Yogya Segera Miliki Akademi Batik

Sebagai salah satu pusat industri batik di Tanah Air, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) segera memiliki Akademi Batik yang berlokasi satu kompleks dengan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Bugisan Yogyakarta. Akademi tersebut bertujuan melahirkan tenaga-tenaga ahli desain yang bisa memenuhi tuntutan seni berdasarkan riset.

Ardiyanto Pranata, pengusaha batik dan penggagas akademi tersebut, hari Kamis (4/10), mengungkapkan, saat ini pihaknya telah menyiapkan proposal untuk diajukan ke Menteri Pendidikan Nasional. Ditargetkan, tahun 2002, gagasan tersebut sudah terwujud. “Kami optimistis, karena pihak Keraton, tokoh masyarakat, dan kalangan akademisi dari berbagai disiplin ilmu ikut mendukung,” kata Ardiyanto.

Menurut Ardiyanto, GRAj Nurmalitasari, puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X yang kini aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, termasuk yang ikut membidani lahirnya akademi tersebut. Sedangkan dalam upaya membekali peserta didik dengan berbagai tinjauan filosofis seni membatik, ahli arsitektur dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Laretna T Adhisakti, ikut dilibatkan bersama ahli pertanian, Dr Slamet Sudarmadji. Keterlibatan multidisiplin ilmu akan memperkaya riset tentang motif dan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam membatik.

“Ini titik awal dari penanaman paradigma baru dalam industri batik. Sebagai karya seni dengan pasar yang terus dinamis, desain batik memerlukan riset mendalam. Kita harus meninggalkan tradisi meniru motif dan corak tanpa mempertimbangkan nilai seninya,” ujar Ardiyanto.

Ardiyanto sendiri selaku pengusaha batik yang sudah menembus pasaran global, siap memberi paradigma baru bagi peserta didik. Padepokan batik milik Ardiyanto-seluas 6.000 meter persegi di Jalan Magelang-bakal menjadi work shop.

Wijayanto, salah satu konseptor akademi tersebut, menilai batik merupakan industri yang tetap berprospek cerah dalam era pasar bebas. Asal saja, desainnya tidak latah. Terbukti, usaha batik yang serius tetap bisa berkibar dalam situasi krisis moneter. Sebaliknya, usaha batik yang dijalankan tanpa riset pasar, jadi gulung tikar. “Usaha batik yang latah pasti sulit bersaing di luar negeri, bahkan cenderung merusak pasar domestik,” ujar Wijayanto.

Menurut dia, batik sangat potensial menjadi artefak diskursus sosial. Budaya teknik cetak, motif tutup celup, dengan menggunakan malam dari sarang lebah di atas kain, sebenarnya terbentang dari Mesir sampai Timur Tengah. Artefak teknologi semacam ini juga ditemukan di Turki, India, Cina, dan Jepang. Namun tak ada tempat teknologi di dunia yang mengembangkan teknologi dan motif batik sedemikian kompleks seperti di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Sumber : (nar) Kompas Cetak, Yogyakarta

Leave a Reply