangan pegawai setiap hari Jumat selepas berolahraga.
Pada tanggal 8 November mendatang, pihaknya juga akan membagikan udeng (penutup kepala khas Banyuwangi) yang bermotif batik Banyuwangi kepada sekitar 140 penarik delman. Tujuannya, selain meningkatkan sektor pariwisata juga melestarikan batik gajah uling agar tetap bertahan.
Sentra batik gajah uling di Kabupaten Banyuwangi terletak di Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi. Jumlah perajin batik yang masih bertahan kurang dari seratus perajin.
Ciri khas motif batik gajah uling adalah memiliki motif gajah yang disimbolkan dengan motif tanda tanya. Selain itu, terdapat motif tanaman sulur, tanaman air yang merambat. Motif lainnya adalah uling, kupu-kupu, dan manggar bunga pisang dengan warna dasar putih.
Setiap lembar batik tulis dijual dengan harga Rp 85.000-Rp 100.000. Sedangkan batik printing dan cap berkisar Rp 12.500-Rp 17.500 per meter. Bahan dasar beraneka ragam, mulai dari mori sampai sutra.
Sumber : (sut) Kompas Cetak, Jakarta
January 20th, 2008 at 11:16 am
jangan mudah menyerah, insyaAllah prodak batik qt akan merambah internasional, skrng bagaimana peranan pemerintah banyuwangi dalam menyikapinya