Peran Budayawan Sama dengan Pejuang
Menteri Pariwisata dan Kebudayaan I Gede Ardika mengemukakan, pada hakikatnya tempat para budayawan sama dengan yang diperankan oleh para pejuang. Ia menyampaikan itu saat upacara penganugerahan Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI kepada KPT Hardjonagoro di pendapa Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (STSI), Sabtu (13/10) malam.
“Oleh karena itu, Satya Lencana Kebudayaan ini merupakan penghargaan dari pemerintah kepada budayawannya yang menunjukkan prestasi pengabdian perjuangan yang tak pernah pantang surut untuk turut memajukan kebudayaan bangsa,” kata Ardika.
Hardjonagoro (70) yang selama ini dikenal sebagai budayawan Keraton Surakarta menerima penghargaan Pemerintah RI tersebut atas jasa-jasa serta pemahamannya yang mendalam terhadap kebudayaan Jawa. Ia dinilai berjasa melakukan usaha pelestarian budaya Jawa, antara lain menyangkut menghidupkan kembali (besalen) keris yang hampir punah di Surakarta, penulisan sastra Jawa, inovasi di bidang batik dan artefak kebudayaan dalam bentuk arca-arca perunggu dan batu dari abad VIII-IX.
Penganugerahan Satya Lencana Kebudayaan tersebut semula dijadwalkan pada 17 Agustus 2001, namun Hardjonagoro minta agar diadakan di Solo. Ia menganggap penghargaan tersebut pada hakikatnya juga dipersembahkan kepada lingkungan yang membesarkannya. Ia menyebut jasa dosennya di Universitas Indonesia (UI), seperti, Prof Poerbatjaraka, Prof Tan Tjoe Sim, Prof Soekmono, serta STSI Surakarta, dan kalangan budayawan Solo.
Batik Indonesia
Hardjonagoro alias Go Tik Swan, yang mendapat pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia di Jakarta, pada tahun 1950-an mendapat kepercayaan dari Presiden Soekarno karena menemukan “Batik Indonesia”. Menurut Soekarno, batik-batik yang ada lebih bercorak kedaerahan, seperti, batik solo, batik yogyakarta, batik pekalongan, batik lasem, dan sebagainya, tetapi saat itu belum ada corak yang “menyatukannya”.
Ardika mengingatkan makna Satya Lencana Kebudayaan sebagai pengakuan atas peran para budayawan dalam turut membangun bangsa. Peran untuk ikut menjaga bangsa agar tetap utuh dan teguh, serta mengagungkan nama Indonesia, “Menghadapi ancaman disintegrasi bangsa, kita perteguh kembali semangat kebhinekaan di bangsa kita, kita ikat dan jalin melalui kebudayaan,” paparnya.
Dikatakan pula, pemberian Satya Lencana Kebudayaan tersebut sekaligus meneguhkan pendapat bahwa kebudayaan adalah salah satu pengikat bangsa ini. “Dengan pendekatan budaya kita rajut kembali dan perteguh mata rantai yang mengikat kebhinekaan bangsa ini dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia mengakui, dalam pembangunan di masa lalu kita kurang memiliki perhatian terhadap bidang kebudayaan. “Kita kurang memberikan perhatian yang lebih dalam bahwa pembangunan bangsa harus dilandasi oleh nila-nilai budaya kita yang agung,” ujar Ardika tegas, “Itulah tantangan dalam pembangunan bangsa. Yaitu kita tak pernah bisa menyampingkan itu hanya semata-mata untuk mengejar perkembangan yang bersifat fisik saja,” tambahnya.
Sumber : (asa) Kompas Cetak, Jakarta