NAMA-nama seperti Bin House, Tenun Baron, Iwan Tirta, Biyan Wanaatmadja, Ghea S Panggabean, dan Carmanita, memiliki tempat tersendiri di luar Indonesia. Mereka membangun nama mereka dengan menggarap dan mengembangkan apa yang berasal dari budaya yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari.
Bin House dan Iwan Tirta menggarap ulang batik, sementara Baron mengkhususkan diri pada tenun. Ghea dan Carmanita mengembangkan motif dan gaya berbusana khas Indonesia menjadi sebuah mode yang menggabungkan antara Barat dan Asia. Biyan membuat sebuah koleksi yang sepenuhnya bergaya Barat, tetapi latar belakang budaya Indonesianya membuat rancangannya tetap memiliki kepekaan terhadap kebutuhan perempuan Asia sehingga bisa diterima di butik eksklusif di Hongkong dan sedang mencoba memasuki Jepang dan Paris.
Penyebutan beberapa contoh di atas untuk menunjukkan di dalam industri mode yang didominasi mode dari Barat, keunikan yang berasal dari budaya lokal memberi nilai tambah. Kain Bin House bisa diterima pasar Jepang, Taiwan, dan Hongkong, yang sangat diminati industri Barat karena mampu menampilkan ciri keasiaan yang sekaligus mengadopsi selera global yang didikte Barat. Baron mengembangkan tenun dengan inspirasi Indonesia tetapi dengan cara pandang baru sehingga kainnya diterima di Paris, London, Milan, New York, maupun kota-kota mode Asia. Begitu juga Ghea yang rancangannya bisa ditemui di Singapura dan Kuala Lumpur, dan juga Carmanita yang produknya ada di Kuala Lumpur.
***
CARMANITA dan Ghea Panggabean adalah contoh perancang busana yang dengan tegas mengambil unsur-unsur budaya di dalam rancangan mereka. Ghea sejak tahun 1980-an mengembangkan jumputan ke dalam mode kontemporer sehingga motif tradisional itu menjadi sangat populer sebagai busana sehari-hari. Setelah itu Ghea yang menyukai segala yang berbau etnik ini mengembangkan berbagai motif etnik, termasuk dari India, Cina Peranakan, dan kini songket Palembang.
Carmanita mengambil motif batik ke dalam rancangan busananya yang kontemporer. Terakhir, ia dengan dukungan DuPont membuat batik di atas serat Lycra. Pada karya perancang ini, sangat kuat perpaduan Barat dan Indonesia, bukan hanya pada motif dan pemakaian bahan, tetapi juga tampilan keseluruhan. Ia misalnya, memadukan antara kain panjang, legging, dan atasan bergaya kasual untuk busana sehari-hari, atau dengan kebaya kontemporer untuk acara yang lebih resmi.
Oscar Lawalata dalam koleksi terbarunya yang dipergelarkan Jumat malam lalu, misalnya, mengembangkan kebaya lebih jauh lagi. Perancang yang punya gaya kontemporer ini menjadikan kebaya sebagai atasan yang dipadankan dengan rok mini. Boleh jadi hal ini akan menakutkan mereka yang masih memegang tradisi, tetapi cara ini akan membuat generasi yang lebih muda melihat sebuah cara pandang baru terhadap busana tradisi masyarakatnya.
Pengembangan dari yang telah ada juga dilakukan oleh Musa Widyatmodjo yang untuk tren mode 2001 mengembangkan kebaya Padang sebagai baju modern. Poppy Dharsono untuk dua kali koleksi tahunannya menggunakan motif batik kawung yang dibuat dari payet. Samuel Wattimena mengambil inspirasinya dari kain tenun dan motif rumah Toraja yang diintegrasikan ke dalam busana yang bergaya Barat. Daftar ini masih bisa diperpanjang dengan nama-nama lain.
Masalahnya, mengambil inspirasi dari sesuatu yang berasal dari sebuah budaya, tidak bisa asal comot. Perlu pemahaman dan riset yang mendalam untuk memahami apa yang akan digarap. Itu sebabnya Iwan Tirta sebagai seniman batik sangat paham jenis motif, besar-kecilnya, arah kemiringan, hingga warna suatu motif batik ketika ia mengintegrasikannya ke dalam busana bergaya Barat maupun kain panjang. Itu karena Iwan mengenal batik hingga ke filosofinya. (nmp) Kompas cetak, Jakarta