Sejumlah Wisman Keranjingan Membatik di Yogyakarta
Kendati kekhawatiran aksi sweeping masih menyelimuti sebagian wisatawan mancanegara, minat turis Asia terutama asal Jepang untuk menikmati keramahan Kota Yogyakarta, masih tergolong tinggi. Bahkan, sejumlah wisman tetap berminat mempelajari batik dengan mengikuti kursus singkat yang marak bertebaran di Kota Gudeg tersebut.
Tengok saja, sejumlah turis asing masih membanjiri berbagai sentra budaya batik tulis, seperti Tamansari, Prawirotaman, dan Sosrowijayan. Bahkan, para wisman tampak berbaur dengan perajin setempat yang menggeluti rumitnya membuat sebuah karya batik tulis khas Indonesia. Kendati tak berprofesi sebagai perajin, para wisman itu dengan keuletan dan tekadnya berusaha menghasilkan sebuah karya batik.
Ternyata, hasilnya tak kalah dengan perajin lokal. Padahal, mereka hanyalah turis asing yang kebetulan berkunjung ke kota yang berbudaya Jawa itu. Lantas, mereka memuaskan keingintahuannya tentang pembuatan batik dengan mengikuti kursus singkat di wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu.
Menurut Chihoko –turis asal Jepang– kegiatan kursus membatik ini memang marak dan diminati banyak warga asing. Sebab, biayanya tergolong murah, yaitu berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 100 ribu per hari. Bahkan, mereka dapat berlatih mencampur bahan, menorehkan cating ke kain, dan menyempurnakan pewarnaan. Sehubungan dengan hal itu, Sutopo –seorang penyelenggara kursus batik– mengaku setiap harinya menerima lima wisman yang ingin belajar membatik.
Selain menambah pengalaman, para turis itu juga mengaku akan mempunyai kenangan indah sepanjang hidupnya. Pasalnya, karya batik yang dibuatnya boleh dibawa pulang. Apalagi, mereka diberi kebebasan membuat motif-motif sendiri. Sedangkan motif batik yang selama ini ditiru dan menjadi favorit turis asing adalah pengantin dan binatang.
Sumber : (ANS/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta