Archive for August, 2001

Perajin Batik Kain Beralih ke Kayu

Tuesday, August 21st, 2001

Perajin Batik mengukir di KayuIndustri kerajinan batik tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Senang Sari, Kecamatan Pajangan Bantul adalah satu pusat kerajinan batik Kota Gudeg yang terkenal sejak awal tahun 70-an. Saat ini, tak kurang dari 787 jiwa warga yang tercatat menggantungkan hidupnya dari seni kerajinan batik. Namun, jumlah perajin batik di daerah berjarak sekitar 15 kilometer barat daya Kota Yogyakarta itu mengalami penurunan
hingga awal 1990-an. Itu membuat sebagian besar perajin menutup usahanya karena tak bisa bertahan hidup.

Namun, ada juga perajin tradisional yang berupaya mencari terobosan. Mereka membuat batik dari kayu seperti topeng, patung, wayang, dan cendera mata lain. Hasilnya terbilang lumayan. Dibanding kain, ongkos pembuatan batik kayu lebih murah. Karena itu produk itu dipasarkan dengan harga yang lebih rendah. Terobosan itu perlahan-lahan memompa gairah perajin untuk menggarap batik kayu tersebut.

Seiring perkembangan batik kayu, sesama perajin dihadapkan pada persaingan tak sehat, terutama sejak pemodal luar ikutan menyuntik modal di bisnis tersebut. Selain, omzet penjualan menukik, mereka juga menghadapi persoalan penjiplakan kreativitas antarsesama perajin. Namun, mereka tetap bertahan meneruskan usaha tradisional tersebut.

Sumber : (TNA/Wiwik Susilo dan Mardianto) Liputan6.com, Yogyakarta

Batik Tidak Mengenal Batas Pengembangan

Sunday, August 19th, 2001

BATIK tidak mengenal batas penggarapan. Begitu keyakinan mereka yang menerjuni batik secara total. Sebagai ragam hias, batik telah menginspirasi begitu banyak orang bahkan hingga kini. Selalu lahir motif baru yang dikerjakan dengan teknik menahan warna memakai lilin malam, sesuatu yang disepakati oleh banyak pekerja yang bergiat di batik sebagai batik sesungguhnya.

Di luar batik yang dibuat dengan menggunakan lilin malam, motif batik selalu menarik minat untuk memanfaatkannya. Lahirlah batik print yaitu teknik membuat ragam hias menggunakan mesin print dengan meminjam motif-motif batik. Jelas batik print lebih murah dan menjadi saingan terberat batik lilin malam yang teknologi pembuatannya nyaris tidak pernah berubah sejak seabad lalu.

Lalu, bagaimana bisa berharap batik seperti yang kita kenal yaitu yang dikerjakan dengan canting atau cap dan menggunakan lilin malam bisa bertahan melawan produk massal dengan harga murah? Masa depan batik dari sisi komersial pasti bukan pada produksi massal, bahkan untuk batik cap sekalipun.

Seniman batik yang sudah waktunya mendapat penghargaan dari negara karena jasa-jasanya dalam mengembangkan dan mendokumentasi batik ini mengatakan masa depan batik sebagai busana sehari-hari memang tidak lagi kembali seperti masa lalu. Menurut Iwan Tirta yang memiliki pengetahuan tentang batik seperti ensiklopedi ini, batik akan menjadi busana untuk acara khusus, tetapi pada saat bersamaan batik juga akan memasuki banyak peluang lain.

“Batik tulis memiliki keuntungan karena motifnya sangat tidak terbatas, baik dari ukuran maupun macamnya. Motif yang besar-besar di atas kain yang lebar, jelas tidak bisa ditiru oleh mesin printing yang memiliki kendala lebar kain,” kata Iwan.

Meskipun pemanfaatan kain batik tidak akan seperti abad lalu lagi, tetapi batik tetap akan bertahan. Ia akan tumbuh menjadi aksesori dalam bentuk selendang atau scarf. “Scarf batik akan menjadi pelengkap busana ala Barat. Buat banyak orang itu lebih praktis dan bisa dikenakan ke berbagai kegiatan,” kata Iwan Tirta.

Kemungkinan lain, batik akan menjadi elemen penghias rumah, mulai dari sarung bantal hingga wall hanging. Iwan Tirta telah melakukannya antara lain untuk Lagoon Hilton di Senayan, Jakarta. Ternyata, batik sebagai wall hanging pun cukup menarik minat. Ketika Iwan Tirta berpameran di Four Seasons Resort di Jimbaran, Bali, bulan Juli lalu, di antara karya Iwan yang diborong pembeli up market yang menginap di hotel itu adalah wall hanging. “Ada satu orang yang membeli sampai tiga. Katanya untuk rumahnya di Los Angeles, di Paris, dan apartemennya di Hongkong,” tutur Iwan.

***

GUGATAN tentang masa depan batik muncul dari Iwan Tirta juga. Benar bahwa setiap orang boleh mengembangkan motifnya sendiri-sendiri, tetapi lalu apa yang akan membedakan batik Indonesia dari batik negeri-negeri lain.

“Batik Indonesia itu menurut saya memiliki lima ciri yang membedakannya dari batik-batik lain: motif, pakem, proses pembuatan memakai malam, ada filsafat dalam setiap motif, dan ada isen-isen,” kata Iwan Tirta.

Dari kelima hal itu, menurut Iwan yang terpenting adalah pakem yaitu bagaimana ragam hias itu disusun. Pakem terdiri dari bentuk geometris dan nongeometris. Di dalam pakem inilah pengembangan motif batik dengan tidak terbatas bisa dilakukan.

“Banyak perancang menggunakan ide batik pesisir karena mereka merasa lebih bebas yang disebabkan ketidaktahuan mereka pada pakem batik. Sebetulnya, batik pesisir pun memiliki pakem,” tutur Iwan.

Iwan menjelaskan, pemahaman tentang filsafat di balik motif batik sangat penting, terutama untuk batik-batik daerah pedalaman seperti dari Yogyakarta dan Surakarta. “Bentuk persegi melambangkan keadaan yang statis sehingga cocok untuk mereka yang sudah ingin menjadi pandita. Sedangkan motif yang menaik seperti lereng sifatnya dinamis, terus menanjak dan lekat dengan ksatria,” kata Iwan memberi contoh.

Dalam kegiatan kreatifnya Iwan yang usianya telah lewat 66 tahun itu terus aktif. Pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang batik membuat ia melahirkan motif-motif baru dengan dasar pakem batik Jawa pedalaman. Maklum, Iwan memang seniman batik yang dekat dengan kehidupan keraton di Yogyakarta maupun Solo meskipun ia tidak berdarah Jawa.

Ia misalnya menggunakan pakem geometris kesatrian dan kawung sebagai dasar yang kemudian dikombinasikannya dengan berbagai motif tradisional maupun kontemporer.

Misalnya, ia menggunakan kesatrian nitik sebagai bingkai, dan mengisi ruang di antaranya dengan motif parang dan kembang purbonegoro. Pada bentuk yang lain, kesatrian parang diisi dengan motif kembang gedebyak yang khas milik Mangkunegaran. Sejauh ini, efek yang dihasilkan memang maskulin, meskipun terbuka kemungkinan untuk menjadi feminin juga.

Pakem lain yang dikembangkannya berasal dari motif tradisional Yogyakarta yaitu kawung lempeng. Lagi-lagi di sini pakem kawung dikombinasikannya dengan berbagai motif lain misalnya motif parang dari Solo yang lebih halus, diisi motif nitik, atau motif kontemporer seperti bunga anyelir. “Sejak dulu di Yogya sudah ada motif nitik dan parang, tinggal kejelian seniman memainkan kombinasi tersebut, bahkan memadukan antara motif Yogya dan Solo,” kata Iwan.

Kejelian itulah yang tidak dimiliki setiap orang, bahkan para juragan batik yang setiap hari bergaul dengan batik. Di tangan Iwan, penggabungan motif tidak sekadar mencampur, tetapi sangat memperhatikan bagaimana efek motif tersebut.

“Tentu harus memperhatikan bentuk tubuh dan siapa yang akan menggunakan motif tersebut. Motif-motif kesatrian yang sudah saya buat masih untuk pria, tetapi saya sedang mencoba dengan motif hokokai. Belum tahu hasilnya akan bagus atau tidak, tetapi saya membayangkan pemakaiannya untuk wanita,” kata Iwan.

***

BATIK sebagai ragam hias tidak mengenal batas, dan itu pun dijelajahi Iwan yang sangat mendapat manfaat dari pendidikannya sebagai master dalam bidang hukum dari Yale University, dari pengalamannya bekerja di Perserikatan Bangsa-bangsa, dan pergaulannya dengan masyarakat internasional di New York, hingga sekarang.

Ia mencoba memanfaatkan motif batik sebagai ragam hias di atas piring dan ia tengah menjajaki kerja sama dengan Royal Doulton Indonesia yang merupakan cabang dari perusahaan yang berinduk di London.

Motif yang dikembangkannya antara lain motif lokcan dan modang yang terdapat pada dodot para putri keraton. Dengan dasar putih, motif lokcan keunguan memberi kesan anggun. Bila kerja sama ini lancar, kita bisa berharap set makan bermotif lokcan ini akan terpajang di berbagai toko bergengsi di kota-kota besar dunia.

Batik memang tidak ada batas pengembangannya, tetapi di dalam kebebasan itu tetap ada pakem, aturan. Seniman batik harus pandai-pandai mengembangkan motif yang menjadi ciri khasnya serta tidak bisa ditiru mesin printing. Dengan cara ini, batik seperti
yang kita kenal selama ini bisa bertahan.


Seniman Batik - Iwan Tirta beserta para model yang membawakan batik-batik Iwan yang dijadikan gaun malam. Iwan adalah seniman batik dengan pengetahuan luas dan mendalam yang terus menggali berbagai peluang pengembangan batik.


Sebagai Motif - Sebagai motif, batik tidak mengenal batas pengembangan. Iwan Tirta menggarap motif kawung lempeng yang merupakan motif tradisional Yogya (tengah atas) dan memadukannya dengan motif lain, misalnya dengan bunga anyelir (kiri depan) atau nitik (kanan depan).


“Kesatrian” - Motif kesatrian juga dikembangkan dengan memadukan berbagai motif. Yang paling penting adalah memahami pakem batik, filosofi di belakang tiap motif, serta bagaimana tampilan motif itu di atas benda pakai.


“Lokcan” - Motif batik bisa dimanfaatkan untuk banyak benda pakai, antara lain untuk piring saji. Iwan Tirta sengaja memilih motif lokcan yang merupakan pengaruh Cina pada batik.

Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta

Bisnis Batik Tasik Terancam Gulung Tikar

Thursday, August 16th, 2001

Kerajinan batik adalah satu di antara kekayaan budaya Nusantara. Bahkan, hingga kini, berbagai daerah mengembangkan kerajinan kebanggaan Indonesia itu. Sayangnya, pengembangan batik Tasik semakin mengkhawatirkan. Penyebabnya adalah modal yang minim dan menyusutnya jumlah perajin batik di Kota Tasikmalaya. Hal itu diutarakan pengusaha batik Doddy di Tasikmalaya, Jawa Barat, baru-baru ini.

Doddy mengungkapkan, beberapa tahun ini jumlah perajin batik Tasik tinggal 20 orang. Bahkan, dari jumlah tersebut tinggal tiga perajin yang masih produktif. Tentu saja, itu menghambat perkembangan batik tersebut. Padahal, batik Tasik mempunyai harga jual yang cukup bersaing. Dia mencontohkan, batik cap dijual dengan harga Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per helai. Sementara batik tulis ditawarkan dengan harga Rp 150.000 hingga Rp 600.000 per kain.

Bila tak mendapat suntikan modal dan perhatian dari pemerintah, Doddy khawatir kerajinan batik Tasik terancam gulung tikar. Bahkan, batik yang terkenal menawan ini terancam punah. Padahal, batik Tasik mempunyai kekhususan tersendiri yaitu bermotif alam, flora, dan fauna. Karena keunikan itu, batik tersebut sangat berbeda dengan batik daerah lain. Dari segi warna, batik Tasik cenderung bernuansa biru, oranye, dan merah.

Sumber : (ANS/Esther Mulyanie dan Binsar Rahadian) Liputan6.com, Tasikmalaya

Pameran Barang Koleksi Bung Karno Jadi Dilaksanakan

Friday, August 10th, 2001

Setelah sempat tertunda hampir tiga bulan, akhirnya pameran koleksi barang-barang seni milik Presiden pertama RI Soekarno jadi dilaksanakan dan akan berlangsung 14 Agustus-14 September di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jalan Proklamasi, Jakarta. Bahkan, pameran yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun Bung Karno ini didukung oleh dinas-dinas di lingkungan Pemda DKI Jakarta, terutama setelah terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI.

Tidak kurang dari Dinas Penerangan Jalan Umum, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ), Dinas Tata Bangunan dan Dinas Pekerjaan Umum terlibat dalam pameran ini. Bahkan, Perusahaan Air Minum (PAM), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga dilibatkan dalam pameran yang rencananya dibuka oleh Presiden Megawati Soekarnoputri ini.

Kadjat Adrai, Kepala Humas Pameran Barang-barang Koleksi Bung Karno, Kamis (9/8) siang, mengatakan, ribuan barang-barang koleksi Bung Karno akan dipamerkan selama sebulan penuh, bahkan jika minat masyarakat masih cukup tinggi akan diperpanjang lagi. Untuk menampung barang-barang koleksi Bung Karno ini, lima lantai Gedung Perintis Kemerdekaan semuanya akan dipakai untuk pameran.

Sementara itu, Enong Ismail, salah seorang kurator lukisan dan patung koleksi Bung Karno mengatakan, dari hasil seleksi terhadap lukisan milik Bung Karno pribadi yang jumlahnya lebih dari 1.000 buah, yang akan dipamerkan sekitar 146 buah. Lukisan tersebut selama ini tersimpan antara lain di Istana Negara, Museum Istana yang terletak di antara Istana Negara dan Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas, dan Gedung Agung Yogyakarta.

Seleksi itu antara lain mempertimbangkan usia lukisan serta faktor keamanan selama pameran berlangsung. Lukisan itu bukan hanya karya pelukis Indonesia seperti Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, dan Raden Saleh, tetapi terdapat juga lukisan karya pelukis dunia seperti Rudolf Bonnet, Antoni Blanko, F Gonzales, dan pelukis-pelukis dunia lainnya

Selain itu, sambung Enong Ismail, akan dipamerkan pula 12 patung koleksi Bung Karno yang terbuat dari perunggu, batu, dan kayu. Juga akan dipamerkan tiga buah tongkat yang sering digunakan Bung Karno, keris, kerajinan tangan, ikat pinggang, baju, tanda pangkat dan tanda jasa. Bahkan beberapa naskah asli, surat, dan barang berharga yang selama ini tidak diketahui keberadaannya, akan dipamerkan dalam pameran ini.

“Tidak semua barang dipamerkan sekaligus, tetapi dipamerkan secara bertahap disesuikan dengan ruangan. Pameran bertahap ini memungkinkan masyarakat mengunjungi pameran berkali-kali, karena materinya memang berbeda,” kata Enong Ismail.

Sedangkan Syamsidar Isa Tandapura, salah seorang kurator batik mengatakan, dalam pameran memperingati 100 Tahun Bung Karno ini akan dipamerkan pula sekitar 25 batik Indonesia. Corak batik ini berbeda dengan batik tradisional, serta motifnya tidak terlepas dari gagasan Bung Karno untuk memadukan batik yang lebih “berani” yakni memadukan sogan dan kelir pada lembaran batik. (thy) Kompas cetak, Jakarta

Batik Putih di Atas Putih, Hasil Kerja Sebuah Tim

Sunday, August 5th, 2001

Batik PutihHari Minggu malam di teater terbuka halaman Museum Nasional Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, sejumlah gaun pengantin ala Barat dipamerkan. Ada yang berbeda dalam rancangan gaun-gaun tersebut yaitu digunakannya batik putih di atas putih sebagai bagian dari rancangan.Pembuat gaun-gaun pengantin tersebut adalah Chenny Han, sementara batik putih di atas putih milik rumah kain Bin House. Keduanya memang telah menjalin kerja sama dan sementara ini disepakati berlangsung selama dua tahun.

Josephine Komara yang lebih akrab disapa dengan Obin mengatakan, Bin House adalah rumah kain yang akan mengonsentrasikan diri pada kain. Kalaupun ada produk nonkain, itu bukan produk utama.


Sebagai rumah kain yang kini menjadi trend-setter dan sangat ketat menjaga kualitas dengan toko yang tersebar di Singapura, Taiwan dan sejumlah kota besar di Jepang selain di Jakarta dan Bali, langkah Bin House bekerja sama dengan pihak lain sebagai pengguna kain dari Bin House untuk bahan baku, menjadi menarik.

Roni Siswandi, suami Obin dan sekaligus motor untuk pencarian jenis-jenis ragam hias dan teknik tenun baru Bin House, sekitar dua tahun lalu pernah mengatakan bahwa kain-kain putih di atas putih itu akan digunakan untuk pakaian pengantin.

Kain putih di atas putih adalah cara membuat ragam hias warna putih di atas kain berwarna putih yang dikerjakan dengan menggunakan teknik batik. Teknik ini ditemukan sekitar lima tahun lalu setelah melalui serangkaian riset dan sekarang digunakan juga untuk warna-warna lain selain putih di atas putih.

***

“DIA datang kepada saya dan mengatakan ingin menggunakan white on white untuk baju pengantin buatan mereka. Saya melihat dia punya kesungguhan, mereka mau bertanya untuk mencapai sesuatu yang lebih baik,” tutur Obin tentang pilihannya pada Chenny Han.

Untuk Bin House, inisiatif Chenny Han itu seperti menjawab pertanyaan yang tak terucap selama ini tentang sinergi di antara para pelaku industri mode.

“Kenapa kita tidak melakukan sesuatu yang baik. Di tangan Bin House, kain tersebut menjadi produk akhir, tetapi di tangan Chenny kain itu menjadi bahan untuk diolah lebih lanjut. Bin House akan berkonsentrasi pada kain dan tidak akan membuat pakaian pengantin,” kata Obin. Sementara ini kerja sama tersebut akan berjalan selama dua tahun untuk memberi kesempatan kepada masing-masing pihak menilai kerja sama tersebut.

Chenny Han yang mulai membuat pakaian pengantin sejak tahun 1993 sejak lama sudah tertarik pada batik untuk pakaian pengantin. Dua tahun ia mencoba membuat rancangan baju pengantin yang khas dan akhirnya berhadapan dengan kenyataan bahwa membuat kekhasan itu tidak mudah karena gaun pengantin sebagian besar berwarna putih. “Saya ingin memiliki suatu ciri khas, seperti juga misalnya orang segera mengetahui batik tertentu dihasilkan oleh Carmanita, Iwan Tirta, Bin House,” kata Chenny.

Chenny Han tertarik untuk memanfaatkan ragam hias batik pada tahun 1995 ketika menyaksikan pameran kerajinan Indonesia, dan dia mencoba menerapkannya di atas kain dengan teknik bordir renda. “Tetapi, hal itu pun tidak memuaskan meskipun sambutan dari konsumen cukup baik,” tutur Chenny Han.

Perkenalannya dengan batik putih di atas putih terjadi ketika Bin House membuat pameran kain pada tahun 1998 di Gedung Arsip Nasional di Jl Gajah Mada, Jakarta Utara. Tetapi, ketika itu pun Chenny Han belum berani mengajukan penawaran kepada Bin House untuk penggunaan batik putih di atas putih.

Kerja sama keduanya baru terjadi Desember 2000 lalu, dan diwujudkan dalam pergelaran di Museum Nasional pada Minggu (29/7/01) malam lalu.

Kain-kain putih di atas putih yang dibuat di atas kain sutera organdi atau campuran sutera dan katun itu menjadi detail pada lipatan pundak atau menjadi semacam selendang.

“Saya tidak mencari perancang yang sudah punya nama, karena saya sangat percaya bahwa kita bisa tumbuh bersama-sama. Saya sangat percaya pada kerja tim, seperti juga yang terjadi di Bin House di mana semuanya memiliki perannya masing-masing,” tutur Obin, sesuatu yang diakui juga oleh Chenny.

Bila semua punya pikiran untuk saling bekerja sama, rasanya Indonesia boleh berharap fashion Indonesia bisa melangkah maju lebih cepat.

Sumber : (nmp) Kompas Cetak, Jakarta