Perajin Batik Kain Beralih ke Kayu
Industri kerajinan batik tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Senang Sari, Kecamatan Pajangan Bantul adalah satu pusat kerajinan batik Kota Gudeg yang terkenal sejak awal tahun 70-an. Saat ini, tak kurang dari 787 jiwa warga yang tercatat menggantungkan hidupnya dari seni kerajinan batik. Namun, jumlah perajin batik di daerah berjarak sekitar 15 kilometer barat daya Kota Yogyakarta itu mengalami penurunan
hingga awal 1990-an. Itu membuat sebagian besar perajin menutup usahanya karena tak bisa bertahan hidup.
Namun, ada juga perajin tradisional yang berupaya mencari terobosan. Mereka membuat batik dari kayu seperti topeng, patung, wayang, dan cendera mata lain. Hasilnya terbilang lumayan. Dibanding kain, ongkos pembuatan batik kayu lebih murah. Karena itu produk itu dipasarkan dengan harga yang lebih rendah. Terobosan itu perlahan-lahan memompa gairah perajin untuk menggarap batik kayu tersebut.
Seiring perkembangan batik kayu, sesama perajin dihadapkan pada persaingan tak sehat, terutama sejak pemodal luar ikutan menyuntik modal di bisnis tersebut. Selain, omzet penjualan menukik, mereka juga menghadapi persoalan penjiplakan kreativitas antarsesama perajin. Namun, mereka tetap bertahan meneruskan usaha tradisional tersebut.
Sumber : (TNA/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta