Batik Putih di Atas Putih, Hasil Kerja Sebuah Tim
Hari Minggu malam di teater terbuka halaman Museum Nasional Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, sejumlah gaun pengantin ala Barat dipamerkan. Ada yang berbeda dalam rancangan gaun-gaun tersebut yaitu digunakannya batik putih di atas putih sebagai bagian dari rancangan.Pembuat gaun-gaun pengantin tersebut adalah Chenny Han, sementara batik putih di atas putih milik rumah kain Bin House. Keduanya memang telah menjalin kerja sama dan sementara ini disepakati berlangsung selama dua tahun.
Josephine Komara yang lebih akrab disapa dengan Obin mengatakan, Bin House adalah rumah kain yang akan mengonsentrasikan diri pada kain. Kalaupun ada produk nonkain, itu bukan produk utama.

Sebagai rumah kain yang kini menjadi trend-setter dan sangat ketat menjaga kualitas dengan toko yang tersebar di Singapura, Taiwan dan sejumlah kota besar di Jepang selain di Jakarta dan Bali, langkah Bin House bekerja sama dengan pihak lain sebagai pengguna kain dari Bin House untuk bahan baku, menjadi menarik.
Roni Siswandi, suami Obin dan sekaligus motor untuk pencarian jenis-jenis ragam hias dan teknik tenun baru Bin House, sekitar dua tahun lalu pernah mengatakan bahwa kain-kain putih di atas putih itu akan digunakan untuk pakaian pengantin.
Kain putih di atas putih adalah cara membuat ragam hias warna putih di atas kain berwarna putih yang dikerjakan dengan menggunakan teknik batik. Teknik ini ditemukan sekitar lima tahun lalu setelah melalui serangkaian riset dan sekarang digunakan juga untuk warna-warna lain selain putih di atas putih.
***
“DIA datang kepada saya dan mengatakan ingin menggunakan white on white untuk baju pengantin buatan mereka. Saya melihat dia punya kesungguhan, mereka mau bertanya untuk mencapai sesuatu yang lebih baik,” tutur Obin tentang pilihannya pada Chenny Han.
Untuk Bin House, inisiatif Chenny Han itu seperti menjawab pertanyaan yang tak terucap selama ini tentang sinergi di antara para pelaku industri mode.
“Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang baik. Di tangan Bin House, kain tersebut menjadi produk akhir, tetapi di tangan Chenny kain itu menjadi bahan untuk diolah lebih lanjut. Bin House akan berkonsentrasi pada kain dan tidak akan membuat pakaian pengantin,” kata Obin. Sementara ini kerja sama tersebut akan berjalan selama dua tahun untuk memberi kesempatan kepada masing-masing pihak menilai kerja sama tersebut.
Chenny Han yang mulai membuat pakaian pengantin sejak tahun 1993 sejak lama sudah tertarik pada batik untuk pakaian pengantin. Dua tahun ia mencoba membuat rancangan baju pengantin yang khas dan akhirnya berhadapan dengan kenyataan bahwa membuat kekhasan itu tidak mudah karena gaun pengantin sebagian besar berwarna putih. “Saya ingin memiliki suatu ciri khas, seperti juga misalnya orang segera mengetahui batik tertentu dihasilkan oleh Carmanita, Iwan Tirta, Bin House,” kata Chenny.
Chenny Han tertarik untuk memanfaatkan ragam hias batik pada tahun 1995 ketika menyaksikan pameran kerajinan Indonesia, dan dia mencoba menerapkannya di atas kain dengan teknik bordir renda. “Tetapi, hal itu pun tidak memuaskan meskipun sambutan dari konsumen cukup baik,” tutur Chenny Han.
Perkenalannya dengan batik putih di atas putih terjadi ketika Bin House membuat pameran kain pada tahun 1998 di Gedung Arsip Nasional di Jl Gajah Mada, Jakarta Utara. Tetapi, ketika itu pun Chenny Han belum berani mengajukan penawaran kepada Bin House untuk penggunaan batik putih di atas putih.
Kerja sama keduanya baru terjadi Desember 2000 lalu, dan diwujudkan dalam pergelaran di Museum Nasional pada Minggu (29/7/01) malam lalu.
Kain-kain putih di atas putih yang dibuat di atas kain sutera organdi atau campuran sutera dan katun itu menjadi detail pada lipatan pundak atau menjadi semacam selendang.
“Saya tidak mencari perancang yang sudah punya nama, karena saya sangat percaya bahwa kita bisa tumbuh bersama-sama. Saya sangat percaya pada kerja tim, seperti juga yang terjadi di Bin House di mana semuanya memiliki perannya masing-masing,” tutur Obin, sesuatu yang diakui juga oleh Chenny.
Bila semua punya pikiran untuk saling bekerja sama, rasanya Indonesia boleh berharap fashion Indonesia bisa melangkah maju lebih cepat.
Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta
March 20th, 2007 at 10:45 am
bajux kurang menarik
April 11th, 2007 at 2:43 pm
klo bajunya kayak gitu kok ga’ nyerminin batik yaupz
Kok kayak baju kuntilanak y….
abiz udah putih ga’ motifnya lagi?!!
September 29th, 2007 at 8:36 am
bisa kirim gambar warna secara jls, utk model2x gaun pengantin campur batik yg lain, harga sampai brp?…
September 29th, 2007 at 8:53 am
tlg krm gbr warna yg jls, untuk gaun pengantin putih batik…
February 27th, 2008 at 9:57 am
kain white on white dan sejenisnya bila dikatagorikan maka disebut tekstil bermotif batik…karena tidak mempergunakan teknik batik pada umumnya seperti menggunakan malam atau bubur kertas pada batik simbut