Batik Tidak Mengenal Batas Pengembangan

BATIK tidak mengenal batas penggarapan. Begitu keyakinan mereka yang menerjuni batik secara total. Sebagai ragam hias, batik telah menginspirasi begitu banyak orang bahkan hingga kini. Selalu lahir motif baru yang dikerjakan dengan teknik menahan warna memakai lilin malam, sesuatu yang disepakati oleh banyak pekerja yang bergiat di batik sebagai batik sesungguhnya.

Di luar batik yang dibuat dengan menggunakan lilin malam, motif batik selalu menarik minat untuk memanfaatkannya. Lahirlah batik print yaitu teknik membuat ragam hias menggunakan mesin print dengan meminjam motif-motif batik. Jelas batik print lebih murah dan menjadi saingan terberat batik lilin malam yang teknologi pembuatannya nyaris tidak pernah berubah sejak seabad lalu.

Lalu, bagaimana bisa berharap batik seperti yang kita kenal yaitu yang dikerjakan dengan canting atau cap dan menggunakan lilin malam bisa bertahan melawan produk massal dengan harga murah? Masa depan batik dari sisi komersial pasti bukan pada produksi massal, bahkan untuk batik cap sekalipun.

Seniman batik yang sudah waktunya mendapat penghargaan dari negara karena jasa-jasanya dalam mengembangkan dan mendokumentasi batik ini mengatakan masa depan batik sebagai busana sehari-hari memang tidak lagi kembali seperti masa lalu. Menurut Iwan Tirta yang memiliki pengetahuan tentang batik seperti ensiklopedi ini, batik akan menjadi busana untuk acara khusus, tetapi pada saat bersamaan batik juga akan memasuki banyak peluang lain.

“Batik tulis memiliki keuntungan karena motifnya sangat tidak terbatas, baik dari ukuran maupun macamnya. Motif yang besar-besar di atas kain yang lebar, jelas tidak bisa ditiru oleh mesin printing yang memiliki kendala lebar kain,” kata Iwan.

Meskipun pemanfaatan kain batik tidak akan seperti abad lalu lagi, tetapi batik tetap akan bertahan. Ia akan tumbuh menjadi aksesori dalam bentuk selendang atau scarf. “Scarf batik akan menjadi pelengkap busana ala Barat. Buat banyak orang itu lebih praktis dan bisa dikenakan ke berbagai kegiatan,” kata Iwan Tirta.

Kemungkinan lain, batik akan menjadi elemen penghias rumah, mulai dari sarung bantal hingga wall hanging. Iwan Tirta telah melakukannya antara lain untuk Lagoon Hilton di Senayan, Jakarta. Ternyata, batik sebagai wall hanging pun cukup menarik minat. Ketika Iwan Tirta berpameran di Four Seasons Resort di Jimbaran, Bali, bulan Juli lalu, di antara karya Iwan yang diborong pembeli up market yang menginap di hotel itu adalah wall hanging. “Ada satu orang yang membeli sampai tiga. Katanya untuk rumahnya di Los Angeles, di Paris, dan apartemennya di Hongkong,” tutur Iwan.

***

GUGATAN tentang masa depan batik muncul dari Iwan Tirta juga. Benar bahwa setiap orang boleh mengembangkan motifnya sendiri-sendiri, tetapi lalu apa yang akan membedakan batik Indonesia dari batik negeri-negeri lain.

“Batik Indonesia itu menurut saya memiliki lima ciri yang membedakannya dari batik-batik lain: motif, pakem, proses pembuatan memakai malam, ada filsafat dalam setiap motif, dan ada isen-isen,” kata Iwan Tirta.

Dari kelima hal itu, menurut Iwan yang terpenting adalah pakem yaitu bagaimana ragam hias itu disusun. Pakem terdiri dari bentuk geometris dan nongeometris. Di dalam pakem inilah pengembangan motif batik dengan tidak terbatas bisa dilakukan.

“Banyak perancang menggunakan ide batik pesisir karena mereka merasa lebih bebas yang disebabkan ketidaktahuan mereka pada pakem batik. Sebetulnya, batik pesisir pun memiliki pakem,” tutur Iwan.

Iwan menjelaskan, pemahaman tentang filsafat di balik motif batik sangat penting, terutama untuk batik-batik daerah pedalaman seperti dari Yogyakarta dan Surakarta. “Bentuk persegi melambangkan keadaan yang statis sehingga cocok untuk mereka yang sudah ingin menjadi pandita. Sedangkan motif yang menaik seperti lereng sifatnya dinamis, terus menanjak dan lekat dengan ksatria,” kata Iwan memberi contoh.

Dalam kegiatan kreatifnya Iwan yang usianya telah lewat 66 tahun itu terus aktif. Pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang batik membuat ia melahirkan motif-motif baru dengan dasar pakem batik Jawa pedalaman. Maklum, Iwan memang seniman batik yang dekat dengan kehidupan keraton di Yogyakarta maupun Solo meskipun ia tidak berdarah Jawa.

Ia misalnya menggunakan pakem geometris kesatrian dan kawung sebagai dasar yang kemudian dikombinasikannya dengan berbagai motif tradisional maupun kontemporer.

Misalnya, ia menggunakan kesatrian nitik sebagai bingkai, dan mengisi ruang di antaranya dengan motif parang dan kembang purbonegoro. Pada bentuk yang lain, kesatrian parang diisi dengan motif kembang gedebyak yang khas milik Mangkunegaran. Sejauh ini, efek yang dihasilkan memang maskulin, meskipun terbuka kemungkinan untuk menjadi feminin juga.

Pakem lain yang dikembangkannya berasal dari motif tradisional Yogyakarta yaitu kawung lempeng. Lagi-lagi di sini pakem kawung dikombinasikannya dengan berbagai motif lain misalnya motif parang dari Solo yang lebih halus, diisi motif nitik, atau motif kontemporer seperti bunga anyelir. “Sejak dulu di Yogya sudah ada motif nitik dan parang, tinggal kejelian seniman memainkan kombinasi tersebut, bahkan memadukan antara motif Yogya dan Solo,” kata Iwan.

Kejelian itulah yang tidak dimiliki setiap orang, bahkan para juragan batik yang setiap hari bergaul dengan batik. Di tangan Iwan, penggabungan motif tidak sekadar mencampur, tetapi sangat memperhatikan bagaimana efek motif tersebut.

“Tentu harus memperhatikan bentuk tubuh dan siapa yang akan menggunakan motif tersebut. Motif-motif kesatrian yang sudah saya buat masih untuk pria, tetapi saya sedang mencoba dengan motif hokokai. Belum tahu hasilnya akan bagus atau tidak, tetapi saya membayangkan pemakaiannya untuk wanita,” kata Iwan.

***

BATIK sebagai ragam hias tidak mengenal batas, dan itu pun dijelajahi Iwan yang sangat mendapat manfaat dari pendidikannya sebagai master dalam bidang hukum dari Yale University, dari pengalamannya bekerja di Perserikatan Bangsa-bangsa, dan pergaulannya dengan masyarakat internasional di New York, hingga sekarang.

Ia mencoba memanfaatkan motif batik sebagai ragam hias di atas piring dan ia tengah menjajaki kerja sama dengan Royal Doulton Indonesia yang merupakan cabang dari perusahaan yang berinduk di London.

Motif yang dikembangkannya antara lain motif lokcan dan modang yang terdapat pada dodot para putri keraton. Dengan dasar putih, motif lokcan keunguan memberi kesan anggun. Bila kerja sama ini lancar, kita bisa berharap set makan bermotif lokcan ini akan terpajang di berbagai toko bergengsi di kota-kota besar dunia.

Batik memang tidak ada batas pengembangannya, tetapi di dalam kebebasan itu tetap ada pakem, aturan. Seniman batik harus pandai-pandai mengembangkan motif yang menjadi ciri khasnya serta tidak bisa ditiru mesin printing. Dengan cara ini, batik seperti
yang kita kenal selama ini bisa bertahan.


Seniman Batik - Iwan Tirta beserta para model yang membawakan batik-batik Iwan yang dijadikan gaun malam. Iwan adalah seniman batik dengan pengetahuan luas dan mendalam yang terus menggali berbagai peluang pengembangan batik.


Sebagai Motif - Sebagai motif, batik tidak mengenal batas pengembangan. Iwan Tirta menggarap motif kawung lempeng yang merupakan motif tradisional Yogya (tengah atas) dan memadukannya dengan motif lain, misalnya dengan bunga anyelir (kiri depan) atau nitik (kanan depan).


“Kesatrian” - Motif kesatrian juga dikembangkan dengan memadukan berbagai motif. Yang paling penting adalah memahami pakem batik, filosofi di belakang tiap motif, serta bagaimana tampilan motif itu di atas benda pakai.


“Lokcan” - Motif batik bisa dimanfaatkan untuk banyak benda pakai, antara lain untuk piring saji. Iwan Tirta sengaja memilih motif lokcan yang merupakan pengaruh Cina pada batik.

Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta

5 Responses to “Batik Tidak Mengenal Batas Pengembangan”

  1. kaye Says:

    saya ingin belajar tentang motif batik untuk desain pakaian gimana caranya?

  2. yuli purwiyanti Says:

    bisa nggak nih, belajar batik sama pak iwan tirta, nih ?
    saya tunggu kepulanganya dari NY untuk mendapatkan jawabannya ?

    merci, yuli purwiyanti

  3. Weda Says:

    Saya termasuk penggemar batik, bisa gak ya belajar ttg batik?

  4. Weda Says:

    Saya termasuk penggemar batik, kalau belajar ttg batik, kemana dan gimana ya…… btw, saya di jakarta ya..

  5. ade Herman Says:

    Saya mencari mesin rotary printing untuk batik, ada yang bisa bantu?

Leave a Reply